Beranda > Aqidah & Manhaj > Empat Kaidah Dasar Memahami Fenomena Kesyirikan…Ternyata Kesyirikan di Zaman Sekarang Lebih Parah

Empat Kaidah Dasar Memahami Fenomena Kesyirikan…Ternyata Kesyirikan di Zaman Sekarang Lebih Parah

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Dinukil dari qo’idah yang keempat dalam Kitab Al Qowa’idul Arba’ karya Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rohimahulloh :

(naskah kitab ada pada lampiran berupa format word dan untuk download format pdf syarahnya di http://www.4shared.com/document/GnBxS8Y-/empat-kaedah-memahami-tauhid-s.html )

القاعدة الرابعة

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65].

 

 

Kaidah keempat:

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita (masa Syaikh, pent.) lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (masa Nabi, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlashkan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit/susah.

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

فَإِذَا رَڪِبُواْ فِى ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّٮٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ (٦٥)


“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. ” (Surat Al-‘Ankabut ayat 65).
Lihat pula surat Al Isroo’ ayat 67 dan surat Luqman ayat 32.

Maka, hal tersebut di atas bisa dilihat dari 3 sisi yakni :

1.       Sebagaimana telah tertulis dalam kaidah keempat di atas yakni : kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlashkan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit/susah (dalilnya pada surat Al ‘Ankabut 65, Luqman 32, dan Al Isroo’ 67). Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.

Contohnya adalah kasus musibah-musibah yang menimpa bangsa Indonesia baik itu Lumpur Porong Lapindo, Gunung Merapi, Tsunami Aceh, dll. Tatkala musibah-musibah tersebut belum muncul, kesyirikan telah nampak di tengah-tengah masyarakat kaum Muslimin tersebut. Dan tatkala musibah telah menimpa, ternyata kesyirikannya pun justru semakin bertambah parah. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang tertimpa musibah tersebut meratap-ratap kepada kuburan, atau mempersembahkan kepala kerbau atau kambing, meminta tolong kepada para dukun, dan semisalnya.

2. Kaum musyrikin zaman dahulu hanya berbuat kesyirikan dalam hal tauhid uluhiyah (peribadatan) terhadap Allah Ta’ala dan mereka mengakui ke-rububiyahan Allah Ta’ala (yakni mengakui bahwa Allah Ta’ala sebagai Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta) dengan dalil Surat Yunus 31. Sementara, para pelaku kesyirikan di zaman sekarang mereka berbuat syirik terhadap uluhiyah (yakni dengan beribadah kepada selain Allah) dan rububiyah Allah Ta’ala (yakni dengan meyakini ada makhluq lain yang dapat mengatur nasib baik/buruk). Betapa banyak para kaum tasawuf/sufi yang ketika mereka terselamatkan dari suatu bencana maka mereka berkata : “O…ini pasti disebabkan berkah dari habib atau wali fulan”. Atau tatkala mereka meminta dianugerahi anak/rizqi/jabatan, maka mereka meminta-minta kepada orang-orang yang sudah mati di kuburan-kuburan keramat, kepada para dukun, dan hal semisal lainnya.

3.  Kaum musyrikin zaman dahulu hanya berbuat syirik terhadap makhluq-makhluq Allah yang mulia seperti kepada para nabi, para malaikat, para orang-orang sholih dari wali Allah, dan semisalnya. Adapun para pelaku kesyirikan di zaman sekarang, mereka ternyata juga mengambil makhluq/benda yang hina sebagai tandingan bagi Allah Ta’ala. Betapa sering kita lihat di sekitar kita bahkan “kotoran” sapi bernama Kyai Slamet pun diperebutkan untuk dimintai barokahnya. Atau kuburan dari para tokoh yang hina seperti dari kalangan raja-raja Budha/Hindu, atau hal-hal hina semisalnya.

Ketiga hal di atas adalah nyata terjadi di tengah-tengah masyarakat kaum Muslimin, dan justru kebanyakannya pula dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai seorang Muslim. Subhanallah….tidakkah hati kita sedih melihat kenyataan ini ??? Oleh karena itu, maka hendaknya para da’i senantiasa berdakwah untuk mengajak para orang yang didakwahkannya untuk senantiasa mau memperbaiki perkara tauhidnya.

Dan sungguh keliru lah sebagian kelompok yang berkata kepada para da’i penyeru dakwah tauhid : “Wahai kalian….kenapa dakwah kalian isinya tauhid lagi….tauhid lagi…??? Apa tidak ada tema lainnya? Kapan kalian membiacarakan pembentukan khilafah Islamiyyah ? Kapan kalian akan berjihad membebaskan penindasan orang kafir terhadap kaum Muslimin ? Kapan kalian memikirkan penegakan syariat Islam??? “ dan perkataan yang bernada penghinaan semisalnya.

Maka…kita pun akan katakan kepada mereka tersebut :

“Bukankah para nabi dan rosul pun diutus oleh Allah Ta’ala dengan perintah utama untuk mentauhidkan Allah semata ?”

“Khilafah macam apa yang akan kalian tegakkan di tengah kondisi umat islam yang tidak tahu haq-haq Allah seperti sekarang ini ?”

“Jihad model apa yang akan kalian kobarkan di tengah kondisi umat Islam yang jauh dari ‘aqidah yang benar seperti sekarang ini ? “

“Syariat Islam model apa yang akan kalian tegakkan di tengah kondisi umat Islam yang bodoh tentang agamanya sendiri seperti sekarang ini ? “

Semoga Allah senantiasa memperbaiki kondisi kaum Muslimin.

بارك الله فيكم

Naskah Lengkap Al Qowa’idul Arba’ :

القواعــد الأربـع

Empat Kaidah Dasar [Untuk Mengetahui Akar Fenomena Kesyirikan]

للشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله

Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (rohimahullah)

مقدمة

بسم الله الرحمن الرحيم

أسأل الله الكريم ربّ العرش العظيم أن يتولاّك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مبارَكـًا أينما كنت، وأن يجعلك ممّن إذا أُعطيَ شكر، وإذا ابتُلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإنّ هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.

اعلم أرشدك الله لطاعته: أن الحنيفيّة ملّة إبراهيم: أن تعبد الله مخلصـًا له الدين كما قال تعالى ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ﴾[الذاريات:56]. فإذا عرفت أنّ الله خلقك لعبادته فاعلم: أنّ العبادة لا تسمّى عبادة إلا مع التوحيد، كما أنّ الصلاة لا تسمّى صلاة إلى مع الطهارة، فإذا دخل الشرك في العبادة فسدتْ كالحدَث إذا دخل في الطهارة. فإذا عرفتَ أن الشرك إذا خالط العبادة أفسدها وأحبط العمل وصار صاحبه من الخالدين في النار عرفتَ أنّ أهمّ ما عليك: معرفة ذلك، لعلّ الله أن يخلّصك من هذه الشَّبَكة، وهي الشرك بالله الذي قال الله فيه: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾[النساء:116], وذلك بمعرفة أربع قواعد ذكرها الله تعالى في كتابه.

 

Muqoddimah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Aku meminta kepada Allah Yang Maha Mulia, Robb nya ‘Arsy yang agung, agar Dia menolong dan membela Anda di dunia dan di akhirat, menjadikan Anda sebagai orang yang diberkahi di manapun Anda berada dan menjadikan Anda termasuk golongan orang-orang yang jika diberikan sesuatu maka dia bersyukur, jika ditimpakan ujian maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka segera meminta ampunan. Karena ketiga sifat ini merupakan tanda kebahagiaan hidup seseorang.

Ketahuilah -semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada Anda kepada ketaatan kepadaNya-, sesunguhnya al-hanifiyah adalah agamanya Nabi Ibrahim; yaitu Anda beribadah hanya kepada Allah semata dengan hanya mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ (٥٦)

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Surat Adz-Dzaariyaat ayat 56).

Dan bila Anda telah mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menciptakan Anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah: bahwa ibadah tidaklah dianggap sebagai ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana sholat, tidaklah teranggap sebagai sholat kecuali jika disertai dengan thoharoh/bersuci. Karenanya jika suatu ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu sebagaimana rusaknya sholat bila disertai adanya hadats.

Jika Anda telah mengetahui bahwa suatu ibadah bercampur dengan kesyirikan maka akan merusak ibadah itu sendiri dan hal itu menyebabkan terhapusnya semua amalan pelakunya (musyrik) serta menyebabkan pelakunya menjadi orang-orang yang kekal di dalam api neraka.

Jika Anda telah mengetahui semua perkara di atas, niscaya Anda akan mengetahui bahwa perkara yang terpenting untuk diketahui adalah mempelajari permasalahan ini (kesyirikan), semoga dengannya Allah membebaskan Anda dari jaring-jaring kerusakan ini, yaitu kesyirikan kepada Allah Ta’ala, yang Allah Ta’ala telah berfirman tentangnya:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” ( Surat An-Nisaa’ ayat 116)

Pengetahuan akan hal ini (kesyirikan) akan mampu diraih dengan memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam Kitab-Nya.

الأولى  القاعدة

أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31].

 

Kaidah pertama:

Anda harus meyakini bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta, dan Pengatur segala urusan. Meskipun demikian, pengakuan tersebut tidaklah lantas memasukkan mereka (yakni orang-orang kafir tersebut) ke dalam agama Islam.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَىَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ‌ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ‌ۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ (٣١)


“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizqi kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?” Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “(kalau demikian) Maka mengapa kalian tidak bertaqwa [kepada-Nya] ?”

(Surat Yunus ayat 31).

الثانية القاعدة

أنّهم يقولون: ما دعوناهم وتوجّهنا إليهم إلا لطلب القُرْبة والشفاعة، فدليل القُربة قوله تعالى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3].

ودليل الشفاعة قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]،

والشفاعة شفاعتان: شفاعة منفيّة وشفاعة مثبَتة:
فالشفاعة المنفيّة ما كانت تٌطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلاّ الله، والدليل: قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].

والشفاعة المثبَتة هي: التي تُطلب من الله، والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة، والمشفوع له: من رضيَ اللهُ قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255].

 

 Kaidah kedua:

Bahwasanya mereka (kaum musyrikin) mengatakan: “Kami tidaklah berdo’a dan tidak menyerahkan ibadah kepada mereka (yakni sesembahan selain Allah) kecuali untuk meminta qurbah (kedekatan kepada Allah) dan syafa’at (mereka nantinya akan memberi syafa’at kepada kami, pent.)

Dalil tentang al qurbah (pendekatan diri) ini adalah firman Allah Ta’ala :

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى مَنۡ هُوَ كَـٰذِبٌ۬ ڪَفَّارٌ۬

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : ”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (Surat Az-Zumar ayat 3).

Adapun dalil tentang syafa’at adalah firman Allah Ta’ala :

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ (١٨)

“Dan mereka(yakni kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah apa-apa yang tidak dapat mendatangkan kemudhoratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka (kaum musyrikin) berkata: “Mereka itu (yakni sesembahan selain Allah)  adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah:”Apakah kalian mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]”. (Surat Yunus ayat 18).

Adapun syafa’at itu ada 2 macam :
1. Syafa’at manfiyah (yang ditolak keberadaannya).
2. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).

Syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah Ta’ala, pada perkara yang tidak seorangpun sanggup memberikannya kecuali Allah.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ يَوۡمٌ۬ لَّا بَيۡعٌ۬ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ۬ وَلَا شَفَـٰعَةٌ۬‌ۗ وَٱلۡكَـٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ (٢٥٤)

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rizqi yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zholim”. (Surat Al Baqorah ayat 254).

Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang diminta dari AllahTa’ala. Makhluk yang memberikan syafa’at itu dimuliakan (oleh Allah) dengan (kemampuan memberikan) syafa’at, sedangkan yang akan diberikan syafa’at adalah orang yang Allah ridhoi baik ucapan maupun perbuatannya, itupun setelah Allah Ta’ala mengizinkannya.

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :

مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ

“Siapakah yang mampu memberi syafa’at di sisi Allah tanpa se- izin-Nya?” (Surat Al-Baqarah ayat 255)

 

القاعدة الثالثة

أنّ النبي ظهر على أُناسٍ متفرّقين في عباداتهم منهم مَن يعبُد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأحجار والأشجار، ومنهم مَن يعبد الشمس والقمر، وقاتلهم رسول الله ولم يفرِّق بينهم، والدليل قوله تعالى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193].

ودليل الشمس والقمر قوله تعالى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37].

ودليل الملائكة قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾[آل عمران:80].

ودليل الأنبياء قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116].

ودليل الصالحين قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57].

ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20].

وحديث أبي واقدٍ الليثي قال: خرجنا مع النبي إلى حُنين ونحنُ حدثاء عهدٍ بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها: ذات أنواط، فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله إجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط… الحديث.

Kaidah ketiga:

Sesungguhnya Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam cara peribadatan mereka. Di antara mereka ada yang beribadah kepada para malaikat, di antara mereka ada yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang sholih, di antara mereka ada yang beribadah kepada pepohonan dan bebatuan serta di antara mereka ada pula yang beribadah kepada matahari dan bulan.

Akan tetapi mereka semua diperangi oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَقَـٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ۬ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِ‌ۖ

Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, sehingga agama ini semata-mata hanya untuk Allah”. (Surat Al-Baqoroh ayat 193).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala :

وَمِنۡ ءَايَـٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ‌ۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن ڪُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ (٣٧)


“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (Surat Fushshilat ayat 37).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) malaikat adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُواْ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةَ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ أَرۡبَابًا‌ۗ

Dan dia (Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan-sembahan”. (Surat Ali ‘Imran ayat 80).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) Nabi adalah firman Allah Ta’ala :

وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَـٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَـٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ‌ۖ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِى بِحَقٍّ‌ۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُ ۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُ ۥ‌ۚ تَعۡلَمُ مَا فِى نَفۡسِى وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِى نَفۡسِكَ‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـٰمُ ٱلۡغُيُوبِ (١١٦)


Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib” (Surat Al-Maai’dah ayat 116).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada) orang-orang sholih adalah firman Allah Ta’ala :

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّہُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُ ۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

Orang-orang yang mereka ibadahi itu, (justru) mereka sendiri mencari jalan kepada Robb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan ‘adzab-Nya.” (Surat Al-Isroo` ayat 57).

Dalil (akan adanya penyembahan kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala :

أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّـٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ (١٩) وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ (٢٠)


“Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Latta dan Al-‘Uzza, serta Manat yang ketiga.” (Surat An-Najm ayat 19-20)

Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi rohimahulloh, dia berkata :


“Kami pernah keluar bersama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka bisa berdiam (i’tikaf) di sisinya dan mereka bisa menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk mencari berkah sebelum perang, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (yang mempunyai tali-tali untuk menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu [sebagian dari] kami mengatakan: “Wahai Rosululloh, buatlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (kaum musyrikin) mempunyai Dzatu Anwath….” sampai akhir hadits.

[hadits riwayat Tirmidzi no.2180 dalam Kitab : Al Fitan; Bab : maa jaa’a latarkabunna sanana man kaana qoblakum, dan Beliau mengatakan hadits ini hasan shohih. Juga dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dalam Musnad nya (5/218) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah (no.76) dan Ibnu Hibban dalam Shohih nya (no.6702) dan dishohihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Ishobah (4/216) ]

القاعدة الرابعة

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65].

 

 

Kaidah keempat:

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita (masa Syaikh, pent.) lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (masa Nabi, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlashkan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit/susah.

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

فَإِذَا رَڪِبُواْ فِى ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّٮٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ (٦٥)


“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. ” (Surat Al-‘Ankabut ayat 65).

 

Sumber : http://anshorulloh.wordpress.com/2009/03/04/download-kitab-al-qowaidul-arba/

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: