Beranda > Akhlaq Islam > Wahai Manusia…..Inilah Beberapa Contoh Kecil Keadilan ISLAM

Wahai Manusia…..Inilah Beberapa Contoh Kecil Keadilan ISLAM

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in wa man tabi’ahum bi ihsan ila yawmiddin. Amma ba’d,

Ajaran Islam merupakan ajaran yang telah sempurna dilihat dari sisi manapun dan merupakan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah ‘Azza Wa Jalla sampai hari kiamat kelak.

Allah Ta’ala berfirman :

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku dan Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kalian. (Surat Al Ma’idah ayat 3  )

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ (٨٥)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Surat Ali ‘Imron ayat 85)

Termasuk pula salah satu kesempurnaan ajaran Islam adalah bahwa seluruh syari’at Islam merupakan syari’at yang penuh dengan keadilan yang begitu indah dan sempurna. Hanya saja para musuh-musuh Islam (baik dari kalangan kafir maupun munafiq) seolah-olah “menutup mata” akan kenyataan yang tidak bisa terbantahkan ini. Dan dikarenakan kebencian mereka yang sangat besar terhadap Islam, mereka pun melancarkan segala daya upaya guna menghancurkan Islam.

Bagi musuh-musuh Islam, melancarkan perang terbuka di medan laga telah berabad-abad lamanya terbukti tidak pernah berhasil untuk menghancurkan Islam. Oleh karena itulah di masa beberapa dekade belakangan ini para musuh-musuh Islam tidak lagi melakukan peperangan terbuka di medan laga guna menghancurkan Islam. Akan tetapi, musuh-musuh Islam berupaya untuk menghancurkan Islam salah satu caranya adalah melalui perang pemikiran atau opini.

Sekian banyak upaya mereka lakukan agar ajaran Islam yang indah dan sempurna tersebut akan terkesan nampak “keras” , “tidak adil” , “jumud” , dan sebutan jelek semisalnya. Demikianlah upaya para pengecut tersebut. Ketika seorang pengecut sudah tidak mampu lagi untuk bertarung secara jantan dan tidak mampu lagi membantah secara ilmiah, maka cara-cara kotor pun digunakan demi menjelek-jelekkan musuhnya. Nas’alulloha assalamah wal ‘afiyah.

Maka dari itu wahai kalian sekalian manusia, inilah sedikit saja contoh keindahan dan kesempurnaan ajaran Islam dalam hal keadilan baik itu dari hal yang sepele sampai pada hal yang lebih besar. Semoga hal ini bisa “membuka hati” kalian agar kalian sadar dan mau untuk memeluk ajaran Islam dan mengamalkannya. Assalamu ‘ala man ittaba’ al huda (keselamatan semoga tercurah kepada orang-orang yang mau mengikuti petunjuk).

Perintah Berlaku ‘Adil Secara Umum

 

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٲمِينَ لِلَّهِ شُہَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّڪُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْ‌ۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰ‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (٨)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Surat Al Maa’idah ayat 8  )

 

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ (٩٠)

 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. (Surat An Nahl ayat 90)

وَكَذَٲلِكَ جَعَلۡنَـٰكُمۡ أُمَّةً۬ وَسَطً۬ا لِّتَڪُونُواْ شُہَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدً۬ا‌ۗ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. (Surat Al Baqoroh ayat 143)

 

فَلِذَٲلِكَ فَٱدۡعُ‌ۖ وَٱسۡتَقِمۡ ڪَمَآ أُمِرۡتَ‌ۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ‌ۖ وَقُلۡ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن ڪِتَـٰبٍ۬‌ۖ وَأُمِرۡتُ لِأَعۡدِلَ بَيۡنَكُمُ‌ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمۡ‌ۖ لَنَآ أَعۡمَـٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَـٰلُڪُمۡ‌ۖ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ‌ۖ ٱللَّهُ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَا‌ۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ (١٥)

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).” (Surat Asy Syuro ayat 15)

Beberapa Contoh Perintah Berlaku ‘Adil Secara Khusus

1.          Adil Terhadap Kedua Kaki : Larangan memakai sebelah sandal (tidak sepasang)

Dari Abu Huroirah rodhiyAllohu ‘anhu berkata :

Sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا انْقَطَعَ شِسْعُ أَحَدِكُمْ فَلَا يَمْشِ فِي الْأُخْرَى حَتَّى يُصْلِحَهَا
“Apabila tali sandal salah seorang di antara kalian terputus, maka janganlah kalian berjalan dengan sebelah sandal hingga kalian memperbaikinya terlebih dahulu.” (HR. Muslim no. 2098)

Dari Abu Huroiroh rodhiyAllohu ‘anhu dia berkata:

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا               
“Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan hanya memakai satu sandal. Pakailah keduanya (sepasang) atau jangan dipakai sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 5408 dan Muslim no. 2097)

http://al-atsariyyah.com/beberapa-larangan-syariat.html

2.          Adil Terhadap Tubuh : Larangan duduk di tempat yang sebagiannya terkena terik matahari dan sebagiannya teduh

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى أَنْ يُجْلَسَ بَيْنَ الضِّحِّ وَ الظِّلِّ وَ قَالَ مَجْلِسُ الشَّيْطَانِ

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang duduk di antara (tempat yang) panas (yang tidak ada naungannya) dan (tempat yang) dingin (yang ada naungannya), dan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Itu adalah) tempat duduknya setan.’ ” (HR. Ahmad: 3/413, dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 838)

عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: رَآنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ أَنَا قَاعِدٌ فِي الشَّمْسِ، فَقَالَ: تَحَوَّلْ إِلَى الظِّلِّ

Dari Qois bin Abi Hazim dari ayahnya, dia berkata, “Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melihat aku duduk di bawah terik matahari, lalu Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pindahlah ke tempat teduh!’ ” (HR. al-Hakim: 4/271, dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 833)

http://konsultasisyariah.com/bolehkah-duduk-diantara-2-tempat-panas-dan-dingin

3.          Adil Terhadap Kepala : Larangan Qoza’ (mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian lainnya)

أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى صبيا قد حلق بعض شعره وترك بعضه فنهى عن ذلك وقال احلقوا كله أو اتركوا كله

Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam melihat seorang anak-anak yang dicukur sebagian rambutnya dan dibiarkan sebagian yang lainnya. Maka beliau melarangnya dengan bersabda : “Cukurlah seluruhnya atau biarkan seluruhnya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/88; shohih – lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1123].

4.          Adil Terhadap Binatang  : Perintah menajamkan pisau yang akan dipakai untuk menyembelih hewan

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah telah menentukan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Bila kamu membunuh maka baguskanlah dalam membunuh dan bila menyembelih maka baguslah dalam cara menyembelih. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan belatinya dan menjadikan binatang sembelihan cepat mati.” (HR. Muslim)

Namun janganlah seorang mengasah belatinya di hadapan binatang yang akan disembelihnya. Dahulu Nabi  pernah menegur orang yang melakukan demikian dengan sabdanya: “Mengapa kamu tidak mengasah sebelum ini?! Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali?!” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Asy-Syaikh Al-Albani menshohihkannya dalam Ash-Shohihah no. 24)

http://www.asysyariah.com/syariah/akhlak/22-menyayangi-binatang-.html

5.          Adil Terhadap Musuh di Dalam Peperangan : Larangan mengoyak jasad yang sudah mati dan larangan membunuh pihak yang tidak ikut berperang

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعْهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا، ثُمَّ قَالَ: اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ، في سَبِيلِ اللهِ، قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ -أَوْ خِلَالٍ- فَأَيَّتُهُنَّ مَا أََجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ…

Adalah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bila menetapkan seorang komandan sebuah pasukan perang yang besar atau kecil, beliau berpesan kepadanya secara khusus untuk bertakwa kepada Allah  dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu beliau mengatakan: “Berperanglah dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir terhadap Allah. Berperanglah, jangan kalian melakukan ghulul (mencuri rampasan perang), jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan jangan pula membunuh anak-anak. Bila kamu berjumpa dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah kepada tiga perkara. Mana yang mereka terima, maka terimalah dari mereka dan jangan perangi mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, kalau mereka terima maka terimalah dan jangan perangi mereka…” (Shohih, HR. Muslim)

Dalam riwayat Ath-Thabarani (Al-Mu’jam Ash-Shaghir no. hadits 340):

وَلاَ تَجْبُنُوْا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيْدًا، وَلاَ امْرَأةً، وَلاَ شَيْخًا كَبِيْرًا

”Jangan kalian takut, jangan kalian membunuh anak-anak, jangan pula wanita, dan jangan pula orang tua.”

http://www.asysyariah.com/syariah/kajian-khusus/552-menyikapi-aksi-aksi-teroris-khawarij-kajian-khusus-edisi-54.html

6.          Adil Terhadap Keluarga : Perintah adil terhadap istri-istri dan anak-anak

 

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)

Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut,lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]

Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata dalam Adhwa’ Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas, “Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi’at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan”. http://kaahil.wordpress.com/2009/10/20/kupas-tuntas-poligami-maksud-adil-izin-istri-pertamadll/

Dari An-Nu’man bin Basyir rodhiyAllohu anhuma dia berkata:

تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ قَالَ لَا قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ

“Ayahku pernah memberikan sebagian hartanya kepadaku, lantas ibuku yang bernama ‘Amrah bintu Rawahah berkata, “Saya tidak akan rela akan hal ini sampai kamu meminta Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai saksinya.” Maka ayahku pergi menemui Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam untuk meminta beliau menjadi saksi atas pemberian tersebut, akan tetapi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apakah kamu berbuat demikian kepada semua anak-anakmu?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah di antara anak-anakmu.” Kemudian ayahku pulang dan meminta kembali pemberiannya kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2650 dan Muslim no. 1623)

Dalam riwayat lain:
إِنِّي لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ
“Sesungguhnya saya tidak mau menjadi saksi atas kecurangan.”

Dalam riwayat lain:
قَالَ: أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُوْنُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَلاَ إِذاً
“Beliau bersabda, “Apakah kamu senang kalau mereka semua berbuat baik kepadamu?” dia menjawab, “Ia,” maka beliau bersabda, “Kalau begitu kamu jangan melakukan hal itu (tidak adil dalam hadiah).”

http://al-atsariyyah.com/wajibnya-berbuat-adil-di-antara-semua-anak.html

7.          Adil Terhadap Rakyat : Perintah adil dalam menghukumi sebuah perkara

 

وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَہُم بِٱلۡقِسۡطِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ (٤٢)

Dan jika kamu memutuskan perkara di antara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (Surat Al Ma’idah ayat 42)

 

8.          Adil Terhadap Sesama Manusia Perintah adil dalam berjual beli

 

وَأَوۡفُواْ ٱلۡڪَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. (Surat Al An’am ayat 152)

Kategori:Akhlaq Islam
  1. September 28, 2011 pukul 8:59 am

    sangat berguna…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: