Beranda > Aqidah & Manhaj > Mengapa Aku Keluar dari “kelompok” ini ???

Mengapa Aku Keluar dari “kelompok” ini ???

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (1)

http://rumahku-indah.blogspot.com/

Ketika akan memulai tulisan ini, aku ingat sebuah riwayat yang terdapat dalam Mushannaf ‘Abdurrazzaq (no. 18667 – tahqiq Habiburahman Al-Adzami), yang berbunyi:

Artinya,

18667 – Mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar dari Qatadah dari Abu Aliyah Al-Ziyadi yang berkata: “Sesungguhnya aku merasakan dua kenikmatan yang aku tidak mengetahui manakah diantara dua kenikmatan tersebut yang terbesar: “Ketika Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk Islam, dan ketika Allah tidak menjadikan aku sebagai Haruri (khawarij).”

Sungguh ini perkataan yang benar dari para ulama salaf. Apalagi setelah kita mengetahui bagaimana dasyatnya fitnah ini dan bagaimana susahnya keluar dari fitnah ini. Bahkan bagi sebagian orang, fitnah telah masuk ke setiap persendian sebagaimana terkena rabies, sulit untuk disembuhkan lagi. Tetapi Allah akan menunjukan kepada siapa saja yang benar-benar ikhlas mencari kebenaran, tidak terhalangi oleh hawa nafsu yang terang-terangan ataupun yang samar-samar.

Yang pertama kali menjadi dasar sikap ruju ku adalah:

Pertama, adalah sikap ujubnya. Tidak mungkin Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan sifat ini bahkan beliau jauh dari sifat ini. Akan tetapi anehnya, bahkan sejak kecil seorang pengikut jama’ah ini sudah diajarkan sifat ujub, bahkan kalau tidak memiliki sifat ini maka ia dianggap tidak memiliki keyakinan yang kuat, dianggap memiliki iman yang lemah. Padahal setahu ku, keyakinan akan kebenaran dan telah mengamalkan kebenaran itu tidak harus melahirkan sifat ujub, bahkan justru harus melahirkan sifat tawadhu.

Imam Ibn Adi rahimahullahu dalam al-Kamil (4/317 – cet Darul Kutub Ilmiyah) menyebutkan,

Artinya,

Menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrohim bin Yunus menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Asy-Syaurab, menceritakan kepada kami Salam bin Abi Ash-Shahaba’ dari Tsabit dari Anas yang berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, maka aku benar-benar khawatir akan menimpa kalian sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu ujub (berbangga diri)”.

Hadits ini hasan lighairihi, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 658 karya Imam Al-Albani rahimahullahu.

Kedua, adalah sikap suka berbohongnya, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dikenal dengan julukan al-Amin, siapapun mempercayai kejujuran dan sikap adil beliau, bahkan orang kafir sekalipun. Dan kaum muslimin pun dilatih dan diwajibkan untuk mencontoh sifat beliau shallallahu’alaihi wasallam ini. Akan tetapi, menjadi Madigoli justru dididik sebaliknya. Bahkan dusta adalah makanan sehari-hari, tidak dianggap kuat imannya (paham) jika dia tidak pandai berdusta. Seorang makin tinggi jabatannya dalam imamah maka makin pandai pula berbohongnya.

Menurut ku ini keterlaluan, agama ini tidak dibangun dengan kebohongan.

Ketiga, adalah adabnya yang tidak menggambarkan adab Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bukan seorang yang kasar, tidak berkata-kata kotor dan jorok, dan tidak membiasakan dan mempopulerkan kata-kata yang malu telinga ini jika mendengarnya. Bahkan beliau tidak banyak berbicara tentang makanan (dunia) dan kemaluan (hawa nafsu). Akan tetapi, sebaliknya telinga ku ini dalam pengajian-pengajian Madigoli dijejali dengan hal-hal semacam itu, tanpa risih para penceramah dan mubaligh mengatakannya di mimbar-mimbar, jadi bahan lelucon dan hiburan. Al-Qur’an atau Kitab Hadits yang dipegang tidak membuat mereka malu berbuat seperti itu.

Aku yakin seyakin-yakinnya, kebiasaan seperti ini tidak pernah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (2)

Kemudian seiring rasa penasaran ku yang makin bertambah, bertambah pula pengetahuan ku akan kerusakan dalam jama’ah ini. Diantaranya,

Keempat, adalah senangnya mereka berbangga dengan sanad dan ijazahnya, walaupun kenyataannya mereka tidak memiliki cukup ilmu. Ketika ada ustadz dari selain kelompoknya membantah dengan hujjah-hujjah ilmiah, jika mereka tidak mampu menjawabnya, maka kata terakhir adalah, “Dia tidak mangkul”, “tidak punya sanad” dan lain sebagainya.

Padahal setahu ku Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mewajibkan kita memiliki ijazah atau sanad dulu untuk amar ma’ruf nahi mungkar atau untuk menerima kebenaran, sebagaimana ditunjukan oleh hadits:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu merubah dengan tangannya, rubahlah dengan lisannya, jika dia tidak mampu merubah dengan lisannya, maka rubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. (Riwayat Muslim (1/69) no. 49).

Aib bagi seorang muslim, jika datang kebenaran kemudian dia tidak mau mengikutinya.

Kelima, adalah keherananku, kenapa seakan-akan ada dua imam menurut keyakinan jama’ah ini yang wajib ditaati. Yaitu imam yang menguasai seluruh negeri yaitu pemerintah yang kata mereka wajib ditaati, juga mewajibkan taat kepada imam kelompoknya yang dibai’at. Berarti mereka mengakui dua imam dalam satu negeri, imam yang mengurusi perkara dunia dan imam yang mengurusi masalah akhirat.

Menurut ku ini pendapat yang ganjil dan banyak sekali kelemahannya. Sedangkan aku telah lama mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Thabroni dalam Mu’jam Al-Kabir (19/314) no. 710 – Tahqiq Hamdi Abdul Majid As-Salafi:

“Jika ada dibumi ini dua khalifah, maka bunuhlah salah satu dari keduanya”. (Dengan lafazh ini, diriwayatkan juga dalam Al-Ausath (4/169) no. 3885, Al-Haitsami (5/198) berkata, “Rijalnya tsiqah”).

Bukankah hadits ini penegasan wajibnya memiliki satu imam ?!

Keenam, adalah ketaatan mereka kepada imamnya yang membabi buta. Dimana imamnya tidak menerima kritik dan koreksi, justru kita yang berniat baik untuk kebaikan jama’ah akan dianggap terpengaruh, tidak paham (lemah imannya), resolusi (memberontak) dan lain sebagainya. Kalau koreksi datang dari orang selain kelompoknya, maka akan ditolak mentah-mentah karena mereka hanya menerima pendapat-pendapat kelompok, orang itu akan dianggap orang yang dengki, ingin jadi imam dan lain sebagainya.

Bukankah mereka mengetahui tafsir ayat ini,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (Surat At-Taubah 31).

Mereka tidak menyembahnya, tapi jika orang alim dan rahib itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, mereka juga ikut menghalalkannya, dan jika mereka mengharomkan apa yang dihalalkan Allah, mereka juga ikut mengharomkannya. Inilah bentuk penyembahan kepada mereka.

Silahkan lihat dalam Sunan Tirmidzi (no. 3095 –Cet Al-Halabi) :

Hadits ini dikeluarkan juga oleh Baihaqi dalam Sunan (no. 20137).

Dan apa yang aku tuturkan ini baru sebagiannya …

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (3)

Ini sebagian alasannya lagi …..

Ketujuh, adalah banyak sekali upaya mereka menghalangi seseorang mendalami ilmu-ilmu agama. Seperti membuat syarat-syarat dalam mencari ilmu yang tidak memiliki dasar, melarang membaca kitab-kitab, mengerdilkan kebutuhan akan bahasa Arab, menyepelekan keilmuwan ulama dan lain sebagainya. Tidak lah mereka semakin keras membuat berbagai upadaya ini, kecuali aku semakin curiga ada sesuatu dalam ilmu yang akan membahayakan eksistensi mereka.

Lalu aku teringat kelakuan mereka itu mirip dengan kisah Yahudi dalam Shohih Bukhori (no. 3635 – cet Darul Ibnu Katsir) yang berusaha menutup-nutupi kitab Taurot karena takut ketahuan adanya hukum rajam didalamnya!.

“Ada beberapa orang Yahudi yang mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan adanya dikalangan mereka seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita. Bertanyalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, “Apa yang kalian temukan dalam masalah hukum rajam di kitab Taurat ?”. Mereka menjawab, “(Hukuman pezina dalam taurot adalah) diumumkan dan dicambuk”. Abdullah bin Salam berkata, “Kalian berdusta!!, sesungguhnya didalam Taurat terdapat rajam”. Mereka kemudian mengambil Taurat dan membukanya. Lalu salah seorang dari mereka menutupkan tangannya pada bagian ayat (yang berisi hukuman) rajam, mereka hanya membaca ayat sebelumnya dan sesudahnya saja. (Melihat itu) Abdullah bin Salam berkata, “Angkat tanganmu !!”. Maka dia pun mengangkat tangannya dan ternyata memang ada ayat tentang rajam di dalam Taurat. Mereka berkata, “Benar ya Muhammad, di dalam Taurat terdapat ayat tentang rajam”.

Kedelapan, aku melihat mereka telah berlebihan dalam meletakan masalah imammah (keimaman) sehingga sampai meletakan masalah ini diatas rukun Islam yang lima, bahkan sebagai syarat diterimanya rukun Islam yang lima dan semua amalnya, bahkan orang Islam yang tidak melakukan syirik sekalipun kalau tidak membai’at imam maka semua amalnya itu tidak akan diterima, imam dianggap sebagai pengesah keislaman seseorang dan menghalalkan hidupnya,seakan-akan dengan inilah Islam itu dibangun dan karena inilah Islam itu disebarkan.

Ini tidak mungkin menurut ku, sebab Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adh-Dhariyat 56).

Dan Allah Ta’ala Berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (An-Nissa 48).

Bahkan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah (I/75 – Tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim), itiqad yang demikian dianggap kekufuran,

“Sesungguhnya yang berpendapat bahwa masalah ‘Imammah’ merupakan tuntutan yang paling urgen di dalam hukum Islam dan merupakan masalah kaum muslimin yang paling mulia adalah dusta belaka berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun kalangan Syi’ah (yakni Syi’ah yang awal –pen). Bahkan pendapat seperti itu adalah sebuah kekufuran. Sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya lebih penting daripada masalah ’Imammah’. Hal itu sudah sangat dimaklumi di dalam dinul Islam. Seorang kafir tidak akan menjadi seorang mukmin hingga ia bersyahadat Laa Ilaaha Illallaahu wa Anna Muhammadan Rasulullah. Atas dasar itulah Rasulullah memerangi kaum kafir yang awal.”

Kemudian aku mengetahui mereka banyak menggunakan hadits palsu dan lemah dalam masalah ini.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (4)

Kesembilan, adalah pengakuan jama’ah ini bahwa mereka adalah Thaifah Manshuroh dan Firqatun Najiyah yang mewarisi ilmu Nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan sambung menyambung (muntasil). Akan tetapi, kenyataannya aku melihat kondisi jama’ah ini yang penuh dengan kebodohan dan ketidakmampuan menjawab hujjah-hujjah dari luar dengan jawaban-jawaban ilmiyah, justru marak digunakan ro’yu yang tidak memiliki dalil, berbagai khurofat yang dipelihara dan bid’ah yang dibiarkan. Padahal kalau benar mereka Thaifah Manshuroh atau Firqatun Najiyah, niscaya mereka pasti akan memiliki kemampuan (ilmu) untuk mengetahui semua itu. Thaifah Manshuroh sebagaipewaris ilmu ini harusnya orang-orang yang memiliki kemampuan mengembannya (berilmu), sehingga mampu melawan setiap serangan kepada Ad-Din dengan ilmu, dan mampu bersikap adil ditengah-tengah manusia dengan ilmunya.

Imam Baihaqi rahimahullahu dalam Sunan Al-Kubro (10/354 – cet Darul Kutub Ilmiyah),

“Ilmu (agama) ini akan terus diwarisi oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari Tahriful Ghalin (yaitu perubahan yang dilakukan orang-orang yang melampaui batas dalam urusan agama, yaitu orang-orang yang mengganti yang haq dengan yang bathil dengan melakukan perubahan atau pergantian pada lafazh atau makna -pen), Intihalul Mubthilin (yaitu kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama. Yaitu orang-orang yang mengaku sesuatu untuk dirinya secara bohong, baik berupa sya’ir maupun perkataan, padahal milik orang lain -pen) dan Ta’wilul Jahilin (penta’wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil. Yaitu tanpa berlandaskan ilmu dan pemahaman terhadap ayat atau hadits, sehingga mereka memalingkan maknanya -pen)”.

Kesepuluh, adalah pengakuan bahwa pendiri jama’ah ini sebagai mujadid, wali dan ahli hadits, akan tetapi aku melihat dari riwayat-riwayat yang aku dengar sendiri dari mereka, dan yang aku baca sendiri dari makalah-makalah, dan yang aku lihat sendiri dari photo-photo, sama sekali tidak menggambarkan dia sebagai ulama ahli hadits yang patut dijadikan tauladan. Aku justru memandang apa yang dikatakan karomah yang dia miliki, lebih menyerupai sihir, jin-jinan dan amalan-amalan yang biasa dilakukan dukun dan tukang sulap,

Al-Mazari rahimahullahu berkata sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajarrahimahullahu dalam Fathul Baari (10/223 –Darul Ma’rifah):

“Perbedaan antara sihir, mukjizat dan karamah, adalah bahwa sihir berlangsung melalui proses bantuan sejumlah perkataan (bacaan) dan perbuatan (amalan), sehingga terwujud apa yang diinginkan penyihir. Adapun karamah tidak memerlukan hal semacam itu bahkan biasanya muncul berkat taufiq (dari Allah)”.

Kesebelas, adalah pengakuan bahwa pendiri jama’ah ini sebagai mujadid, wali dan ahli hadits, anehnya beliau sering mengenakan pakaian yang tidak syar’i dan berbangga dengannya (narsis) terbukti dari photo-photonya, padahal tergabung dua hal padanya tasyabuh (menyerupai orang kafir) dan syuhroh (pakaian kesombongan/kebanggaan/ketenaran), sebagaimana dalam Ibnu Majah (no. 3607 – ta’liq Al-Albani cet Maktabah Al-Ma’arif),

Artinya,

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.”

Sebagian ulama menjelaskan,

“… Memakai model pakaian yang menyelisihi kebiasaan masyarakat setempat (yakni kebiasaan berpakaian yang tidak bertentangan dengan syariat Islam -pen), hukumnya makruh karena bisa menyebabkan syuhroh. Yang dimaksud (dengan syuhroh adalah) pakaian yang pemakainya menjadi tenar dan jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Pakaian semacam itu dilarang karena menyebabkan banyak yang menggunjingnya, sehingga dia menjadi menyebab orang lain berbuat dosa ghibah”. (al-Mausuah al-Fiqhiyah al Kuwaitiyah (6/136-137) – cet th. 1406 H).

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (5)

Keduabelas, adalah sikap mereka yang gampang sekali mengkafirkan, memfasikkan dan mencela, dengan tidak menggunakan kaidah-kaidah yang ma’ruf diantara ulama. Akibatnya banyak melahirkan sikap-sikap yang melampaui batas terhadap kaum muslimin, seperti: tidak mau sholat dibelakang selain kelompoknya, tidak mau mensholatkan jenazah selain kelompoknya, tidak mewaris dengan selain kelompoknya, tidak mau menikah dengan selain kelompoknya, menganggap najis selain kelompoknya, dan lain sebagainya dari konsekwensi takfir mereka. Jika aku tidak bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang lain, justru aku dianggap tidak paham (lemah iman) dan terpengaruh. Padahal tidak kah aku takut untuk mengkafirkan kecuali karena telunjuk kafir akan mengarah kembali kepada ku jika orang yang ku tuduh itu tidak termasuk kafir dihadapan Allah?!!.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu Al-Fatawa (23/345-346 –cet Darul Wafa’) berkata,

Artinya,

“Sesungguhnya sebuah perkataan, boleh jadi merupakan perkataan kufur, hingga dikatakan: ‘Barangsiapa mengatakan perkataan ini, maka dia menjadi kafir’. Tetapi orang tertentu yang mengatakan perkataan itu tidak mesti dihukumi kafir, hingga dijelaskan padanya dalil-dalil yang menyebabkannya kafir dengan meninggalkan dalil-dalil itu. Hal ini seperti dalil-dalil yang memuat ancaman, dimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatum secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala’ (Qs. An-Nissa 10). Ayat ancaman ini (wa’iid) dan ayat-ayat lain yang semisalnya adalah benar, tetapi tidak boleh mengatakan bahwa orang tertentu berada dalam adzab (ancaman) ini. Tidak boleh mempersaksikan orang tentu dari kaum muslimin bahwa ia berada di neraka. Mungkin saja ancaman itu tidak mengenai dirinya karena tidak terpenuhinya syarat-syarat tentang hal tersebut, atau karena adanya penghalang tentang hal itu. Atau mungkin saja dalil akan keharaman hal itu tidak sampai kepadanya. Atau ia telah bertaubat dari perbuatan tersebut, atau ia ditimpa musibah yang menjadi penghapus dosa-dosanya, atau mungkin juga telah dikabulkan syafaat seseorang atasnya. Demikian pula hukum dari perkataan-perkataan yang dikafirkan para pelakunya. Mungkin saja belum sampai dalil-dalil tentang suatu perkara kepada orang itu. Mungkin juga telah sampai kepadanya dalil tentang suatu perkara, tetapi ia tidak meyakini kebenaran (keshahihan) dalil tersebut (dari Rasulullah shallahu’alahi wasalam –pen). Atau dia belum mampu memahaminya atau terdapat syubhat yang menghalanginya dihadapan Allah Ta’ala”.

Imam Al-Albani rahimahullahu menyebutkan sebuah hadits (no. 3201) dalam Silsilah Ash-Shahihah (7/605 – cet Maktabah Al-Ma’arif),

Artinya,

“Sungguh yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah munculnya seseorang yang membaca al-Qur’an hingga terlihat dia sangat senang membacanya, dia menjadi pembela Islam, lalu tiba-tiba ia tanggalkan pakaian Islam, kemudian mencampakkannya ke belakang punggungnya, lantas ia berbuat lalim terhadap tetangganya dengan pedang dan melempar tudingan syirik padanya. Ditanyakan, “Ya Nabiyullah, manakah dari keduanya yang lebih dekat kepada syirik?, sipenuduh atau tertuduh?”. Beliau bersabda, “Bahkan si penuduh”.

Ketigabelas, adalah ketika mereka aku ajak bicara masalah-masalah ini, merekatidak mau berpikir secara mendalam malah berpuas diri dengan pemahaman yang dangkal. Kadang kala hanya berpatokan kepada makna harfiah atau arti tekstual saja –padahal mereka tidak terlalu paham bahasa Arab-, lalu mengomentarinya hanya dengan pandangan sekilas saja. Jika aku seperti mereka dan terus bersama mereka, aku takut termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka”.

Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Sunan (no. 174 – tahqiq Al-Albani cet Maktabah Al-Ma’arif),

Artinya,

“… dari Ibnu Umar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul generasi yang membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka, setiap muncul satu generasi maka akan terputus (diberantas).” Ibnu Umar berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap keluar satu generasi akan terputus (diberantas) sebanyak dua puluh kali, hingga keluar di antara keturunan mereka Dajjal”.

Imam Tirmidzi rahimahullahu dalam Sunan (no. 2188 – tahqiq Al-Albani cet. Maktabah Al-Ma’arif) menjelaskan bahwa orang-orang yang seperti ini disebut Khawarij,

Artinya,

”Dalam hal ini ada hadits serupa dari ‘Ali, Abu Sa’id dan Abu Dzar, hadits ini hasan shahih. diriwayatkan dalam selain hadits ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan ciri-ciri kaum itu, mereka membaca Al-Qur`an dan tidak mencapai kerongkongan, mereka meninggalkan agama dengan cepatnya seperti terlepasnya anak panah dari busurnya itu tidak lain adalah kaum Khawarij Al-Haruriyah dan kalangan Khawarij lain”.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (6)

Keempatbelas, aku heran karena banyak kesalahan dalam ibadah dan makna dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mereka tidak mau ruju dari kesalahan itu, bahkan justru mencela siapa saja yang ruju dari kesalahan itu. Ini artinya bergabung bersama mereka akan menghalangi seseorang kembali kepada kebenaran, dan mengikuti kebenaran. Bahkan akan mengajak untuk taqlid kepada orang-orang yang tidak maksum.

Padahal telah jelas dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 91 –Cet Darul Mughni),

Artinya,

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk bersikap sombong?)” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.

Kelimabelas, adalah perintah untuk membantah, berdiskusi dan mendebat secara batil orang-orang yang dianggap berlawanan dengan kelompoknya dengan slogan “Yang penting menang” !?. Padahal orang Islam tidak menghalalkan segala cara, justru orang kafir yang suka berbuat demikian.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا

Artinya,

”Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan”. [Qs. Al Kahfi 56].

Jika disampaikan ceramah, nasihat atau bantahan kepada mereka dalam suatu majelis ilmu seperti kajian, seminar atau bedah buku, mereka berusaha menggagalkannya dengan membuat hiruk pikuk dan kekacauan, seperti pernah dilakukan kafir Quraisi yang disebutkan Al-Qur’an :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

Artinya,

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka” (Qs. Al-Fushshilat 26).

Kebiasaan ini mengherankanku, dan aku yakin Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukan cara-cara seperti ini. Bahkan Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (Qs. An-Nahl 125).

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (7)

Keenambelas, adalah pelecehan sebagian mereka –dengan isyarat atau terang-terangan- terhadap sebagian syi’ar-syi’ar Islam dan sunnah, seperti jenggot, perempuan berhijab dan bercadar, gamis panjang, dan lain sebagainya. Padahal andaikata mereka tidak meyakini kewajibannya, bukan berarti boleh melecehkan orang yang berkomitmen dengannya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ . لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 65-66).

Walaupun terlihat sepele, pelecehan atau olok-olok terhadap agama Allah termasuk pembatal keislaman.

Ketujuhbelas, adalah komitmen mereka terhadap dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi) dan berpura-pura dalam manhaj dan aqidah (taqiyah), bahkan telah dikatakan kepada kami, bahwa tidak disebut paham agama (kuat imannya) orang yang tidak pandai menjaga rahasia jama’ah (bithonah). Model seperti ini sangat mirip dengan gerakan orang-orang Syi’ah, dimana kemunafikan menjadi syarat dalam agamanya.

Imam Ibnu Abi Ashim rahimahullahu dalam Kitabu Sunnah (no. 1070 – Zhilal Al-Jannah karya Al-Albani Cet Maktab Al-Islam),

”… dari Ibnu Umar yang berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan berkata: “Ya Rasulullah nasihati saya”. Beliaushallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya Azza wa Jalla dengan sesuatupun, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan puasalah dibulan ramadhan, hajilah ke Baitullah dan umrohlah. Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan/ kerahasiaan)”.

Imam Muslim rahimahullahu (no. 1920 – cet Darul Mughni) meriwayatkan,

… “Tidak henti-henti Thoifah dari umatku dalam keadaan dhohir diatas kebenaran, tidak membahayakan orang yang melecehkan mereka sehingga datang perkaranya Allah dan mereka dalam keadaan demikian”.

Al-Hafizh Ibn Hajar rahimahullahu berkata dalam Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari (13/ 294 –cet Darul Ma’rifah),

Artinya,

“… Yaitu atas orang yang menyelisihi mereka, mereka menang, atau yang dimaksud dengan dhohir, sesungguhnya mereka tidak bersembunyi-sembunyi bahkan mereka dikenal”.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (8)

Kedelapanbelas, aku melihat jama’ah ini tidak memiliki komitmen terhadap dakwah tauhid, padahal untuk ini lah para rasul diutus dan karena inilah Allah menerima amal-amal kita.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (QS. An Nahl: 36).

Imam Bukhori rahimahullahu menyebutkan dalam kitab Shahihnya (no. 7372 –cet Darul Ibnu Katsir) pada Kitabu Tauhid, bab bahwa dakwah Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada umatnya adalah supaya mentauhidkan Allah Tabaroka wa Ta’ala,

Artinya, “…….. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengutus Mu’adz berdakwah kepada ahli Yaman, beliau bersabda kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta’ala ….”.

Kesembilanbelas, aku heran dengan begitu percaya dirinya mereka mengatakan dimimbar-mimbar tentang pasti dan wajibnya diterima amal-amal ibadah mereka lantaran telah bergabung dengan kelompok ini. Padahal seharusnya seorang mukmin tidak boleh mensucikan dirinya dan selalu mempunyai perasaan sebaliknya (takut tidak diterima amalnya) supaya ia senantiasa memperbaiki ibadahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yakni dengan penuh ikhlas dan mengikuti Nabi-Nya shallallahu’alaihi wasalam. Dan aku heran, bagaimana mereka menganggap orang yang mengucapkan sebaliknya atau mengucapkan istitsna’ tatkala menyatakan keimanan, misalkan ucapan: “Saya seorang mukmin, insya Alloh” sebagai orang yang tidak paham, tidak yakin dan lemah iman.

Padahal Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”. (Surat Al-Mu’minun 60).

Tafsirnya dalam Sunan Tirmidzi (no. 3175 – Maktabah Al-Ma’arif),

…. Aisyah berkata: “Apakah mereka (yang takut ini) orang-orang yang meminum khamer dan mencuri?”. Nabi shallallahu’alaihi wasalam bersabda, “Bukan wahai Binti Ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah. Mereka takut kalau-kalau amal mereka tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan”.

Imam Al-Albani rahimahullahu menjelaskan perkara ini dalam Silsilah Ash-Shahihah (1/306 – cet. Maktabah Al-Ma’arif),

“Ketakutan seorang mukmin bila ibadah mereka tidak diterima bukan berarti mereka takut kalau Allah tidak memberi pahala kepada mereka. Tentu saja itu tidak sesuai dengan janji Allah Ta’ala kepada mereka seperti terdapat dalam firman-Nya : “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka…” (Qs Ali Imran 57). Bahkan Allah Ta’ala akan menambahkan pahala amalan mereka itu seperti yang disinggung dalam firman-Nya : “.. maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya” (Qs. An-Nisa 173). Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya seperti termaktub dalam firman-Nya. Sesungguhnya soal penerimaan suatu ibadah itu tergantung kepada bagaimana pelaksanaannya, apakah sesuai dengan perintah Allah Ta’ala atau tidak. Sedangkan mereka tidak dapat memastikan bahwa mereka telah melaksanakan persis sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Bahkan mereka mengira bahwa mereka tidak dapat melaksanakan seperti itu. Oleh karena itu mereka takut kalau-kalau ibadah mereka tidak diterima. Seharusnya seorang mukmin selalu mempunyai perasaan demikian supaya ia senantiasa memperbaiki ibadahnya sebagimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yakni dengan penuh ikhlas dan mengikuti Nabi-Nya shallallahu’alaihi wasalam. Inilah yang dimaksud-kan oleh ayat: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’ (Qs. Al-Kahfi 110)

Imam Al-Ajuri rahimahullah menjelaskannya dalam Asy-Syari’ah (hal. 656 – cet. Darul Wathan),

“Diantara sifat Ahlulhaq dari para ulama yang telah kami sebutkan adalah bahwa dibolehkan istitsna dalam iman, tetapi yang demikian bukan berarti keraguan, na’udzubillah. Akan tetapi apa yang mereka lakukan tidak lain adalah untuk menghindari jangan sampai mensucikan dirinya sendiri sampai pada kesempurnaan iman, padahal belum tentu apakah ia sampai kepada hakikat itu atau tidak. Oleh sebab itu, Para ahli ilmu dari kalangan ahlulhaq (Ahlus Sunnah) jika ditanya : ‘Apakah engkau orang iman?’; Mereka akan menjawab, “Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, surga, neraka dan yang semisal ini’. Orang yang meyakini semua ini serta meyakininya dalam hatinya, maka dia mukmin”.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (9)

Keduapuluh, diantaranya kerusakan berhizbi ini adalah kalau pemimpin hizbi memerintahkan untuk bersemangat mengerjakan suatu amalan mustahab (sunnah) dan menekannya, maka para pengikut akan bersemangat hingga mereka mengubahnya menjadi suatu kewajiban, maka jadilah yang mustahab itu wajib bagi anggota hizbi. Dengan demikian mereka telah mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah. Mereka telah membuat syari’at yang hanyalah hak Allah.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Qs. asy-Syura 21).

Keduapuluhsatu, aku melihat diantara bahaya berhizbi seperti ini bagi diriku adalah dalam penunaian ibadah. Yaitu ketika penunaian syi’ar ibadah yang diperintahkan syari’at berubah dari kewajiban penghambaan diri kepada Allah menjadi kewajiban hizbi, sehingga akan mengotori keikhlasan, akhirnya yang diperhatikan dalam penunaian ibadah hanyalah ridho hizbinya bukan ridho Allah. Ini akan berbeda jika aku tidak terikat oleh apapun, niscaya akan lebih mudah menuju keikhlasan dan keberangkatan ku menunaikan ibadah tidak ada yang mendorongnya kecuali karena Allah.

Imam Muslim rahimahullahu (no. 2985 – cet Darul Mughni),

… “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan dalam amalnya itu bersama-Ku dari selain-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu”.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (10)

Keduapuluhdua, ini ada hubungannya dengan alasan kelima terdahulu, yaitu pengakuan mereka bahwa pemimpin mereka hanyalah pemimpin yang mengurusi masalah akhirot saja (masalah agama), kata mereka, ”… adapun urusan dunia maka kami tunduk dan patuh kepada pemeritah yang sah”. Ini artinya mereka hanya mengaku sebagai pemimpin dalam bidang dakwah Islam saja. Tetapi anehnya, pemimpin kelompok mereka ingin disebut imam, amir atau amirul mukminin, bahkan menggunakan dalil-dalil tentang imam, amir, sulthon dan khalifah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits, oleh sebab itu mereka menghukumi kaum muslimin yang tidak membai’at imam mereka dengan mati jahiliyah. Padahal hadits-hadits itu hanya berbicara tentang amir/imam yang tertinggi yang memiliki fungsi sebagai penegak hukum, ketertiban dan penjaga keamanan. Oleh sebab itu munculah bab tentang hudud, jihad, menjaga perbatasan, memerangi pemberontak, mengambil jizyah dan lainnya dalam kitab-kitab hadits, yang kesemua itu tidaklah ditegakan kecuali oleh seorang amir/imam. Lalu imam model yang mana pemimpin kelompok mereka itu?!. Aku tidak tahu, apakah hal ini pengaruh dari sunnah umat Katolik dan Paus-Paus-nya, atau pengaruh dari kaum sekuler yang memisahkan urusan agama dengan dunia?!!, yang jelas ini bukan berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para Sahabatnya.

Dan ternyata apa yang membuat aneh diriku ini, pernah dibahas oleh orang yang telah menghabiskan umurnya untuk ilmu hadits dan telah mempelajari hadits-hadits nabawi sampai jarang sekali kita temukan tandingannya diabad ini, yaitu Syaikh Al-Muhadits Nasiruddin Al-Albani rahimahullahu dimana beliau berkata,

“Sesungguhnya mereka (jama’ah-jama’ah hizbiyah) berdalil dengan hadits ini (Hadits imammah dan jama’ah), lalu sebagian mereka menerapkannya kepada pemimpin mereka yang mereka telah membai’atnya, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada bai’at, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliyah”. Oleh karena itu mereka mengangkat amir, dan membai’atnya. (padahal) Amir seperti mereka ini bukan amir yang wajib dibai’at. Dan apa-apa (yang wajib) bagi kaum muslimin adalah bekerja dengan setiap kekuatan dan ilmu untuk mengembalikan masyarakat Islami yang menuntut bangkitnya seorang laki-laki sebagai Khalifah yang wajib dibai’at oleh setiap orang Islam. Adapun jama’ah-jama’ah yang ada sekarang mengangkat seorang amir diantara mereka, dan tiap anggota diwajibkan berbai’at kepadanya. Dan jika ada yang tidak membai’atnya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah, ini tindakan penyimpangan (tahrif) kalimat dari posisinya, dan tidak boleh terjadi seperti ini bagi kaum muslimin”. (Al-Manhaj Salaf Inda Syaikh Al-Albani (hal. 232) oleh Syaikh Amru Abdul Mun’im Salim).

Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Ash-Shahihah (2/677 – Al-Maktabah Al-Ma’arif) berkata :

“Ketahuilah bahwa ancaman yang disebutkan itu (mati jahiliyah –pen) hanya bagi orang yang tidak membai’at khalifah kaum muslimin dan keluar dari mereka, bukan sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang agar setiap kelompok atau partai (hizb) membai’at pimpinannya, bahkan ini adalah perpecahan (firqah) yang dilarang Al-Qur’an Al-Karim”.

Kemudian tahulah aku setelah mempelajari masalah ini lebih dalam, bahwa para ulama ahlus sunnah zaman sekarang memiliki pemahaman sama dengan Syaikh Al-Albani ini, semisal di Arab Saudi yaitu Syaikh Ahmad Yahya An-Najmi dalam al-Mawrid al-Adh’b az-Zilal fima intaqada ‘ala ba’adil-manahij ad-da’wiyyah min al-‘Aqa’id wal-‘A’amal hal. 214, Syaikh Taqiyuddin Al-Hilali dalam Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’at At-Tabligh karya Syaikh Hamud At-Tuwaijiri rahimahullahu hal. 138, Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hukmul Intima’ hal. 128, Syaikh Shalih Fauzan dalam Al-Muntaqo min Fatawi asy-Syaikh Shalih Fauzan (1/367) dan lain-lain.

Keduapuluhtiga, adalah tentang pengertian ’mati jahiliyah’ itu sendiri, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mati kafir, sedangkan aku menemukan bahwa ternyata para ulama terdahulu tidak mengartikan mati jahiliyah ini sebagai mati kafir. Sebagaimana Imam Bukhori rahimahullahu dalam Shahih (1/18 cet. Ibnu Katsir),

”Bab “Kemaksiatan itu merupakan perkara Jahiliyyah”, dan tidak dikafirkan pelakunya kecuali jika disertai kesyirikan, (dalilnya) ucapan Nabishallallahu’alaihi wasalam (kepada Abu Dzar): “Sesungguhnya pada dirimu masih terdapat sifat-sifat jahiliyah”. Dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya” (An-Nissa 48)”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul-Bari (13/7) menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan “mati Jahilyyah” dengan bacaan mim kasrah (“Miitatan bukan Maitatan”) ialah seperti matinya orang-orang jahiliyah yang berada di atas kesesatan dan tidak memiliki imam yang ditaati, karena mereka tidak mengenal hal itu. Dan yang dimaksudkan bukan lah mati kafir tetapi mati dalam keadaan maksiat”.

Seperti itu pula yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu Muslim (12/238), Imam Asy Syaukani rahimahullahu dalam Nailul Authar (7/199), Imam Al-Qurthubi rahimahullahu dalam al-Mufhim Lima Usykila min Talkhisi Sahihi Muslim (4/59) dan lain-lain.

Dan aku yakin pemahaman itu bukan perkataan asal-asalan saja, tapi berdasarkan pemahaman atas bahasa Arab yang baik, dan pemahaman atas Islam secara menyeluruh bukan sepotong-sepotong. Dan kemudian aku menemukan hadits yang mendukung pemahaman ini, yaitu hadits yang berbunyi:

“Khomer itu ibunya setiap keburukan, barangsiapa yang meminumnya tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari, dan jika mati sedangkan dalam perutnya terdapat khomer, maka ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyah”. (Dihasankan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami no. 3344 – Maktab Al-Islami).

Walaupun sudah jelasnya hukuman berat bagi peminum khamer, aku kira tidak ada ulama yang mengkafirkan orang yang meminum khomer itu dengan alasan hanya karena ia ‘mati jahiliyah’.

Bagaimana mungkin aku harus tetap dalam kelompok yang membangun sebuah pondasi yang rapuh, lalu harus mengatakan kepada rumah yang kuat sebagai rumah yang akan rubuh ke dalam neraka?.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (11)

Keduapuluhempat, Aku melihat hal yang berbahaya dalam masalah thaharoh (sesuci), yaitu sikap berlebihan mereka. Dikatakan berbahaya sebab terdapat banyak kerusakan didalamnya: Pertama, perbuatan itu bid’ah termasuk mensyari’atkan apa yang tidak disyari’atkan Allah, bahkan Allah berfirman,

إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55). Ayat ini mengisyaratkan bahwa sesuci secara berlebihan tidak akanditerima oleh Allah; Kedua, melahirkan sikap meremehkan dan menanamkan sikap ragu terhadap apa yang dicontohkan syari’at; Ketiga, memelihara sikap was-was dari Setan dengan menumpahkan air sebanyak-banyaknya, lalu menyangkanya sebagai suatu kebaikan padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan dan mencontohkan untuk menghilangkan penyakit ini; Keempat, bisa menimbulkan sikap malas dalam beribadah (karena sulit sesuci) atau pembenaran untuk tidak melakukan ibadah; Kelima,menumbuhkan kebencian dan su’udzon dari kaum muslimin yang lain; Keenam,kalau menggunakan air umum, dikhawatirkan mengambil hak orang lain karena melebihi apa yang menjadi hak kita, lama-lama hak orang lain yang terambil itu makin banyak.

Imam Abu Dawud rahimahullahu dalam Sunan (no. 96 – Cet Riyadh),

… dari Abu Na’amah sesungguhnya Abdullah bin Abu Mughafal mendengar Anaknya berkata: “Yaa Allah saya memohon kepada-Mu Istana Putih di bagian kanan surga apabila saya masuk kedalamnya. Maka Beliau berkata : “Wahai anakku mintalah surga kepada Allah, dan mintalah perlindungan dari-Nya dari api neraka, karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Akan ada diumat ini kaum yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa“.

Penulis telah banyak membahas masalah ini dalam artikel yang lain.

Keduapuluhlima, adalah bid’ah yang mereka sebut infak persenan, penarikan harta ini tidak termasuk zakat yang diwajibkan syari’at tapi ia berkedudukan menyamai atau bahkan melebihi (?) zakat wajib. Kerusakan dari infak persenan ini antara lain, Pertama, mendekatkan diri kepada Allah harus disertai dalil, dan tidak ada dalil dalam masalah ini, maka pelakunya jatuh pada perbuatan bid’ah;Kedua, perbuatan ini termasuk kedzaliman ditandai dengan adanya intimidasi sedangkan Allah mengharamkan kedzaliman; Ketiga, mereka mengintimidasi dengan ayat-ayat dan hadits-hadits ancaman tentang penolakan membayar zakat, tentu ini termasuk menggunakan nash bukan pada tempatnya, kadangkala anggota kelompok diintimidasi dengan menggunakan tamsil-tamsil batil dan qiyas-qiyas yang tidak memiliki dasar, semuanya termasuk penipuan dan kedustaan; Keempat, Seseorang yang mangkir dari membayar persenan maka ia akan segera dihukumi tidak faham (lemah iman), ini tentu kerusakan besar sebab mensyaratkan suatu amalan bid’ah sebagai tolak ukur keimanan; Kelima,perbuatan bid’ah ini bisa mengalahkan apa yang justru diwajibkan oleh syari’at yaitu zakat; Keenam, Perbuatan ini justru mirip perpuluhannya Kristen, uang pengorbanannya Ahmadiyah, dan khumusnya Syi’ah. Dan kita dilarang bertasyabuh dengan orang-orang kafir; Ketujuh, banyak sekali ancaman dalam nash kepada orang yang mengambil harta kaum muslimin tanpa haknya diantaranya apa yang disebutkan oleh Imam Thabrani rahimahullah dalam Mu’jam Al-Ausath (3/154) no. 2769 –cet Darul Haramain):

…. “Pintu-pintu langit selalu terbuka pada pertengahan malam, lalu berseru lah para penyeru: “Jika ada orang yang berdo’a, maka do’anya akan dikabulkan, Jika ada orang yang meminta, maka ia akan diberi, jika ada orang yang kesusahan, maka akan diberi jalan keluar dari kesusahannya, maka tidak tersisa dari seorang muslim yang berdo’a kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan mengabulkannya, kecuali pelacur yang menjual farjinya, atau penarik harta 10 persen”.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (12)

Pasal

Penjelasan Dari Khurofat-Khurofat

Mengetahui Perkara Ghaib?

Ini tentang apa yang disebutkan dari “kelebihan-kelebihan” dari sang pendiri jama’ah, yaitu Bapak Nur Hasan Al-Ubaidah yang disebut juga Madigol dalam Makalah CAI yang biasa terbit setahun sekali. Biografi beliau telah dirangkum dan diterbitkan dalam makalah itu selama beberapa tahun tanpa ada perubahan yang berarti.

Diantara isinya yang membuatku heran adalah:

Sedangkan, termasuk perkara yang tidak diperselisihkan oleh ahlus sunnah adalah bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala, karena firman Allah:

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml 65).

Dan berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok”. (QS. Luqman 34).

Dan diriwayatkan oleh Muslim (no. 176 – Darul Mughni) :

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengaku dia bisa mengabarkan hal-hal yang akan terjadi besok maka dia telah mengadakan kedustaan besar terhadap Allah”.

Mungkin sebagian orang beralasan, bahwa yang mendorongnya untuk mengada-ngadakan hal itu karena ghirah (kecemburuan) terhadap agama, namun hal itu tetap bukan alasan yang bisa diterima. Karena ghirah yang benar terhadap agama adalah tertanam dalam semangat tauhid, jangan sampai ada satu noda pun yang mengotorinya dengan memusuhi sedikit saja darinya. Apalagi yang termasuk sifat-sifat Allah yang menjadi kekhususan-Nya.

Ataupun bahkan yang mendorongnya adalah karena memberi semangat orang-orang yang putus asa untuk mendapatkan pertolongan. Tetap saja perbuatan ini terlarang, karena membuat dia terjatuh dan menjatuhkan orang lain kepada perbuatan yang diharamkan berupa melihat perkara yang ghaib dan mengacaukan aqidah. Tidakkah menjadi pelajaran bagi kita kisah Al-Mukhtar bin Ubaid sang pendusta. Dahulu ia suka terjun ke tengah-tengah pertempuran kemudian mengabarkan kepada manusia bahwa pertolongan akan datang dari arah ini dan itu. Ketika ia menyangka pertolongan telah jatuh kepadanya, segera ia berkhutbah untuk mendapatkan pengakuan mereka. Lihat kisahnya dalam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala (3/542 – Tahqiq Al-Arnauth).

Lama kelamaan Al-Mukhtar mengaku mendapatkan wahyu, sehingga dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, “Wahyu itu ada dua jenis, wahyu dari Allah dan wahyu dari setan. Wahyu dari Allah turun kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, sedangkan wahyu dari setan turun kepada para walinya, lalu beliau membaca firman Allah:

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ

Dan Sesungguhnya setan itu memberi wahyu kepada wali-walinya .. (QS. Al-An’aam 121).

Lihat kisahnya dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/328 –cet Darul Thoyibah),

Walaupun seandainya Allah menampakan sebagian perkara ghaib kepada seorang hamba, hamba tersebut mestilah seorang Rasul, bukan yang lainnya, karena Allah berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

Dia Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya,… (QS. Al-Jinn 26-27).

Adapun kemudian perkataan orang-orang yang mengaku ‘mengetahui” perkara ghaib itu kemudian benar-benar terjadi, maka itu adalah sebagian hasil bisikan setan kepada walinya dari sisa-sisa pencurian mereka atas kabar-kabar dari langit, sebagaimana dikisahkan dalam hadits. Atau sebagimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَنُ مَدًّا

“Katakanlah: “Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya” (QS. Maryam 75).

Seharusnya kalau mereka termasuk orang-orang yang benar-benar mengetahui perkara-perkara ghaib itu, tentu mereka akan lebih sanggup lagi dalam menolak setiap kemudhorotan yang menimpa mereka sendiri, dan kenyataannya tidak.

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raaf 188).

Dan bagi yang mendatanginya, agar takut dari ancaman dalam hadits, sebagaimana dicantumkan dalam Silsilah Ash-Shahihah (no. 3387),

“Barangsiapa mendatangi dukun (tukang ramal) lalu dia membenarkan ucapannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam”.

Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (13)

Pasal

Penjelasan Dari Khurofat-Khurofat

Apakah Ini Karamah?

Dalam makalah yang sama (CAI) aku membaca sebuah tulisan yang dijadikan oleh sebagian mereka ketika menerangkan biografi bapak Nur Hasan sebagai dalil bahwa doa beliau itu mustajab. Tulisan itu berbunyi,

Mungkin mereka memandang peristiwa itu adalah sebuah kehebatan dan menampakan “kewalian” beliau, adapun aku, tidak melihat tentang uang yang ditemukan dibalik sajadah yang ia pakai sholat itu, kecuali dari dua perkara:

Pertama, Jika uang itu adalah uang beliau sendiri, maka dengan demikian tidaklah menjadi kelebihan bagi dirinya dalam perkataan, “Sesungguhnya doanya mustajab”. Sebab orang yang mempunyai uang menolong kepada orang yang tidak memiliki uang bisa dilakukan siapa saja bahkan orang yang doanya tidak mustajab sekalipun. Maka penyusun makalah itu sudah benar dengan memasukannya ke dalam bab suka menolong.

Tapi kalau benar demikian, muncul pertanyaan lain, kenapa kalau memang uang itu sudah ada, beliau tidak memberikannya langsung, melainkan harus shalat dan berdoa terlebih dahulu sehingga seolah-olah itu semua karena sholat dan doanya tersebut? Bukankah ini adalah kebohongan? Dan akan menimbulkan berbagai macam syubhat kepada orang-orang yang menyaksikannya?. Atau kenapa ia harus menyimpannya dibawah sajadah, lalu menyuruh orang yang butuh pertolongan itu membuka sajadahnya?. Bukankah yang demikian bisa menjerumuskan seseorang pada syubhat dan riya?.

Kedua, Jika uang itu bukan uang miliknya, maka termasuk barang temuan (luqathah), sama sekali tidak ada hak baginya atas uang itu, dan tidak boleh memasukannya dalam sesuatu yang menyerupai karamah atau pengabulan doa dari Allah untuk dirinya. Dan kita jangan tertipu dengan talbis dari sesuatu yang menyerupai karomah ini.

Justru yang demikian itu cobaan bagi beliau, apakah beliau akan lebih mengikuti ro’yunya bahwa uang itu pemberian dari Allah atas sholat dan doanya, atau lebih mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang mengabarkan bahwa siapa saja yang menemukan harta berharga bukan miliknya, maka kewajibannya adalah mengumumkannya kepada khalayak minimal selama setahun, kalau tidak ada yang mengakuinya, barulah uang itu boleh dimilikinya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (no. 2426 –cet Darul Ibnu Katsir):

Artinya : Suwaid bin Ghaflah berkata, “Aku bertemu dengan Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Aku menemukan sebuah kantung yang berisi sertus dinar, lalu aku mendatangi Nabi shallallahu’alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Umumkan dalam setahun”.

Al-Hafizh Ibnu Jauzi dalam Talbis Iblis (yang sebenarnya Kitabnya dikutip juga dalam Makalah CAI) pada pasal “Talbis yang menyerupai karomah” (hal. 368 –cet Darul Kalam), tidak menganggap hal demikian itu sebagai karomah, sebagaimana beliau mengisahkan suatu kisah mirip dengan kejadian diatas.

Artinya, Abu Imron berkata, “Farqad pernah berkata kepadaku, “Wahai Abu Imron, saat ini perhatianku terpokus pada masalah pajak yang harus aku bayarkan, yaitu sebanyak 6 dirham. Bulan sabit sudah muncul dan saat ini aku belum mempunyai uang sepeserpun. Maka akupun berdoa kepada Allah. Ketika aku sedang berjalan dipinggir sungai Eufrat, tiba-tiba aku menemukan 6 dirham, tidak kurang dan tidak lebih”.Abu Imron berkata, “Shodaqohkan itu, itu bukan milik mu”.

Abu Imron adalah Ibrohim An-Nakha’i seorang ulama faqih dari penduduk kufah. Perhatikanlah bagaimana sebagai seorang fuqaha ia tidak mudah terkecoh dan bagaimana dia menganggap uang yang ditemukan Farqad itu sebagai luqathah(barang temuan) dan sama sekali tidak memandangnya sebagai sesuatu yang menyerupai karomah. Abu Imron tidak meminta Farqad menguraikan lebih lanjut tentang uang yang ia temukan itu, bahkan penduduk Kufah sendiri tidak biasa menggunakan mata uang selain dinar. Abu Imron justru memerintahkannya untuk menshodaqahkan uang temuan itu. Agar Farqad tidak dianggap dimuliakan dengan suatu karomah”.

Coba renungkan, perbedaan antara kefaqihan ulama dan anggapan orang awam.

Seri-seri ini diakhiri sampai disini, tambahan pembahasan lainnya akan penulis kumpulkan dalam kitab tersendiri dengan judul, “Kenapa Aku Keluar Dari Firqah Ini”, mudah-mudahan Allah memudahkannya.

catatan:

Tulisan dari Mantan Pengikut Kelompok Darul Hadits / Lemkari / Islam Jama’ah / LDII / Madigoliyah / Mbahman / Jokam 354

Pada tulisan aslinya terdapat captured gambar dari kitab/surat/buku sebagai sumber nukilan. Akan tetapi dikarenakan tidak muncul pada format wordpress, maka untuk melihat tulisan aslinya tersebut silakan merujuk ke website http://rumahku-indah.blogspot.com/

Lihat pula web http://airmatakumengalir.blogspot.com/

Dan untuk menilai kebenaran dari pengakuan manqul aLa Nur Hasan ‘Ubaidah pendirinya LDII, bisa dilihat di http://354hijrah.blogspot.com/2010/09/menimbang-isnad-nurhasan-al-abaidah.html dan juga http://airmatakumengalir.blogspot.com/2011/08/kita-buktikan-apakah-mereka-manqul.html

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melimpahkan hidayah dan kebaikan kepada kita bersama dan juga kepada Saudara-Saudara kita dari kalangan LDII dan selainnya.

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. September 4, 2013 pukul 5:46 pm

    Teruslah menulis saudaraku, semoga antum banyak mendapatkan kebaikan dari Allah سبحانه و تعالي .

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: