Beranda > Hukum-Hukum > Bahaya Besar Dari Praktek Ribawi

Bahaya Besar Dari Praktek Ribawi

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Chained_To_Debt2Alhamdulillah, ashsholatu wassalamu ‘ala Rosulillahi wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yawmil qiyamah. Amma ba’d.

Wahai Saudaraku, kita sebagai umat Islam tentunya telah sama-sama mengetahui bahwasanya ajaran Islam merupakan ajaran yang memerintahkan kepada perbuatan kebajikan dan melarang dari perbuatan keburukan. Tidaklah ada satu perkara kebaikan pun melainkan pasti telah diajarkan dan diperintahkan dalam ajaran Islam. Demikian pula sebaliknya, tidak ada satu perkara keburukan pun melainkan pasti telah diterangkan dan dilarang dalam ajaran Islam. Dan sungguh, ajaran Islam merupakan ajaran yang indah, lengkap, dan sempurna di dalam mengatur segala sendi kehidupan alam semesta ini.

Allah Ta’ala berfirman :

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬اۚ
Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku. Dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kalian. [Surat ke-5 Al Ma’idah ayat 3]

Dan salah satu perkara keburukan yang dilarang di dalam ajaran Islam adalah praktek ribawi. Bahkan di dalam beberapa ayat Al Qur’an, larangan melakukan praktek ribawi ini digandengkan dengan perintah untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala yang mana hal ini menunjukkan betapa pentingnya larangan terhadap praktek ribawi tersebut. Tidak ketinggalan pula, praktek ribawi tersebut pun diancam akan diperangi oleh Allah dan Rosul-Nya, dan di dalam sekian hadits disebutkan permisalan perbuatan riba ini dengan perbuatan yang sangat keji yang mana hal ini pun menunjukkan betapa besarnya bahaya dari praktek ribawi tersebut.

Hanya saja sungguh sangat disayangkan, di masa sekarang ini justru praktek-praktek ribawi sangat marak di sekitar kita. Dan bahkan di negara yang mayoritasnya adalah pemeluk Islam dan merupakan negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar sedunia, justru praktek-praktek ribawi sangat marak terjadi di negara Indonesia yang kita cintai ini berupa sangat banyaknya jumlah perbankan. Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kaum Muslimin yang ada di Indonesia dan juga di seluruh muka bumi.

Dari data Bank Indonesia per Juni 2014 yakni pada laporan Statistik Perbankan Indonesia – Vol. 12, No. 7, Halaman 11 disebutkan bahwasanya jumlah Bank Umum di Indonesia adalah sebanyak 119 bank dan Bank Perkreditan Rakyat sebanyak 1634 bank. Sungguh…angka sebesar ini adalah sangat ironis di sebuah negara yang jumlah pemeluk Islam nya terbesar sedunia. Lantas, apakah mungkin Allah Ta’ala akan menurunkan barokah terhadap negeri ini jika praktek ribawi sangat marak terjadi??? Sungguh…setinggi apapun capaian ekonomi yang dicapai oleh negeri ini, maka pasti hal itu adalah semu belaka dan pasti suatu saat akan hancur lebur.

(sumber data : http://www.bi.go.id/id/statistik/perbankan/indonesia/Documents/SPI%20Juni%202014.pdf )

Berikut ini adalah beberapa dalil yang menunjukkan tentang larangan praktek ribawi dan betapa besar kejelekan dari praktek ribawi tersebut :

Allah Ta’ala berfirman :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَـٰفً۬ا مُّضَـٰعَفَةً۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda! Dan bertaqwalah kalian kepada Allah agar kalian mendapat keberuntungan. [Surat ke-3 Ali ‘Imron ayat 130]

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِىَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ‌ۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَڪُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٲلِڪُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman. (278) Maka jika kalian tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rosul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat [dari pengambilan riba], maka bagi kalian pokok harta. Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (279)
[Surat ke-2 Al Baqoroh ayat 278-279]

ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ فَمَن جَآءَهُ ۥ مَوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ ۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُ ۥۤ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ
يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِى ٱلصَّدَقَـٰتِ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Orang-orang yang makan harta riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithon lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata bahwa sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharomkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (275) Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. [Surat ke-2 Al Baqoroh ayat 275-276]

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‏ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
Sungguh-sungguh pasti akan datang kepada manusia suatu masa yang mana seseorang tidak akan lagi peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari hal yang halal ataukah dari hal yang harom. [hadits shohih riwayat Al Bukhori rohimahullah no.2083]
Sumber : http://sunnah.com/bukhari/34/36

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ ! قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ
Jauhilah oleh kalian 7 dosa besar yang membinasakan! Para shohabat bertanya : “Wahai Rosulullah, apakah itu?” Beliau menjawab : “berbuat syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharomkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang benar dalam syari’at, makan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari medan peperangan, dan menuduh zina terhadap wanita yang menjaga kehormatannya.” [hadits shohih riwayat Al Bukhori rohimahullah no.6857 dan Muslim rohimahullah no.89]
Sumber : http://sunnah.com/bukhari/86/80 dan http://sunnah.com/muslim/1/168

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan harta riba, orang yang menyerahkannya (nasabahnya), pencatat/penulisnya (notaris dan semisalnya), dan dua orang saksinya. Beliau berkata : “Mereka itu semua sama.” [hadits shohih riwayat Muslim rohimahullah no.1598]
Sumber : http://sunnah.com/muslim/22/132

دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ , أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً
Satu dirham hasil riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan ia mengetahuinya, maka lebih besar dosanya daripada berzina sebanyak 36 kali. [hadits riwayat Ahmad rohimahullah dalam Musnad nya no.21394]
Sumber : http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=121&hid=21394&pid=62053

الرِّبَا ثَلاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا ، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringannya adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang terbesar adalah (melanggar) kehormatan seorang Muslim. [hadits shohih berdasarkan syarat Al Bukhori dan Muslim rohimahumallah, dikeluarkan oleh Al Hakim An Naisaburi rohimahullah dalam Al Mustadrok ‘alashshohihain no.2196]
Sumber : http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=594&hid=2196&pid=0

Wahai kaum Muslimin, dengan sekian banyak dalil Al Qur’an dan Al Hadits di atas telah menerangkan kepada kita bersama akan besarnya urusan tentang praktek ribawi tersebut. Namun sudahkah kita benar-benar telah melakukan sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Islam tersebut???

Sungguh…jika di antara kita melihat perbuatan zina telah merajalela di negeri Indonesia ini, maka pasti kita semua akan merasa sangat sedih dan pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkannya. Maka bagaimana pula hal nya dengan praktek ribawi yang saat ini telah merajalela di sekitar kita tersebut ??? Apakah kita sebagai seorang Muslim merasa sedih dengan kenyataan ini??? Apakah kita sebagai seorang Muslim akan berusaha untuk menghilangkan atau setidaknya meminimalisir praktek ribawi tersebut???

Sekarang kita sedikit bertanya :
– berapa banyak kaum Muslimin yang menjadi karyawan perusahaan perbankan ?
– berapa banyak kaum Muslimin yang terlibat dalam praktek ribawi seperti kredit rumah, kredit mobil, kredit usaha, dan semisalnya ?
– berapa banyak kaum Muslimin yang berprofesi menjadi notaris pencatat sekaligus saksi dari suatu praktek ribawi?
– berapa banyak kaum Muslimin yang menyimpan uangnya di bank dan juga memakan bunga ribawi nya ? (hal ini di luar kondisi darurat bagi orang yang murni sekedar hanya menyimpan uang di bank tanpa mengambil bunganya)

Tidakkah kita merasa takut kepada Allah Ta’ala yang mana dengan semakin maraknya praktek ribawi tersebut di negeri ini bisa jadi penyebab turunnya ‘adzab yang sangat pedih ???

Bagi sebagian kita bisa jadi belum merasakan dampak buruk langsung dari praktek ribawi, sehingga kita belum merasa sangat khawatir terhadap praktek ribawi tersebut. Maka berikut ini kita berikan sedikit contoh ringan tentang praktek ribawi sehingga dengan ini bisa menjelaskan kepada kita betapa berbahayanya praktek ribawi tersebut bagi ekonomi suatu individu dan bahkan bagi suatu negara. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel di link berikut ini : http://www.4shared.com/office/Qz8T4pF2/masa_lalu_uang_dan_akibat_dari.html? atau https://pentasatriya.wordpress.com/2011/03/08/bahaya-besar-di-balik-sistem-ribawi/

====================

Berikut ini penjelasan ringkasnya :

Anggap saja misalkan di sebuah desa terdapat 100 penduduk. Masing-masing penduduk memiliki harta sebesar 1 juta, sehingga jumlah total uang yang dimiliki oleh penduduk tersebut adalah 100 juta. Semua penduduk tersebut berusaha mencari nafkah di antara sesama mereka. Ada yang jual beli sesama mereka, ada yang bekerja kepada selainnya, ada yang bertani, dan seterusnya.

Kemudian muncul ide dari seorang warga, sebut saja si A.

Si A ini berpikir bahwa jika semua penduduk desa itu saling melakukan interaksi di antara sesama mereka, lantas kenapa tidak dibuat saja suatu lembaga keuangan yang mengatur ekonomi desa tersebut sehingga bisa lebih memudahkan. Karena si A ini menganggap, jika uang cash selalu dijadikan alat tukar maka tentunya akan beresiko dan tidak praktis. Mengapa tidak diatur saja secara online oleh sebuah lembaga keuangan tersebut sehingga sesama warga desa cukup hanya punya nomor rekening, dan interaksi di antara sesama mereka cukup lewat online saja.

Akhirnya, usul tersebut pun diutarakan kepada seluruh warga desa dan si A ini ditunjuk menjadi pengelola lembaga keuangan yang kemudian disebut bank.

Kemudian si A ini membuat 100 nomor rekening bagi 100 penduduk desa tersebut. Masing-masing penduduk kemudian menyetorkan uangnya kepada bank milik si A. Terkumpullah uang seluruh penduduk desa sebesar 100 juta yang merupakan total uang yang berputar di desa tersebut. Dan masing-masing penduduk desa lalu memiliki nomor rekening yang mewakili nilai uang sebesar 1 juta.

Mulailah aktifitas ekonomi desa dengan sistem baru lewat bank secara online. Jika terjadi jual beli, maka penjual cukup mentransfer secara online kepada si pembeli. Demikian pula jika warga yang menjadi majikan ingin memberikan gaji kepada karyawannya maka cukup pula mentransfer secara online. Demikian pula bagi petani jika ingin menjual hasil taninya. Demikian pula jika terjadi hutang piutang di antara sesama penduduk desa. Dan bagi penduduk yang ingin mengambil uangnya secara tunai pun bisa. Semua penduduk pun senang dengan sistem baru ini.

Setelah sekian waktu berlalu, si A sebagai pemilik bank pun mulai memperhatikan trend penggunaan uang yang dilakukan oleh warga desa tersebut. Ternyata dari 100 nasabah bank yang ia kelola berupa uang sebesar 100 juta, hanya kurang lebih 50% nya saja yang benar-benar dilakukan berupa uang tunai. Adapun selebihnya ternyata hanya berputar-putar pindah dari satu rekening ke rekening lainnya saja secara online di komputer sentral bank yang ia kelola tersebut.

Mulailah pikiran licik dan serakahnya muncul. Ia berpikir : “Jika uang nasabah yang 50% ini cuma berputar-putar ke sesama rekening bank yang saya kelola, berarti ada 50 juta uang tunai yang menganggur di brankas bank saya. Hmmm…kalau begitu bisa saya gunakan nih untuk kepentingan pribadi saya atau saya pinjamkan kepada para penduduk desa yang butuh hutang.”

Maka kemudian si A pun mengumumkan kepada penduduk desa : “Wahai penduduk desa, bagaimana kondisi perkonomian kalian sekarang? Lebih mudah dan aman bukan?” Penduduk desa pun mengiyakan.

Si A berkata kembali : “Wahai penduduk desa, jika ada di antara kalian yang membutuhkan uang untuk keperluannya seperti membangun rumah, membeli perabotan, dan semisalnya, maka kalian bisa pula meminjamnya dari bank yang saya kelola. Akan tetapi, sebagai balasan kebaikan tersebut maka Anda cukup membayar kelebihan dari yang dipinjamnya sebesar 2% saja selama setahun.” (bagi Anda yang jeli, tentunya akan bertanya : “Jika total uang yang berputar milik seluruh warga desa adalah 100 juta, lalu jika ada di antara mereka yang meminjam uang kemudian diharuskan mengembalikannya dengan tambahan 2%, maka uang sebesar 2% ini dapat diperoleh dari mana kecuali dengan cara menjual asset miliknya???”)

Penduduk desa pun mulai tertarik dengan tawaran tersebut. Apalagi kelebihan sebesar 2% per tahun tersebut mereka anggap hal yang wajar demi membalas kebaikan bank milik si A yang telah meminjamkan uang.

Mulailah berdatangan sebagian penduduk yang ingin meminjam uang ke bank milik si A. Ada yang meminjam 1 juta, ada yang meminjam 2 juta, dan sebagainya. Penduduk desa tersebut tidak sadar bahwasanya uang yang mereka pinjam itu adalah berasal dari uang mereka sendiri yang telah disimpannya di bank milik si A.

Jika ada seseorang yang datang ke bank si A untuk pinjam uang sebagai modal bangun rumah (sebut saja si B), maka si A pun sangat menyarankan agar si B tersebut meminjamnya secara catatan online saja dan tidak perlu mengambil berupa uang cash. Alasannya, jika si B ini ingin membeli bahan bangunan atau membayar upah kuli bangunan, maka cukup ia mentransfer kepada sesama mereka. Toh semua warga tersebut telah memiliki rekening pada bank yang sama. Lantas, untuk apa repot-repot ambil uang cash? Si B pun setuju pula dengan usulan si A tersebut.

Demikianlah seterusnya yang dilakukan oleh si A jika ada warga desa yang datang ingin meminjam uang kepada bank yang dikelolanya. Tidak satu pun warga desa yang sadar bahwa pada hakikatnya si A ini tidak punya uang sama sekali. Si A ini hanya memanfaatkan uang “nganggur” milik warga desa sendiri yang disimpan di bank miliknya.

Waktu pun bergulir tahun demi tahun. Warga desa pun mulai merasakan suatu keanehan. Selama ini mereka telah bekerja keras mendapatkan uang. Tapi mereka merasa bahwa kondisi ekonomi mereka tidak juga membaik dan bahkan senantiasa dibebani beban bunga hutang. Bagi mereka yang telah melunasi hutang plus bunganya, bisa dipastikan bahwa ia pasti telah menjual sebagian asset miliknya.

Adapun si A, lama kelamaan ia menjadi semakin kaya raya. Dengan modal uang “nganggur” milik warga desa tersebut, saat ini ia telah memiliki sekian banyak asset milik warga yang dijual kepadanya demi menutupi hutangnya. Pun juga si A ini berhasil membeli sekian banyak asset milik warga yang lagi-lagi ia beli secara catatan online rekening di bank dengan uang “nganggur” milik warga desa tersebut.

====================

Wahai kaum Muslimin…demikianlah sedikit permisalan praktek ribawi yang saat ini marak di sekitar kita. Itu semua hanyalah sebuah permisalan sederhana di sebuah penduduk desa yang hanya berjumlah 100 penduduk. Bisakah Anda bayangkan jika praktek ribawi semisal tersebut dilakukan secara terstruktur sangat rapi, didukung tenaga-tenaga ahli dan opini media massa, melibatkan jumlah dana yang disimpan yang sangat besar, terjadi di sebuah negara besar dan kaya raya, dan menimpa ratusan juta penduduk.

Maka apa jadinya kondisi ekonomi di negara tersebut??? Sungguh akan sangat mengerikan. Dan bayangkan pula jika negara-negara di seluruh dunia ini juga terjatuh dalam praktek ribawi yang notabene lembaga-lembaga keuangan ribawi internasional ternyata dikuasai hanya oleh segelintir orang atau segelintir kelompok tertentu??? Maka tentunya dampak buruknya akan sangat lebih mengerikan lagi.

Sungguh benarlah mengapa di dalam ajaran Islam yang mulia ini praktek-praktek ribawi dengan sekian banyak jenisnya diharomkan secara tegas dan bagi para pelakunya diancam dengan ancaman yang sangat berat.

Allah Ta’ala berfirman mencela perbuatan kaum Yahudi :

فَبِظُلۡمٍ۬ مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمۡنَا عَلَيۡہِمۡ طَيِّبَـٰتٍ أُحِلَّتۡ لَهُمۡ وَبِصَدِّهِمۡ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ كَثِيرً۬ا
وَأَخۡذِهِمُ ٱلرِّبَوٰاْ وَقَدۡ نُہُواْ عَنۡهُ وَأَكۡلِهِمۡ أَمۡوَٲلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَـٰطِلِ‌ۚ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَـٰفِرِينَ مِنۡہُمۡ عَذَابًا أَلِيمً۬ا
Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haromkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, (160) dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (161) [Surat ke-4 An Nisa ayat 160-161]

Semoga sedikit tulisan ini bisa menyadarkan bagi kita bersama akan bahaya besar di balik praktek ribawi yang ada di sekitar kita. Jika kita telah sadar, maka tentunya kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarkan diri kita dari praktek-praktek ribawi tersebut sehingga kita bisa selamat di dunia dan akhirat. Dan semoga pula kita mengetahui bahwasanya solusi dari bencana ekonomi yang pasti akan menimpa dunia disebabkan praktek ribawi tersebut adalah kembali kepada ajaran Islam yang salah satu ajarannya adalah tentang ekonomi Islam.

Allahu A’lam wa nas’alullahassalamah wal ‘afiyah.

بارك الله فيكم

Kategori:Hukum-Hukum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: