Beranda > Aqidah & Manhaj > Ucapan ‘Umar bin Al Khoththob rodhiAllahu ‘anhu Ketika Mencium Hajar Aswad

Ucapan ‘Umar bin Al Khoththob rodhiAllahu ‘anhu Ketika Mencium Hajar Aswad

Kisah ‘Umar ibnul Khoththob rodhiAllahu ‘anhu

Mencium Hajar Aswad Tatkala Thowaf

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tercurah atas Rosulullah, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Wa ba’du.

hr bukhori 1597

Shohih Al Bukhori pada hadits no.1597 pada Kitab Tentang Haji :

Telah berkata kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Ibrohim dari ‘Abbas bin Robi’ah dari ‘Umar rodhiAllahu ‘anhu bahwasanya tatkala ‘Umar mendatangi Hajar Aswad kemudian menciumnya, maka ‘Umar rodhiAllahu ‘anhu berkata :

“Sungguh aku mengetahui bahwasanya kamu benar-benar hanyalah sebuah batu yang tidak memberikan mudhorot dan juga tidak memberikan manfaat. Kalau seandainya aku tidak melihat bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mencium kamu, maka aku tidak mau untuk mencium kamu.”

Hadits semisal ini juga disebutkan dalam Shohih Muslim pada hadits no.1270. Sehingga, derajat hadits ini adalah muttafaqun ‘alaih (yakni disepakati keshohihannya oleh Al Bukhori dan Muslim rohimahumallah).

============

Jika demikian, tentunya benda mati lain yang lebih rendah kedudukannya daripada hajar aswad yang merupakan batu dari surga dan saat ini terpasang di sudut Ka’bah sebagai qiblat umat Islam, maka tentunya lebih tidak akan bisa memberikan kemanfaatan maupun kemudhorotan sedikit pun. Misalnya : keris, cincin, batu akik, jimat-jimat, rajah-rajah, tanah Karbala, kuburan orang mati, dan lainnya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat ke-6 Al An’am ayat 50 :

قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِى خَزَآٮِٕنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ إِنِّى مَلَكٌۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّۚ

قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

 Katakanlah (wahai Muhammad) : “Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak [pula] aku mengetahui hal yang gho’ib dan tidak [pula] aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat.  Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah (wahai Muhammad) : “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kalian tidak memikirkannya ?

Surat ke-72 Al Jinn ayat 21-23 :

قُلۡ إِنِّى لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرًّ۬ا وَلَا رَشَدً۬ا

قُلۡ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٌ۬ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا

إِلَّا بَلَـٰغً۬ا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَـٰلَـٰتِهِۦۚ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَإِنَّ لَهُ ۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدًا

 Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudhorotan pun kepada kalian dan tidak [pula] sesuatu kemanfa’atan”. (21) Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari [adzab] Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. (22) Akan tetapi [aku hanya] menyampaikan [peringatan] dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (23) 

Jika seorang sosok Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala saja tidak pula mampu mendatangkan manfaat maupun mudhorot dan tidak pula mengetahui perkara ghoib, maka tentunya manusia lain yang kedudukannya di bawah Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam pun tentunya lebih tidak mampu lagi mendatangkan manfaat atau mudhorot dan tidak pula mengetahui perkara ghoib sedikitpun. Tidak pula bagi seorang wali quthub/aqthob, wali aimmah, wali nuqoba’, wali rojabiyyun, wali khatam, ataupun wali-wali lainnya sebagaimana keyakinan kaum sufi.

(lihat bukti keyakinan menyimpang aLa sufi di  http://sufinews.com/index.php/Dunia-Wali/hierarki-kewalian.sufi )

Maka dari itu, sebagai seorang Muslim dan Muslimah hendaknya kita hanya meminta kemanfaatan atau perlindungan dari mudhorot hanya kepada Allah Ta’ala semata. Berdo’alah secara langsung hanya kepada Allah Ta’ala semata dikarenakan Dia telah memerintahkan hamba-Nya demikian sebagaimana dalam surat ke-40 Al Mu’min (disebut juga surat Al Ghofir) ayat 60 :

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Robb kalian telah berfirman : “Berdo’a lah kalian kepada-Ku maka niscaya Aku kabulkan bagi kalian!” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (yakni bahwa do’a termasuk salah satu bentuk ibadah), maka kelak mereka akan memasuki neraka Jahannam dalam kondisi terhina.

Dari hadits tersebut pula hendaknya kita lebih mengedepankan ittiba’ur rosul (mengikuti tuntunan Rosulullah shollalalhu ‘alaihi wa sallam) meskipun terkadang akal dan hati kita belum bisa mencerna hal tersebut. Selama suatu perkara ibadah itu telah dituntunkan secara shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka berusahalah untuk mengikutinya semaksimal kemampuan kita. Dan demikian pula sebaliknya, jika suatu perkara ibadah itu tidak ada tuntunannya dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah kita lakukan meskipun hal itu sesuai dengan akal atau hati kita dan meskipun hal itu sudah marak di sekeliling kita.

Allahu A’lam. Wa nas’alullahassalamah wal a’fiyah.

 

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: