Beranda > Hukum-Hukum > Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi

Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi

Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi (1)

 

cinta-nabiPenulis : Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed

 

Pada bulan Rabiul Awwal ini, ada satu acara ritual tahunan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin, yaitu Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Kali ini kami coba sampaikan beberapa tanya jawab seputar acara ritual yang seakan-akan menjadi kewajiban untuk dilaksanakan setiap tahunnya ini.

 

Mereka bertanya tentang masalah-masalah tersebut sebagai berikut :

 

Apa hukum peringatan Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam?

Peringatan Maulid adalah perkara bid’ah. Acara ini tidak pernah dikerjakan oleh shahabat radhiyallahu ‘anhum dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkannya. Sedangkan dalam masalah syariat agama ini, kita tidak bisa membuat cara ibadah sendiri, atau menguranginya dan menambahnya dengan cara-cara ibadah yang baru.

 

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah rodhiAllahu ‘anha, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak pernah ada daripadanya, maka hal itu tertolak.” (Mutafaqun ‘Alaih)

 

Dalam riwayat yang lain Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak pernah ada perintah kami padanya, maka hal itu tertolak.” (Hadits Riwayat Bukhary Muslim)

 

Jadi karena tidak ada tuntunan dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka amalan tersebut tertolak.

 

Bukankah perkara ini adalah bid’ah hasanah?

 

Jika kalian menganggap perkara tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), berarti kalian telah menganggap ada amalan ibadah yang baik yang belum diajarkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak diamalkan oleh para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Itu maknanya, kalian menuduh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkhianat, karena beliau tidak menyampaikan satu kebaikan yang kalian kerjakan sekarang ini (Perayaan Maulid Nabi -Pent).

 

Padahal Rasulullah Sholallahu’Alaihi Wasallam tidak meninggalkan satu kebaikan pun, kecuali beliau telah mengajarkannya. Beliau bersabda (yang artinya), “Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian pada surga, kecuali sungguh telah aku perintahkan kalian semua dengannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka, kecuali aku telah melarang kalian dengannya.” (Hadits Riwayat Abu Bakar Al Hadad; Syaikh Al Albany telah menghasankannya dalam Ash Shahihah no 2886).

 

Abu Dzar Al Ghifary Radhiyallahu ‘Anhu berkata (yang artinya), “Sungguh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah meninggalkan kami dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali telah disebutkan kepada kita ilmu tentangnya.” (Hadits Riwayat Ahmad)

 

Yang demikian karena mengajarkan kebaikan adalah amanah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada setiap Rasul, sebagaimana diriwayatkan ‘Abdullah Bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang teleh diketehuinya” (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Imaraat bab Wujubul wafa’i bi bai’atil khulafa, juz 12/436)

 

Perhatikan hadits di atas dengan baik. Kita akan dapatkan bahwa hadits ini menerangkan tentang tugas seluruh para Rasul yaitu mengajarkan kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan umat dari kejelekan yang diketahuinya.

 

Kalau kalian menganggap ada kebaikan lain selain yang diajarkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka ada 2 kemungkinan :

 

1. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengetahui dan kalian merasa lebih tahu dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.


2. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tahu tapi tidak menyampaikannya, ini berarti kalian menuduh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mengkhianati risalah dan tugas para Rasul yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

 

Kedua kemungkinan di atas adalah mustahil, tidak mungkin bagi Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang ma’shum (terjaga dari kesalahan)

 

Atau apakah kalian merasa lebih baik dari para shahabat Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, padahal merekan adalah manusia terbaik seteleh Rasulullah Sholallahiu ‘Alaihi Wasallam. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)

 

Kalau acara yang kalian lakukan merupakan kebaikan, niscaya sudah dilakukan oleh generasi-generasi terbaik tersebut. Ingat agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah kucukupkan kepada kalian nikmatku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (Al Maidah: 3).

 

Ingat, agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari in telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al-Maidah:3)

 

Maka kebid’ahan yang kalian anggap baik merupakan anggapan bahwa agama ini belum sempurna, hingga perlu penambahan bid’ah-bid’ah baru.

 

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “….maka wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan hidayah. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan geraham kalian. Dan jauhkanlah dari kalian hal-hal yang baru, karena sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

 

Bagaimana dengan perkara baru seperti microphone, kendaraan bermesin, dan lain-lain yang belum pernah ada pada masa Rasulullah, bukankah itu merupakan bid’ah hasanah?

 

Kalian jangan pura-pura bodoh! Perkara baru yang sedang kita bicarakan ini (dalam hadits di atas -pent) adalah dalam masalah agama. bukan dalam masalah keduniaan. Bukankah beliau bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami” ? Yang dimaksudkan dengan “urusan kami” maksudnya adalah perkara agama. Adapun dalam masalah dunia beliau bersabda, “Kalian lebih tahu dalam urusan dunia kalian” (Hadits Riwayat Muslim)

 

Maksud kami kegiatan pada peringatan tersebut hanya dzikir dan pujian sholawat kepada Nabi. Bukankah itu semua kebaikan?

 

Amal ibadah itu disamping bentuknya harus dikerjakan dengan tata cara Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, juga waktunya harus sesuai dengan tuntunan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

Dzikir untuk mengingat Allah telah dituntunkan untuk dikerjakan setiap hari seperti dzikir setelah shalat 5 waktu, dzikir pagi dan sore, dan lain-lain. Sedangkan mengkhususkan dzikir pada acara Maulid Nabi atau pada tanggal bulan tertentu membutuhkan dalil khusus tentangnya. Dan sudah dikatakan para ‘ulama bahwa tidak ada satu hadits pun yang memerintahkan dzikir khusus pada Maulid Nabi.

 

Apalagi pada pujian-pujian yang kalian baca pada acara tersebut seringkali terjatuh pada ghuluw dan tanathu (melampaui batas), seperti yang terdapat pada Barzanji dan Burdah Al Bushiri yang seringkali kalian baca pada acara-acara tersebut. Sebagai contoh adalah apa yang terdapat dalam Burdah Al Bushiri :

Wahai semulia-mulianya makhluk, Aku tidak mendapati bagiku seorang pelindung selain engkau ketika terjadi bencana yang merata….

 

Demikianlah kalian mengangkat kedudukan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengangkat beliau sebagai tempat bergantung dan tempat berlindung,sehingga ketika bencana menimpa, kalian berlindung kepada beliau. Ini adalah satu kesyirikan yang sangat berbahaya.

 

Padahal Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Wahai Nabi), “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan (menaqdirkan) sesuatu kemudharatan pun kepada kalian dan tidak pula suatu kemanfaatan”. Katakan (Wahai Nabi),”Sesungguhnya sekali-sekali tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari adzab Allah dan sekali tidak emndapat tempat berlindung selain daripada-Nya”.” (Al-Jin : 21-22)

 

Sedangkan shalawat yang dibaca dalam acara-acara kalian tersebut, disamping mengkhususkan pada waktu tersenut adalah kebid’ahan, juga shalawat-shalawat yang sering dibaca tersebut adalah shalawat bid’ah yang dibuat oleh orang tertentu. Diantaranya adalah sholawat Nariyah. Tidak ada satu riwayat (hadits -pent) pun yang mengajarkan sholawat seperti itu. Akhirnya kalian terjerumus dalam perkara ghuluw (melampaui batas) kembali.

 

Coba perhatikan arti dari sholawat Nariyah tersebut :

 

Ya Allah berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kita Muhammad, yang dengannya dilepaskan simpul-simpul, dibukanya kesulitan-kesulitan, dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan, didapatkannya harapan-harapan dan akhir yang baik, dan dimintanya hujan dengan wajahnya yang mulia. Dan kepada keluarganya serta para shahabatnya sejumlah apa yang ada untukmu

 

Apakah yang menakdirkan dan menentukan keselamatan, menghilangkan kesusahan dan memenuhi harapan-harapan adalah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam? Atau kalian bertawasul dengan wajah Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam? Keduanya adalah kesyirikan yang diharamkan.

 

 

 

Tapi kami tidak mengetahui/memahami makna dari syair dan sholawat-sholawat tersebut….

 

Jika kalian tidak mengetahui arti dari sholawat-sholawat bid’ah tersebut, maka hal itu adalah musibah. Karena kalian adalah orang-orang yang taklid buta, mengikuti sesuatu dalam keadaaan kalian tidak mengetahui isinya.

 

Jika kalian telah mengetahui bahwa sholawat-sholawat tersebut mengandung kesyirikan dan ghuluw namun kalian tetap mengerjakannya, maka sungguh itu merupakan musibah yang lebih besar lagi, karena kalian menentang terhadap Al Qur’an dan As Sunnah dengan sengaja.

 

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala melindungi kita dari segala macam kesyirikan dan kebid’ahan yang telah dibuat manusia dan menaqdirkan untuk selalu berada di atas kebaikan. Amin. Wallahu A’lam!

 

Sumber: Bulletin dakwah Manhaj Salaf edisi 99 tahun 3
“Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi”
Sumber URL : http://ghuroba.blogsome.com/2007/03/27/tentang-maulid-nabi-1/

 

 

 

Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

 

Ustadz-ustadz kami mengatakan bahwa memperingati Maulid Nabi merupakan bukti kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam….

 

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan juga cinta Kepada Allah Subhanahu Wata’ala dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti ajarannya) bukan dengan ibtida’ (mengada-adakan kebid’ahan). Allah berfirman (yang artinya),

“Katakanlah (Wahai Nabi): “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran:31)

Demikian juga cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dibuktikan dengan mendudukkan beliau kepada kedudukannya yang mulia sebagai panutan, ikutan, dan teladan yang kita jadikan contoh, bukan mengangkatnya secara berlebihan dan melampaui batas dengan memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya),

“Jangan kalian puji aku berlebihan sebagaimana kaum Nashara memuji Isa bin Maryam. Hanya saja aku ini adalah hamba Allah, maka katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya”” (Hadits riwayat Bukhari)

Memuji dengan berlebihan seperti kaum Nashara adalah dengan menjadikan tuhan, atau anak tuhan atau “satu yang tiga, tiga yang satu”. Yakni memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada Isa Alaihis Salam.

Dan juga Allah berfirman (yang artinya),

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hamba-Nya, seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah Yang Maha Esa”” (Al Kahfi:110)

Yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diperintahkan utuk menyatakan dirinya sebagai manusia yaitu makhluk yang Allah ciptakan, tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan baik uluhiyah maupun rububuyah. Hanya saja beliau adalah manusia pilihan (Al Musthofa) dan manusia terbaik yang Allah Azza Wa Jalla angkat sebagai Rasul serta mendapatkan wahyu.

Tapi kami tidak menuhankan dan tidak meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Rabb yang menguasai alam semesta dan menyatakan beliau sebagai anak tuhan seperti Nashrani?

Alhamdulillah, itu bukti kalau kalian masih muslim. Berarti apa yang kalian ucapkan, dalam bait-bait syair pujian kepada Nabi dengan tidak sadar dan dengan tidak memahami artinya.

Perlu kalian ketahui, sesungguhnya menuhankan Nabi itu dengan 2 model:

Pertama, mensifati beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan sifat yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua, memperlakukan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti memperlakukan Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua bentuk penuhanan Nabi terdapat dalam syair-syair pujian kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang biasa mereka baca ketika perayaan Maulud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seperti Nadham Al Bushiri, ia mensifati Rasul dengan sifat-sifat Allah :

1. Menganggap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengetahui hal-hal ghaib yang tercatat di Lauhul Mahfudz, yaitu ucapan mereka:

Dan termasuk ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfudz dan ilmu al qolam

Yakni yang dimaksud adalah ilmu yang terdapat di Lauhul Mahfudz yang ditulis dengan pena, yakni ilmu tentang apa-apa yang Allah takdirkan dan Allah tuliskan.

“Sesungguhnya awal pertama Allah ciptakan adalah pena. Kemudian Allah berfrman, “Tulislah!”. Maka pena berkata “Apa yang aku tulis?”. Allah berfirman, “Tulislah taqdir-taqdir segala sesuatu apa yang tela terjadi dan apa yang akan terjadi sampai akhir masa”” (Hadits riwayat Tirmidzi, Syaikh Al Albany menshahihkannya dalam Jami’at Tirmidzi no 2155)

Kalau kalian menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempunyai ilmu ini, berarti kalian menganggap bahwa Rasulullah mengetahui hal-hal yang ghaib. Padahal Allah telah berfirman mengisahkan RasulNya (yang artinya)

“Dan aku (Rasul) tidak mengatakan keepada kalian (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak pula aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat….” (Huud:31)

Dan juga dalam firman-Nya (yang artinya)

“Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci keghaiban, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri….” (Al An’aam:59)

Allah Subhanahu Wata’ala juga memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk mengikrarkan bahwa dirinya tida mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut. Allah berfirman (yang artinya)

“Katakanlah (wahai Nabi), “Aku (Rasul) tidak berkuasa menentukan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tIdak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”” (Al ‘Araf:188)

2. Menganggap bahwa keberadaan langit dan bumi adalah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti pada potongan pertama bait di atas, yakni:

Dan sesungguhnya karena kedermawananmulah adanya dunia dan pasangannya (langit)

Kalau seluruh langit dan bumi dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka apa sisanya yang merupakan milik Allah?

Berkata Ibnu Rajab, “Sesungguhnya dia (Bushiri) tidak menyisakan sedikitpun untuk Allah, jika dunia dan akhirat dari Rasulullah” (Kutub laisat minal Islam oleh Istanbuli hal 16;lihat Irsyadul Bariyyah, hal 85)

Bukankah ada hadits Qudsi yang menyatakan “Jika bukan karena engkau, tidaklah aku ciptakan alam semesta”??

Memang ada hadits yang mrip seperti itu, yaitu

“Datang kepadaku Jibril seraya berkata (menyampaikan ucapan Allah), “Wahai Muhammad, kalau bukan karena engkau, tidak Aku ciptakan surga. Dan kalau bukan karena engkau, tidak aku ciptakan neraka”-dalam riwayat Ibnu Syakir “Kalau bukan karena engkau tidak aku ciptakan dunia””

Namun hadits ini adalah hadits yang palsu (Maudhu’). Syaikh Al Albany menyebutkannya dalam As Silsilah Al Hadits Ad Dhaifah, hadits 282.

Ini kalau ditinjau dari sisi matan (isinya) jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an yang menyatakan tentang hikmahnya penciptaan langit dan bumi adalah untuk beribadah kepada Allah dan menguji manusia:

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Dia adalah Arsy-nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kalian yang lebih baik amalnya….” (Huud:7)

Dan firman-Nya (yang artinya)

“Dan aku tidak menciptakan jin manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu” (Ad Dzariyat:56)

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diperintahkan untuk menyatakan bahwa dirinya tidak bisa menentukan manfaat dan mudharat.

Demikian pula menuhankan Nabi dengan memperlakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti Allah dnengan mengarahkan kepadanya bentuk-bentuk ibadah seperti do’a, isti’anah, istghotsah, dan lain-lain. Ini juga terdapat pada syair-syair yang kalian baca:

  1. Memanggil dengan menyerunya seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Maha Mendengar dan Maha Melihat, seperti seruan kalian dalam acara tersebut: Ya Habiballah, Ya Nabiyallah, Ya Nurul’Aini, Ya Jaddal Husaini. Kalian seakan-akan mengajak berbicara Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika masih hidupnya atau seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hadir di hadapan kalian.
  2. Berdoa meminta keselamatan dunia dan akhirat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seakan-akan beliau adalah Mujibus Sailin (Pengabul Do’a), seperti ucapan kalian,”Wahai semulia-mulia makhluq, aku tidak mendapati bagiku seorang pelindug selain engkau ketika terjadi bencana yang merata.”. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri menyatakan (yang artinya), “Tidak ada tempat bersandar, tidak ada tempat menyelamatkan diri, kecuali pada engkau (Allah).”
  3. Menganggap bahwa Ruh Nabi Shallallahu “Alaihi Wasallam datang pada setiap acara-acara kalian, sehingga kalian menyambutnya dengan berdiri dan mengucapkan: Marhaban Ya Nurul ‘Aini, Marhaban Ya Jaddal Husaini (Selamat datang wahai Nurul’Aini, selamat datang wahai kakeknya 2 husain)

 

Kalian tidak berfikir bagaimana bisa ruh Nabi Shallallahu’Alaihi Wasallam datang ke semua acara maulid-maulid kalian di tempat yang berbeda-beda dan dalam waktu yang bersamaan. Tidakkah ini menunjukkan bahwa kalian menganggap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti apa yang difirmankan Allah tentang diri-Nya (yang artinya), “Dan Dia bersama kalian dimana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan” (Al Hadid:4)

 

Namun bukankah Allah menyatakan, “Aku bersama hambaku yang mengingatKu”. Maka ketika kita mengingat Nabi dan menyanjungnya, maka nabipun hadir bersama kita??

 

Ucapan kalian ini menambah bukti kalau kalian benar-benar telah mendudukkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti Tuhan. Bagaimana mungkin kalian meng qiyas kan sesuatu yang sama sekali berbeda? Bukankah qiyas itu harus mempunyai syarat-syarat?

 

Kami tanyakan kepada kalian apa Wajhus Syabah (sisi persamaan) antara Allah dan Rasul-Nya? Padahal Allah dengan tegas menyatakan (yang artinya) :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Asy Syuraa ; 11)

 

Maka sejelek-jeleknya qiyas adalah mengqiyaskan makhluq dengan Khaliq (sang pencipta) nya, mengqiyaskan hamba dengan sesembahannya, sungguh ini qiyas yang bathil. Wallahu ‘alam.

 

Sumber :  Bulletin Dakwah Islam Manhaj Salaf edisi 100 Tahun III
“Mereka Bertanya Tentang Maulud Nabi bagian 2″

Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/2007/04/08/tentang-maulid-nabi-2/

 

 

Kategori:Hukum-Hukum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: