Beranda > Sakinah > Tahapan Pendidikan Anak (Faedah Ringkas Dari Surat Luqman)

Tahapan Pendidikan Anak (Faedah Ringkas Dari Surat Luqman)

Tahapan Pendidikan Anak

(Faedah Dari Surat Luqman)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalaamu’alaykum warohmatulloohi wa barokaatuh

Anak merupakan salah satu bentuk nikmat dan ujian dari Allah Ta’ala kepada para orang tua yang tentunya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat. Jika orang tua telah mendidik anak-anaknya dengan baik sesuai dengan tuntunan Islam, maka berarti orang tua tersebut telah berhasil dalam memikul tanggung jawab nya dengan baik di hadapan Allah Ta’ala dan dengannya orang tua tersebut tentunya akan mendapat ganjaran pahala yang besar. Akan tetapi, jika orang tua acuh tak acuh di dalam mendidik anak-anaknya, maka berarti orang tua tersebut telah gagal dalam memikul tanggung jawabnya di hadapan Allah Ta’ala dan dengannya orang tua tersebut tentunya akan mendapat ancaman siksa yang sangat pedih akibat kelalaiannya tersebut.

Kita sebagai orang tua tentunya menginginkan anak-anak kita kelak menjadi sosok manusia yang baik, taat, berbakti, tangguh, dan semisalnya. Terlebih lagi di zaman yang penuh godaan syahwat di masa sekarang ini dari sekian banyak media, tentunya kekhawatiran para orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya menjadi lebih besar. Sehingga, sekian macam langkah dilakukan oleh para orang tua demi mewujudkan harapannya tersebut. Bahkan, tidak sedikit pula orang tua Muslimin yang sampai mengikuti seminar-seminar tentang pendidikan anak (baik seminar dgn pembicara Muslim, orang-orang fasik, maupun orang-orang kafir), tentunya dengan mengeluarkan effort yang tidak sedikit berupa waktu, tenaga, dan biaya.

Padahal, sebagai seorang Muslim/Muslimah yang beriman kepada Al Qur’an, walhamdulillaah, Allah Ta’ala telah memberikan salah satu contoh tuntunan nyata tentang bagaimana langkah-langkah di dalam pendidikan anak bagi para orang tua Muslimin. Telah dicukupkan bagi kita umat Islam tuntunan bagi sekian banyak hal terkait kehidupan kita di dunia dan akhirat. Tinggal hal ini kembali kepada masing-masing diri kita, apakah kita mau kembali kepada ajaran agama Islam yang kita anut ini ataukah kita justru lebih menoleh kepada ajaran-ajaran lain dari luar Islam.

Adapun terkait dengan tahapan pendidikan anak di dalam tuntunan Islam, maka hal ini telah dijelaskan di dalam surat Luqmaan (surat ke-31), terkhusus mulai ayat 12 sampai ayat 19 secara berurutan.

Sayangnya, masih ada sebagian dari kita sebagai seorang Muslim justru enggan atau bahkan acuh tak acuh terhadap pengajaran yang Allah Ta’ala berikan secara gamblang ini. Sebagian dari kita justru lebih banyak mengoleksi buku-buku pendidikan anak yang notabene berasal dari hasil tulisan orang-orang kafir ataupun orang-orang yang tidak jelas keimanannya. Jika demikian, hasil yang seperti apakah yang akan kita harapkan jika sumbernya berasal dari orang-orang yang demikian? Lantas, mengapa justru kita tidak mengambil saja apa yang telah dijelaskan di dalam Al Qur’an ?

Tidakkah kita mau mengambil hikmah ini wahai Saudaraku ???

A.   Surat Luqmaan ini Allah Ta’ala awali dengan peringatan bagi umat manusia yaitu menerangkan bahwa Al Qur’an ini merupakan hikmah, petunjuk, dan rohmat bagi orang-orang yang muhsinin yaitu orang-orang yang berbuat amal-amal sholih. Maka, sudah seharusnya lah bagi manusia untuk menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupannya. Berikut ini ayatnya 1-5 :

الٓمٓ

تِلۡكَ ءَايَـٰتُ ٱلۡكِتَـٰبِ ٱلۡحَكِيمِ

هُدً۬ى وَرَحۡمَةً۬ لِّلۡمُحۡسِنِينَ

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم بِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

  1. 1.   Alif Laam Miim,
  2. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah,
  3. menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,
  4. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
  5. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan pada kelanjutan ayat ke-6 sampai ke-11 nya disebutkan tentang jenis manusia di dalam bersikap terhadap Al Qur’an tersebut dan balasan apa yang akan kelak mereka peroleh terkait sikapnya tersebut.

B.   Kemudian, tatkala mengawali kisah tentang Luqmaan pada ayat ke-12 (beliau adalah seorang hamba Allah yang sholih yang mana di sebagian riwayat menyebutkan bahwa beliau adalah bekas budak dari Habasyi/Ethiopia) diceritakan bahwa hikmah yang awal kali Allah berikan kepadanya adalah perintah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala yang merupakan Dzat yang telah memberikan segala macam kenikmatan kepada kita sejak kita masih berupa nuthfah di dalam rahim ibu kita hingga sekarang ini. Berikut ini ayatnya :

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَـٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡڪُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيد

Ayat 12 : Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Dari ayat ini bisa pula diambil faedah bagi pasangan suami istri yang belum dikarunia anak untuk juga tetap senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala. Di sini terdapat bentuk keindahan Al Qur’an. Ketika Allah akan menceritakan tentang pendidikan anak, maka diingatkan dulu agar manusia (yakni para orang tua) untuk bersyukur kepada nikmat-2 Allah. Sehingga, tatkala ada orang tua yg belum dikaruniai anak oleh Allah membaca ayat ini, maka ia akan senantiasa ingat untuk bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah yang lainnya sehingga ia tidak terjatuh ke dalam bentuk ketidakpuasan terhadap taqdir Allah kepadanya. Subhanallooh, Maha Suci Allah.

C.   Lalu, ketika Luqman Al Hakim ini mengajarkan perkara-perkara penting kepada anaknya dalam rangka memberikan pendidikan baginya, maka diawali dengan perintah untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan tidak mensekutukanNya di dalam peribadatan apapun bentuknya. Dan kalau kita perhatikan susunan ayat-ayatnya, maka hal tersebut merupakan susunan urut-urutan yang diawali dengan perkara yang paling penting kepada perkara penting lainnya. Di sini juga terletak contoh keindahan bahasa Al Qur’an. Berikut ini ayatnya :

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬

Ayat 13 : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”

Dari ayat ini, kita ketahui pula bahwa da’wah yang pertama kali harus kita tanamkan kepada orang lain (termasuk anak-anak kita) adalah da’wah untuk mentauhidkan Allah dan memperingatkan manusia untuk tidak berbuat syirik kepada Allah Ta’ala yakni memberikan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala.

Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan sebagian kelompok da’wah yang mana mereka ada yang memulai da’wah mereka dengan perbaikan masalah hati (jagalah hati), atau dengan dzikir jama’i, atau dengan shodaqoh, atau dengan perbaikan akhlaq, atau dengan perbaikan melalui jalur politik, atau perbaikan melalui jalur ekonomi, atau lainnya. Tidak kita pungkiri bahwa hal-hal ini adalah perkara penting yang juga diatur di dalam Islam. Hanya saja, apakah demikian caranya di dalam memulai prioritas awal suatu da’wah ??? Bukankah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun memprioritaskan dakwah tauhid ketika periode Mekkah selama 13 tahun? Maka berpikirlah wahai orang-orang yang berakal….!

D.   Setelah Allah perintahkan untuk mentauhidkanNya, maka dilanjutkan dengan perkara penting berikutnya yaitu berbuat baik kepada orang tua meskipun orang tuanya adalah kafir/musyrik (hanya saja, perintah berbakti kepada orang tua terbatas pada hal-hal yang ma’ruf saja). Sehingga, jika perintah orang tua adalah dalam perkara yang menyelisihi syari’at, maka tidak ada ketaatan pada perintahnya terssebut. Berikut ini ayatnya :

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ

وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِى مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ۬ فَلَا تُطِعۡهُمَا‌ۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِى ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفً۬ا‌ۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَىَّ‌ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُڪُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Ayat 14 : Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tua; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam waktu dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ayat 15 : Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Di dalam ayat ini terdapat faedah pula bahwa terhadap orang tua yang telah banyak memberikan kebaikan kepada anak, maka sudah sepantasnya untuk si anak tersebut membalas kebaikan orang tuanya dengan berbuat baik kepada orang tua sebagai wujud rasa syukur kepada Allah dan kedua orang tua. Semua manusia (baik yang Muslim maupun yang kafir) tentunya akan sepakat bahwa sudah sepatutnya bagi setiap anak untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. Lantas, apabila demikian keadaannya terhadap orang tua, maka tentunya sudah pasti seluruh manusia pun sudah sepatutnya untuk berbakti kepada Allah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan kenikmatan-kenikmatan kepada seluruh makhluqNya melebihi apa yang telah diberikan orang tua terhadap anaknya. Oleh karena itu, tidakkah kalian menyadari hal ini wahai orang-orang yang berakal ??? Tidakkah kalian bersyukur kepada Allah terhadap nikmat-nikmat Nya???

Selanjutnya, di dalam ayat ini pula terdapat faedah bahwa perintah berbakti kepada orang tua hanyalah dalam perkara yang ma’ruf. Sehingga, apabila orang tua  ada yang memerintahkan kepada anaknya dalam perkara yang merupakan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka tidak boleh bagi si anak untuk menta’atinya. Akan tetapi, tetap wajib bagi si anak untuk bergaul kepada orang tuanya di dunia ini dengan pergaulan yang baik.

Semisal dengan hal ini adalah bentuk keta’atan seorang rakyat kepada pemimpinnya. Semua rakyat wajib untuk menta’ati pemimpinnya yang Muslim dalam perkara yang ma’ruf. Apabila pemimpinnya memerintahkan kepada perkara yg merupakan maksiat kepada Allah, maka tidak boleh bagi rakyat untuk menta’atinya. Akan tetapi, tetap wajib bagi rakyat untuk bergaul dengan pemimpinnya di dunia ini dengan pergaulan yang baik yakni dengan tidak memberontak kepada pemimpinnya.

Hal ini tentunya bertentangan dengan sikap sebagian kaum Muslimin yang demikian mudahnya memberontak kepada para pemimpin mereka hanya dikarenakan kekeliruan yang diperbuat oleh pemimpin mereka. Padahal, apabila diteliti lebih jauh, kekeliruan yang dilakukan tersebut tidaklah segampang itu disebut sebagai kekeliruan yang mengeluarkan pemimpin tadi dari keIslaman. Semoga Allah memperbaiki kondisi kaum Muslimin.

E.   Setelah perintah berbakti kepada orang tua, lalu diajarkan kepada anak untuk senantiasa memiliki rasa muroqobah (merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala) karena salah satu sifat Allah adalah Al Lathiiful Khobiir (Maha Halus lagi Maha Mengetahui) . Karena, dengan munculnya sikap muroqobah terhadap seorang anak, maka hal ini merupakan fungsi kontrol yang paling baik bagi diri si anak tersebut meskipun ia dalam kondisi seorang diri di kegelapan malam di tengah-tengah hantaman sekian banyak godaan seperti di masa sekarang ini. Berikut ini ayatnya :

يَـٰبُنَىَّ إِنَّہَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ۬ مِّنۡ خَرۡدَلٍ۬ فَتَكُن فِى صَخۡرَةٍ أَوۡ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ أَوۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِہَا ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ۬

Ayat 16 : (Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dengan tertanamnya sikap muroqobah ini dengan kokoh, maka si anak akan menjadi sosok yang akan senantiasa mawas diri baik ketika berada di sisi orang tua nya maupun ketika seorang diri. Oleh karena itulah, sebagian ‘ulama ada yg berkata secara makna : “apabila engkau seorang diri, maka janganlah engkau mengatakan “aku sedang sendirian”. Akan tetapi katakanlah: “aku sedang diawasi”.

Sehingga, tatkala si anak dihadapkan dengan sekian banyak godaan atau ketika ingin melakukan perkara kejelekan sekecil apapun, maka ia akan mawas diri dan yakin bahwa bila ia melakukan kejelekan maka Allah kelak akan membalasnya dengan adzab yg pedih, yang pada akhirnya si anak tersebut tidak jadi untuk berbuat kejelekan. Dan demikian pula sebaliknya, bila ia berbuat kebajikan sekecil apapun, maka ia akan tetap semangat utk menambah kebajikannya karena ia yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan surga yg penuh kenikmatan, meskipun seluruh manusia mencelanya.

F.   Kemudian, dilanjutkan dengan perintah untuk menuntut ilmu sebagai sarana untuk melakukan ibadah-ibadah secara benar  (seperti sholat dan amar ma’ruf nahi munkar) serta bersabar di dalamnya. Berikut ini ayatnya :

يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَٲلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ

Ayat 17 : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Mungkin ada yang bertanya, dari mana bisa diambil faedah tentang perintah menuntut ilmu padahal ayat tersebut tidak secara tegas menyebutkannya??? Jawabannya, bahwa perintah pada ayat tersebut adalah mendirikan sholat (aqimishsholaah), dan memerintahkan kepada yg ma’ruf (wa’mur bil ma’ruuf), dan mencegah dari perkara yg mungkar (wa anha ‘anil munkar).

Perintah mendirikan sholat bukan berarti hanya sekedar melakukan sholat semata, akan tetapi melakukan sholat dengan benar dengan segala macam tatacaranya. Dan untuk bisa mendirikan sholat dengan benar, tentunya mau tidak mau harus mengetahui apa saja syarat-2nya, rukun-2nya, wajib-2nya, dan lainnya. Dan untuk mengetahui hal-hal tersebut, maka mau tidak mau pula maka harus melalui proses menuntut ilmu agama secara benar.

Demikian pula dengan amalan ibadah amar ma’ruf nahi munkar. Tentunya, tidaklah mungkin seseorang bisa beramar ma’ruf nahi munkar dengan tanpa modal ilmu agama yang benar. Oleh karena itulah, hendaknya orang tua semangat untuk memberikan dorongan menuntut ilmu agama bagi si anak dan juga bagi diri orang tua sendiri dikarenakan untuk bisa mendidik anak dengan benar pun membutuhkan ilmu agama yang benar.

Ironisnya, saat ini kita lihat betapa banyaknya umat Islam yang ahli di dalam perkara-perkara dunia akan tetapi terhadap perkara-perkara agama nya ia buta sama sekali. Betapa banyak kaum Muslimin yang sekedar tata cara wudhu’ dan sholat pun ia tidak mengetahuinya. Padahal, bisa jadi ia adalah seorang yang bergelar S1, S2, S3, atau bahkan seorang professor di dalam ilmu-ilmu duniawi, akan tetapi sayangnya terhadap ilmu agamanya yang sehari-hari ia kerjakan pun ia tidak mengetahuinya. Walloohul Musta’an.

Selanjutnya, setelah seseorang telah mampu berilmu dan beramal kebaikan, maka hendaknya ia bersabar terhadap hal-hal yang akan menimpanya.

Dinukil dari sebagian riwayat secara makna bahwa suatu saat Luqman menaiki keledai didampingi anaknya yang berjalan kaki memasuki pasar. Ketika dilihat oleh orang-orang di pasar, ada yang mencelanya mengatakan: “sungguh orang tua yg tidak tau diri. Mengapa ia biarkan anaknya berjalan kaki?” Kemudian, Luqman pun turun dari keledainya dan menaikkan anaknya ke atas keledai dan melanjutkan perjalanannya. Ternyata ada lagi yang mencelanya seraya mengatakan: “sungguh anak yang tidak tahu berbakti, mengapa ia tega membiarkan ayahnya berjalan kaki?”. Kemudian Luqman pun menaiki keledai bersama anaknya dan melanjutkan perjalannya. Ternyata, ada lagi orang yang mencelanya mengatakan: “sungguh teganya mereka, mengapa keledai yg kecil itu dinaiki oleh 2 orang?”. Kemudian, akhirnya Luqman dan anaknya pun turun dari keledai dan berjalan sambil menuntun keledainya. Ternyata, masih saja ada yang mencelanya seraya berkata: “sungguh bodoh mereka berdua, mengapa ia biarkan keledainya tidak dinaiki?”.

Walhasil, kemudian Luqman pun menasihati anaknya bahwa apapun yang dilakukan oleh seseorang dari perkara kebaikan, maka pasti tetap akan ada orang-orang yang akan mencelanya. Sehingga hendaknya seseorang itu bersabar di dalam menjalani keta’atan kepada Allah. Oleh karena itulah di ayat 17 ini terdapat nasihat untuk bersabar terhadap apa yang kelak menimpa kita di dalam menjalani keta’atan.

G.   Perintah selanjutnya adalah perintah untuk senantiasa bergaul dengan manusia dengan baik, atau dalam kata lain adalah perbaikan akhlaq dan adab. Berikut ini ayatnya :

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًا‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ۬

وَٱقۡصِدۡ فِى مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَ‌ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٲتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ

Ayat 18 : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat 19 : Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Di dalam ayat ini terdapat beberapa contoh akhlaq dan adab yang luhur yaitu :

–     Senantiasa rendah hati kepada manusia

–     Bergaul dengan wajah yang baik terhadap manusia

–     Berjalan di muka bumi dengan cara yang baik dan tidak menyombongkan diri

–     Bersuara yang lunak di dalam berbicara yakni tidak perlu sampai meninggikan suara melampaui batas

–     Tidak berbicara dengan suara yang keras atau berteriak-teriak

Wahai manusia, dengan sedikit saja penjelasan dari sedikit ayat di dalam Al Qur’an di atas, masihkah kalian menganggap Islam sebagai agama yang keras dan tidak beradab ???

Wahai kaum Muslimin, dengan sedikit saja penjelasan dan pengajaran dari sedikit ayat di dalam Al Qur’an di atas, masihkah kalian akan menoleh kepada sumber-sumber rujukan selain Islam ???

Berpikirlah wahai orang-orang yang memiliki akal…!!!

Semoga sedikit tulisan ini bermanfaat bagi kita bersama di dalam memperbaiki diri-diri kita sendiri dan juga dalam rangka mendidik keluarga kita terutama anak-anak kaum Muslimin dengan pendidikan yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Nas’alullahassalamah wal ‘afiyah wa barokAllahu fikum.

~ Dinukil secara makna dari khutbah Jum’at di Masjid Darul Arqom Perumahan Babatan Indah Surabaya pada 16 Shofar 1432 H atau 21 Januari 2011 ~

Kategori:Sakinah
  1. Juni 14, 2013 pukul 9:58 am

    sebagai calon orang tua (kelak kalau sudah nikah dan dikaruniai anak, karena saya baru 19) saya sangat tertegun oleh tulisan ini.. ternyata banyak hal yang belum saya ketahui.. dan sedihnya banyk para orang tua yang kocar kacir gak “becus” mendidik anak2 nya.. oh malangnya negeri ini.. pemerintahnya tak perhatian kepada negara kecil di bawahnya (keluarga)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: