Beranda > Aqidah & Manhaj > Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah

Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah

Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah

Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin (Pengasuh Ponpes Al Anshor Veteran, Ngaglik , Sleman, DIY)

Sumber : Majalah Asy Syari’ah No.69/VI/1432 H/2011

Berbagai bencana yang terjadi, baik di masa silam maupun sekarang, menjadi salah satu tanda terbesar atas keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam waktu yang singkat, bencana yang menimpa seperti gempa, tsunami, banjir, badai (angin topan), gunung meletus, dan yang lain telah menghancurkan berbagai tempat di belahan muka bumi ini.Sekian ratus ribu jiwa melayang, baik manusia maupun hewan yang berada di daratan dan lautan.

Hanya beberapa detik saja bencana tersebut terjadi, sekian ribu mil daerah yang berada dari pusat bencana terkena imbasnya. Ini baru beberapa detik, bagaimana halnya jika lebih lama waktunya? Bencana ini terjadi di sebagian tempat, bagaimana jika terjadi di berbagai tempat bencana yang serupa?! Ini baru bencana bumi yang terjadi di dunia sekarang, bagaimana halnya dengan bencana yang akan terjadi pada hari kiamat yang akan datang?!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya berkumpul (di padang mahsyar) menghadap kehadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”

(Surat Ibrohim ayat 48)

“Apabila matahari digulung, apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan”

(Surat At Takwir ayat 1-3)

“Apabila langit terbelah, apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan diluapkan”

(Surat Al Infithor ayat 1-3)

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya”

(Surat Al Zalzalah ayat 1-2)

Jika berbagai bencana dan musibah terjadi, tidak bisa dipungkiri, sebuah kepastian di hari kemudian -hari yang semua manusia tidak akan bisa menghindar dari ketetapan yang telah ditentukan- akan terjadi berbagai peristiwa yang tidak terbayangkan.

Semoga semua yang berlalu menjadi pelajaran, bukan hanya catatan atau dongeng. Hendaknya semua yang telah berlalu itu mewariskan sikap dalam diri seorang Muslim yang beriman untuk kelangsungan hidup dirinya dan semua insan, sesuatu yang bermanfaat untuk pribadi, agama, dan umat secara keseluruhan.

Beberapa sikap yang hendaknya dimiliki oleh seorang Muslim dalam menghadapi musibah adalah sebagai berikut :

1. Menganggapnya sebagai pelajaran, peringatan, dan bukan sekedar fenomena alam biasa

Berbagai bencana, perubahan alam, dan adzab yang terjadi di zaman sekarang, seperti gempa, badai, banjir, kekeringan, kemarau, paceklik, kelaparan, dan kejadian (bencana) yang baru, hari demi hari semakin bertambah. Sudah sepantasnya setiap Muslim mengambil pelajaran darinya.

Nasihat dan peringatan dari Al Qur’an akan lebih mudah menggerakkan hati yang hidup dan membekas padanya. Pemiliknya akan menetapkan segala menetapkan segala kenikmatan yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengakui kekurangan dalam memenuhi hak-NYA.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Dan tiadalah yang mendapat pelajaran itu kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)”

(Surat Al Mu’min ayat 13)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya”

(Surat Qof ayat 37)

Adapun seseorang yang mati hatinya karena tertutupi syubhat, berkarat karena syahwat, ia tidak akan tergerak dan terpengaruh oleh nasihat atau peringatan. Tidak pula ia merasa takut terhadap suatu ancaman, hingga adzab tiba-tiba menimpanya dalam keadaan tidak sadar. Bahkan, karena seringnya terjadi bencana dan susul menyusul, hati manusia banyak yang mati, meskipun jasadnya hidup. Ketahuilah, berbagai bencana yang terjadi, petaka dan adzab yang menimpa, ditampakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menakut-nakuti hamba-NYA.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“(Dan) tidaklah Kami memberikan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti”

(Surat Al Isro’ ayat 59)

Bencana banjir, banyak orang berkomentar : “Sekarang memang lagi musimnya (hujan)!” Bencana gempa, orang mengatakan : “ini proses alam semata”. Akhirnya, banyak bencana yang melanda, namun sedikit manusia yang memperhatikan dan mengambil pelajaran. Andaikata mereka mau memperhatikan dengan seksama kerugian yang diakibatkan sebuah bencana, terhadap keluarga, rumah, dan harta, niscaya mereka akan mengetahui kadar musibah yang telah menimpa.

Apabila di antara kita ada yang tertimpa musibah dengan meninggalnya salah seorang keluarganya atau orang yang disayanginya, ia akan sangat sedih. Hatinya akan selalu teringat, sampai waktu yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Andai sempat terlupa, tentu akan teringat lagi pada waktu yang lain. Bahkan, bisa jadi sampai terbawa dalam mimpi. Mungkin di dalam tidurnya sering bermimpi melihat atau berjumpa dengannya. Ini baru kehilangan satu nyawa, bagaimana kalau semua keluarganya binasa karena suatu bencana yang menimpa, tinggal sebatang kara, tanpa famili dan saudara?

Kalau saja seorang di antara kita ditimpa kerugian separuh hartanya, ia akan merasakan kesusahan untuk mencukupi kebutuhannya. Dadanya pun terasa sesak dan sempit. Kelezatan dan kenyamanan tidur, makan, dan minum, tidak ia dapatkan. Bagaimana dengan orang yang kehilangan seluruh rumah dan hartanya? Di tengah hamparan yang luas, sendiri ia berada, dalam keadaan linglung, miskin, dan tidak punya apa-apa. Padahal sebelumnya ia seorang yang mempunyai harta, rumah, dan keluarga ?!

Sebab itu, apabila seseorang tidak mengambil pelajaran dengan apa yang dia lihat, dia dengar, dari bencana yang terjadi, kapan dia akan mengambil pelajaran dan menjadikannya sebagai peringatan ?!

2. Tidak merasa aman

Seringkali seseorang merasa aman dari suatu musibah atau bencana karena merasa bahwa dirinya berada di radius aman.

Hal ini mengingatkan kita akan kisah yang terjadi pada masa silam. Kisah tentang putra Nabi Nuh ‘alaihissalam yang kafir -sebagian menyebutkan namanya Kan’an, sedangkan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan namanya adalah Yam- ketika terjadi luapan air yang terpancar dari permukaan bumi dan munculnya topan hingga terjadi gelombang yang sangat tinggi laksana gunung. Nabi Nuh ‘alaihissalam memerintahkan mereka semua naik ke dalam bahtera yang telah dibuatnya. Hanya saja, salah satu anak Nabi Nuh yang kafir berkata, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku (baca: di radius aman)”. Aman sebatas pengetahuan dan perkiraan seseorang tidak menjamin aman dari ancaman dan musibah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“(Dan) Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Robb-ku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Dan) bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil. “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah berada bersama orang-orang kafir!” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari adzab Allah selain Dia saja Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

(Surat Hud ayat 41-43)

Beragam bencana belum lama melanda negri kita: gempa di Papua, tsunami di Mentawai-Sumatera, dan letusan Gunung Merapi di Pulau Jawa. Banyak korban terjadi meskipun mereka menyangka telah berada pada radius aman. Mereka mengira bencana telah berlalu, tidak mungkin terulang, atau terjadi musibah susulan yang baru. Atau sesumbar mereka, musibah tidak mungkin mengarah kepada dirinya.

Ketahuilah, musibah seringkali datang dalam keadaan tiba-tiba. Ia datang dari tempat yang tidak terduga, dan dalam keadaan tidak disangka-sangka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Maka apakah penduduk negri-negri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Ataukah penduduk negri-negri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik (waktu dhuha) keteika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah orang-orang yang merasa aman dari adzab Allah melainkan orang-orang yang merugi.”

(Surat Al A’rof ayat 97-99)

3. Bencana adalah suatu ketetapan

Yang harus diyakini oleh setiap Muslim dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam hal ini, yaitu prinsip bahwa segala bencana yang menimpa sesungguhnya telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum alam dan seisinya tercipta. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keumuman qodho dan qodar-NYA dalam ayat berikut (yang artinya) :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

(Surat Al Hadid ayat 22)

Ayat ini mencakup seluruh musibah (bencana) yang menimpa manusia, baik berupa kebaikan maupun keburukan, yang kecil maupun yang besar. Semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Hal ini merupakan perkara yang agung, akal tidak mampu mengetahui keseluruhannya. Bahkan, hati seorang yang berakal pun akan bingung memikirkannya. Meskipun demikian, semua itu adalah mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan hal ini kepada para hamba-NYA supaya mereka menetapkan suatu prinsip (bahwa segala bencana yang menimpa, semuanya telah ditentukan, tertulis di Lauhul Mahfuzh), dan menjadikannya sebagai pijakan (dalam menyikapi segala musibah yang menimpa, baik berupa kebaikan maupun keburukan).

Semua itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga manusia tidak berduka cita terhadap apa yang telah mereka lihat namun luput dari mereka karena segalanya telah ditetapkan. Juga agar mereka tidak terlalu gembira dengan apa yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kegembiraan yang berlebihan, yang menyebabkan kesombongan dan kejelekan sehingga lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua itu semata-mata hanya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bukan atas daya dan upaya dirinya. Jadi, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala karunia-NYA.

Pada ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa, baik pada badan, harta, anak, maupun segala yang dicintai, adalah disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“(Dan) apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).”

(Surat Asy Syuro ayat 30)

Jika berbagai bencana yang menimpa, musibah yang melanda, sebabnya adalah kesalahan manusia, itu adalah salah dan dosa siapa?!

Muslim yang beriman tidak akan menyatakan bahwa ini semua adalah karena kesalahan si fulan dan fulan, atau si A dan si B. Jika masing-masing introspeksi diri, melihat kesalahan pribadi, mereka akan mengetahui bahwa tidaklah musibah menimpa suatu negri melainkan disebabkan oleh kesalahan dan dosa penduduknya.

4. Sikap lapang dada

Telah disebutkan di atas bahwa seluruh musibah dan bencana telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum segalanya diciptakan dan segala sesuatu yang telah Dia Subhanahu wa Ta’ala tetapkan, pasti akan terjadi dengan izin-NYA. Oleh karena itu, seorang Muslim harus ridho dengan ketetapan-NYA dan tidak boleh marah serta mencela-NYA. semuanya harus dihadapi dengan kerelaan, kesabaran, kelapangan dada, tidak berkeluh kesah atau larut dalam kegelisahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepda hatinya. (Dan) Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(Surat At Taghobun ayat 11)

Ibnu ‘Abbas rodhiAllahu ‘anhuma berkata (yang artinya): “Maksud ayat di atas “dengan izin Allah” adalah dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni taqdir (ketentuan) dan kehendak-NYA. Artinya, barangsiapa yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyadari bahwa semua itu terjadi karena keputusan dan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qodho dan qodar), kemudian dia bersabar sekaligus mengharap pahala semata-mata dari-NYA, tunduk kepada keputusan-NYA, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada hatinya, keyakinanyang benar. Terkadang, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengganti sesuatu yang hilang darinya dengan yang semisal atau bahkan yang lebihbaik darinya.”

5. Tidak berburuk sangka

Hendaknya seseorang berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas musibah yang menimpa dan menghilangkan buruk sangka kepada-NYA.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan dari kamu telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah”

(Surat Ali ‘Imron ayat 154)

“Supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah”

(Surat Al Fath ayat 6)

Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiAllahu ‘anhu, beliau mendengar dari Nabi shollallahu ‘alahi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan dia dalam keadaan berbaik sangka  kepada Allah” (Hadits riwayat Muslim rohimahullah)

Al Qurthubi rohimahullah berkata (yang artinya): “Kematian mengandung peringatan dan persiapan. Sudah sepantasnya seseorang menjadikan dirinya senantiasa takut (kepada Allah) atas dosa yang telah dia perbuat dan sangat berharap ampunan dari Robb-nya. Rasa takut di waktu sehatnya hendaknya lebih diperkuat, karena ia tidak tahu dengan apa hidupnya akan berakhir (kebaikan atau keburukan,pen). Hendaknya pula rasa harap lebih diperkuat pada dirinya di saat kematian akan datang, supaya dapat berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan dia dalam keadaan berbaik sangka  kepada Allah”, yaitu bahwa Dia akan merohmati dan mengampuni dosanya.”

6. Istirja’

Sa’id bin Jubair dan Muqotil bin Hayyan berkata (yang artinya): “makna ayat (yakni Surat At Taghobun ayat 11) “barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”, yakni memohon perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengucapkan : “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-NYA lah kita kembali).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya) :

“(Dan) berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”

(Surat Al baqoroh ayat 155-156)

Sebuah kisah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari ‘Auf bin ‘Abdillah. Ia berkata bahwa suatu ketika ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiAllahu ‘anhu berjalan dan tiba-tiba terputus tali sandalnya. Spontan Beliau berkata : “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Lalu dikatakan, “hanya karena hal seperti ini engkau mengucapkan (kalimat itu)?” Lalu beliau menjawab, “ini termasuk musibah”.

7. Sedih dan menangis yang sewajarnya

Al Imam Al Bukhori rohimahullah menyebutkan dalam Shohih-nya dalam “Kitabul Janaiz” sebuah judul: Bab ucapan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam “sesungguhnya kami sedih berpisah denganmu”. Kemudian menyebutkan hadits dari Anas bin Malik rodhiAllahu ‘anhu (yang artinya) :

Kami pergi bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menemui Abu Saif, suami inang (ibu susuan, red) dari Ibrohim (putra Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam), Lalu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam meraih Ibrohim lalu menciumnya. Kemudian kami masuk ke rumah Abu Saif. Saat itu Ibrohim menghembuskan nafasnya yang terakhir. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berlinangan air mata. ‘Abdurrohman bin ‘Auf berkata, ” Ya Rosulullah, ternyata Anda pun menangis?” Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah (tangisan) rohmat.” Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam tetap menangis dan berkata, “sesungguhnya matta menangis, hati bersedih, namun kami tidaklah mengatakan apapun selain yang diridhoi Robb kami, wahai Ibrohim. Sesungguhnya kami sedih berpisah denganmu.”

Menurut Ibnu Baththol rohimahullah dan yan glainnya, hadits ini menjelaskan tentang tangisan dan kesedihan yang diperbolehkan, yaitu menangis dengan berlinang air mata dan kelembutan hati (sedih) tanpa kemurkaan terhadap ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al Hafizh Ibnu Hajar rohimahullah berkata (yang artinya), “hadits ini mengandung faedah bolehnya memberitakan kesedihan, namun lebih utama menyembunyikannya.”

Pada bab yang lain, Al Imam Al Bukhori rohimahullah berkata, “Bab: Siapa Yang Tidak Memperlihatkan Tanda Dukacita atau Kesedihan Ketika Ditimpa Oleh Musibah”, kemudian beliau menyebutkan hadits Anas bin Malik rohimahullah (yang artinya) :

Salah seorang anak Abu Tholhah sakit kemudian meninggal dunia. Pada saat itu Abu Tholhah sedang tidak berada di rumah. Ketika istrinya (Ummu Sulaim) melihat anaknya telah meninggal, ia segera mengurusnya (memandikan dan mengkafani) serta membaringkannya di sebuah tempat di rumahnya. Ketika Abu Tholhah tiba, ia bertanya, “Bagaimana keadaan anak kita?” Istrinya menjawab, “Ia sekarang lebih tenang. Aku berharap ia menemukan kedamaian.” Lalu Abu Tholhah melewatkan malam itu (bersama istrinya) dan pagi harinya mandi (junub). Ketika ia bersiap untuk pergi, istrinya memberitahunya bahwa anaknya telah meninggal. Abu Tholhah lalu sholat shubuh bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahu Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam tentang yang terjadi pada mereka berdua. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi berkah pada malam kalian berdua.” (Sufyan mengatakan) bahwa seorang lelaki dari suku Anshor berkata, “Mereka (yakni Abu Tholhah dan Ummu Sulaim) lalu dikaruniai sembilan anak laki-laki yang semuanya hafal Al Qur’an.”

8. Sabar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

(Surat Az Zumar ayat 10)

Al Imam Al Bukhori rohimahullah dalam Shohih-nya berkata, “Bab:Sabar di Saat Awal Kali Musibah Menimpa”.

Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah berkata (yang artinya), “yaitu pada waktu pertama kali musibah menimpa seseorang. Hal itu diserupakan dengan benturan, tabrakan, karena musibah itu menimpa (menabrak) manusia, seolah-olah ada sesuatu yang menabraknya. Barangsiapa yan gtertimpa musibah dan mampu bersabar di awal kejadian, maka ini adalah kesabaran sempurna yang hakiki. Adapun yang tidak mampu bersabar di awal musibah menimpa, kemudian setelah itu ia tersadar, mampu menahan diri dari kegelisahan, keputusasaan, yang seperti ini juga dikatakan sabar, tetapi bukan sabar yang sempurna yang pantas dipuji dengan pujian yan gsempurna pula.”

Dari Abu Umamah rodhiAllahu ‘anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Beliau bersabda (yang artinya) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai Bani Adam, jika kamu bersabar dan mengharapkan pahala semata saat pertama kali musibah terjadi, tidak ada balasan yang Aku ridhoi bagimu selain surga.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani rohimahullah)

9. Sikap peduli

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara”

(Surat Al Hujurot ayat 10)

“(Dan) tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketaqwaan.”

(Surat Al Ma’idah ayat 2)

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Barangsiapa yang meringankan kesulitan saudaranya sesama mu’min dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meringankan kesulitannya di hari kiamat.” (muttafaqun ‘alaihi, dari Abu Huroiroh rodhiallahu ‘anhu)

Satu perkara yang tidak boleh ditinggalkan terhadap saudara Anda yang Muslim yan gtertimpa musibah adalah kepedulian terhadap mereka. Kepedulian tidak hanya diukur dengan materi saja. Namun, do’a dan dorongan motivasi untuk tetap sabar serta ridho akan taqdir-NYA juga tidak kalah nilainya dengan bantuan materi.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Tidaklah seorang hamba Muslim yang mendo’akan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut, melainkan malaikat juga akan berdo’a untuknya: “dan bagimu (seperti apa yang engkau mintakan untuk saudaramu).” (Hadits Riwayat Muslim)

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: