Beranda > Akhlaq Islam > Wahai Saudaraku, Mengapa Engkau Masih Saja Mengeluh ???

Wahai Saudaraku, Mengapa Engkau Masih Saja Mengeluh ???

Wahai Saudaraku, Mengapa Engkau Masih Saja Mengeluh ?

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Sebagian dari kita barangkali masih sering mengeluhkan tentang kesempitan rizqi yang menimpanya. Sudah berusaha cari ke sana ke mari ternyata ia merasa bahwa rizqi nya begitu sempit. Bahkan, ada juga di antara kita yang – na’udzubillah – sampai menganggap buruk terhadap taqdir Allah tersebut, dalam artian ia seolah-olah tidak ridho dengan apa yang menimpanya tersebut.

Padahal, bisa jadi apa yang menimpanya tersebut justru disebabkan karena dirinya sendiri. Bisa jadi ia pada dasarnya adalah seorang yang memiliki fisik yang kuat dan sehat, tapi ia hanya sekedar ingin mendapatkan rizqi yang banyak dengan hanya sedikit usaha. Ia justru tidak melihat bahwa bumi Allah ini begitu luas. Bukankah seekor burung yang keluar di pagi hari telah Allah beri rizqi padanya sehingga burung tersebut pulang ke sarangnya di sore hari dalam keadaan perutnya telah terisi makanan ?

Jikalau demikian keadaannya pada burung, maka semestinya justru manusia bisa lebih baik dari burung tersebut dikarenakan bentuk fisik manusia jauh lebih sempurna dibandingkan dengan burung. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak lekas putus asa dari rohmat Allah.  Semoga artikel ringkas ini bermanfaat untuk menyadarkan diri kita masing-masing.

Faedah ini saya dapatkan secara makna dari rekan ta’lim beberapa waktu yang lalu saat membahas tentang syukur. Hanya saja, saya tidak disebutkan siapa nama ‘ulama yang ditanya tersebut. Yang jelas, kisah ini adalah nyata dan bukan rekaan sebagaimana para tukang dongeng yang senang membuat cerita-2 rekaan (dusta) meskipun mereka menyangka bertujuan baik (yakni memberikan ibroh).

Kurang lebih secara makna begini :

Suatu ketika ada seorang ‘ulama ditanya oleh seorang pemuda yang merasa putus asa dari rohmat Allah Ta’ala dikarenakan kekurangan harta/rizqi yang ia rasakan.

Ketika itu, Syaikh lalu bertanya kepada pemuda tersebut: “Wahai anakku, maukah engkau kuberi 100 dinar tapi kedua matamu aku buat jadi buta?”

Sang pemuda menjawab: “Tentu tidak ya Syaikh. Apalah arti 100 dinar dibandingkan kedua mata saya ini?”

Syaikh bertanya lagi: “Kalau begitu, bagaimana kalau kedua tanganmu saja sebagai gantinya?”

Sang pemuda menjawab: “Juga tidak ya Syaikh. Apalah arti 100 dinar dibandingkan kedua tangan saya ini?”

Syaikh bertanya lagi: “ Kalau begitu, bagaimana kalau kedua kaki mu saja?”

Sang pemuda menjawab: “Juga tidak ya Syaikh. Apalah pula arti 100 dinar dibandingkan kedua kaki saya ini?”

Kemudian Syaikh mengatakan secara makna:

“Wahai anakku, ternyata engkau adalah orang yang telah Allah anugerahkan kenikmatan yang sangat banyak. Bagaimana mungkin engkau tolak tawaran 300 dinar sementara engkau masih mengeluh?”

Catatan: 1 dinar adalah 4.25 gram emas sekitar Rp 1,8 juta.

Semoga bisa diambil faedah, agar kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah Ta’ala, dan juga jangan mudah berputus asa. Bila kita mau memperoleh jalan keluar atas semua permasalahan yang kita hadapi, maka jagalah syariat Allah. Lihat pula artikel : https://pentasatriya.wordpress.com/2010/11/16/kunci-kunci-rizqi/

Ath Tholaaq ayat 2-3 :

 

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُ ۥ مَخۡرَجً۬ا (٢) وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ‌ۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدۡرً۬ا (٣)

 

……Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Juga dinukil dari hadits dalam Arba’un An Nawawi:

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abul ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiAlloohu ‘anhuma berkata: “pada suatu hari, aku pernah bersama Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam (yakni di atas tunggangan), kemudian Beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah (syariat) Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah (syariat) Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu (senantiasa menolongmu). Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih.

Dalam riwayat selain Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah bahwa rizqi itu tidak hanya berupa harta/uang. Kesehatan, umur, fisik yang normal, keluarga yang menyejukkan hati, dan lainnya semuanya merupakan rizqi. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang hartanya banyak tapi sakit-sakitan. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang hartanya banyak tapi keluarganya tidak pernah akur. Jika kita tanyakan kepada mereka, maukah Anda kehilangan harta Anda tapi Allah karuniakan tubuh yang sehat dan keluarga yang menjadi penyejuk hati ? Maka saya yakin, mereka akan menjawab: “mau”. Nah…perhatikanlah hal ini wahai Saudaraku…!

Sebagaimana hadits Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam secara makna, yang artinya bahwa “bukanlah kekayaan itu berupa banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kaya hati (yakni sifat qona’ah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah)”

(Shohih Bukhori No.5965, Kitab 61.Hal-Hal Yang Melunakkan Hati, Bab : Kekayaan Sejati Adalah Kekayaan Jiwa, www.lidwa.com )

 

Juga hadits yang artinya : “sungguh, seorang dari kalian mengambil talinya, lalu ia mencari seikat kayu bakar dan ia bawa dengan punggungnya kemudian ia menjualnya (ke pasar), lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu, maka lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada manusia, baik manusia memberinya ataupun menolaknya”

(Shohih Bukhori No.2200, Kitab 25. Al Musaqoh (Mengairi Tanaman), Bab Menjual Kayu Bakar dan Rumput, www.lidwa.com )

بارك الله فيكم

tambahan catatan:

walhamdulillah, ternyata ‘ulama yang dimaksud dalam artikel tersebut adalah seorang yang bernama Yunus bin ‘Ubaid rohimahulloh. kisah ini dinukil dari http://sunniy.wordpress.com/2011/09/07/peringatan-menakjubkan-dari-yunus-bin-ubaid-kepada-mereka-yang-mengeluh-tentang-kemiskinan-dan-kesulitan-hidup/ dan artikel ‘arob nya dari http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=1055&idto=1055&bk_no=60&ID=967 dengan makna yang hampir sama.

nukilan dari kitab Siyar A’lam An Nubala karya Al Imam Adz Dzahabi rohimahulloh pada jilid 6 hal.292.

Siyar A’lam An Nubala >> Thobaqoh ke-5 >> Yunus bin ‘Ubaid :

وقال غسان بن المفضل الغلابي ، حدثني بعض أصحابنا قال : جاء رجل إلى يونس بن عبيد فشكا إليه ضيقا من حاله ومعاشه واغتماما بذلك . فقال : أيسرك ببصرك مائة ألف ؟ قال : لا . قال : فبسمعك ؟ قال : لا . قال : فبلسانك ؟ قال : لا . قال : فبعقلك ؟ قال : لا . في خلال . وذكره نعم الله عليه ، ثم قال يونس : أرى لك مئين ألوفا وأنت تشكو الحاجة ؟

Dan berkata Ghassaan bin al-Mufadhdhal al-Ghulaabi :

Beberapa teman kami telah menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Yunus bin ‘Ubaid (wafat 139H) dan mengeluhkan kesulitan yang ia lalui dalam kondisi kehidupan dan kecemasan karenanya.

Maka Yunus bin ‘Ubaid berkata (kepadanya), “Apakah engkau senang memberikan penglihatanmu untuk dibeli dengan seratus ribu (dinar/dirham)?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak” Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan pendengaranmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak” Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan lidahmu?” Laki-laki itu  menjawab, “Tidak” Dia berkata, “Lalu bagaimana dengan akalmu?” Dia berkata, “Tidak, [tidak] untuk setiap keinginan/kebutuhan.” Lalu ia mengingatkannya pada nikmat Allah atas dirinya tersebut.

Kemudian Yunus mengatakan, “Saya melihat bahwa engkau memiliki ratusan ribu (dinar/dirham) namun engkau masih saja mengeluh bahwa engkau orang yang kekurangan?!

Kategori:Akhlaq Islam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: