Beranda > Aqidah & Manhaj > Syi’ah : Bahaya Laten Bagi Umat Islam & Perkataan Para ‘Ulama Tentangnya

Syi’ah : Bahaya Laten Bagi Umat Islam & Perkataan Para ‘Ulama Tentangnya

Agama Syi’ah Rofidhoh

(Bahaya Laten yang Mengancam Kaum Muslimin) – Bag. 1

syi'ah bukan islam  Penulis : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhohullah

http://almakassari.com/agama-syiah-rofidhoh-bahaya-laten-yang-mengancam-kaum-muslimin.html

Format PDF : Syi’ah_Bahaya Laten Umat Islam & Perkatan ‘Ulama Tentangnya

Artikel PDF Bantahan Bagi Kaum syi’ah : Syi’ah_Bahaya Laten Umat Islam & Perkatan ‘Ulama Tentangnya

untuk mengetahui bukti lebih nyata terkait kesesatan-kesesatan agama syi’ah, bisa dilihat di web http://www.videosyiah.com/

Membantah Ahli Bid’ah bukan Ghibah!!!

Para ulama’ salaf, ahlis sunnah wal jama’ah sejak dulu memiliki perhatian tinggi dalam mengingatkan bahaya bid’ah dan pelakunya (ahli bid’ah) dan mereka tidak menganggap bahwa membicarakan bahaya dan penyimpangan mereka sebagai  ghibah.[1] Karenanya tak ada kitab aqidahpun kecuali mengingatkan bahaya bid’ah dan pelakunya. Orang yang mau mengunjungi perpustakaan Islam , akan menemukan kitab-kitab yang sangat banyak ditulis oleh para ulama’ ahlis sunnah wal jama’ah-secara khusus tentang bid’ah dan pelakunya- di berbagai tempat dan zaman.

Di antara kitab-kitab tersebut: seperti kitab Ar-Rodd ala Az-Zanadiqoh wa Al-Jahmiyyah karya Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Ar-Rodd ala Man Yaqul Al-Qur’an Makhluq karya Ahmad bin Sulaiman An-Najjad, Ar-Rodd ala Bisyr Al-Marisy karya Imam Ad-Darimi, Al-Haidah karya Abdul Aziz Al-Kinany, Al-Bida’ wa An-Nahyu Anha karya Ibnu Wadhdhoh, Al-Hawadits wa Al-Bida’ karya Abu Bakr Ath-Thurthusyi, Al-Ba’its ala Inkar Al-Bida’ wa Al-Hawadits karya Abu Syamah Al-Maqdisy, Al-Madkhol karya Ibnul Hajj, Talbis Iblis karya Ibnul Jauzy, Al-I’tishom karya Asy-Syathibi, Minhaj As-sunnah, Ar-Rodd ala Al-Akhna’i & Ar-Rodd ala Al-Bakry karya Syaikul Islam, Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah ala Ghozwi Al-Mu’aththilah wa Al-Jahmiyyah karya  Ibnul Qoyyim,  Al-’Awashim mimmah fi Kutub Sayyid Qutb min Al-Qowashim karya Syaikh Robi’ –hafizhohumullah-, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Memberikan peringatan sesatnya suatu kelompok , baik dalam bentuk ceramah, maupun tulisan, itu bukanlah ghibah yang diharamkan. Boleh menyebutkan kesesatan seseorang, dan penyimpangannya di depan orang banyak, jika kemaslahatan menuntut hal itu.

Ibrahim An-Nakho’iy -rahimahullah- berkata, “Tak ada ghibah bagi pelaku bid’ah (ajaran baru)”. [Lihat Sunan Ad-Darimiy (394)]

Muhammad bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjaniy -rahimahullah- berkata, “Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Sungguh amat berat aku bilang, “si fulan orangnya lemah, si fulan pendusta”.Imam Ahmad berkata, “Jika kau diam, dan aku juga diam, maka siapakah yang akan memberitahukan seorang yang jahil bahwa ini yang benar, dan ini yang sakit (salah)”. [Lihat Thobaqot Al-Hanabilah (1/287)]

Dari sini kita melihat para ulama kita, ada yang menulis khusus membahas bid’ah, ada yang khusus membantah pelaku bid’ah secara umum maupun khusus dengan menyebutkan nama atau kelompoknya. Jadi, jangan heran jika ada ulama kita pada hari ini membantah pelaku bid’ah dengan menyebut namanya, apalagi sampai menyatakan itu tak ada contohnya dari para ulama kita.

Perlu diketahui bahwa para ulama’ kita menulis kitab tentang bid’ah dan bahaya pelakunya serta bantahannya, bukanlah atas dasar dengki dan benci kepada orang. Akan tetapi semua itu mereka lakukan atas dasar membela sunnah dan syari’at Islam dari tangan ahli bid’ah. Bukan seperti yang dikatakan oleh sebagian orang-orang tak berilmu.[2]

Bahaya Syi’ah-Rofidhoh

Sebagai beban ilmiyyah, kami merasa terdorong untuk menyampaikan misi para ulama kita dalam menjelaskan bid’ah dan bahaya pelakunya, demi membela sunnah dan pengikutnya. Kali ini kami akan menurunkan sebuah tulisan tentang agama dan sekte Rofidhoh-Syi’ah yang kami rangkumkan dari kitab-kitab ulama kita yang berbicara tentang Syi’ah-Rofidhoh[3].

Diantara ahli bid’ah (baca: pelaku bid’ah) yang pernah dijelaskan bahaya dan penyimpangannya oleh para ulama Ahli sunnah adalah sebuah sekte yang disebut dengan “Syi’ah atau Rofidhoh”.[4]

Rofidhoh merupakan sebuah jama’ah yang memliki aqidah dan keyakinan yang menyelisihi aqidah Ahlis Sunnah wal-Jama’ah. Jama’ah ini merupakan bahaya laten yang mengancam  kaum muslimin, sebab mereka memiliki aqidah lain.[5] Dengan perbedaan aqidah ini mengantarkan mereka mengkafirkan ahlis sunnah sebagai jalan bagi orang Syi’ah-Rofidhoh untuk membunuh dan membantai Ahlus Sunnah.

Negara Iran merupakan markas terbesar orang-orang Syi’ah-Rofidhoh, dari sanalah keluar pasukan-pasukan (baca: da’i) mereka, sekaligus tempat penampungan anak-anak ahlis Sunnah yang berhasil mereka dalam menggaet dan merekrutnya untuk selanjutnya didoktrin ajaran Rofidhoh yang sesat[6].

Jama’ah ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 80-90 an melalui kedutaan mereka dan penyebaran majalah gratis, serta penawaran studi gratis dan pertukaran pelajar di negeri Iran. Namun kebanyakan orang tak sadar kalau itu merupakan bahaya laten bagi kaum muslimin.

Risalah ini kami tulis sebagai bentuk perhatian kepada ummat Islam di Indonesia. Sebab banyak diantara kita yang tidak mengenal bahwa Syi’ah alias Rofidhoh adalah aliran dan agama sesat yang berusaha merusak agama Islam dan membahayakan kaum muslimin.

Terlebih lagi mereka lihai dalam menipu ummat. Lihat saja usaha mereka dalam menipu ummat, baru-baru ini mereka mengadakan konferensi yang mereka sebut dengan Konferensi Ikatan Jama’ah Ahlul Bait, Makassar, di akhir Februari- awal Maret 2008 M.

Ini adalah tipuan, sebab mereka menamakan diri dengan ahlul bait[7]. Padahal mereka bukan ahlul bait, bahkan mereka adalah orang-orang Persia, yang berasal dari Negeri Majusi (Penyembah Api). Mereka memiliki agama tersendiri yang menyelisihi agama Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dan ahlul bait.

Namun mereka “pandai”!! Biar kaum muslimin tidak mengetahui hakikat kesesatan mereka, maka mereka melantik diri mereka sebagai “Pembela Ahlul Bait”[8] agar menjadi jembatan dalam menipu dan menarik simpati kaum muslimin yang tak tahu belang mereka. Sebab siapa yang tak cinta dengan Ahlul Bait??

Tapi jangan terpukau!! Ini hanya kecohan dan tipuan orang-orang Syi’ah yang jahat dan pendusta !! Mereka ingin menjerat kalian dalam jala-jala dan belenggu kesesatan mereka.

Agar kita sadar dan tahu apa itu agama Rofidhoh-Syi’ah dan sebab ia bisa jadi bahaya laten , ikuti pembahasan ini :

Definisi Syi’ah-Rofidhoh

Imam Ahlis Sunnah, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibany -rahimahullah- berkata ketika mendefinisikan Rofidhoh, ” Mereka adalah orang-orang yang berlepas-diri dari para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, mencelanya, merendahkannya, dan mengkafirkan para imam (pemimpin) kecuali empat:Ali, Ammar, Al-Miqdad, dan Salman. Rofidhoh bukan termasuk agama Islam sedikitpun”.[9]

Abu Hatim Ar-Rozy -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya Rofidhoh menolak agama Islam”.[10]

Abdullah bin Ahmad pernah bertanya tentang Rofidhoh, maka Imam Ahmad menjawab, “Orang-orang yang mencaci-maki dan mencela Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu anhuma”.[11]

Kesimpulannya , Syaikh Fahd As-Suhaimy –hafizhohullah- berkata, “Rofidhoh: Orang-orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr dan Umar –Radhiyallahu anhuma-, berlepas-diri darinya, mencaci-maki para sahabat Nabi r , dan merendahkannya”.[12]

‘Aqidah atau Keyakinan Syi’ah- Rofidhoh

Kami telah sebutkan bahwa Rofidhoh memiliki aqidah yang menyelisihi aqidah kita Ahli Sunnah wal Jama’ah. Aqidah mereka yang menyimpang amat banyak jumlahnya. Karena banyaknya, maka kami hanya menyebutkan sebagian di antaranya :

1. Aqidah Al-Qur’an Diselewengkan dan Diganti

Mereka meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang di tangan kita telah diselewengkan ,diganti, ditambah, dan dikurangi ayat-ayatnya. Kata mereka bahwa yang kurang adalah sebanyak dua kali lipat Al-Qur’an yang ada.

Menurut mereka bahwa yang melakukan semua itu adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman Rodhiyallahu anhum.

‘Aqidah tahrif (diselewengkannya) Al-Qur’an diyakini oleh para pendahulu dan orang-orang belakangan diantara mereka. Bukan seperti yang dikatakan secara dusta oleh orang-orang Rofidhoh pada zaman ini bahwa aqidah tahrif (diselewengkannya) Al-Qur’an tak ada dalam agama Rofidhoh-Syi’ah. Justru sebaliknya, sekarang dengarkan orang yang mereka anggap ulama baik dulu maupun sekarang :

Abu Ja’far Ash-Shodiq berkata, “Tak ada seorangpun yang menyatakan ia telah mengumpulkan semua Al-Qur’an sebagaimana Allah turunkan, kecuali dia itu pendusta. Tak ada yang mengumpulkan dan menghafalnya sebagaimana ia diturunkan selain Ali bin Abi Tholib dan para Imam setelahnya “.[13]

Seorang Imam mereka, Ali bin Ibrahim Al-Qummy mengadakan pengubahan letak kata-kata dalam sebuah ayat dengan alasan bahwa Al-Qur’an yang ada telah diubah.[14]

Al-Kulainy (328 H), salah seorang guru besar Rofidhoh meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr, ia berkata, “Abul Hasan menyodorkan kepadaku sebuah mushaf, seraya berkata, [Kamu jangan melihat di dalamnya].

Lalu saya pun membuka dan membaca di dalamnya terdapat :

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا

Lalu aku jumpai disitu ada 70 nama orang-orang Quraisy, dengan nama mereka dan nama bapak-bapaknya. (Ahmad) berkata, ” Lalu beliaupun mengutus seseorang kepadaku dengan pesan, “Kirim seseorang kepadaku bersama mushaf itu”.[15]

Dalam riwayat ini mereka isyaratkan bahwa mushaf yang ada pada Abul Hasan (kalau tak salah dia adalah Ali bin Abi Tholib) adalah mushaf yang lengkap dan masih bersih dari penyelewengan sahabat lain. Adapun yang ada pada sahabat secara umum dan ada pada kita hari ini, kata mereka sudah diselewengkan lafazh dan maknanya. Ini jelas dusta !

Seorang Gembong Rofidhoh, Al-Mufid (413 H) berkata ketika menerangkan kesepakatan para ulama Rofidhoh-Syi’ah tentang diselewengkannya Al-Qur’an Al-Karim, “Mereka telah sepakat bahwa para imam-imam sesat[16] telah menyelisihi dalam kebanyakan penulisan Al-Qur’an. Mereka berpaling dari konsekwensi Al-Qur’an, dan Sunnah Nabi r  dan telah sepakat Mu’tazilah, Khowarij, Murji’ah, Ahli Hadits tentang sesuatu yang menyelisihi Orang Imamiyyah (Rofidhoh) dalam semua hal yang kami sebutkan”.[17]

Bahkan ada diantara mereka menulis kitab khusus menetapkan bahwa Al-Qur’an kita telah diselewengkan dan diganti. Orang itu adalah An-Nuri Ath-Thibrisiy dalam kitabnya “Fashlul Khithob fi Itsbat Tahrif Kitab Robb Al-Arbab”.[18]

Adapun pengakuan sebagian orang Rofidhoh bahwa mereka tak meyakini hal itu karena disana ada 4 ulama mereka tidak menyatakan Al-Qur’an itu diselewengkan, maka kita serahkan kepada seorang ulama mereka sendiri untuk menjawabnya.

Gembong Rofidhoh, Ni’matullah Al-Jaza’iry berkata setelah menyebutkan ijma’ ulama Rofidhoh-Syi’ah tentang adanya tahrif (penyelewengan) dalam Al-Qur’an, “Ya, Al-Murtadho, Ash-Shoduq, Syaikh Ath-Thibrisy telah menyelisihi (mereka) dalam masalah ini dan mereka menceritakan bahwa apa yang ada diantara dua kulit mushaf ini adalah Al-Qur’an yang diturunkan, bukan selainnya. Tampaknya ucapan ini hanya muncul karena maslahat yang banyak, diantaranya: menutup pintu celaan padanya, sebab kalau ini bisa terjadi pada Al-Qur’an, maka bagaimana bisa mengamalkan kaedah-kaedahnya, dan hukum-hukumnya disamping masuknya tahrif (penyelewengan) padanya—Akan datang jawaban terhadap hal ini—Bagaimana mungkin (penyelisihan ) ini terjadi sedangkan para ulama telah meriwayatkan dalam karangan mereka berita-berita yang banyak memuat terjadinya perkara-perkara (tahrif/penyelewengan) tersebut dalam Al-Qur’an, dan bahwasanya ayat demikian telah diturunkan lalu diganti ke ini “.[19]

Jadi, menurut Ni’matullah bahwa tahrif (penyelewengan) dalam Al-Qur’an memang ada dan sulit diingkari oleh mereka, karena para imam Syi’ah sendiri telah meriwayatkan dalam kitab-kitab mereka banyak riwayat menguatkan terjadinya tahrif pada Al-Qur’an. Adapun empat imam tersebut mengingkari adanya tahrif/penyelewengan, itu hanya sekedar “taqiyah” (pura-pura) saja demi kemaslahatan agama mereka. Hal semacam ini sudah biasa di kalangan Rofidhoh. Jika terdesak dan takut disanggah oleh Ahlus Sunnah, yah tak ada jalan lain kecuali taqiyah (pura-pura) dengan menyatakan sesuatu di lisan mereka apa yang menyelisihi batinnya, demi menjaga kemaslahatan dakwah batil mereka.[20] Hal ini dikuatkan dengan ucapan ulama mereka yang mutakhirin.

Pemimpin Rofidhoh, Al-Khumainy berkata dalam menegaskan adanya tahrif dalam Al-Qur’an, ” …mereka (para sahabat,pen) menghapus ayat-ayat itu dari tempatnya, dan menghilangkan Al-Qur’an itu dari pandangan alam selamanya…” [21]

Terlebih lagi setelah terbitnya sebuah kitab “Tuhfah ‘Awwam Maqbul ” yang dicetak dalam bahasa Urdu yang mendapat legitimasi dari para ulama Rofidhoh-Syi’ah zaman sekarang. Diantaranya:Al-Allamah Al-Faqih Ayatullah Al-Uzhma Haji Sayyid Mahmud Al-Husainy, Allamah Al-Faqih Ayatullah Al-Uzhma Haji Sayyid Abul Qosim Al-Khu’iy, Allamah Al-Faqih Ayatullah Al-Uzhma Haji Sayyid Muhammad Kazhim Syari’atumdari, Allamah Al-Faqih Ayatullah Al-Uzhma Haji Sayyid Muhsin Al-Hakim Thoba’thoba’i.[22]

Dalam kitab ini disebutkan sebuah do’a berbahasa Arab, yang masyhur dengan “Du’a Shonamai Quraisy ” , artinya do’a untuk kedua berhala Quraisy, yaitu Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma. Bunyi doanya,

بسم الله الرحمن الرحيم . اللهم العن صنمي قريش وجبتيهما و طاغوتيهما و إفكيهما و ابنتيهما اللذين خالف أمرك وأنكرا وحيك وعصيا رسولك و قلبا دينك وحرفا كتابك

Artinya: ” Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Ya Allah, laknatlah dua berhala Quraisy, jibtinya ,thoghutnya, pendustanya, kedua anaknya. Yang keduanya (dua berhala Quraisy) ini telah menyelisihi perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, membolak-balik agama-Mu, dan menyelewengkan (mentahrif) kitab-Mu “.[23]

Ringkasnya, Ulama Ahlus Sunnah, Syaikh Abdullah Al-Jumaily -hafizhahullah- setelah membawakan nas-nas ulama Rofidhoh tadi di atas berkata dalam menyimpulkan masalah ini, “Para ulama Rofidhoh pada hari ini -yang telah disebutkan-, yang merupakan orang-orang yang paling bagus dalam memberikan gambaran tentang mereka (yakni, tentang orang-orang Rofidhoh). Semua (ulama mereka) menyatakan adanya tahrif (penyelewengan) dalam Al-Qur’an, dan bahwa para sahabat telah menghapus banyak ayat yang menunjukkan keutamaan Ahlul Bait agar mereka bisa memegang tampuk kepemimpinan setelah Rasul. Adapun yang digembar-gemborkan oleh sebagian ulama mereka hari ini berupa pernyataan tidak adanya tahrif dalam Al-Qur’an, maka itu cuma sekedar “taqiyyah” (pura-pura) demi menjaga diri dengannya dari dampak buruk yang berbahaya, yang terkadang menimpa mereka andaikan mereka menyatakan aqidah busuk ini secara terang-terangan. Hal ini telah ditegaskan oleh salah seorang ulama pembesar mereka di India, Ahmad Sulthon Ahmad tatkala berkata, “Sesungguhnya ulama Syi’ah yang mengingkari tahrif dalam Al-Qur’an, tidak bisa dibawa (dipahami) pengingkaran mereka, kecuali kepada makna taqiyyah . “ [24]

Mengenai adanya tahrif (penyelewengan) terhadap Al-Qur’an, yang dilakukan sahabat menurut orang-orang Rofidhoh, maka kita jawab,

Pertama: Merendahkan, melaknat sahabat, dan menuduh sahabat melakukan penyelewengan terhapad Al-Qur’an merupakan perbuatan Zindiq dan kemunafikan.

Abu Zur’ah Ar-Rozy -rahimahullah- berkata, “Jika engkau melihat seseorang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah r , maka ketahuilah dia itu orangnya zindik. Karena Rasul di sisi kami adalah haq, dan Al-Qur’an adalah benar. Sedang Para sahabat Rasulullah r  itulah yang menyampaikan kepada kita Al-Qur’an ini , dan sunnah. Mereka (orang zindiq) itu sebenarnya ingin menjatuhkan saksi-saksi kami untuk membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi celaan itu lebih berhak ditujukan kepada mereka, sedang mereka adalah orang-orang zindik”.[25]

Adapun tuduhan Rofidhoh bahwa para sahabat telah mengubah, mengganti, dan mentahrif Al-Qur’an, maka ini merupakan cercaan kepada sahabat. Sebab bagaimana mungkin mereka mau melakukan perbuatan kufur seperti itu. Allah -Ta’ala- berfirman dalam memuji para sahabat Muhajirin dan Anshor,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [التوبة : 100]

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS.At-Taubah :100)

Orang yang dipuji oleh Allah sedemikian ini, malah dituduh oleh Orang Syi’ah-Rofidhoh melakukan kekufuran berupa tahrif Al-Qur’an. Demi Allah, ini merupakan pendustaan besar terhadap Allah -Ta’ala-, pendustaan terhadap ayat yang kami sebutkan. Jelas sikap mereka yang mendustakan ayat Allah merupakan kekufuran!!!

Kedua : “Al-Qur’an Al-Karim merupakan Kitab Ilahi yang tidak tersentuh tahrif (penyelewengan) ataupun perubahan. Karena, Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berjanji akan menjaga. Berbeda dengan Taurat dan Injil, Allah tak menjamin untuk menjaganya. Bahkan Allah memerintahkan mereka menjaga keduanya, tapi mereka sia-siakan.

Ummat Islam telah sepakat sepanjang zaman bahwa Al-Qur’an Al-Karim yang telah diturunkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad r merupakan Al-Qur’an yang ada sekarang di tangan kaum muslimin. Di dalamnya tak ada tambahan, ataupun pengurangan, dan tak pula perubahan, atau penggantian dan tak mungkin tersentuh sedikitpun oleh perkara-perkara semacam itu, karena adanya janji Allah untuk menjaga dan melindunginya.

Tak ada yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah ini, kecuali orang-orang Rofidhoh, tatkala mereka menyangka Al-Qur’an Al-Karim itu telah terjadi di dalamnya tahrif, perubahan, dan penggantian. Mereka menuduh para sahabat telah menyelewengkan Al-Qur’an demi tendensi duniawi mereka. Subhanallah, alangkah kejinya tuduhan tanpa bukti ini!!!

Aqidah mereka ini batil!!!! Dalil-dalil dari Al-Qur’an Al-Karim, ucapan para Imam Ahlul Bait sendiri, dan akal menunjukkan kebatilannya.” [26]

Allah berfirman (yang artinya) :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan kami yang menjaganya”.[27]

Imam para mufassirin, Abu Ja’far Ath-Thobary –rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),  (“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr “) , yaitu Al-Qur’an. (“dan Kamilah yang menjaganya”) , Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Kamilah yang menjaga Al-Qur’an dari tambahan kebatilan padanya yang bukan termasuk darinya, pengurangan sesuatu yang termasuk darinya berupa hukum, hudud, dan kewajiban”.[28]

Selain nash Al-Qur’an di atas, akal pun menunjukkan kebatilan orang-orang Syi’ah-Rofidhoh yang menyatakan adanya tahrif dalam Al-Qur’an!! Sebab, pernyataan seperti ini di dalamnya terdapat mafsadah (kerusakan) yang besar, di antaranya : mencerca Allah, Nabi-Nya dan para sahabatnya -radhiyallahu anhum-, serta para imam Ahlul bait.

Jadi, pernyataan Rofidhoh ini merupakan cercaan dan tuduhan terhadap Allah bahwa Dia tidak memenuhi janjinya dalam menjaga Al-Qur’an dari tahrif (penyelewengan)!!! Maha Suci Allah dari tuduhan mereka yang seperti ini.

Perhatian : Lempar Batu Sembunyi Tangan

Ada suatu kezholiman yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah-Rofidhoh. Ketika mereka menuduh dan mencela habis-habisan dengan alasan para sahabat menyelewengkan, mengubah, dan mengganti lafazh Al-Qur’an[29]. Bahkan  mereka mengkafirkan sahabat.

Namun ketika orang-orang Syi’ah Rofidhoh men-tahrif (menyelewengkan), mengubah, dan mengganti sebagian lafazh Al-Qur’an, Maka mereka yah…tenang-tenang aja !!? Istilah orang : “Lempar batu sembunyi tangan”.

Sekarang tiba saatnya kami bawakan beberapa nukilan dari ulama mereka yang telah mengacak-acak dan membolak-balik ayat suci Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya.

Tahrif (penyelewengan) yang dilakukan oleh orang Rofidhoh terhadap al-Qur’an ada dua macam :

Pertama, menafsirkan Al-Qur’an dengan penafsiran yang tidak sesuai yang diinginkan Allah, dan mentakwil lafazh Al-Qur’an bukan sesuai yang diturunkan sehingga kadang lucu, tapi menjengkelkan perbuatan keji kaki-tangan mereka ini dalam mengutak-atik Kitabullah. Kedua: Mereka mengganti lafazh Al-Qur’an dan mengubah letaknya. Berikut buktinya :

Al-Qummy, seorang gembong Rofidhoh membawakan riwayat dari Abu Abdillah –alaihissalam-, ia membaca ayat :

هذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمَا بِهِمَا تُكَذِّبَاِن تَصْلِيَانِهَا وَلاَ تَمُوْتَانِ فِيْهَا وَلاَ تَحْيَيَانِ

“Inilah neraka Jahannam yang kalian berdua telah mendustakannya. Kalian akan masuk ke dalamnya, sedang kalian tidak mati di dalamnya”.

Al-Qumy berkata dalam mentakwil ayat yang sudah diberi tambahan dan diganti lafazhnya ini, ” Maksudnya, Zuraiq dan Habtar”.[30]

Para pembaca yang budiman telah menyaksikan bagaimana lancangnya mereka menyelewengkan ayat suci Al-Qur’an, dengan diberi tambahan lafazh, diganti lafahznya, dan ditakwil dengan sekotor-kotornya takwil. Padahal asli ayat itu dalam mushaf kita berbunyi begini,

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ  [الرحمن : 43]

“Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa”.[31]

Bagaimana mereka menyatakan dua orang terbaik (Abu Bakar dan Umar) dari ummat –menurut ijma’- ini dikatakan keduanya masuk neraka?! Cuma karena tuduhan dusta mereka bahwa keduanya telah merampas kekhilafahan dari Ali, atau karena tuduhan dusta bahwa mereka telah men-tahrif, mengacak-acak, mengganti, dan mengubah ayat-ayat suci Al-Qur’an. Lalu kenapa orang-orang Rofidhoh itu tak mengkafirkan para pemimpin mereka dan diri mereka sendiri, disebabkan mereka telah men-tahrif, mengubah, dan mengganti ayat suci Al-Qur’an.

Jawabnya, “Lempar batu sembunyi tangan”. Kalau mereka bilang, “kami punya silsilah riwayat menetapkan ayat tsb.” Maka kami katakan kepada mereka, “Namun silsilah riwayat tsb, entah palsu, atau di dalamnya terdapat para pembawa berita yang pendusta, lemah hafalannya. Kedua, Ahlus Sunnah juga punya silsilah riwayat menetapkan ayat-ayat yang mereka riwayatkan dari Nabi r . Lalu kenapa kalian wahai orang Rofidhoh menyatakan mereka (para sahabat & Ahlus Sunnah) telah mentahrif, mengganti, dan mengubah ayat suci ??!!! Sungguh ini tidak adil. Makanya, kata pepatah Arab, ” Jika rumahmu terbuat dari kaca, kamu jangan melempari rumah orang dengan batu”. Karena kalian pun akan diberi balasan setimpal”.

Mungkin para pembaca belum puas dengan nukilan di atas, berikut tambahannya :

Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir, ulama kenamaan dari Pakistan dalam kitabnya Asy-Syi’ah wa As-Sunnah, hal.79 berkata ketika menyebutkan bukti tahrif yang dilakukan oleh Rofidhoh, ” Diantara (bukti)nya apa yang diriwayatkan oleh Seorang Syi’ah, Ali bin Ibrohim Al-Qumy dari bapaknya dari Al-Husain bin Kholid tentang ayat Kursi seperti ini,

الم الله لا إله إلا هوالحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في السموات وما في الأرض وما بينهما وما تحت الثرى عالم الغيب و الشهادة الرحمن الرحيم “[32]

Kemuadian Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir  komentari ayat palsu ini, “Sudah dimaklumi bahwa baris terakhir tidak terdapat dalam Al-Qur’an Al-Majid. Cuma sayangnya orang-orang Syi’ah meyakini itu termasuk bagian ayat Kursi” [33]

Ayat Kursi yang asli bunyinya,

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة : 255]

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (QS. Al-Baqoroh:255 )

Coba bandingkan ayat Kursi [Al-Baqoroh:255] yang ada dalam mushaf asli, di tangan Ahlis Sunnah, niscaya pembaca akan menemukan perbedaan besar!! Sebab mereka (orang-orang Syi’ah-Rofidhoh) mengadakan tambahan dan pengurangan lafazh-lafazh ayat.

Ketahuilah ini merupakan kekafiran yang dilakukan oleh orang-orang Rofidhoh sebagaimana yang dulu dilakukan Yahudi. Sebab satu huruf saja ditambahi atau dikurangi, seseorang bisa kafir, apalagi kata & kalimat!!!

Sekali lagi pahlawan Ahlus Sunnah, Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir membawakan bukti bahwa Rofidhoh itu mengadakan tahrif (penyelewengan) terhadap Al-Qur’an.  Bagi pembaca yang ingin melihat bukti tersebut, lihatlah kitab beliau yang berjudul “Asy-Syi’ah wa Al-Qur’an”, (hal.22-23). Disitu beliau menyebutkan sekitar dua lembar Surah Palsu bernama “Surah Al-Walayah”, yang disebutkan dan dibawakan oleh Ulama Syi’ah An-Nury At-Tibrisi dalam Fashl Al-Khithob, (hal.180-181), cet.Iran.

Kata orang ini -secara dusta- bahwa ‘Utsman lah yang menghilangkan Surah ini dari mushaf dan membakarnya !!!

Sekali lagi, tuduhan orang-orang Syi’ah bahwa sahabat Utsman mengubah dan menghilangkan ayat, ini tak benar adanya, bahkan orang-orang Syi’ah-lah yang mengubah dan menambahi ayat-ayat, dan surat-surat Al-Qur’an. Semoga Allah melindungi kita dari sikap buruk sangka terhadap sahabat yang telah membawa agama ini. Bagaimana mungkin Utsman yang paling paham Islam mau menghapus ayat, apalagi surat !!! sebab itu merupakan kekafiran!!!!

Mohon ma’af kepada Pembaca budiman, mungkin kepanjangan. Ringkasnya, bagi yang ingin mengetahui dan melihat bukti kekejian tangan orang-orang Syi’ah-Rofidhoh dalam menyelewengkan Kitabullah dengan mengadakan penambahan, pengurangan, penggantian, dan perubahan huruf dan ayat Al-Qur’an, maka tengoklah kitab “Asy-Syi’ah wa Al-Qur’an”, secara khusus (hal.166-342) karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir -rahimahullah-.

Sengaja kami tidak nukil sebab banyaknya dan khawatir para pembaca malas dan tak mau lagi meneruskan bacaannya.

Sebelum kami mengakhiri pembahasan ini, kami akan membawakan beberapa ucapan Ahlis Sunnah yang menyatakan kafirnya orang yang mengotak-atik Al-Qur’an.

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh-Zhohiry -rahimahullah- berkata dalam “Marotib Al-Ijma’”(hal.174), ” Mereka [para ulama’] sepakat bahwa apa yang ada dalam Al-Qur’an adalah haq [benar], dan barangsiapa yang menambahi padanya satu huruf saja, yang bukan termasuk dari qiro’ah[bacaan] yang teriwayatkan, terjaga, dan ternukil seperti semua ulama, atau mengurangi satu huruf, atau mengganti satu haruf dengan huruf lain secara sengaja, dan juga tahu itu beda dengan apa yang ia lakukan, maka ia kafir !! “.[34]

Al-Qodhi Iyadh -rahimahullah-  berkata dalam “Asy-Syifa” (2/304), ” Ketahuilah, barangsiapa yang merendahkan Al-Qur’an atau mushaf, atau sesuatu darinya, atau ia mencelanya, atau menolaknya, baik satu huruf atau ayat darinya; atau ia mendustakannya atau sedikitpun darinya; atau ia mendustakan sesuatu yang telah ditegaskan di dalamnya berupa hukum, berita ; atau ia menetapkan sesuatu yang ditiadakan oleh Al-Qur’an, atau meniadakan sesuatu yang ditetapkan oleh Al-Qur’an sedang ia tahu hal itu; atau ia ragu, maka ia kafir menurut ijma’ ahli ilmu”.[35]

Jadi, orang yang melihat bukti-bukti tahrif (penyelewengan) dan otak-atik orang Rofidhoh, akan yakin dan tak ragu tentang kekufuran mereka.

Catatan kaki :

[1] Perlu kami jelaskan bahwa ghibah ada dua macam : yang boleh dan yang terlarang sebagaimana hal ini telah dijelaskan para ulama dalam kitab-kitab mereka. Namun pada hari ini muncul sekelompok pemuda yang tidak berilmu menyatakan bahwa membicarakan penyimpangan ahli bid’ah termasuk ghibah yang haram. Mereka tak tahu bahwa membicarakan hal itu bukan ghibah yang haram , dan cukuplah kitab-kitab yang akan kami sebutkan sebagai bantahan terhadap pendapat mereka ini. Lihat perincian masalah ini dalam Riyadhush Sholihin min Hadits Sayyid Al-Mursalin, [hal.508-510] karya An-Nawawiy, cet. Dar Ibnul Jauzy, Al-Farq baina An-Nashihah wa At-Ta’yiir  karya Ibnu Rajab –rahimahullah-dan Manhaj Ahlis Sunnah fi Naqdi Ar-Rijal wa Al-Kutub wa Ath-Thowa’if (hal.39-41) karya Syaikh Robi’-Hafizhohullah wa Syafaah- , Ar-Rodd ala Al-Mukholif karya Syaikh Bakr Abu Zaid –hafizhahullah wa ro’ah-, dan Zajr Al-Mutahawin karya Syaikh Hamd Al-Utsman -hafizhohullah-.

[2] Bukan seperti tuduhan sebagian anak muda sekarang. Ketika ulama kita menjelaskan kekeliruan seorang ahli bid’ah (seperti da’i fiqhul waqi’), mereka tuduh ulama itu dengan istilah “Ulama daulah, kaki tangan Amerika dan Zionis, Budak pemerintah, penakut”, dan berbagai tuduhan lagi. Saya katakan :”Kalau ulama kita dituduh macam-macam dan tidak dipercaya lagi, maka siapa lagi yang kita percayai  dan kita tempati minta fatwa? Apakah anak muda yang menuduh itu ? Demi Allah, ini merupakn tanda kiamat saat orang bodoh dijadikan mufti .

[3] Di antara kitab-kitab referensi itu : Asy-Syi’ah wa As-Sunnah, dan Asy-Syi’ah wa Al-Qur’an keduanya karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir-rahimahullah-, Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahah Ar-Rofidhoh li Al-Yahud karya Syaikh Dr. Abdullah Al-Jumaily, Al-Intishor li Ash-Shohbi wal Aali karya Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily-hafizhohullah-,dan Mas’alah At-Taqrib baina Ahlis Sunnah wa As-Syi’ah. Jadi, semua nukilan dari kitab-kitab Syi’ah-Rofidhoh saya nukilkan dari kitab ini.

[4] Selanjutnya kami singkat dengan “Syi’ah-Rofidhoh”.

[5] Bukti bahaya laten mereka telah masyhur berupa pembunuhan dan pemboikotan terhadap Ahlus Sunnah di negeri asal mereka, Iran.Berita ini kami dapatkan dari kawan-kawan di Islamic University of Madinah.

[6] Sangat disayangkan ada diantara mereka berasal  dari Indonesia. Mereka dikirim dari Indonesia ke kota Qum, markaz pendidikan khusus Rofidhoh agar menjadi korban pemikiran dan aqidah sesat Rofidhoh.  Selanjutnya pulang ke Indonesia menyebarkan agama Rofidhoh-Syi’ah dan menanamkan kebencian kepada Ahlus Sunnah. Inilah bahayanya belajar di sembarang tempat !!! Di antara korban tersebut adalah Sufa Atha’na, seorang gembong Syi’ah-Rofidhoh di Makassar.

[7] Ahlul Bait adalah seluruh anak keturunan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, istri-istri beliau, dan juga anak keturunan Al-Abbas bin Abdil Muththolib, anak keturunan Abu Lahab yang meninggal di atas Islam.

[8] Padahal mereka adalah penghancur dan Perusak Kehormatan Ahlul Bait. Lihat saja, mereka mencela semua sahabat, bahkan ahlul bait itu sendiri, ketika mereka mengkafirkan para sahabat, dan menuduh A’isyah (yang termasuk ahlul bait) telah berzina. Pada kenyataannya, A’isyah  dan para sahabat bersih dari hal itu sebagaimana Allah jelaskan dalam Al-Kitab Al-Aziz.

[9] Lihat As-Sunnah (82) oleh Imam Ahmad, dan Tobaqot Al-Hanabilah (1/33) karya Ibnu Abi Ya’la.

[10] Lihat I’tiqod Ahlis Sunnah (1/178) karya Al-Lalaka’i.

[11] Lihat As-Sunnah (2/548) karya Abdullah bin Ahmad.

[12]Lihat  Mudzakkiroh Al-Firoq (hal.18) karya Fahd As-Suhaimy, dicopy dari Maktabah Haramain , dan Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahah Ar-Rofidhoh li Al-Yahud (1/85) karya Syaikh Abdullah Al-Jumaily.

[13] Lihat Basho’ir Ad-Darojat (hal.213) oleh Abu Ja’far Muhammad Ibnul Hasan Ash-Shoffar (seorang Rofidhoh)

[14] Lihat Badzlul Majhud (1/389-391) karya Syaikh Al-Jumaily

[15] Lihat Ushul Al-Kafi (2/631) oleh Al-Kulainy. Kitab ini menurut Rofidhoh seperti Shohih Al-Bukhory di sisi Ahlus Sunnah. Jelas ini dusta, sebab rawi-rawi mereka kebanyakannya pendusta dan dhoif.

[16] Maksudnya: para sahabat.

[17] Lihat Awa’il Al-Maqolat (hal.48-49) oleh Al-Mufid

[18] Dari judulnya sudah nyata mereka mengakui bahwa Al-Qur’an sudah diselewengkan, sebab judul kitabnya “Fashlul Khithob fi Itsbat Tahrif Kitab Robb Al-Arbab “, yang artinya: “Kata Keputusan dalam Menetapkan Adanya Penyelewengan dalam Kitab Tuhan Semesta Alam “.

[19] Lihat Al-Anwar An-Nu’maniyyah (2/358,359) oleh Ni’matullah Al-Jaza’iry, seorang Rofidhoh.

[20] Lihat Badzlul Majhud (1/409-410) karya Syaikh Abdullah Al-Jumaily

[21] Lihat Kasyful Asror (hal.131) oleh Al-Khumainy, dengan terjemah Dr. Muhammad Ahmad Al-Khothib.

[22] Para pembaca jangan tertipu dengan banyaknya gelar mereka (Allamah Al-Faqih Ayatullah Al-Uzhma Haji Sayyid). Itu Cuma gelar semu untuk menipu orang awam. Saya teringat dengan diskusi seorang bernama Utsman Al-Khomis ketika ia diskusi dengan seorang ulama Syi’ah, yang katanya mereka dia seorang ahli hadits. Utsman tanya kepadanya tentang hadits shohih. Dia berusaha menjawabnya dengan mimik gugup,namun ia tak bisa memberikan definisi yang benar tentang hadits shohih. Jadi, jangan tertipu dengan gelarnya !!!

[23] Lihat Tuhfah Awwam Maqbul (hal.214-215).

[24] Lihat Tashhif Kitabain (hal.18), cet. India. Ini dinukil oleh Ihsan Ilahi Zhohir Rahimahullah dalam Ar-Rodd ala Ad-Duktur Ali Abdul Wahid Wafi fi Kitabih Baina As-Syi’ah Ahlis Sunnah (hal.93).

[25] Lihat Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah (hal.49) karya Al-Khotib Al-Baghdady Rahimahullah.

[26] Lihat Badzlul Majhud (1/432-433) dengan sedikit perubahan tanpa merusak makna. Bukan seperti yang dilakukan orang Rofidhoh-Syi’ah dalam menukil ucapan orang, diubah sampai merusak makna yang diinginkan oleh pengucapnya.

[27] QS.Al-Hijr : 9

[28] Lihat Tafsir Ath-Thobary (8/14)

[29] Tuduhan ini tentunya tidak benar sebagaimana kami jelaskan tadi.

[30] Lihat  Tafsir Al-Qummy (1/345). Zuraiq dan Habtar : Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma

[31] QS. Ar-Rahman : 43

[32] Lihat Tafsir Al-Qummy  (1/84) di dalamnya disebutkan ayat palsu ini. Kitab milik Syi’ah-Rofidhoh.

[33] Lihat Asy-Syi’ah wa As-Sunnah (hal.79) karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhohir, cet. Idaroh Turjuman As-Sunnah, Lahore

[34] Lihat Al-Iqna’ fi masa’il Al-Ijma’ (1/39) karya Al-Hafizh Abul Hasan Ali Ibnul Qoththon Al-Fasi [628 H] Rahimahullah., Cet. Dar Al-Qolam dengan tahqiq Dr. Faruq Hamadah.

[35] Lihat Ta’liq Al-Iqna (1/39) oleh Dr Faruq Hamadah.

===========================

Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syi’ah

http://dzulqarnain.net/sikap-ulama-islam-terhadap-agama-syiah.html

Pada hari-hari ini, kita melihat bahwa kaum Syi’ah sibuk menyebarkan lembaran-lembaran dari beberapa tokoh yang berisi beberapa pernyataan bahwa agama Syi’ah tidak sesat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan kaum Syi’ah, pada negeri tempat mereka menganggap diri-diri mereka sebagai kaum minoritas, untuk menyerukan pendekatan atau persatuan antara Sunni dan Syi’ah serta yang semisalnya. Seluruh hal tersebut adalah upaya untuk mengaburkan sikap ulama Islam terhadap agama Syi’ah.

Berikut beberapa ucapan ulama kaum muslimin tentang agama Syi’ah agar umat Islam mengetahui bagaimana sikap ulama Islam yang sesungguhnya terhadap agama Syi’ah.

1. Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy rahimahulllâh (Wafat 62 H)

Beliau berkata,

لقد غلت هذه الشيعة في علي رضي الله عنه كما غلت النصارى في عيسى بن مريم

“Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin Maryam.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]

2. Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy rahimahulllâh (W. 105 H)

Beliau bertutur,

ما رأيت قوماً أحمق من الشيعة

“Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu daripada kaum Syi’ah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 7/1461]

Beliau juga bertutur,

نظرت في هذه الأهواء وكلمت أهلها فلم أر قوماً أقل عقولاً من الخشبية

“Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat ini, dan Saya telah berbicara dengan penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]

3. Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh (W. 112 H)

Beliau berkata,

الرافضة لا تنكح نساؤهم، ولا تؤكل ذبائحهم، لأنهم أهل ردة

“(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi kaum perempuan mereka dan tidak boleh memakan daging-daging sembelihannya karena mereka adalah kaum murtad.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

4. Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)

Beliau berucap,

الجماعة أن تفضل أبا بكر وعمر وعلياً وعثمان ولا تنتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ustman, serta janganlah engkau mencela seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

5. Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W. 155 H)

Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum Rafidhah, kemudian orang tersebut membicarakan sesuatu dengannya, tetapi kemudian Mis’ar berkata,

تنح عني فإنك شيطان

“Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau adalah syaithan.” [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah 8/1457]

6. Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahulllâh (W. 161 H)

Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyân pun menjawab,

كافر بالله العظيم

“(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”

Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami menshalatinya?”

(Sufyân) menjawab,

لا، ولا كرامة

“Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”

Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya?”

Beliau menjawab,

لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه في قبره

“Janganlah kalian menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.” [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

7. Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179 H)

Beliau bertutur,

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، ليس لهم سهم، أوقال نصيب في الإسلام

“Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau bagian apapun dalam keislaman.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162 dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]

Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah maka Imam Malik menjawab,

لا تكلمهم ولا ترو عنهم فإنهم يكذبون

“Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari mereka. Sesungguhnya mereka itu sering berdusta.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

8. Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim rahimahulllâh (W.182 H)

Beliau berkata,

لا أصلي خلف جهمي، ولا رافضي، ولا قدري

“Saya tidak mengerjakan shalat di belakang seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary (penganut paham Qadariyah).” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 4/733]

9. Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh (W. 198 H)

Beliau berucap,

هما ملتان: الجهمية، والرافضة

“Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.), yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

10. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy rahimahulllâh (W. 204 H)

Beliau berkata,

لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]

11. Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W. 206 H)

Beliau berkata,

يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون

“Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering berdusta.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

12. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby rahimahulllâh (W. 212 H)

Beliau berkata :   ما أرى الرافضة والجهمية إلا زنادقة

“Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang zindiq.” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]

13. Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair rahimahulllâh (W. 219 H)

Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,

فلم نؤمر إلا بالاستغفار لهم، فمن يسبهم، أو ينتقصهم أو أحداً منهم، فليس على السنة، وليس له في الفئ حق

“Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang mencerca mereka atau merendahkan mereka atau salah seorang di antara mereka, dia tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada hak apapun baginya dalam fâ`i.” [Ushûl As-Sunnah hal.43]

14. Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh (W. 224 H)

Beliau berkata,

عاشرت الناس، وكلمت أهل الكلام، وكذا، فما رأيت أوسخ وسخاً، ولا أقذر قذراً، ولا أضعف حجة، ولا أحمق من الرافضة …

“Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya telah berbicara dengan ahli kalam dan … demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah, dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/499]

15. Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W. 227 H)

Beliau berkata,

إنا لا نأكل ذبيحة رجل رافضي، فإنه عندي مرتد

“Sesungguhnya kami tidaklah memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia, menurut Saya, adalah murtad.” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/459]

16. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W. 241 H)

Banyak riwayat dari beliau tentang celaan terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah:

Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,

ما أراه على الإسلام

“Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]

Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]

Beliau ditanya pula tentang orang yang bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang memberi salam kepada orang itu. Beliau menjawab.

لا، وإذا سلم عليه لا يرد عليه

“Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi salam kepada (orang) itu, janganlah dia menjawab (salam) tersebut.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/494]

17. Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail rahimahulllâh (W. 256 H)

Beliau berkata,

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي، أم صليت خلف اليهود والنصارى، ولا يسلم عليهم، ولا يعادون، ولا يناكحون، ولا يشهدون، ولا تؤكل ذبائحهم

“Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun Saya mengerjakan shalat di belakang orang-orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk mereka.” [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

18. Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)

Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang lelaki yang merendahkan seorang shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini dan hadits-hadits adalah para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin mempercacat saksi-saksi Kita untuk menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas dan mereka adalah para zindiq.” [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al-Kifâyah hal. 49]

19. Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin Idris rahimahulllâh (W. 277 H)

Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah telah menolak keislaman. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

20. Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)

Beliau berkata,

واعلم أن الأهواء كلها ردية، تدعوا إلى السيف، وأردؤها وأكفرها الرافضة، والمعتزلة، والجهمية، فإنهم يريدون الناس على التعطيل والزندقة

“Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl dan kezindiqan.” [Syarh As-Sunnah hal. 54]

21. Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W. 385 H)

Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan lagi baik. Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah dengan mencintai mereka semua, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja yang mencela, melaknat, dan menyesatkan mereka, menganggap mereka berkhianat, serta mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari semua bid’ah berupa Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan Mu’tazilah.” [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah hal. 251-252]

22. Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H)

Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahwa tidak (sah) melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.” [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

23. Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387 H)

Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam Nûniyah-nya,

إن الروافضَ شرُّمن وطيءَ الحَصَى … من كلِّ إنسٍ ناطقٍ أو جانِ

مدحوا النّبيَ وخونوا أصحابه … ورموُهمُ بالظلمِ والعدوانِ

حبّوا قرابتهَ وسبَّوا صحبه … جدلان عند الله منتقضانِ

Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak bebatuan

Dari seluruh manusia yang berbicara dan seluruh jin

Mereka memuji Nabi, tetapi menganggap para shahabatnya berkhianat

Dan mereka menuduh para shahabat dengan kezhaliman dan permusuhan

Mereka (mengaku) mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para shahabat beliau

Dua perdebatan yang bertentangan di sisi Allah

[Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

24. Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)

Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan Rafidhah, madzhabnya telah mencapai pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah yang mengafirkan kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang mereka, dan kami tidak berpendapat akan kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara mereka yang membolehkan kudeta dan menghalalkan darah, tidak diterima persaksian dari mereka.” [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2/551]

25. Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh (W. 543 H)

Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keridhaan orang-orang Rafidhah kepada para shahabat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukumi (para shahahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan kebatilan.” [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

26. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulllâh (W. 728 H)

Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam, tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah) tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada (kaum Rafidhah) itu.” [Minhâj As-Sunnah 1/160]

Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau yang beriman sebagaimana mereka telah membantu kaum musyrikin dari kalangan At-Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih berbicara.” [Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]

*Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-Dhâl hal. 90-110

=======

 

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: