Beranda > Aqidah & Manhaj > Rezeki Tidak Sama, Apa Hikmahnya ?

Rezeki Tidak Sama, Apa Hikmahnya ?

gold and silverRezeki Tidak Sama, Apa Hikmahnya ?
-Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyah-
Dinukil dari Majalah Asy Syari’ah no.103/IX/1435 H/2014, halaman 106-108
Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda !
Pasti Anda akan dapati perbedaan tingkat kehidupan orang-orangnya. Ada yang kaya raya, punya rumah mewah, kendaraan berderet bak showroom di garasinya. Uangnya jangan ditanya, perhiasannya pun membuat mulut kita menganga. Sementara itu, makanan yang tersaji di meja hidangannya membuat kita geleng-geleng kepala. Dia bisa pergi kemana dia suka, berlibur dari satu negara ke negara lain adalah hal yang biasa.


Anda dapati ada lagi si miskin papa, berumah reyot dengan dinding hampir roboh, berpakaian kusam dan penuh tambalan, makan pun cukup dengan sepotong tempe atau kerupuk. Yang lebih prihatin ada lagi, mereka yang Anda lihat menggelandang di emperan, tidur di atas tanah berhampar koran, langit menjadi atap. Tak terbayang dingin menusuk saat malam tiba, apatah lagi ketika hujan turun sementara tubuh mereka hanya dibungkus pakaian yang compang-camping. Makan hanya dengan mengharap belas kasih orang-orang. Makanan basi penghuni tong sampah tidak ditolak sebagai pengganjal perut daripada harus menanggung sakitnya rasa lapar. Sungguh mengenaskan.
Ada lagi yang hidupnya pertengahan, tidak kaya berlebihan, tidak pula kekurangan. Bisa jadi, pernah terpikir di benak Anda, “Mengapa harus ada si miskin dan si kaya? Mengapa manusia tidak disamaratakan saja rezekinya?”
Jawabannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan Ar Rozzaq (Dzat yang memberikan rezeki dan membagi-baginya di antara hamba-Nya, memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan, dalam melapangkan dan menyempitkan rezeki para hamba-Nya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam hukum dan penetapan syari’at. Seluruh hukum syari’at-Nya adil, penuh rahmat dan sarat hikmah, serta memberi kemashlahatan bagi para hamba di dunia dan akhirat mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمً۬ا لِّقَوۡمٍ۬ يُوقِنُونَ
Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? [Surat ke-5 Al Ma’idah ayat 50]
Dia Maha Terpuji dalam pemberian-Nya kepada para hamba dan Maha Terpuji pula ketika Dia menahan pemberian-Nya. Kewajiban para hamba adalah mensyukuri-Nya ketika Dia memberi kelapangan rezeki kepada mereka disertai dengan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya kepada mereka dalam rezeki tersebut.
Sebaliknya, para hamba wajib bersabar dengan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika Dia menyempitkan rezeki mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih tahu apa yang paling bermashlahat bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih sayang kepada mereka daripada sayangnya ibu dan ayah kandung mereka sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang tidak menyamakan pembagian rezeki di antara para hamba-Nya. Ada yang dilapangkan dan ada yang disempitkan karena hikmah-Nya yang agung dan bernilai tinggi.
Berikut ini kita petikkan apa yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah dalam sebuah khutbah Beliau yang tersimpan dalam Adh Dhiya’u Al Lami’ min Al Khuthob Al Jawami’ (1/169-171) tentang hikmah pembagian rezeki yang berbeda-beda.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi rezeki tidak sama di antara para hamba-Nya agar mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang mengatur segala urusan. Di Tangan-Nya lah penguasaan dan pengaturan langit serta bumi. Dia melapangkan rezeki sebagian hamba-Nya dan menyempitkan sebagian yang lain. Tidak ada yangbisa menolak taqdir dan ketetapan-Nya.
لَهُ ۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬
Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat ke-42 Asy Syuro ayat 12]
Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan pembagian rezeki-Nya agar manusia mengambil pelajaran dengan adanya perbedaan di dunia ini tentang adanya perbedaan derajat di akhirat kelak.
Di dunia ini manusia berbeda-beda penghidupannya. Di antara mereka ada yang tinggal di istana megah nan menjulang, menaiki kendaraan mewah dan mahal, berbolak-balik dalam kebahagiaan dan kesenangan di tengah-tengah harta, keluarga, dan anak-anaknya. Di antara mereka ada yang tidak memiliki tempat bernaung, tidak ada keluarga, tidak ada harta, tidak ada anak, hidup sebatang kara. Di antara mereka ada yang pertengahan di antara itu dan ini, dengan derajat yang berbeda.

Demikian pula derajat di akhirat kelak adalah lebih besar, lebih nyata, dan lebih kekal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬‌ۚ وَلَلۡأَخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَـٰتٍ۬ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلاً۬
Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat itu lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya. [Surat ke-17 Al Isro’ ayat 21]
Apabila seperti itu keadaan akhirat dibandingkan dunia, maka sepantasnyalah manusia berlomba-lomba untuk meraih derajat yang tinggi di kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu negeri akhirat. Orang yang cerdas tentu mendambakan sesuatu yang lebih kekal. Untuk perlombaan inilah orang-orang yang cerdas berlomba. Bukan malah berlomba hanya untuk dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membagikan rezeki dengan berbeda-beda, agar orang yang kaya dapat menghargai kadar nikmat dimudahkan rezeki kepadanya. Maka dia pun dapat bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut sehingga dia termasuk hamba-hamba yang bersyukur.
Sebaliknya, orang yang fakir akan mengetahui ujian yang menimpanya berupa kefakiran, lalu dia bersabar sehingga mencapai derajat hamba-hamba yang bersabar. Telah diberitakan bahwa orang yang bersabar akan memperoleh pahala tanpa batas. Bersamaan dengan kesabarannya, si fakir harus terus memohon kemudahan kepada Robb-nya dan menanti kelapangan dari-Nya tanpa pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. [Surat ke-39 Az Zumar ayat 10]
Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi-bagi rezeki-Nya agar tercapai kemashlahatan agama dan dunia hamba-Nya. Andai semuanya memperoleh kelapangan rezeki dan menjadi orang kaya, niscaya manusia akan melampaui batas di muka bumi dengan berbuat kekafiran, kezholiman, dan kerusakan. Kelapangan dan kemudahan hidup akan membuat mereka lupa diri. Sebaliknya, apabila semua manusia disempitkan rezekinya dan semua manusia menjadi miskin, maka niscaya akan timbul ketimpangan dalam tatanan kehidupan mereka.
Apabila semua manusia rezekinya sama, niscaya sebagian mereka tidak bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai ejekan, sehingga tidak ada lagi ujian sebagai tempaan keimanan. Sebagiannya tidak bisa menjadikan sebagian yang lain sebagai pekerja. Sebagiannya tidak bisa menjadi pelayan bagi yang lainnya. Yang satu tidak membuat untuk yang lain, karena semuanya berderajat yang sama dalam hal rezeki.
Apabila demikian keadaannya, maka di mana rasa kasih sayang si kaya terhadap si miskin akan bisa muncul? Andai semua berderajat sama, bagaimana bisa penerapan menyambung silaturohim dengan menginfaqkan sebagian harta kepada karib kerabatnya?
Jelas sekali, banyak kemashlahatan akan hilang seandainya semua manusia itu sama rezekinya. Karena itulah, wajib bagi kita kaum Muslimin untuk ridho bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Robb kita, ridho pula dengan pembagian rezeki-Nya, ridho dengan hukum-Nya, serta beriman dengan hikmah dan rahasia-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬
Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat ke-29 Al ‘Ankabut ayat 62]

Allahu A’lam.

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: