Beranda > Aqidah & Manhaj > Benarkah Islam Agama Yang Kejam? (Belajar dari Kenyataan Sejarah Indonesia)

Benarkah Islam Agama Yang Kejam? (Belajar dari Kenyataan Sejarah Indonesia)

thinkBenarkah Islam Adalah Agama Kekerasan? (Belajar dari Kenyataan Sejarah Indonesia)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Segala pujian hanya milik Allah. Kita memuji, memohon pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejelekan-kejelekan diri kita dan dari keburukan amalan-amalan kita.


Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan Islam. (Surat Ali ‘Imron ayat 102)

Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kalian kepada Robb-mu yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isteri-isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (Surat An Nisa’ ayat 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalanmu dan mengampuni bagi dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surat Al Ahzab ayat 70-71)

Amma ba’du,
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap kebid’ahan adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Kaum Muslimin! Di masa-masa sekarang ini agama Islam telah diopinikan sedemikian rupa oleh makar/tipu daya musuh-musuh Islam sehingga ajaran agama yang mulia ini dianggap sebagai ajaran yang keras, kejam, barbar, terbelakang, dan anggapan buruk lain semisalnya. Dan makar mereka tersebut sesungguhnya telah berlangsung sejak dahulu hingga kiamat kelak.

Allah Ta’ala berfirman :
وَيَمۡكُرُونَ وَيَمۡكُرُ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَـٰڪِرِينَ
Mereka (musuh-musuh Islam) berbuat makar/tipu daya (untuk menghancurkan Islam), dan Allah pun membalas perbuatan makar-makar mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar/tipu daya (dari musuh-musuh Islam). -Surat Al Anfal ayat 30-

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٲهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ
Mereka (musuh-musuh Islam) menginginkan untuk memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut-mulut mereka. Dan Allah akan tetap menyempurnakan cahaya agama-Nya tersebut walaupun orang-orang kafit itu benci (Surat Ash Shoff ayat 8)

Terlebih lagi, di zaman sekarang ini mayoritas media massa dikuasai oleh musuh-musuh Islam. Akibatnya, musuh-musuh Islam pun dapat dengan mudah menggiring opini buruk yang mereka kehendaki terhadap agama Islam dan umat Islam. Ditambah pula, saat ini umat Islam sudah semakin banyak yang meninggalkan ajaran agama Islam dan mereka telah silau dengan ajaran yang berasal dari musuh-musuh Islam.

Sehingga, justru ajaran agama Islam menjadi teropinikan buruk bukan hanya di pandangan orang-orang non-Muslim saja, akan tetapi pula justru ajaran agama Islam telah teropinikan dengan buruk di pandangan umat Islam sendiri. Maka sungguh, hal ini adalah musibah besar bagi agama Islam dan bagi umat Islam. Kita memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala terhadap hal ini.

Kaum Muslimin! Jika kita mau sedikit saja bercermin terhadap kenyataan sejarah yang ada maka sungguh yang akan kita dapati adalah bahwasanya ajaran agama Islam adalah ajaran yang mulia, indah, dan sempurna dari segala sisi.

Allah Ta’ala berfirman :
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬اۚ
Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku. Dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kalian. (Al Ma’idah ayat 3)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً۬ لِّلۡعَـٰلَمِينَ
Dan tidaklah Aku utus engkau (wahai Muhammad) melainkan adalah sebagai rohmat bagi semesta alam (Surat Al Anbiya’ ayat 107)

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬
Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berada di atas akhlaq/budi pekerti yang agung (Surat Al Qolam ayat 4)

Dari 3 ayat tersebut, maka kita sebagai umat Islam sudah dapat memastikan bahwasanya anggapan-anggapan buruk terhadap ajaran agama Islam tersebut hanyalah kedustaan belaka dari musuh-musuh Islam.

Ditambah lagi, jika kita mau melihat kenyataan sejarah yang ada berkaitan dengan sejarah masuknya agama Islam ke negeri Indonesia yang kita cintai ini, maka sungguh kedustaan musuh-musuh Islam akan lebih tampak lagi.

Kaum Muslimin! Siapapun orangnya yang membaca sejarah tentang masuknya Islam ke negeri Indonesia ini , maka sungguh akan dia dapati kenyataan yang bertentangan dengan anggapan-anggapan buruk terhadap Islam tersebut :

1. Dahulunya Indonesia merupakan wilayah sangat luas yang terdiri dari sekian banyak kerajaan-kerajaan yang bukan beragama Islam.
2. Bangsa Indonesia terdiri dari sekian banyak suku bangsa dengan sekian banyak sifat, karakter, dan budaya masyarakat yang berbeda-beda pula.
3. Kemudian, mulailah terjadi interaksi antara orang-orang Islam yang ketika itu banyak yang berprofesi sebagai pedagang dengan orang-orang Indonesia yang saat itu belum memeluk Islam.
4. Setelah berinteraksi dan melihat secara langsung keluhuran budi pekerti orang-orang Islam dan keindahan ajaran Islam, mulailah secara perlahan orang-orang Indonesia tertarik secara sukarela untuk mempelajari Islam dan kemudian tertarik untuk memeluk agama Islam tanpa adanya paksaan dan kekerasan sedikitpun.
5. Lalu masuklah kolonialisme asing yakni para penjajah ke negeri Indonesia yang mana salah satu misinya adalah dalam rangka menyebarkan ajaran agama kristiani ke negeri Indonesia, dan para penjajah tersebut silih berganti menjajah negeri Indonesia sekian ratus tahun lamanya. Sehingga, justru kita patut bertanya : “Jika demikian, agama apakah yang justru dibawa dengan cara kekerasan kolonialisme?”
6. Dari kenyataan sejarah pada poin 1-5 di atas, ternyata mayoritas bangsa Indonesia tetap tidak tergoyahkan keyakinan mereka terhadap ajaran agama Islam. Mereka tetap dengan sukarela mempertahankan agama Islam yang telah mereka yakini dan bahkan dengan dasar itu pula mereka berhasil bahu membahu mengusir para penjajah untuk pergi dari negeri Indonesia. Dan sampai detik ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam nya adalah yang terbesar sedunia, bahkan mengalahkan jumlah pemeluk Islam di negeri asal agama Islam itu sendiri yakni Sa’udi ‘Arobia. Segala puji hanya bagi Allah.

Selain itu, kenyataan sejarah yang ada juga mencatat bahwasanya ketika umat Islam menjadi penduduk mayoritas di suatu daerah, maka tidak pernah didapati catatan sejarah bahwasanya umat Islam menzholimi umat agama lainnya. Namun sebaliknya, jika umat Islam menjadi penduduk minoritas di suatu daerah, maka justru umat Islam sering menjadi objek kezholiman dari pemeluk agama mayoritas di daerah tersebut.

Maka dari kenyataan sejarah yang tidak terbantahkan ini, siapa pun orang nya tentunya bisa menilai secara objektif dan jernih bahwasanya agama Islam bukanlah agama yang disebarkan dengan cara kekerasan atau kekejaman sebagaimana opini buruk musuh-musuh Islam.

Semoga Allah Ta’ala membuka mata hati orang-orang yang masih memiliki opini buruk terhadap Islam.

Kaum Muslimin! Demikianlah kenyataan sejarah yang tidak terbantahkan yang terjadi di negeri Indonesia. Jika kita mau pula sedikit untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam, maka tentunya akan kita dapati pula faktor-faktor penguat lainnya yang membantah opini buruk musuh-musuh Islam tersebut.

Maka berikut ini akan kita sedikit baca 1 ayat saja dari sekian ribu ayat-ayat dalam kitab suci umat Islam yakni Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman dalam surat An Nisa’ ayat ke-36 yang juga disebut dengan ayat “al huququl asyaroh” (ayat yang menerangkan tentang hak-hak yang berjumlah 10) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Dan beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan janganlah kalian mensekutukannya dengan suatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat/pasangan hidup, ibnussabiil/musafir yang kehabisan bekal, dan hamba sahaya milik kalian. Sesungguhnya Allah tidaklah menyukai orang-orang yang sombong dan suka membanggakan diri.

Berikut ini penjelasan ringkas dari ayat tersebut dari Tafsir Ibnu Katsir rohimahullah :

1. Allah sebagai Robb (Pencipta, Penguasa, dan Pengatur) semesta alam telah memerintahkan kepada makhluqNya untuk mereka beribadah hanya kepadaNya dan tidak mensekutukan Allah di dalam peribadatannya dengan suatu apapun. Dan ini adalah hak yang paling utama dan lebih didahulukan.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal rodhiAllahu ‘anhu :

” أتدري ما حق الله على العباد ؟ ” قال : الله ورسوله أعلم .
قال : ” أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا ” ، ثم قال : ” أتدري ما حق العباد على الله إذا فعلوا ذلك ؟ ألا يعذبهم
“Apakah engkau mengetahui apa itu hak Allah atas hamba-hamba Nya?” Maka Mu’adz pun menjawab : “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.”
Maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Yakni agar hamba-hamba beribadah hanya kepada Allah dan tidak mensekutukan-Nya dalam peribadatannya tersebut.”
Kemudian Rosulullah shollalahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Apakah engkau tahu mengetahui apa itu hak hamba-hamba atas Allah jika hamba-hamba tersebut telah berbuat yang demikian itu?”
Dijawab oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam : “Yakni bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka.”

2. Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua dikarenakan besarnya kebaikan orang tua kepada anak. Maka jika demikian, tentunya kebaikan Allah kepada hamba-Nya lebih besar dan lebih pantas bagi hamba tersebut agar mereka berbakti kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman :

أَنِ اشْكُرْلِي وَ لِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيْرُ
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu! Hanya kepada Aku lah tempat kembalimu. (Surat Luqmaan ayat 14)

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡڪِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ۬
وَلَا تَنۡہَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً۬ ڪَرِيمً۬ا
وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا
Dan Robb-mu (yakni Allah) telah memerintahkan agar janganlah engkau beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. Jika engkau mendapati salah satu atau keduanya telah berusia senja, maka janganlah engkau berkata kepada keduanya perkataan “ah”, dan jangan pula engkau menghardik keduanya. Dan berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang baik. Rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan ucapkanlah do’a : “Wahai Robb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasuhku ketika aku kecil.” (Surat Al Isroo’ ayat 23-24)

3. Kemudian Allah perintahkan juga untuk berbuat baik kepada karib kerabat, yakni orang-orang yang masih memiliki hubungan rahim baik itu dari kalangan pria maupun wanita, besar ataupun kecil. Sebagaimana hadits riwayat An Nasa’i rohimahullah :

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏
“‏ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ ‏”
Diriwayatkan dari Salman bin ‘Amir rodhiAllahu ‘anhu, kemudian dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin itu terhitung sebagai 1 sedekah. Dan sedekah kepada orang yang memiliki hubungan kekerabatan itu terhitung sebagai 2 sedekah, yakni nilai sebagai sedekah dan juga nilai sebagai penyambung hubungan kekerabatan.”

4. Kemudian Allah perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada anak yatim, yakni anak kecil yang belum baligh yang ditinggal mati oleh ayah nya.

5. Lalu perintah untuk berbuat baik kepada orang-orang miskin, yakni orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya dikarenakan tidak memiliki cukup harta maupun usaha.

Bahkan orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak mau memberikan makan kepada orang miskin disebutkan dalam Al Qur’an sebagai ciri orang-orang yang mendustakan agama. Allah Ta’ala berfirman :

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
فَذَٲلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ
Tahukah engkau siapa orang-orang yang mendustakan agama itu? Yakni orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mau mendorong untuk memberi makan orang miskin. (Surat Al Ma’un ayat 1-3)

6. Dan juga ke-7 : Kemudian Allah perintahkan agar berbuat baik kepada tetangga dekat maupun tetangga jauh
( والجار ذي القربى والجار الجنب ). Adapun definisi tetangga dekat dan tetangga jauh antara lain :

– Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhuma : tetangga yg masih memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang tidak memiliki hubungan kerabat.
– ‘Ali bin Abi Tholib dan Ibnu Mas’ud rodhiAllahu ‘anhuma : tetangga dekat adalah istri, dan tetangga jauh adalah teman dalam safar.
– Nauf al Bakaaliy rodhiAllahu ‘anhu berkata : yakni tetangga dari kalangan Muslim dan tetangga dari kalangan ahlul kitab.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏
“‏ مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ ‏”
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar rodhiAllahu ‘anhuma ia berkata :
Rosulullah shollalahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Senantiasa Jibril ‘alaihissalam mewasiatkan aku tentang perkara tetangga, hingga aku menyangka bahwasanya tetangga itu akan menjadi ahli waris.”

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
أَنَّهُ قَالَ‏:‏ خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash rodhiAllahu ‘anhuma, dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda :
“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah Ta’ala adalah yang terbaik di antara mereka terhadap sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah Ta’ala adalah yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.”

8. Kemudian Allah perintahkan untuk berbuat baik kepada teman sejawat. Makna ( والصاحب بالجنب ) adalah :

– Berkata ‘Ali bin Abi Tholib dan Ibnu Mas’ud rodhiAllahu ‘anhuma : yakni istri (pasangan hidup)
– Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhuma : yakni teman dalam safar
– Berkata Sa’id bin Jubari rohimahullah : yakni teman yang sholih

9. Lalu perintah berbuat baik kepada ibnu sabil, yakni orang yang kehabisan bekal di dalam perjalanan (ini adalah pendapat yang masyhur). Adapun Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhuma mengatakan bahwa ibnu sabil adalah tamu, yakni perintah untuk berbuat baik terhadap tamu.

10. Perintah berbuat baik kepada budak yang berada di bawah kekuasaan kita. Salah satunya adalah dengan tidak memberikan beban pekerjaan yang di luar kemampuannya, serta memperhatikan kebutuhan pokok dari budak tersebut.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Abuu Daawuud rohimahullah :

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ كَانَ آخِرُ كَلاَمِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ‏”‏
Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiAllahu ‘anhu : Akhir ucapan dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam (yakni ketika menjelang wafatnya) adalah :
“Jagalah sholat! Jagalah sholat! Bertaqwalah kalian kepada Allah terhadap budak-budak yang kalian miliki!”

Juga di dalam riwayat Muslim rohimahullah :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ ‏”
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Cukuplah bagi seseorang itu dianggap berbuat dosa jika ia menahan makanan pokok dari orang yang berada di bawah kekuasaannya.”

Kemudian di akhir ayat ke-36 surat An Nisa’ tersebut adalah :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong dan berbangga diri.”

Maksudnya adalah : orang yang merasa tinggi hati dan bangga terhadap dirinya sendiri, menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain.

Kaum Muslimin! Maka dari apa yang kita dapati berupa faidah-faidah dari 1 ayat ini saja, sudah membuktikan kepada kita bersama bahwasanya Islam adalah ajaran agama yg mulia dan indah, dan bukan ajaran yang kejam dan buruk sebagaimana opini atau anggapan dari musuh-musuh Islam tersebut. Maka tentunya jika kita mau untuk mempelajari Islam secara utuh dan lengkap, maka niscaya akan kita dapati sekian banyak kemuliaan dan keindahan di dalam ajaran agama Islam.

Maka dari itu, kita sebagai umat Islam hendaknya mau untuk mempelajari ajaran Islam tersebut. Kemudian mempraktekkannya di dalam kehidupan sehari-hari, lalu mendakwahkannya kepada orang-orang terdekat kita, serta bersabar di atas semua itu hingga maut menjemput kita.

Dari sini pula, telah tampak bagi kita bersama akan betapa pentingnya bagi setiap umat Islam untuk mau mempelajari ajaran agama Islam yang telah dianutnya agar tidak mudah terperdaya dengan tipu daya musuh-musuh Islam yang senantiasa berusaha untuk menjelek-jelekkan Islam dan umat Islam.

Dan dari sini pula, tampak bagi kita bersama akan besarnya dampak dari al akhlaqul karimah (budi pekerti yang baik). Dengan akhlaq Islam yang baik, berbondong-bondong manusia tertarik dan mau untuk memeluk agama Islam.

Semoga apa yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita bersama di tengah terpaan fitnah dan ujian yang menimpa umat Islam. Semoga Allah memperbaiki kondisi umat Islam dan menghancurkan makar musuh-musuh Islam.

Allahu A’lam wa barokAllahu fikum.

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: