Beranda > Hukum-Hukum > Fiqih Ringkas Seputar Qurban

Fiqih Ringkas Seputar Qurban

hewan qurbanAllah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan menyembelih al-udhiyah (hewan qurban) bagi kaum Muslimin yang memiliki kemampuan. Hal ini Allah sebutkan dalam firman-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Maka sholatlah hanya kepada Robb-mu dan menyembelihlah.” (Surat ke-108 Al Kautsar ayat 2)

Di dalam ayat ini yang dimaksud dengan “menyembelih” adalah menyembelih hewan qurban pada hari nahr (‘Idul Adha dan tiga hari setelahnya yakni hari tasyriq 11-13 Dzulhijjah).

Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ahli tafsir dan dikuatkan oleh Ibnu Katsir. (lihat Zadul Masir 6/195 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/503)

Makna Udhiyahالأضحية  )

Al-Udhiyyah adalah bentuk tunggal dari al-adhahi ( الاضاحي ).

Al-Imam al-Jurjani menjelaskan, bahwa al-udhiyah adalah nama untuk hewan qurban yang disembelih pada hari-hari nahr (Idul Adha dan 3 hari setelahnya) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. (At-Ta’rifat 1/45)

Hukum Udhiyah

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum berqurban adalah sunnah mu’akkadah, dan bagi orang yang memiliki kemampuan agar tidak meninggalkannya. Adapun jika berqurbannya karena wasiat atau nadzar maka menjadi wajib untuk ditunaikan. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz 16/156 dan Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 25/10)

Kedudukan Berqurban dalam Islam

Berqurban memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Cukuplah menunjukkan hal itu manakala qurban itu  lebih utama daripada shodaqah sunnah. Ibnu Qudamah berkata, “Al-Udhiyah lebih utama ketimbang shadaqah biasa yang senilai dengannya.” (Al-Mughni 9/436)

Syarat-Syarat Udhiyah

Ada empat syarat hewan yang boleh untuk dijadikan sebagai udhiyah:

Pertama: Dari jenis hewan yang telah ditentukan syari’at yaitu unta, sapi, dan kambing. Barangsiapa berqurban dengan kuda atau ayam maka tidak sah walaupun bentuknya lebih bagus dan harganya lebih mahal.

Kedua: Telah mencapai usia tertentu, yaitu enam bulan untuk domba (biri-biri) dan satu tahun untuk kambing. Adapun untuk sapi adalah dua tahun, sedangkan unta adalah lima tahun.

Barangsiapa berqurban dengan domba berumur lima bulan atau sapi berumur satu tahun maka tidak sah.

Ketiga: tidak memiliki 4 cacat tubuh yang disebutkan dalam hadits al-Bara’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu :

أربع لا تجوز في الأضاحي

العوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعرجاء البين ضلعها ، والكسيرة التي لا تُنقي

“Ada empat cacat yang tidak boleh ada pada hewan qurban; al-‘aura (buta sebelah) yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan kurus yang tidak ada sumsumnya.” (riwayat ashhabussunan yakni pemilik kitab Sunan, dengan sanad shohih)

Maka tidak boleh berqurban dengan hewan-hewan yang memiliki kriteria cacat tubuh seperti tersebut di atas atau yang lebih parah darinya, seperti buta kedua matanya, putus salah satu kakinya, sekarat karena diterkam hewan buas atau yang lainnya.

Adapun cacat tubuh yang tidak terlalu parah maka masih sah dijadikan sebagai udhiyah seperti hewan yang terpotong telinga, tanduk, atau ekornya, baik terpotong secara keseluruan atau hanya sebagian saja. Tetapi yang afdhal (lebih utama) adalah memilih hewan yang bagus, gemuk, dan sehat.

Keempat: Menyembelih pada waktu yang telah ditentukan, yaitu setelah sholat ‘Idul Adha sampai akhir hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah). Maka total waktu penyembelihan adalah empat hari (‘Idul Adha dan 3 hari setelahnya).

Barangsiapa menyembelih pada selain hari yang telah ditentukan maka tidak dianggap sebagai hewan qurban walaupun orang tersebut tidak mengetahui hukumnya. (Lihat Liqa’ Al-Babil Maftuh Ibnu ‘Utsaimin 92/3 dan al-Fatawa Ibnu Utsaimin 25/13)

Satu Hewan Cukup untuk Satu Keluarga

Berqurban dengan satu ekor kambing telah mewakili seluruh keluarga yang tinggal dalam satu atap walaupun berjumlah lebih dari satu keluarga. Dengan ketentuan ketika menyembelihnya harus diniatkan untuk dirinya dan keluarganya. Sebagaimana dahulu Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban satu ekor domba untuk beliau dan seluruh isteri dan keluarga beliau shollallaahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Ahmad 6/391, lihat Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 25/40).

Mengkhusukan Kurban untuk Orang Yang Telah Meninggal

Tidak boleh mengkhususkan qurban untuk orang yang telah meninggal walaupun dari kalangan kerabat dekat. Karena hal ini tidak pernah dicontohkan oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau rodhiAllahu ‘anhum. Adapun jika meniatkan untuk diri dan semua keluarganya baik yang masih hidup atau yang telah meninggal maka yang seperti ini tidak mengapa. (Lihat Liqa’ Al-Babil Maftuh Ibnu ‘Utsaimin 92/2)

Beberapa Hukum Berkaitan dengan Orang yang Berqurban

Berikut beberapa hukum yang harus diperhatikan oleh seorang yang ingin berqurban:

  • Ikhlash Hanya Mengharap Pahala dari Allah Ta’ala

Niat yang ikhlash adalah kunci diterimanya sebuah amalan. Seorang yang berqurban dengan kambing yang mahal harganya, gemuk tubuhnya, dan bagus bentuknya tetapi tidak diiringi dengan keikhlasan maka tidak akan memiliki arti sedikitpun di sisi Allah Ta’ala. Firman-Nya :

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡ‌ۚ

“Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darahnya (hewan sembelihan), akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan dari kalian.” (Surat ke-22 Al-Hajj ayat 37)

  • Tidak Boleh Memotong Kuku dan Mencukur Rambut

Memasuki  sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, seorang yang telah berniat berqurban tidak boleh memotong kuku dan semua rambut yang tumbuh di tubuh. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

“Barangsiapa yang berniat qurban, maka jika telah masuk hilal bulan Dzulhijjah, janganlah ia memotong rambut dan kuku nya sedikitpun hingga hewan qurbannya disembelih.” (HR. Muslim no. 1977)

Al-Imam An-Nawawi rohimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud larangan memotong kuku dan rambut adalah menghilangkan kuku baik dengan cara memotong, mematahkan, atau cara lainnya. Sedangkan larangan memotong rambut adalah dengan mencukur, memendekkan, mencabut, membakar, menggunakan obat perontok, atau cara lainnya. Larangan tersebut berlaku bagi bulu ketiak, kumis, bulu kemaluan, dan seluruh rambut yang tumbuh di tubuh.” (Al-Minhaj 6/472)

Tata Cara Memotong Udhiyah

Salah satu keindahan Islam adalah terlihat pula dalam tatacara menyembelih hewan qurban. Termasuk pula tuntunan Islam yang melarang bagi seseorang untuk mengasah pisau untuk menyembelih di hadapan hewan qurban yang akan disembelih. Juga tuntunan bahwasanya hewan qurban yang belum disembelih harus dipisahkan tempatnya dari lokasi penyembelihan agar tidak saling melihat. Hal tersebut disebutkan agar tidak termasuk menyembelih hewan qurban 2 kali. Subhanallah, sungguh indahnya ajaran Islam ini meskipun terhadap hewan.

Adapun cara memotong udhiyah yang berupa kambing, baik domba maupun kambing adalah sebagai berikut :

Siapkan pisau atau alat potong yang tajam agar proses penyembelihan semakin cepat dan tidak terlalu menyakitkan bagi  hewan qurban.

Baringkanlah hewan qurban di atas lambungnya yang kiri. Kemudian letakkanlah kaki anda di atas leher hewan qurban sedangkan tangan kiri anda memegangi kepala hewan qurban sehingga menjadi tampak urat lehernya.

Bacalah basmalah :

بِسْمِ اللهِ ، اللهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُمَّ هٰذَا مِنْكَ وَ لَكَ ، اللّٰهُمَّ هٰذِهِ عَنِّىْ وَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِىْ

Bismillaahi Allaahu Akbar, Alloohumma haadzaa minka wa laka, Alloohumma haadzihi ‘anniy wa ‘an ahli baitiy

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah (hewan) ini dari-Mu dan untuk-Mu. Ya Allah, ini qurban dariku dan keluargaku.”

Dan boleh juga dengan membaca :

بِسْمِ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ

Bismillaahi walloohu Akbar (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar)

Lalu gorokkan pisau dengan kuat di leher bagian atas hingga terputus al-hulqum (jalan pernapasan), al-wajdain (dua urat leher) dan al-muri (jalur makanan).

Diusahakan menyembelih hewan qurbannya sendiri karena itu yang lebih utama, bila tidak mampu maka boleh diwakilkan kepada orang yang terpercaya. Boleh baginya melihat proses penyembelihan atau pun tidak melihatnya. Dan diperbolehkan bagi wanita menyembelih hewan kurbannya sendiri bila ia mampu melakukannya. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 25/60 dan 81)

Memakan Daging Kurbannya

Seorang yang berqurban disunnahkan memakan sebagian dari daging hewan kurbannya, bahkan ada sebagian ulama’ yang mewajibkannya berdasarkan firman Allah Ta’ala :

فَكُلُوْا مِنْهَا وَ أَطْعِمُوْا الْبَائِسَ الْفَقِيْرَ

“Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang membutuhkan lagi faqir.” (Surat ke-22 Al Hajj ayat 28)

Tidak ada ketentuan batas maksimal dalam pengambilan daging kurban, boleh mengambil sedikit, separuh, atau sebagian besar.

Berhutang untuk Berqurban

Berhutang untuk membeli hewan qurban diperbolehkan bagi seseorang yang memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan pasti, sehingga dia bisa membayar hutangnya tidak melebihi batas tempo yang telah disepakati. Apabila tidak ada penghasilan pasti, maka tidak dianjurkan berhutang karena syari’at kurban hanya berlaku bagi orang yang memiliki kemampuan. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 25/110)

Menyimpan Daging Qurban

Diperbolehkan menyimpan daging hewan qurban walaupun lebih dari tiga hari. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda:

إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ ، فَكُلُوْا وَ ادَّخِرُوْا وَ تَصَدَّقُوْا

“Hanyalah dahulu aku melarang kalian (menyimpan daging kurban) karena ada golongan yang membutuhkan. Sekarang makanlah, simpanlah, dan bersedehkahlah”  (Hadits riwayat Muslim no.1971)

Menyedekahkan Sebagian Daging Qurban

Hendaknya daging hewan qurbannya tidak dimakan semuanya, sisihkanlah sebagiannya sebagai sedekah bagi orang-orang faqir sebagaimana dalam Surat Al Hajj ayat 22 di atas.

Boleh memberikan daging hewan qurban kepada orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin atau yang tidak menampakkan kebencian kepada mereka. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 25/133)

Wallahu A’lam.

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/fiqih/fiqih-ringkas-dalam-berkurban/ (dengan sedikit pengeditan yang tidak mengubah makna)

Kategori:Hukum-Hukum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: