Beranda > Hukum-Hukum > Mengkritisi “syariat” Zakat Profesi

Mengkritisi “syariat” Zakat Profesi

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Alhamdulillah, washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in, wa ba’du.

Sudah sejak beberapa tahun belakangan ini, telah marak di kalangan kaum Muslimin (apalagi di saat-saat bulan Romadhon) mengenai “zakat profesi”. Dan “zakat profesi” model baru ini sangat marak terutama di kalangan perkantoran yakni dari kalangan para pegawai yang memperoleh gaji bulanan.

Bahkan, di beberapa perusahaan sudah ada yang bisa melayani para pegawainya untuk bisa langsung dipotong secara otomatis dari system payroll bulanan mereka sebesar 2,5% dari take home pay masing-masing pegawainya.

Lantas, sebagai seorang Muslim yang berusaha untuk selalu menyesuaikan segala amalan nya di atas tuntunan syari’at Islam yang telah sempurna dan adil hingga akhir zaman, maka marilah sejenak kita lihat kedudukan zakat profesi ini dari sisi pandang syari’at. Sehingga, di dalam beramal kita tidak sekedar ikut-ikutan “trend” atau dengan dalih “inikan ijtihad” atau yang parahnya dengan dalih “perbedaan di dalam Islam itu kan rahmat” atau alasan semisalnya.

Gambaran ringkas dari zakat profesi tersebut kurang lebihnya begini :

  1. Misalkan seorang pegawai memiliki gaji bulanan sebesar Rp 5,000,000,-/bulan. Maka dalam waktu satu tahun dia memiliki penghasilan sebesar (12 x Rp 5,000,000,- = Rp 60,000,000,-) yakni sebesar 60 juta rupiah.
  2. Sebagaimana telah disepakati bersama dalam syariat islam bahwa nishob zakat harta (mal) adalah 20 dinar emas (85 gram emas) atau 200 dirham (595 gram perak). Apabila saat ini harga emas 1 dinar adalah Rp 2,323,000,-/gram, maka nishob setara emasnya adalah (20 x Rp 2,323,000,- = Rp 46,460,000,-). Dan apabila harga perak 1 dirham saat ini adalah Rp 69,000,-  dan nishob setara peraknya adalah (200 x Rp 69,000,- = Rp 13,800,000,-).

Sumber : http://www.logammulia.com/industrial-gold-silver-platinum-id.php

3.  Dari kedua nishob di atas antara emas dan perak, maka diambil nishob terkecil yaitu sebesar Rp 13,800,000,-.

4. Dikarenakan pegawai tersebut di dalam setahun memiliki penghasilan (kotor) sebesar Rp 60,000,000,- yang berarti sudah berada di atas nishob, maka menurut mereka yang memiliki pendapat “aneh bin baru” tersebut, maka pegawai tadi wajib mengeluarkan zakat profesinya setiap bulannya bisa langsung mengeluarkan zakat profesinya sebesar (2,5% x Rp 5,000,000 = Rp 125,000,-).

Dasar pemikiran dari pendapat yang “aneh bin baru” tersebut antara lain :

Para petani di Indonesia yang notabene mayoritasnya miskin saja terkena syari’at zakat  tanaman (pertanian) di saat mereka panen hasil tanamannya, mosok pegawai kantoran yang lebih besar gajinya tidak ada zakat nya di saat “panen” gaji nya ? Ini tidak adil namanya.

Oleh karena itu, supaya adil, maka para pegawai pun wajib pula terkena zakat di saat mendapatkan hasil “panen” berupa gaji dikarenakan gaji bulanan itu serupa dengan hasil panen. Dan besaran zakatnya adalah sebesar 2,5% yang diambil langsung saat “panen” berupa gaji. Demikianlah qiyas bathil mereka.

Terhadap qiyas bathil dan “syari’at” baru mereka yang satu ini, maka kita patut bertanya kepada mereka :

  1. Apabila memang qiyas Anda benar (yakni qiyas dengan zakat pertanian), maka kenapa Anda menetapkan besaran zakatnya adalah 2,5% ??? Bukankah besaran zakat hasil pertanian adalah 10% untuk tadah hujan dan 5% bila diairi dengan irigasi atau usaha sendiri ???
  2. Apabila Anda mengqiyaskan besaran zakat profesi sebesar 2,5% adalah dari besaran zakat mal/harta, maka mengapa tidak ada perhitungan satu haul/tahun di dalam pengambilan zakat profesi sebagaimana menjadi salah satu syarat dalam zakat mal/harta ??? Mengapa para pegawai Anda ambil zakat profesinya di setiap saat mereka menerima gaji bulanannya ???
  3. Apabila Anda mengambil zakat profesi setiap bulan dari gaji kotor para pegawai, maka bukankah ini justru menunjukkan ketidakadilan “syari’at” buatan Anda tersebut ??? Bukankah zakat harta itu diambil dari kelebihan harta setelah dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidupnya ??? Bukankah pengeluaran setiap manusia itu berbeda-beda setiap bulannya (kadang besar, kadang kecil, kadang ada kelebihan, kadang ada kekurangan, dsb) ??? Apabila demikian keadaan pengeluaran para pegawai, maka bagaimana mungkin “syari’at” zakat profesi disebut adil jika setiap bulannya pegawai ditarik secara tetap sebesar 2,5% ???
  4. Ketika Anda mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian sebagaimana yang diberlakukan kepada para petani, mengapa Anda menetapkan nishobnya sebesar 20 dinar emas atau 200 dirham perak ??? Bukankah nishob zakat pertanian adalah sebesar 5 wasaq atau 300 sho’  ??? (bagi yang berpendapat 1 sho’ = 3 kg, maka nishob zakat pertanian adalah 900 kg)
  5. Jika Anda menganggap bahwa akan muncul ketidakadilan terhadap para petani bila para pegawai tidak dipungut zakat profesinya secara bulanan, maka perlu pula kita tanyakan kepada Anda : “Mengapa tidak sekalian pula Anda terapkan “syari’at” zakat peternakan terhadap peternakan kuda atau ayam atau ikan atau kelinci atau burung puyuh atau semisalnya ???” Bukankah hasil dari peternakan kuda/ayam/ikan/kelinci/burung puyuh/semisalnya tidak jarang pula lebih besar dari sekedar peternakan kambing/sapi/unta yang telah disepakati zakat peternakannya ??? Kenapa pula tidak Anda terapkan pula zakat perikanan bagi para nelayan di saat mereka “panen” hasil lautnya ??? Dan…dan…dan…
  6. Mengapa Anda perturutkan akal manusia yang sempit di dalam memahami syari’at zakat yang telah Allah Ta’ala tetapkan melalui ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam ??? Apabila Anda menganggap (dengan akal manusia yang sempit) bahwa akan muncul ketidakadilan apabila tidak dipungut zakat profesi dari para pegawai, maka kenapa pula tidak Anda pertanyakan : “Mengapa syari’at mengusap khuf dalam berwudhu’ itu yang diusapnya adalah bagian atasnya dan bukan bagian bawahnya???” ; “Mengapa air kencing yang najis cukup disucikan dengan air bersih dan wudhu’, sementara air mani yang bukan najis harus disucikan dengan mandi janabah ???” ; “Mengapa orang (maaf) kentut harus wudhu’ untuk mensucikannya dan tidak cebok ???” ; “Mengapa orang yang mencuri dipotong tangannya, sementara orang yang berzina (muhshon/sudah menikah) tidak dipotong kemaluannya ?” Dan….dan….dan….
  7. Allah Ta’ala telah melarang bagi umat Islam untuk mengambil harta orang lain dengan bathil. Dan hukum asal harta seorang Muslim adalah terjaga. Bukankah dengan adanya “sya’riat” zakat profesi tersebut berarti Anda telah membuat syari’at baru di dalam mengambil harta seorang Muslim dengan bathil ???
  8. Apabila Anda berkilah bahwa zakat profesi merupakan perkara ijtihad yang tidak perlu ada pengingkaran padanya, maka ketahuilah wahai Saudaraku bahwa Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada umat Islam untuk saling nasihat menasihati satu sama lainnya. Apakah setiap perbedaan pendapat secara otomatis Anda kategorikan sebagai perkara “ijtihadiyah” versi Anda??? Ketika Anda melihat syari’at Islam yang mulia ini diutak-atik oleh tangan-tangan jahil “berkedok” ijtihad, bukankah wajib bagi pihak yang mengetahui kebathilan tersebut untuk memperingatkan umat Islam akan kebathilan tersebut ??? Dan bukankah wajib pula bagi pihak yang telah jelas akan kebathilan pendapatnya untuk segera rujuk kepada al haq ???

Demikianlah wahai Saudaraku…. dengan sekian banyak kontradiksi pada “syari’at” zakat profesi Anda, maka menjadi jelaslah akan kebathilan “ijtihad” versi Anda atau “kelompok” Anda. Maka, sebagai seorang Muslim yang baik hendaknya kita bersegera untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan bersegera untuk kembali kepada apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam di dalam perkara zakat.

Wahai Saudaraku, agama Islam merupakan agama yang telah sempurna dan adil dilihat dari segala sisinya. Bukankah Allah telah berfirman dalam surat At Maidah ayat 3 (yang artinya) :

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Maka, bagi para pegawai yang ingin membersihkan hartanya dengan zakat mal, maka sungguh… syari’at Islam telah menetapkan aturan baku terhadap zakat mal Anda secara lebih mudah dan lebih adil. Di dalam Islam, dalam zakat mal/harta ada 2 perkara yang harus terpenuhi , yakni :

  1. Harta tersebut telah mencapai nishob nya yakni berupa 20 dinar emas atau 200 dirham perak yang nilainya sebagaimana telah dicantumkan dalam awal tulisan.
  2. Harta tersebut telah mencapai satu haul/tahun denga tanpa berkurang dari nishobnya.

Contoh perhitungan mudahnya :

  1. Misalkan nishob nya adalah setara 200 dirham perak senilai Rp 13,800,000,-
  2. Di awal bulan Syawwal 1431 H, seseorang memiliki kelebihan harta sebesar Rp 13,800,000,- yang mana harta sebesar ini sudah mencapai nishob, maka dia wajib mulai menghitung satu haul/tahun ke depannya (start bulan pertama).
  3. Apabila sampai akhir Romadhon 1432 H (yakni setelah mencapai waktu haul satu tahun hijriyah) kelebihan hartanya tidak pernah berkurang dari nishobnya (Rp 13,800,000,-) dan telah terkumpul misalkan menjadi Rp 20,000,000,-, maka dia wajib mengeluarkan zakat mal nya sebesar (2,5% x Rp 20,000,000,- = Rp 500,000,-).

Mudah bukan ??? Yang jelas… inilah perhitungan zakat mal yang syar’i.

Mudah… sesuai sunnah….berpahala insya’ Allah…..Wallohu A’lam.

Semoga hal ini bermanfaat. BarokAllohu fiykum

Lihat sumber lainnya di :

  1. http://www.asysyariah.com/syariah/problema-anda/358-zakat-profesi-problema-anda-edisi-46.html
  2. http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1919 (cuplikan ceramah Al Ustadz Dzulqornain hafizhohulloh)
  3. http://www.darussalaf.or.id/myboard.php?id=4
  4. http://al-ilmu.biz/artikel-islami/zakat-profesi-adakah%E2%80%A6/
Kategori:Hukum-Hukum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: