Beranda > Aqidah & Manhaj > Wahai Saudaraku…Bersyukurlah Kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla

Wahai Saudaraku…Bersyukurlah Kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla

Wahai Saudaraku….Tidakkah Engkau Bersyukur Kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla ???

bismillaahirrohmaanirrohiim.
assalaamu’alaykum.

alhamdulillaah, washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaah wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wasallam. wa ba’du.

Saudaraku (rohimakumullooh), cobalah engkau bayangkan kondisi berikut ini :

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa semua diri kita telah Allah Ta’ala ciptakan di dunia ini melalui sebab kedua orang tua kita sejak masih berupa nuthfah yang kemudian menjadi janin di dalam rahim ibu kita, beranjak menjadi bayi yang dilahirkan, kemudian beranjak lagi menjadi anak kecil, sampai seterusnya menjadi sosok manusia dewasa sekarang ini.
Bisakah kita menghitung jasa, kebaikan, dan segala kenikmatan yang telah diberikan oleh kedua orang tua kita sejak kita berupa janin hingga dewasa sekarang ini???
Saya yakin kita semua tidak akan bisa menghitungnya, dikarenakan begitu banyaknya jasa, kebaikan, dan kenikmatan yang telah diberikan oleh orang tua kita kepada diri-diri kita ini.

Kita semua sebagai manusia yang memiliki akal dan hati yang bersih pun juga sepakat bahwa sudah sepantasnya bagi sang anak tersebut untuk senantiasa patuh dan taat kepada kedua orang tuanya di dalam perintah dan larangan mereka (yang bertujuan demi kebaikan sang anak itu sendiri), sebagai wujud rasa syukur dan bakti sang anak kepada kedua orang tuanya atas segala jasa, kebaikan, dan kenikmatan dari mereka tersebut.

Dan bagi sang orang tua, apabila sang anak yang sudah mereka berikan jasa, kebaikan, dan kenikmatan tersebut ternyata tumbuh dewasa menjadi sosok anak yang bersyukur dan berbakti kepada orang tua, tentunya sang orang tua tersebut akan merasa senang dan senantiasa akan semakin menyayangi sang anak yang memiliki sifat demikian. Bahkan, seluruh manusia pun sepakat akan memberikan pujian yang baik terhadap sang anak yang berbuat demikian terhadap orang tuanya.

Bukankah demikian wahai Saudaraku???

Wahai Saudaraku (rohimakumullooh), sekarang cobalah engkau bayangkan kondisi lainnya :

Dengan kondisi yang sama seperti di atas, ternyata sang anak tumbuh dewasa menjadi sosok anak yang tidak bersyukur dan tidak berbakti kepada orang tuanya. Ia tumbuh menjadi sosok pembangkang terhadap perintah dan larangan orang tuanya. Padahal sang anak telah mengetahui bahwa seluruh perintah dan larangan orang tuanya adalah demi kebaikan sang anak itu sendiri. Bahkan, ia juga telah berani melawan terhadap orang tuanya. Dan parahnya lagi, ia justru malah memberikan rasa syukur, keta’atan dan baktinya kepada orang lain yang sama sekali tidak pernah memberikan kebaikan padanya.

Nah…terhadap sosok sang anak yang seperti ini, bagaimanakah pandangan engkau, wahai Saudaraku ???

Maka biarkanlah saya menjawab :
Sungguh…demi Allah, kita semua akan sepakat untuk menyebut bahwa sang anak tersebut adalah anak yang jelek, tercela, durhaka, tidak tahu rasa bersyukur, dan sebutan-sebutan jelek lainnya. Dan sudah sepantasnya pula apabila sang orang tua tersebut kemudian murka terhadap sang anak yang demikian.

Bukankah demikian wahai Saudaraku ??? Adakah di antara kita yang akan memuji anak yang demikian ??? Tentunya tidak.

Wahai Saudaraku (rohimakumullooh),

Hal di atas adalah permisalan kehidupan dunia antara seorang anak dengan orang tuanya. Jika kondisinya demikian wahai Saudaraku, maka bagaimanakah menurut engkau jika permisalannya adalah antara seorang hamba yang lemah yakni manusia dengan Robb-nya yakni ALLAH ‘Azza wa Jalla ???

Jasa/kebaikan/kenikmatan yang telah diberikan oleh ALLAH ‘Azza wa Jalla kepada semua hamba-NYA tentunya jauh lebih besar dibandingkan dengan jasa/kebaikan/kenikmatan kedua orang tua kepada seorang anak. Padahal, kita pun akan kesulitan untuk menghitung jasa/kebaikan/kenikmatan kedua orang tua kepada seorang anak dikarenakan sangat banyaknya. Lantas, bagaimana pula kita bisa menghitung jasa/kebaikan/kenikmatan yang telah ALLAH ‘Azza wa Jalla berikan kepada semua hamba-NYA ??? Hal ini sebagaimana yang ALLAH ‘Azza wa Jalla firmankan :

وَءَاتَٮٰكُم مِّن ڪُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُ‌ۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ‌ۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَظَلُومٌ۬ ڪَفَّارٌ۬
Dan Dia telah memberikan kepada kalian (semua keperluan) dan segala apa yang kalian mohonkan kepadaNya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (nikmat-nikmat Allah). [Ibrohim ayat 34]
Dikarenakan hal ini pula lah, di dalam beberapa firmanNya dalam Al Qur’an, ALLAH ‘Azza wa Jalla selalu menggandengkan perintah untuk beribadah hanya kepadaNYA dengan perintah untuk berbakti kepada orang tua. Hal ini sebagaimana dalam firmanNYA :
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. [Luqman ayat 13-14]
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًا‌ۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡڪِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ۬ وَلَا تَنۡہَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً۬ ڪَرِيمً۬ا
Dan Robb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah selain kepada Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia [Al Isroo’ ayat 23]
Di dalam surat Al Isroo’ ayat 23 tersebut ALLAH ‘Azza wa Jalla menggunakan kata Robb ketika menggandengkannya dengan perintah berbakti kepada orang tua, dan tidak menggunakan kata “ALLAH” atau “Ar Rohmaan” atau lainnya. Hal ini sungguh tepat dan indah dikarenakan makna kata Robb adalah Al Kholiq (Pencipta), Al Maalik (Penguasa/Pemilik), dan Al Mudabbir (Pengatur). Pada penggunaan kata Robb ini terdapat pula makna tersirat bahwa dikarenakan orang tua jugalah yang merupakan sebab penciptaan seorang anak, penguasa/pemilik seorang anak, dan juga pengatur seorang anak dengan segala kenikmatan yang diberikan kepada anaknya. Sehingga, seseorang yang membaca ayat ini akan paham bahwa memang sudah sepantasnyalah bagi seorang manusia itu untuk memberikan peribadatannya hanya kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla semata sebagaimana halnya sudah sepantasnya pula bagi seorang anak untuk memberikan baktinya kepada orang tuanya.

Wahai Saudaraku (rohimakumullooh),

Jika engkau telah mengetahui demikian keadaannya antara seorang hamba dengan ALLAH ‘Azza wa Jalla, maka sungguh sudah sepantasnyalah bagi kita semua untuk senantiasa bersyukur kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla dengan memberikan seluruh bentuk keta’atan berupa peribadatan kita hanya kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla semata, dan juga senantiasa mematuhi semua perintahNya dan menjauhi laranganNya dikarenakan semua perintah dan larangan yang ALLAH ‘Azza wa Jalla tetapkan kepada hambaNYA adalah demi kebaikan si hamba itu sendiri.

Adapun secara ringkasnya, bentuk rasa syukur seorang hamba terhadap ALLAH ‘Azza wa Jalla ada 3 bentuk yakni :
1. dengan hati, yakni dengan bentuk kita meyakini bahwa seluruh nikmat tersebut hanyalah berasal dari karunia ALLAH ‘Azza wa Jalla ;
2. dengan lisan, yakni dengan bentuk kita banyak memuji ALLAH ‘Azza wa Jalla atas segala nikmatNya misalnya dengan mengucapkan “Alhamdulillaah” (segala puji hanya bagi Allah) atau lainnya ;
3. dengan anggota badan, yakni dengan bentuk kita beribadah/ber’amal dengan seluruh anggota badan dan menggunakannya dalam ketaatan kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla.

Dan sungguh, apabila kita telah mewujudkan rasa syukur dengan benar maka pasti akan ALLAH ‘Azza wa Jalla tambah kenikmatan-kenikmatan lainnya atas diri kita dan demikian pula sebaliknya. Dan sungguh, bersyukurnya seorang hamba terhadap ALLAH ‘Azza wa Jalla adalah juga demi kebaikan hamba itu sendiri. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan-NYA :
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ وَلَٮِٕن ڪَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ۬
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan kalian memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya ‘adzab-Ku sangatlah pedih.” [Ibrohiim ayat 7]
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَـٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِ‌ۚ وَمَن يَشۡڪُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ۬
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman ayat 12]

Wahai Saudaraku (rohimakumullooh),

Adapun jika ternyata engkau malah memberikan sedikit saja bentuk keta’atanmu berupa peribadatan kepada selain ALLAH ‘Azza wa Jalla, maka sungguh engkau bukanlah disebut sebagai hamba yang bersyukur meskipun engkau mengucapkan “alhamdulillaah” seribu kali. Hal ini sebagaimana permisalan seorang anak durhaka di atas yang malah memberikan keta’atannya kepada selain orang tuanya yang telah memberikan banyak kebaikan padanya.

Dan sudah selayaknya pula jika hamba yang demikian keadaannya disebut sebagai hamba yang durhaka, tercela, tidak tahu rasa bersyukur, dan sebutan jelek lainnya. Dan apabila kemudian kelak hamba tersebut disiksa disebabkan kedurhakaannya, maka memang sudah sepantasnya pula. Padahal, telah kita ketahui bersama bahwa justru rohmat ALLAH mendahului murkaNYA.

Bayangkanlah wahai Saudaraku, semua diri kita pasti berbuat kesalahan dan kelalaian kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla. Seandainya ALLAH berkehendak untuk langsung meng’adzab kita, maka sungguh sangat pantas diri kita untuk menerima ‘adzabNya tersebut. Tapi ternyata, justru sifat rohmat ALLAH lah yang kita rasakan bersama. Dia ternyata masih terus dan terus memberikan segala kenikmatan kepada kita untuk mau kembali bertaubat kepadaNya. Padahal kalaupun semua manusia ingkar terhadapNya, maka sungguh hal itu tidak sedikitpun mengurangi Maha Mulia dan Maha Kaya nya ALLAH.
Maka…tidakkah kita bersyukur kepadaNya akan hal ini wahai Saudaraku ???

Ingatlah akan firman NYA :
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَـٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِ‌ۚ وَمَن يَشۡڪُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ۬
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman ayat 12]
وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ حَمِيدٌ
Dan Musa berkata: “Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Ibrohiim ayat 8]

Wahai Saudaraku (rohimakumullooh),

Setelah engkau mengetahui permisalan di atas, tentunya akan dapat sedikit engkau pahami pula mengapa dosa syirik (yakni menjadikan sekutu bagi ALLAH dalam segala bentuk peribadatan) merupakan dosa terbesar yang tidak terampuni dan yang bisa membuat pelakunya kekal di neraka.
Kita semua telah sepakat bahwa sudah sepantasnya jika orang tua yang telah memberikan jasa/kebaikan/kenikmatan yang banyak terhadap seorang anak (yang mana kemudian anak tersebut tumbuh menjadi anak yang tidak bersyukur dan tidak menta’ati orang tuanya dan malah memberikan keta’atannya kepada selain orang tuanya) untuk kemudian murka dan menghukum sang anak durhaka tersebut dengan hukuman yang berat.
Apabila demikian, tentunya kita pun akan sepakat bahwa sudah sepantasnya pula apabila ada seorang hamba yang durhaka terhadap nikmat-nikmat yang sangat banyak dari ALLAH ‘Azza wa Jalla untuk kemudian dimurkaiNYA dan dihukum dengan hukuman/siksa yang sangat berat pula. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankanNYA :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada selainNYA, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-NYA. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. [An Nisaa’ ayat 116]

Oleh karena itulah wahai Saudaraku, hendaknya kita semua mensyukuri segala kenikmatan yang telah ALLAH ‘Azza wa Jalla berikan kepada kita yakni dengan hanya memberikan keta’atan kita berupa peribadatan hanya kepadaNYA semata, senantiasa menta’ati perintahNYA, dan menjauhi laranganNYA. Dan janganlah sedikitpun kita berikan bentuk keta’atan kita berupa berbagai bentuk peribadatan kepada selain ALLAH ‘Azza wa Jalla meskipun kepada malaikat yang mulia, nabi yang mulia, para wali-NYA dari kalangan orang-orang sholih, apalagi kepada yang lebih jelek daripada itu berupa jin-jin dan benda-benda mati yang dikeramatkan.
Dan ketahuilah bahwa bentuk peribadatan itu ada berbagai macam seperti sholat, menyembelih hewan, thowaf, berdo’a, nadzar, meminta barokah, tawakkal, bersumpah, dan lainnya. Sehingga, janganlah sekali-kali engkau memberikan segala macam bentuk peribadatanmu kepada selain ALLAH ‘Azza wa Jalla.
Wahai Saudaraku (rohimakumullooh),

Demikianlah sedikit nasihat dariku untukmu. Semoga hal ini menjadi manfaat bagiku dan juga bagimu, serta menjadi tabungan amalan kebaikan kelak di hari yang pada saat itu tidak lagi bermanfaat harta dan hubungan kekerabatan. Amin.
Washshollalloohu ‘alaa Muhammad, walhamdulillaahirobbil ‘aalamiin.
~dari Saudaramu yang mencintaimu karena ALLAH~

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Ayu
    April 12, 2011 pukul 11:37 am

    iya. Dengan bersyukur, maka langkah kita akan lebih mudah dalam beribadah. Apa pun yang kita lakukan itu ibadah juga.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: