Beranda > Akhlaq Islam > Belajar Dari Kehidupan Lebah

Belajar Dari Kehidupan Lebah

Belajar Dari Kehidupan Lebah

alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaahi wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumiddiin. wa ba’du.

Honey-Bee-Delicious-WallpaperSaudaraku yang semoga dirohmati oleh Allah Ta’ala,

Di dalam Al Qur’an terdapat sebuah surat yang bernama An Nahl yang bermakna lebah. Disebut dengan Surat An Nahl dikarenakan terdapat 2 ayat di dalamnya yang berkisah tentang lebah, yakni pada ayat 68-69. Surat An Nahl ini merupakan surat ke-16 dalam Al Qur’an dan jumlah ayat pada surat ini adalah 128 ayat.

Surat ini masuk dalam surat Makkiyyah (yakni diturunkan sebelum periode hijroh dari Mekkah ke Madinah) dan disebut juga dengan Surat An Ni’am yang artinya nikmat-nikmat, dikarenakan di awal surat ini menceritakan tentang sekian banyak nikmat-nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada manusia yang dengannya berkonsekuensi agar manusia tunduk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi.

Adapun Surat An Nahl ayat 68-69 yang dimaksud adalah sebagai berikut :

وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتً۬ا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٲتِ فَٱسۡلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً۬‌ۚ يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ۬ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ فِيهِ شِفَآءٌ۬ لِّلنَّاسِ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Robb-mu telah mengilhamkan kepada lebah : “Buatlah sarang-sarang di pegunungan/perbukitan, di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia”. (68) kemudian makanlah dari bagian tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Robb-mu yang telah dimudahkan [bagimu]. Dari perut lebah itu keluar minuman [madu] yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda [kebesaran Tuhan] bagi orang-orang yang memikirkan. (69)

Dari akhir ayat 69 di atas, terdapat faidah bahwasanya pada kehidupan lebah tersebut terdapat tanda kebesaran Allah Ta’ala bagi orang-orang yang mau berfikir sehingga bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut.

Maka berikut ini adalah ringkasan tentang hal-hal yang mengagumkan dari kehidupan lebah :

1. Kepatuhan lebah terhadap perintah Allah Ta’ala

Lebah, sebagaimana binatang lainnya merupakan makhluq yang Allah Ta’ala ciptakan tanpa akal pikiran. Binatang hanya memiliki insting/naluri. Berbeda halnya dengan manusia yang Allah Ta’ala ciptakan dengan diberikan akal pikiran. Tetapi, lihatlah betapa luar biasanya kepatuhan lebah terhadap perintah Robb-nya yakni Allah Ta’ala di dalam ayat 68 di atas!

Ketika Allah Ta’ala memerintahkan mereka dengan petunjuk untuk membuat sarang-sarang di pegunungan/perbukitan, pepohonan, atau di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia, maka dengan serta merta lebah mematuhi perintah tersebut.

Silakan Anda perhatikan ! Sarang-sarang lebah paling banyaknya terdapat di pegunungan/perbukitan/dataran tinggi yakni tempat yang pertama kali disebutkan di dalam ayat 68 tersebut. Kemudian setelah itu, pepohonan merupakan tempat paling banyak berikutnya yang menjadi tempat lebah membuat sarangnya. Barulah setelah itu, tempat-tempat yang dibuat oleh manusia menjadi tempat berikutnya yang dijadikan sarang oleh lebah. Pernahkah Anda melihat lebah membuat sarang di selain 3 tempat tersebut ??? Subhaanallaah (Maha Suci Allah).

Perhatikanlah pula betapa patuhnya lebah terhadap perintah Allah Ta’ala! Suatu kawanan lebah ketika akan membangun sebuah koloni lebah, maka hal yang pertama kali mereka lakukan adalah membuat rumah/sarang terlebih dahulu, baru kemudian mereka mencari makan dengan cara menempuh jalan-jalan yang Allah Ta’ala mudahkan bagi lebah dengan cara memakan sari-sari bunga atau buah-buahan. Persis sesuai dengan urutan perintah dari ayat 68 tersebut. Pernahkah Anda lihat lebah yang membuat koloni tanpa mereka membuat sarang terlebih dahulu? Atau pernahkah Anda melihat lebah makan dari selain sari-sari bunga atau buah-buahan sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan tersebut? Subhaanallaah.

Jika demikian luar biasanya kepatuhan lebah terhadap perintah Allah Ta’ala, dalam kondisi lebah itu tidak dikaruniai akal pikiran oleh Allah Ta’ala….maka mengapa begitu banyak manusia yang lalai terhadap perintah Allah Ta’ala yang merupakan Robb-nya (Pencipta, Penguasa, dan Pengatur) ??? Padahal, manusia diciptakan dengan akal pikiran dan juga bentuk tubuh yang paling sempurna dibandingkan makhluq lainnya. Tidakkah manusia merasa malu terhadap lebah ??? Sungguh tercela lah manusia yang demikian itu.

Surat ke-2 Al Baqoroh ayat 21 (ayat ini merupakan ayat perintah pertama di dalam urutan mush-haf Al Qur’an yang mana Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia secara umum untuk beribadah hanya kepada-Nya saja) :

يَـٰٓأَيُّہَاٱلنَّاسُٱعۡبُدُواْرَبَّكُمُٱلَّذِىخَلَقَكُمۡوَٱلَّذِينَمِنقَبۡلِكُمۡلَعَلَّكُمۡتَتَّقُونَ

Wahai sekalian manusia, beribadahlah kalian kepada Robb-mu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.

Surat ke-51 Adz Dzaariyaat ayat 56 :

وَمَاخَلَقۡتُٱلۡجِنَّوَٱلۡإِنسَإِلَّالِيَعۡبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.

2. Sikap lebah ketika membuat sarang

Jika kita perhatikan lebih jauh bagaimana sikap lebah ketika membuat sarang, maka kita akan melihat keajaiban yang lebih besar lagi.

Perhatikanlah, betapa indahnya dan presisinya lebah ketika membuat sarangnya yang merupakan gabungan dari sekian banyak bentuk persegi enam yang tidak meninggalkan celah sedikitpun! Jika manusia ingin meniru apa yang diperbuat oleh lebah terhadap sarangnya, niscaya manusia akan menemui kesulitan yang amat sangat. Lantas siapakah Dzat yang telah mengajari lebah sehingga mereka dengan mudahnya berbuat yang demikian itu ??? Tentunya, pasti ada Dzat Yang Maha Kuasa yang telah mengajari lebah untuk berbuat yang demikian itu. Dia lah Allah Ta’ala.

Maka sungguh sangat dungu lah orang-orang yang mengingkari adanya Robb semesta alam dari kalangan atheis. Hilang ke mana kah akal pikiran mereka itu sehingga bisa-bisanya mereka ini lebih jelek daripada seekor lebah???

Perhatikanlah pula tatkala sebuah koloni lebah membuat sarang di suatu tempat, pernahkah Anda melihat tempat yang ditumpangi sarangnya tersebut menjadi rusak? Pernahkah Anda lihat dinding bukit menjadi roboh ketika ditumpangi sarang lebah? Pernahkan Anda lihat sebuat dahan pohon menjadi patah ketika ditumpangi sarang lebah?

Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa ketika sebuah koloni lebah membuat sarangnya di suatu tempat, maka seolah-olah mereka tahu seberapa kuat tempat tersebut sanggup ditumpangi oleh koloninya. Jika koloni lebah sudah merasa bahwa kapasitas suatu sarangnya sudah maksimal, maka lebah itu akan membuat koloni yang baru di sarang yang baru pula di tempat lain.

Lebah seolah-olah mengajarkan kepada kita bahwasanya ketika kita hidup di suatu tempat maka janganlah kita menjadi perusak. Hal ini sebagaimana terdapat dalam Surat Al Baqoroh ayat 11-12 :

وَإِذَاقِيلَلَهُمۡلَاتُفۡسِدُواْفِىٱلۡأَرۡضِقَالُوٓاْإِنَّمَانَحۡنُمُصۡلِحُونَ

أَلَآإِنَّهُمۡهُمُٱلۡمُفۡسِدُونَوَلَـٰكِنلَّايَشۡعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka : “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi!” Maka mereka menjawab : “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11) Ketahuilah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (12)

3. Sikap lebah ketika mencari makan

Lihatlah pula bagaimana indahnya takala lebah mencari makan. Lebah itu hanya makan sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada mereka, dan tidak mencari selain daripada itu. Lantas apakah sumber makanan lebah itu? Kita tentunya telah sama-sama mengetahui bahwasanya lebah itu makan dari intisari bunga yang merupakan bakal dari buah-buahan sebagaimana tersebut dalam ayat.

Coba perhatikan! Bagian yang paling baik dan bermanfaat dari sebuah pohon/tanaman adalah buahnya. Dan buah itu berasal dari bunga. Dan bagian intisari bunga yang paling bersih itulah yang dimakan oleh lebah. Artinya, lebah hanya memakan hal yang paling baik dari bagian yang baik-baik.

Selanjutnya, marilah kita perhatikan bagaimana tatkala lebah itu makan dari intisari bunga. Lihatlah! Ketika lebah itu makan dari intisari bunga, lebah itu tidaklah merusak bunga tersebut sedikitpun. Bahkan lebah turut membantu penyerbukan bunga tersebut untuk kemudian bunga tersebut menjadi buah-buahan.

Hal inilah yang mestinya dicontoh oleh manusia. Manusia seharusnya hanya mencari sumber penghidupan dari hal-hal yang benar-benar bersih dari hal-hal yang harom maupun yang syubhat (tidak jelas) dengan tanpa menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Ironisnya, di zaman sekarang ini manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya saja sehingga sekian banyak aturan Allah Ta’ala dilanggarnya. Manusia banyak yang tidak peduli dari jalan mana mereka mencari penghidupan. Halal/harom/syubhat tidak lagi mereka teliti sehingga pada akhirnya muncullah sekian banyak kerusakan. Bahkan sampai ada ucapan : “Cari yang harom aja susah, gimana lagi mau cari yang halal?”

Lihatlah pula bagaimana indahnya sikap tawakkal lebah. Ketika lebah membutuhkan makanan, maka lebah menjalani sebab diperolehnya makanan yakni dengan keluar sarang menyusuri jalan-jalan yang telah Allah Ta’ala mudahkan bagi mereka untuk mencari makan. Lebah tidak hanya sekedar berdiam diri menunggu datangnya rizqi dari Allah Ta’ala berupa makanan.

Hal ini tentunya berbeda dengan sikap sebagian manusia yang memahami makna tawakkal secara keliru. Bagi mereka, tawakkal itu berarti sekedar diam diri dengan anggapan bersabar sambil menunggu datangnya rizqi dari Allah Ta’ala kepada dirinya. Padahal, apa yang mereka pahami itu sesungguhnya hanyalah muncul dari sifat malas yang ada pada diri mereka sendiri.

Tidakkah manusia (yang memiliki akal pikiran dan bentuk tubuh yang sempurna) itu malu terhadap lebah  (yang memiliki sekian keterbatasan dibandingkan manusia) ???

Surat ke-4 An Nisaa’ ayat 97 :

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّٮٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِہِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡ‌ۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةً۬ فَتُہَاجِرُواْ فِيہَا‌ۚ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَأۡوَٮٰهُمۡ جَهَنَّمُ‌ۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا

إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٲنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً۬ وَلَا يَہۡتَدُونَ سَبِيلاً۬

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, [kepada mereka] malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kalian ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri [Mekah]”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (97) kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan [untuk hijrah], (98)

4. Sikap lebah ketika berinteraksi di dalam koloninya

Selanjutnya, marilah kita lihat pula bagaimana kehidupan lebah di dalam koloni nya.

Di dalam sebuah koloni lebah, mereka dipimpin oleh seorang ratu lebah yang merupakan raja/pemimpin yang ditaati bagi koloni mereka. Masing-masing lebah tersebut telah terbagi tugasnya masing-masing dengan indah dan harmonisnya. Ada di antara mereka yang bertugas mencari makanan, ada yang bertugas menjaga sarang, ada yang bertugas menjaga sang ratu, dan seterusnya. Mereka hidup dengan harmonis saling bahu membahu di dalam sarang tersebut bersama koloninya demi kelangsungan hidup koloni tersebut. Pernahkah Anda melihat lebah berkelahi dengan sesama lebah lain dalam satu koloni nya???

Sang ratu lebah itulah yang menjadi pemimpin bagi koloni lebah yang mengatur sebagaimana layaknya raja yang berwibawa dalam kehidupan manusia. Dan ajaibnya, tidak akan pernah ada dua ratu lebah di dalam satu koloni lebah. Artinya, di dalam sebuah koloni hanya boleh ada satu orang pemimpin saja. Jika ada dua ratu lebah dalam koloni, maka lebah pun akan sepakat membunuh salah satu ratu lebah dan kemudian sepakat mentaati hanya satu ratu lebah saja tanpa kemudian muncul perselisihan di antara koloni mereka.

Maka jika kita memperhatikan perilaku lebah, keteraturan bentuk sarangnya, keteraturan pembagian tugasnya, keteraturan persatuannya dalam bahu membahu, dan semisalnya….maka sungguh hal yang demikian itu akan membuatnya terkagum-kagum. Lantas siapakah Dzat yang telah membuat koloni lebah memiliki keteraturan yang sangat mengagumkan tersebut??? Tentunya bagi orang yang berakal sehat akan menjawab bahwasanya pasti di sana ada Dzat yang telah mengaturnya. Dia lah Allah Ta’ala, Robb semesta alam.

Jika demikian halnya pada lebah, maka tentunya kehidupan alam semesta yang demikian teratur dengan indahnya pasti lebih mengagumkan lagi. Dan tentunya kita akan bertanya kepada para kaum atheis yang menolak mengakui adanya Robb semesta alam : “Wahai kalian….ke manakah akal sehat kalian pergi???”

Surat ke-3 Aali ‘Imroon ayat 190 :

إِنَّفِىخَلۡقِٱلسَّمَـٰوَٲتِوَٱلۡأَرۡضِوَٱخۡتِلَـٰفِٱلَّيۡلِوَٱلنَّہَارِلَأَيَـٰتٍ۬لِّأُوْلِىٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, sungguh-sungguh terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.

5. Lebah yang memiliki wibawa dan keberanian

Selanjutnya, marilah kita lihat bagaimana tingginya wibawa dan keberanian yang dimiliki oleh lebah.

Lebah bukan merupakan hewan pengganggu. Akan tetapi, kita semua tentunya sama-sama mengetahui bahwasanya jika ada pihak-pihak yang berusaha mengusik kehidupan koloni mereka, maka lebah-lebah itu dengan tanpa rasa takut akan berusaha untuk mengusir sang pengganggu tersebut dengan sengat maupun suara dengung yang mereka miliki. Bahkan mereka rela untuk mengorbankan nyawanya demi membela koloni mereka. Tahukah kita bahwasanya jika lebah sudah menyengat penyerangnya, maka lebah itu akan mati???

Inilah salah satu sifat lebah yang patut dicontoh oleh kaum Muslimin. Kaum Muslimin bukanlah kaum yang suka mengganggu kaum lainnya. Akan tetapi jika kaum Muslimin diganggu, maka kaum Muslimin rela untuk mengorbankan nyawanya demi membela kehormatan agama Islam. Sehingga dengan sikap kaum Muslimin yang demikian maka akan memiliki wibawa di hadapan musuh-musuhnya sebagaimana koloni lebah.

Surat ke-24 An Nuur ayat 55 :

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ ڪَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَہُمُ ٱلَّذِى ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّہُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنً۬ا‌ۚ يَعۡبُدُونَنِى لَا يُشۡرِكُونَ بِى شَيۡـًٔ۬ا‌ۚ وَمَن ڪَفَرَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan amalan sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. (yakni) Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Hadits riwayat Abu Dawud dari shohabat Tsauban rodhiAllahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ، فَقَالَ قَائِلٌ : وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ ، فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat bertanya; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?” Nabi menjawab, Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Dan pasti Allah akan mencabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”. Kata para sahabat, “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati”.

6. Lebah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat

Selanjutnya, kita perhatikan apa yang kelak akan dihasilkan oleh lebah tatkala mereka telah tunduk patuh terhadap perintah Allah Ta’ala.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, lebah akan menghasilkan madu yang memiliki sekian banyak warna, rasa yang manis lagi lezat, dan bermanfaat sebagai obat bagi manusia. Apa yang dihasilkan oleh lebah tidak saja bermanfaat bagi kehidupan koloni lebah itu sendiri, bahkan bermanfaat pula bagi pihak lain.

Inilah pula hal yang harus dicontoh oleh kaum Muslimin. Kaum Muslimin merupakan umat yang membawa manfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi pihak yang lain.

Surat ke-21 Al Anbiyaa’ ayat 107 :

وَمَآأَرۡسَلۡنَـٰكَإِلَّارَحۡمَةً۬لِّلۡعَـٰلَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rohmat bagi semesta alam.

Surat ke-3 Aali ‘Imroon ayat 110 :

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ‌ۗ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Pertanyaanya, kapankah hal ini bisa terealisasikan oleh umat Islam??? Maka jawabannya adalah sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh lebah, yakni ketika lebah tersebut telah tunduk dan patuh terhadap perintah Allah Ta’ala sebagaimana pada surat An Nahl ayat 68-69 tersebut.

Maka dari sini, marilah kita semua sebagai umat Islam untuk mau kembali kepada ajaran Islam yang benar. Mari kita pelajari ajaran Islam dengan benar. Lalu kita amalkan dan kita dakwahkan dengan dilandasi rasa sabar sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah Ta’ala. Jika hal ini sudah kita jalani, maka nicscaya apa yang kita harapkan untuk menjadi umat terbaik yang menjadi rohmat bagi semesta alam akan terwujud.

Demikianlah apa yang bisa disampaikan. Apa yang tercantum di atas tentunya bukanlah sebagai pembatasan terhadap hikmah yang terkandung pada lebah. Tentunya di sana masih terdapat sekian banyak hikmah lain yang telah Allah Ta’ala jadikan pada lebah.

Allaahu A’lam wa nas’alullaahassalaamah wal ‘aafiyah.

Sumber :

– Terjemah Miftaah Daarissa’aadah karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah rohimahullah

http://library.islamweb.net/hadith/

http://www.quranexplorer.com/quran/

Kategori:Akhlaq Islam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: