Beranda > Hukum-Hukum > Tabel Wanita-Wanita Yang Menjadi Mahrom (format .pdf dan excel)

Tabel Wanita-Wanita Yang Menjadi Mahrom (format .pdf dan excel)

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

No_Handshake_by_AppleJoanalhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaahi wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumiddiin. wa ba’du.

Secara ringkasnya, mahrom adalah seseorang (baik itu lelaki atau wanita) yang tidak boleh dinikahi seseorang. Misalnya : seorang laki-laki sebut saja bernama si A. Maka pihak-pihak yang menjadi mahrom bagi si A adalah ibu nya, bibi nya, saudari nya, dan seterusnya.

Demikian pula sebaliknya, misalkan ada seorang wanita sebut saja si B. Maka pihak-pihak yang menjadi mahrom bagi si B adalah ayah nya, paman nya, saudara nya, dan seterusnya.

Akan tetapi sayangnya di kalangan kaum Muslimin di Indonesia, istilah “mahrom” seringkali tertukar dengan istilah “muhrim”. Adapun istilah muhrim adalah orang yang sedang dalam kondisi ihrom (saat haji ataupun ‘umroh). Maka, jika sekarang kita sudah mengetahui istilah yang benarnya marilah kita biasakan lisan kita untuk menggunakah istilah mahrom.

Pembahasan tentang mahrom bukanlah sesuatu pembahasan yang sepele di dalam ajaran Islam. Bahkan hal ini merupakan pembahasan yang sangat penting untuk mengetahui siapa saja mahrom-mahrom kita. Coba bayangkan, jika kita tidak mengetahui siapa saja mahrom-mahrom kita, maka bisa jadi seorang lelaki menikah dengan seorang wanita yang ternyata setelah proses pernikahan terjadi barulah diketahui bahwasanya mereka berdua adalah mahrom satu sama lainnya (baik secara nasab/ikatan pernikahan/sepersusuan). Dan jika ternyata pernikahan tersebut telah terjadi, maka otomatis pernikahannya batal dan keduanya harus dipisah (fasakh). Dan bayangkan pula jika dari pernikahan tersebut ternyata telah lahir seorang anak. Na’udzu billahi min dzalik.

Di sisi lain, pembahasan mahrom ini penting pula bagi seseorang agar dia mengetahui apa saja hal-hal yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan terhadap mahrom mereka.

Secara ringkas, jika ada 2 orang berlawanan jenis yang merupakan mahrom satu sama lainnya, maka diperbolehkan bagi mereka untuk melakukan safar berdua, boleh berduaan, boleh berjabat tangan, bagi si wanita boleh untuk membuka atau menampakkan kepala dan lehernya, dan selainnya dari hal-hal yang dibolehkan terhadap mahrom. Dan diharomkan untuk menikahi mahrom tersebut, baik selamanya (mu’abbadan) ataupun dalam waktu tertentu (mu’aqqotan).

Nah, berikut ini adalah tabel ringkas wanita-wanita yang menjadi mahrom bagi seorang lelaki. Tabel ini diperoleh dari hasil kajian di Masjid Perumahan Babatan Indah Kecamatan Wiyung Kota Surabaya pada hari Sabtu tanggal 25 Romadhon 1434 atau 03 Agustus 2013 yang lalu bersama Al Ustadz Abu Ahmad hafizhohullah. Tabel tersebut diringkas dari kitab Shohih Fiqhis Sunnah  Jilid 3 Halaman 76-96 karya Asy Syaikh Abu Malik Kamal As Sayyid Salim ( http://www.waqfeya.com/book.php?bid=7888 ).

Dan yang perlu diberikan perhatian khusus adalah pada jenis mahrom yang diharomkan dinikahi dalam waktu tertentu (mu’aqqotan). Contoh misalnya saudari dari istri kita. Maka di dalam Islam, tidak boleh bagi seorang lelaki untuk menikahi 2 wanita kakak beradik secara bersamaan. Akan tetapi jika ikatan pernikahan telah putus (dengan sebab cerai atau meninggal), maka boleh bagi lelaki tersebut menikah saudari dari istri nya tersebut. Akan tetapi di saat yang bersamaan ketika hubungan pernikahan masih ada, maka saudari (kakak/adik) dari istri yakni saudari ipar kita tetaplah sebagai wanita ajnabiyyah sehingga tidak boleh bagi seorang lelaki yang masih terikat pernikahan dengan seorang wanita untuk berduaan dengan saudari nya istri, atau berjabat tangan dengannya, atau si wanita tersebut tidak memakai hijab yang sempurna, dan semisalnya dari larangan-larangan terhadap wanita ajnabiyyah.

Demikian pula, terkait dengan mahrom yang mu’abbadan (mahrom selamanya) dengan sebab pernikahan seperti contohnya ibu mertua. Maka yang perlu diperhatikan bahwasanya sekalipun ikatan pernikahan antara seorang lelaki dan wanita telah terputus (dengan sebab cerai atau meninggal), akan tetapi ibu mertua tetaplah menjadi mahrom selamanya bagi si lelaki. Sehingga, hendaknya seorang lelaki itu tetap menjalin hubungan baik atau menjaga tali silaturohim dengan ibu mertuanya meskipun hubungan pernikahan telah terputus. Demikian pula mahrom lainnya yang disebabkan ikatan pernikahan.

Dari sini, semakin memperjelas bagi kita bahwasanya ajaran Islam yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam itu ternyata adalah ajaran yang demikian sempurna dan indah di dalam mengatur sendi kehidupan manusia. Tidaklah ada satu hal kecil maupun besar, maka pasti di sana Islam telah memberikan aturan tentang hal tersebut. Walhamdulillah.

Oleh karena itu, maka hendaknya masing-masing kita semakin terdorong untuk mau mempelajari ajaran Islam yang benar yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Semoga hal ini bermanfaat bagi kita bersama.

Allahu A’lam bish showab. Wa barokAllahu fikum.

Tabel wanita-wanita yang menjadi mahrom (format .pdf) :

Wanita-Wanita Yang Menjadi Mahrom

Tabel wanita-wanita yang menjadi mahrom (format  excel) –> biar mudah di-edit :

Wanita-Wanita Yang Menjadi Mahrom

Kategori:Hukum-Hukum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: