Beranda > Aqidah & Manhaj > Faidah Ringkas Awal Mula Syari’at Adzan

Faidah Ringkas Awal Mula Syari’at Adzan

proud-to-be-muslimHadits muttafaqun ‘alaih (yakni hadits yang disepakati keshohihannya oleh Al Imam Al Bukhori dan Al Imam Muslim rohimahumallah dalam Shohih keduanya), yakni Shohih Al Bukhori no.604 (http://sunnah.com/bukhari/10/2) dan Shohih Muslim no.377 (http://sunnah.com/muslim/4/1) :

-Lafazh hadits ini adalah milik Al Imam Al Bukhori rohimahullah-

 

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، كَانَ يَقُولُ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ‏.‏ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِي بِالصَّلاَةِ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghoilan ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrozzaq ia berkata : Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juroij ia berkata : Telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwasanya Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma pernah berkata :

Ketika dahulu kaum Muslimin awal tiba di kota Madinah, mereka saling berkumpul dan menunggu-nunggu datangnya waktu sholat fardhu. Ketika itu tidak ada panggilan untuk sholat (yakni belum ada seruan adzan). Maka pada suatu hari mereka memperbincangkan kondisi tersebut.

Maka sebagian dari mereka berkata : “Gunakanlah oleh kalian lonceng sebagaimana loncengnya orang Nashoro.”

Sebagian yang lain berkata : “Bahkan gunakanlah terompet saja sebagaimana terompetnya orang Yahudi.”

‘Umar rodhiyallahu ‘anhu pun berkata : “Mengapa tidak kalian utus saja seorang lelaki yang akan menyeru kalian untuk sholat?”

Maka Rosulullah shollalahu ‘alaihi wa sallam pun berkata : “Wahai Bilal, berdirilah dan serulah manusia untuk sholat (yakni dengan seruan adzan yang kita kenal sekarang ini).”

===========

Maka dari dari hadits di atas dapat kita ambil beberapa faidah ringkas :

  1. Bahwasanya sebelum ada syari’at adzan, kaum Muslimin saat itu saling berkumpul dan menunggu-nunggu menjelang datangnya waktu sholat-sholat fardhu. Hal ini menunjukkan betapa tingginya semangat para shohabat rodhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan ibadah sholat fardhu secara berjama’ah. Mari sekarang kita bandingkan dengan keadaan diri-diri kita dan umat Islam di masa sekarang.
  2. Salah satu prinsip dalam Islam adalah senantiasa menyelisihi adat kebiasaan yang menjadi ciri khas agama lain. Ketika sebagian shohabat memberikan usulan kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berupa panggilan dengan menggunakan lonceng maupun terompet, maka hal itu semua tidak ditoleh sama sekali dan ditolak tegas oleh Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan kedua hal tersebut adalah ciri khas dari ajaran agama Nashoro dan Yahudi.

Contoh lain terkait hal ini sangat banyak, antara lain :

  • Perintah menyelisihi umat Yahudi ketika puasa ‘Asyuro (tanggal 10 Muharrom) yakni dengan berpuasa pula pada hari sebelumnya (yakni tanggal 9 Muharrom)
  • Perubahan arah kiblat yang awalnya ke arah Masjidil Aqsho ke arah Masjidil Harom
  • Bolehnya sholat dengan tetap menggunakan sandal/sepatu dalam rangka menyelisihi umat Yahudi yang selalu beribadah di tempat ibadahnya tanpa memakai sandal/sepatu dan juga menyelisihi umat Nashoro yang selalu beribadah di tempat ibadahnya dengan memakai sandal/sepatu.
  • Perintah membiarkan jenggot tumbuh dan merapikan kumis dalam rangka menyelisihi umat Yahudi dan Majusi
  • Perintah makan sahur ketika berpuasa dalam rangka menyelisihi umat Yahudi dan umat agama lain yang puasa tanpa ada syari’at makan sahur
  • Bolehnya seorang suami bersenang-senang dengan istrinya yang sedang haidh (kecuali jima’) dalam rangka menyelisihi umat Yahudi yang menganggap bahwa wanita haidh itu kotor dan tidak boleh didekati, dan juga menyelisihi umat Nashoro yang membolehkan seorang suami jima’ meskipun istrinya sedang haidh.
  • Penegasan dan penetapan 2 hari raya tahunan bagi umat Islam yakni ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dalam rangka menyelisihi hari raya-hari raya jahiliyyah dan ajaran agama lain
  • Penetapan hari raya pekanan bagi umat Islam yakni hari Jum’at dalam rangka menyelisihi umat Yahudi yang memilih hari Sabtu dan umat Nashoro yang memilih hari Ahad

Sekarang, mari kita lihat pada hari-hari menjelang akhir tahun masehi seperti sekarang ini.

Di sekitar kita yang notabene mayoritasnya adalah umat Islam, justru sebagian besar pihak yang membuat, menjual, membeli, dan meniup terompet tersebut ketika pergantian tahun adalah umat Islam sendiri. Tidakkah mereka sadar bahwasanya hal tersebut adalah menyelisihi salah satu prinsip dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam?

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat ke-24 An-Nur ayat 63 :

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦۤ أَن تُصِيبَہُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَہُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul itu takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa ‘adzab yang pedih

  1. Ajaran Islam merupakan ajaran yang telah sempurna dan memiliki ciri tersendiri, sehingga umat Islam seharusnya bangga dan tidak merasa rendah diri di hadapan umat agama lain. Hal ini sebagaimana contoh dalam syariat adzan yang merupakan ciri khas panggilan untuk beribadah sholat bagi umat Islam.

Seluruh ajaran Islam berasal dari wahyu Allah Yang Maha Mengetahui apa yang baik dan buruk bagi makhluq-Nya sejak sebelum diciptakannya makhluq tersebut hingga masa yang akan datang. Adapun ajaran-ajaran agama lainnya, maka itu semua adalah atas campur tangan akal dan perasaan manusia belaka. Sudikah kiranya kita mengambil ajaran hasil campur tangan manusia dan mengesampingkan ajaran yang merupakan wahyu dari Allah Sang Penguasa alam semesta?

Demikianlah sedikit faidah ringkas yang dapat kita ambil sebagai pelajaran bagi kita bersama. Nas’alullahassalamah wal ‘afiyah (kita memohon kepada Allah keselamatan dan keterjagaan)

Allahu A’lam.

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: