Beranda > Akhlaq Islam > Rekaman Kajian : Kaya itu adalah Kaya Hati

Rekaman Kajian : Kaya itu adalah Kaya Hati

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

your-heartalhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaahi wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumiddiin. wa ba’du.

 

Berikut ini adalah link ceramah dengan tema : “Kaya itu adalah Kaya Hati” yang disampaikan oleh Al Ustadz Mukhtar hafizhohullah (dari Ma’had Darussalaf Solo) pada hari Ahad tanggal 24 Sya’ban 1435 di Masjid Al Kholil Abu Tauhid Sidoarjo.

Ceramah tersebut mengupas seputar hadits riwayat Muslim rohimahullah yang diriwayatkan dari shohabat yakni Abu Huroiroh rodhiAllahu ‘anhu :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَ لٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta benda. Akan tetapi kaya itu adalah kaya hati.

Beberapa poin yang bisa dicuplik dari rekaman tersebut antara lain :

  1. Termasuk hal yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana yang dilakukan oleh para shohabat rodhiAllahu ‘anhum adalah mengingat-ingat nikmat Allah berupa hidayah Islam dan membandingkannya dengan kondisi ketika belum mendapatkan hidayah Islam tersebut. Hal ini dalam rangka untuk semakin mensyukuri atas nikmat Allah yang besar ini berupa hidayah Islam.
  2. Salah satu faidah dari nikmat hidayah Islam adalah kita menjadi mengerti tentang hakikat sesuatu hal, yang mana sebelumnya bisa jadi justru kita belum mengetahuinya. Contoh dari hal ini antara lain :
  3. Sebelum mendapatkan hidayah Islam, kita tentunya memiliki anggapan bahwa definisi orang yang kuat adalah orang yang sanggup mengalahkan orang banyak. Setelah kita belajar Islam lebih mendalam, ternyata hakikat definisi orang yang kuat bukanlah seperti anggapan tersebut. Justru orang kuat yang hakiki adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang menerangkan bahwa orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya ketika ia dalam kondisi mampu untuk menumpahkan amarahnya. Inilah definisi orang kuat yang hakiki.
  4. Sebelum mendapatkan hidayah Islam, kita tentunya memiliki anggapan bahwa orang yang ‘alim (pintar/pandai) itu adalah orang yang memiliki perbendaharaan ilmu ini dan itu atau pandai berorasi, sanggup menjawab pertanyaan ini dan itu, sanggup menghafal ini dan itu, dan semisalnya. Setelah kita belajar Islam lebih mendalam, ternyata hakikat definisi orang yang ‘alim adalah sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an surat ke-35 Al Faathir ayat ke-28 yakni bahwa orang yang pantas disebut sebagai ‘alim adalah orang yang paling takut kepada Allah Ta’ala. Inilah definisi ‘alim yang hakiki.
  5. Sebelum mendapatkan hidayah Islam, kita tentunya memiliki anggapan bahwa orang yang bangkrut itu adalah orang yang kehilangan harta bendanya. Setelah kita belajar Islam lebih mendalam, ternyata hakikat definisi orang yang bangkrut adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang datang di hari kiamat dengan membawa sekian banyak pahala, namun dikarenakan ketika di dunia dia juga berbuat zholim terhadap orang lain, maka pada akhirnya seluruh pahalanya diserahkan kepada orang-orang yang dahulu ia zholimi dan bahkan ketika pahalanya habis, maka dosa-dosa orang yang ia zholimi tersebut justru ditanggung oleh dirinya. Inilah definisi bangkrut yang hakiki.
  6. Sebelum mendapatkan hidayah Islam, kita tentunya memiliki anggapan bahwa orang yang dermawan itu adalah orang yang sekedar suka memberi berupa harta/barang kepada orang lain. Setelah kita belajar Islam lebih mendalam, ternyata hakikat definisi orang yang dermawan adalah orang yang mampu memberi sesuatu kepada orang lain di saat kondisi dirinya kaya, sangat membutuhkan sesuatu tersebut, dan dalam kondisi sangat takut jatuh miskin. Inilah definisi dermawan yang hakiki.
  7. Sebelum mendapatkan hidayah Islam, kita tentunya memiliki anggapan bahwa masa depan seseorang itu sangat ditentukan oleh kepemilikan harta benda, pekerjaan yang layak, dan semisalnya. Dan juga anggapan bahwa masa depan itu hanyalah sekedar masa depan di masa tua saja. Setelah kita belajar Islam lebih mendalam, ternyata hakikat definisi masa depan adalah masa depan kita di kehidupan akhirat yang kekal abadi, yang mana di kehidupan tersebut yang bermanfaat hanyalah amalan kebaikan seseorang. Inilah definisi masa depan yang hakiki.
  8. Sebelum mendapatkan hidayah Islam, kita tentunya memiliki anggapan bahwa orang yang kaya itu adalah orang yang memiliki banyak harta benda. Setelah kita belajar Islam lebih mendalam, ternyata hakikat definisi orang yang kaya itu adalah kaya hati, yakni merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala meskipun sedikit. Inilah definisi kaya yang hakiki.

Demikianlah sedikit faidah yang bisa dicuplik dari rekaman ceramah tersebut. Untuk lebih detailnya, bisa didownload dan didengarkan di link berikut ini :

Sesi I : https://ia802508.us.archive.org/4/items/1FikihPuasaLengkapUstadzSarbini/Al-Ust.%20Mukhtar_Kaya%20itu%20kaya%20hati%201_32Kbps.MP3

Sesi II : https://ia902508.us.archive.org/4/items/1FikihPuasaLengkapUstadzSarbini/Al-Ust.%20Mukhtar_Kaya%20itu%20kaya%20hati%202_32kbps.MP3

Sesi Tanya Jawab : https://ia902508.us.archive.org/4/items/1FikihPuasaLengkapUstadzSarbini/Al-Ust.%20Mukhtar_Kaya%20itu%20kaya%20hati%203_Tanya-jawab_32Kbps.MP3

Semoga bermanfaat bagi kita bersama.

بارك الله فيكم

Kategori:Akhlaq Islam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: