Beranda > Aqidah & Manhaj > Wahai Saudaraku…Mengapa Engkau Masih Berdo’a di Kuburan ???

Wahai Saudaraku…Mengapa Engkau Masih Berdo’a di Kuburan ???

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah, washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in wa man tabi’ahum bi ihsan ila yaumiddin, wa ba’du.

Bagi seorang Muslim yang benar tauhidnya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, maka pasti akan merasa sangat sedih dan miris apabila kita melihat kondisi saudara-saudara kita kaum Muslimin lainnya di Indonesia ini khususnya. Telah kita saksikan dengan penglihatan kita sendiri, bahwa saat ini telah banyak tersebar berbagai praktek-praktek kesyirikan di kalangan kaum Muslimin.

Salah satu praktek kesyirikan tersebut adalah berdoa dengan perantara orang-orang yang sudah mati di kuburan-kuburan.

Betapa banyak saat ini kita saksikan kuburan-kuburan tersebut yang dijadikan sekutu-sekutu bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Yang lebih menyedihkannya lagi, kuburan-kuburan yang dikeramatkan tersebut saat ini sepertinya sudah menjadi sumber penghasilan bagi sebagian orang dikarenakan sudah menjadi semacam “wisata religi” atau semisalnya. Dan bagi tokoh-tokohnya, praktek semacam ini selain telah menjadi sumber penghasilan namun juga telah menjadi alat untuk memperoleh kedudukan atau kehormatan di kalangan pengikutnya yang notabene mayoritasnya awwam tentang Islam yang benar.

Sehingga, ketika ada sebagian kaum Muslimin yang ingin menasihati mereka tentang hal ini maka serta merta muncul penolakan keras dari mereka dengan sekian banyak “dalih” (bukan dalil) dikarenakan khawatir sumber penghasilannya tersebut hilang atau berkurang, atau khawatir jika kedudukan dan kehormatannya yang selama ini begitu diagung-agungkan oleh para pengikutnya tersebut hilang, atau alasan semisal lainnya.

Ironisnya pula, ketika kita menasihati orang-orang yang berbuat praktek demikian supaya meninggalkan perbuatannya tersebut, maka jawaban yang muncul dari mereka ternyata sangat mirip dengan jawaban-jawaban dari orang-orang musyrik zaman dahulu .

Jawaban-jawaban seperti : “kami hanya ingin melestarikan tradisi nenek moyang kami” atau “kami hanya ngikut tradisi nenek moyang kami” atau “kami ini adalah manusia yang banyak dosa, sehingga kami butuh perantara orang-orang sholih yang dikubur ini untuk menyampaikan permohonan kami kepada Allah” atau “kami hanya ingin supaya orang-orang sholih ini menjadi syafa’at bagi kami agar bisa lebih mendekatkan diri kami dengan Allah” atau “halah…jangan sok nasihatin deh” atau ”halah…jangan cari muka deh” atau jawaban-jawaban lain yang semisalnya yang menunjukkan kesombongan mereka dalam menerima kebenaran, tentunya sering kita dengar tatkala kita berusaha menasihati mereka.

Jika saja mereka tersebut mengaku dirinya sebagai seorang Mulim, maka tidakkah mereka itu merenungi ayat-ayat Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an yang mereka baca setiap hari ???

Surat Luqmaan ayat 21 :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۚ أَوَلَوۡ ڪَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ (٢١)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati padanya bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

Surat Al Maa’idah ayat 104 :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَہۡتَدُونَ (١٠٤)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rosul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati padanya bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

Al Baqoroh ayat 170 :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ (١٧٠)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Al Mu’minuun ayat 24 :

فَقَالَ ٱلۡمَلَؤُاْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا هَـٰذَآ إِلَّا بَشَرٌ۬ مِّثۡلُكُمۡ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيۡڪُمۡ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَـٰٓٮِٕكَةً۬ مَّا سَمِعۡنَا بِہَـٰذَا فِىٓ ءَابَآٮِٕنَا ٱلۡأَوَّلِينَ (٢٤)

 

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus para malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

Surat Yunus ayat 78 :

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ (٧٨)

 

Mereka (kaum Nabi Musa dan Harun) berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”

Al A’roof ayat 28 :

وَإِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً۬ قَالُواْ وَجَدۡنَا عَلَيۡہَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِہَا‌ۗ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ‌ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ (٢٨)

 

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji[532], mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan hal yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

[532]. Seperti: syirik, mengambil berhala sebagai perantara kpd Allah, thowaf telanjang di sekeliling Ka’bah dan sebagainya.

Yunus ayat 18 :

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ (١٨)

 

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”[678] Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Az Zumar ayat 3 :

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُ‌ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى مَنۡ هُوَ كَـٰذِبٌ۬ ڪَفَّارٌ۬ (٣)

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Wahai Saudaraku… lihatlah olehmu ayat-ayat di atas! Sungguh, jawaban-jawaban dari musyrikun zaman dahulu tersebut benar-benar mirip dengan jawaban yang semisal mereka di zaman sekarang ini. Maka…tidakkah engkau berpikir wahai Saudaraku ??? Masih maukah engkau melakukan praktek-praktek yang demikian ???

Ini hanya dari satu sisi. Belum lagi apabila kita melihat dari sisi lain seperti do’a mereka di sisi kuburan dengan suara yang keras. Wahai Saudaraku… tidakkah engkau membaca ayat ini ?

Al A’roof ayat 55 :

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ (٥٥)

 

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Wahai Saudaraku… mengapa engkau masih saja mencari perantara dalam berdo’a kepada Allah Dzat yang Maha Mendengar dan Mengabulkan Do’a ??? Mengapa engkau tidak saja langsung berdo’a kepada Allah??? Tidakkah engkau membaca ayat ini ???

Al Baqoroh ayat 186 :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ (١٨٦)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

Al Mu’min (Al Ghoofir) ayat 60 :

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Wahai Saudaraku…ketahuilah bahwa dari sisi lainnya pun perbuatan mereka yang telah meninggikan kuburan dan menghiasnya pun ternyata telah dilarang oleh Nabi kita yang mulia Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Tidakkah engkau melihat dalam kitab Shohih Muslim yang biasa kita jadikan sebagai sumber rujukan bersama hadits-hadits berikut ini :

Dari Abu Al-Hayyaj Al-Asadi dia berkata: ‘Ali bin Abi Tholib rodhiAllohu ‘anhu berkata kepadaku:
أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan patung-patung kecuali kamu hancurkan, dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.” (Hadits Shohih Riwayat Muslim no.1609 pada Kitab Jenazah, Bab: Perintah Meratakan Kuburan) www.lidwa.com dan www.al-atsariyyah.com  

Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiAllahu ‘anhuma dia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” (Hadits Shohih Riwayat Muslim no.1610 pada Kitab Jenazah, Bab: Larangan Mengecat dan membangun Kuburan) www.lidwa.com dan www.al-atsariyyah.com

Fadholah bin ‘Ubaid radhiallahu ‘anhu berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا
“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (Hadits Shohih Riwayat Muslim no.1608 pada Kitab Jenazah, Bab: Perintah Meratakan Kuburan) www.lidwa.com dan www.al-atsariyyah.com

Wahai Saudaraku…dengan melihat beberapa sisi ini  saja sekiranya sudah mencukupi bagimu untuk segera meninggalkan praktek berdo’a kepada kuburan-kuburan keramat dan semisalnya. Ingatlah wahai Saudaraku bahwa dosa terbesar yang tidak akan Allah ampuni adalah dosa menjadikan sekutu bagi Allah Ta’ala dalam peribadatan.

An Nisaa’ ayat 116 :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا (١١٦)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Dan sebagaimana ucapan para orang-orang beriman jika telah sampai kepada mereka kebenaran, maka tidak ada jalan lain selain mengucapkan “aku dengar dan aku ta’at”.

Al Baqoroh ayat 285 :

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ‌ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٍ۬ مِّن رُّسُلِهِۦ‌ۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَا‌ۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ (٢٨٥)

 

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Al Ahzaab ayat 36 :

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاً۬ مُّبِينً۬ا (٣٦)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Nah wahai saudaraku…jika engkau masih saja meyakini bahwa praktek yang demikian itu bukanlah perkara kesyirikan dan merupakan perkara yang disyari’atkan, maka cukuplah bagimu pertanyaan ini :

  1. Apakah praktek yang demikian pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam (misalnya dengan berdo’a di sisi kuburan para Nabi sebelum Beliau) ???
  2. Apakah praktek yang demikian pernah dilakukan oleh para shohabat rodhiAllohu ‘anhum sepeninggal Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam yakni mereka berdo’a di sisi kuburan Beliau ???

Wahai Saudaraku… jika ternyata engkau dapati jawaban pertanyaan di atas adalah bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan para shohabatnya rodhiAllohu ‘anhum tidak pernah berbuat sebagaimana yang diperbuat oleh orang-orang tersebut, maka tentunya sudah cukup bagimu untuk menilai bahwa praktek semacam itu adalah bukan berasal dari syari’at Islam, tetapi merupakan tipu daya dari syaithon dan bala tentaranyadalam rangka menyesatkan manusia.

Demikianlah sedikit kalimat untukmu wahai Saudaraku. Semoga bisa memperbaiki diriku, dirimu, dan kaum Muslimin secara umum dikarenakan perkara aqidah inilah yang merupakan tujuan diutusnya para Nabi dan Rosul sebagaimana dalam ayat :

An Nahl ayat 36:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِى ڪُلِّ أُمَّةٍ۬ رَّسُولاً أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّـٰغُوتَ‌ۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَـٰلَةُ‌ۚ فَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ (٣٦)

 

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

الله اعلم

بارك الله فيكم

Catatan:

Bagi yang ingin mendengarkan rekaman mp3 kajian bertema tauhid, bisa mendownload di :

http://www.4shared.com/file/xyBiUimj/kajian_tauhid_A.html? dan

http://www.4shared.com/file/_mfx42VR/kajian_tauhid_B.html?

http://www.4shared.com/file/6IIEGy9g/kajian_kasyfusy_syubuhat_A.html dan

http://www.4shared.com/file/XTc_zGff/kajian_kasyfusy_syubuhat_B.html

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: