Beranda > Aqidah & Manhaj > Menjadikan Akhirat Sebagai Tujuan

Menjadikan Akhirat Sebagai Tujuan

bekal taqwaRosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang tujuannya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah jadikan kecukupan dalam hatinya, dan Allah kumpulkan baginya urusan kehidupannya, dan dunia pun akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk hina.

Barangsiapa yang tujuannya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah jadikan kefakiran senantiasa di hadapannya, dan Allah cerai beraikan urusan kehidupannya, dan dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya saja.

Jami’ At Tirmidzi rohimahullah, hadits 2465, dinyatakan shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam Shohih At Tirmidzi Jilid 2 Halaman 593.  http://sunnah.com/urn/726480

=============================

Dari hadits di atas dapat kita ambil beberapa faidah ringkas :

  1. Hendaknya kita sebagai seorang Muslim/Muslimah menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan hidup kita, dan bukan malah sebaliknya.
  2. Jika seseorang telah menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka pasti Allah akan mencukupkan bagi orang tersebut pada segala urusan hidupnya, dan bahkan dunia itu akan datang menghampirinya dalam keadaan tunduk hina.
  3. Dan sebaliknya, jika seseorang telah menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, justru Allah akan jadikan kefakiran senantiasa ada di hadapan kedua matanya (ada di hadapannya) sehingga orang tersebut senantiasa merasa kekurangan dalam segala urusan kehidupannya, dan bagian dunia yang ia peroleh hanyalah sebatas apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan baginya saja.

Hal ini telah banyak kita saksikan. Betapa banyak manusia yang tersibukkan dengan kehidupan dunianya (perniagaannya, pekerjaannya, dan semisalnya), tapi justru ia masih terus saja merasa kekurangan dan khawatir akan kehidupannya. Justru kita lihat pula, betapa banyak manusia yang tersibukkan dengan kehidupan akhiratnya (tekun belajar agama, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan semisalnya) justru kita saksikan mereka hidup bahagia dan senantiasa merasa cukup dengan apa yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka meskipun perkara dunia yang ada padanya sangat sedikit.

Sebagian orang bijak memisalkan dunia itu ibarat sebuah bayangan, yang mana jika seseorang berusaha mati-matian mengejar bayangannya maka justru bayangan itu semakin menjauh. Dan jutru apabila seseorang berusaha lari dari bayangannya maka bayangannya tersebut malah akan menghampiri dirinya.

  1. Sebagai seorang Muslim/Muslimah, kita telah diajarkan bahwasanya segala kenikmatan yang ada di dunia yang bersifat fana ini hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk menggapai tujuan akhirat yang kekal abadi.
  2. Terdapat celaan bagi orang yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan hidupnya dan melalaikan dari kehidupan akhirat.

Semoga sedikit apa yang disampaikan di atas bisa bermanfaat bagi kita bersama. Allahu A’lam bishshowab.

Nas’alullahassalamah wal ‘afiyah.

بارك الله فيكم

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: