Beranda > Aqidah & Manhaj > Jawaban Singkat Bagi Kaum Atheis dan Yang Semisalnya

Jawaban Singkat Bagi Kaum Atheis dan Yang Semisalnya

Jawaban Singkat Bagi Kaum Atheis dan Yang Semisalnya

Dinukil secara makna dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Al Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir (Ibnu Katsir) rohimahullah yang lebih dikenal dengan kitab “Tafsir Ibnu Katsir” di saat membahas Surat Al Baqoroh ayat 21-22 yang artinya :

21.  Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.
22.  Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian; Karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (dalam peribadahan), padahal kamu mengetahui.

Disebutkan bahwa ayat tersebut merupakan salah satu dalil yang menegaskan perintah bertauhid (yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang diibadahi) tanpa menjadikan tandingan/sekutu di dalam peribadahan tersebut.
Disebutkan pula bahwa ayat tersebut juga sebagai salah satu dalil yang menetapkan adanya Sang Pencipta yakni Allah Ta’ala. Karena, barangsiapa yang memperhatikan semua ciptaan yang ada di alam ini baik yang di bagian atas bumi maupun bagian bawah bumi, adanya perbedaan bentuk/warna/karakter serta manfaatnya dengan sangat serasi dan tepat, maka seseorang pasti akan mengetahui adanya kekuasaan Sang Penciptanya.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang ‘Arob badui (yakni orang ‘Arob pedalaman) ketika ditanya: “Apakah bukti yang menunjukkan adanya Robb (Sang Pencipta, Penguasa, dan Pengatur) ?” Maka mereka menjawab: “subhanallah, kotoran unta adalah bukti yang menunjukkan adanya unta, dan jejak kaki adalah bukti yang menunjukkan adanya orang yang pernah berjalan melewatinya. Bukankah langit memiliki gugusan bintang, bumi memiliki jalan-jalan yang luas, dan lautan memiliki gelombang? Tidakkan yang demikian itu sebagai bukti yang menunjukkan kepada kalian akan adanya Al Lathiful Khobir (Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui) ???”

Juga dinukilkan dari Imam Malik rohimahullah secara makna, bahwa Harun Al Rosyid pernah bertanya kepadanya mengenai hal tersebut, maka ia pun memberikan bukti tentang hal itu yakni dengan adanya berbagai perbedaan bahasa dan suara.

Juga dinukilkan dari Imam Abu Hanifah rohimahullah secara makna, bahwa sebagian orang-orang zindiq yang atheis pernah bertanya kepadanya tentang keberadaan Allah, maka Abu Hanifah pun mengatakan secara makna kepada mereka : “Tinggalkanlah aku sendiri. Sungguh saat ini aku sedang memikirkan sesuatu hal yang telah diberitakan kepadaku bahwa di sana ada sebuah kapal di lautan yang sarat dengan berbagai barang dagangan, dan tidak ada satu pun yang menjaga dan mengendalikan kapal tersebut. Akan tetapi, ternyata diberitakan bahwa kapal tersebut tetap dapat berlayar mengarungi lautan tanpa nahkoda dan terombang ambing di tengah besarnya gelombang lautan dan hingga akhirnya kapal tersebut berhasil melalui gelombang tersebut dan terus dapat berlayar tanpa nahkoda.” Maka orang-orang zindiq tersebut pun berkata: “Sungguh berita tersebut adalah suatu hal yang tidak mungkin dikatakan oleh orang yang berakal.” Lalu Abu Hanifah berkata: “Aduhai kalian, jika demikian jawaban kalian, maka apakah alam raya ini beserta isinya yang serba teratur maka kalian katakan sebagai sesuatu yang tidak ada Pencipta dan Pengaturnya?” Maka orang-orang zindiq tersebut pun tercengang keheranan hingga akhirnya mereka menyadari kesalahan dan kembali kepada kebenaran dan masuk Islam.

Juga dinukilkan dari Imam Asy Syafi’i rohimahullah secara makna bahwa beliau pernah ditanya pula tentang hal ini. Maka beliau menjawab: “Lihatlah, ini adalah daun murbai yang memiliki satu rasa. Bila ia dimakan oleh ulat sutra maka ia akan menjadi serat sutra. Bila ia dimakan oleh lebah, maka ia akan menjadi madu. Bila dimakan oleh kambing, maka ia akan menjadi kotoran. Bila dimakan oleh rusa, maka ia akan menjadi wewangian misk. Padahal, semua itu berasal dari satu materi.”

Juga dinukilkan dari Imam Ahmad rohimahullah secara makna, bahwa beliau juga pernah ditanya tentang hal tersebut dan menjawab: “Lihatlah telur ini. Ini adalah benteng yang sangat kokoh lagi tidak berpintu dan tidak ada jalan masuk sama sekali. Bagian luarnya seperti perak dan bagian dalamnya seperti emas. Dengan kondisi yang seperti ini, ternyata tiba-tiba dinding benteng tersebut pecah dan dari dalamnya keluarlah binatang yang dapat melihat dan mendengar serta memiliki bentuk yang elok serta suara yang indah (yakni anak ayam).”

=====================================================================================

Faedah lain dari nukilan di atas adalah bahwa seorang ‘ulama yang memiliki ‘ilmu agama yang luas di dalam membantah kekeliruan orang lain maka cukup bagi para ‘ulama tersebut menjawab dengan jawaban yang singkat, lugas, dan tepat sasaran di dalam menyadarkan kekeliruan seseorang. Dan sungguh berbeda dengan kita yang miskin ‘ilmu ini. Seringkali di dalam membantah kekeliruan orang lain, jawaban yang kita berikan sangat bertele-tele dan tidak tepat ke sasaran. Maka dengan ini, makin jelaslah bagi kita betapa pentingnya menuntut ‘ilmu agama.

Dinukilkan pula secara makna tentang kisah seorang ‘ulama di Sa’udi ‘Arobia sebagaimana yang pernah diceritakan oleh salah seorang ustadz yang pernah belajar di Universitas Islam Madinah bahwa ada seorang ‘ulama ditanya oleh seorang yang berkeyakinan atheis dari negri Barat: “Wahai kalian orang Islam, apabila kalian meyakini bahwa Tuhan itu ada, maka tolong tunjukkan kepada saya bagaimana bentuk Tuhan Anda.” Maka dengan lugas ‘ulama tersebut balik bertanya: “Wahai Anda, apakah Anda memiliki akal ?” Maka orang Barat tersebut (yang memang merupakan orang yang sok memuja akal) menjawab: “Hai, tentu saja saya memiliki akal.” Maka sang ‘ulama tadi kembali bertanya: “Apabila Anda meyakini bahwa Anda memiliki akal, maka tolong tunjukkan kepada saya bagaimana bentuk akal Anda, bagaimana warnanya, dan bagaimana baunya.”

Dari nukilan di atas, jelaslah bahwa fithroh manusia adalah meyakini adanya Allah Sang Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam raya ini, sebagaimana disebutkan pada jawaban orang ‘Arob badui di atas. Maka, sungguh kita sangat heran apabila di zaman ini yang katanya zaman modern ternyata masih ada orang-orang atheis yang tidak mengakui dan tidak meyakini adanya Allah Ta’ala??? Di manakah mereka meletakkan akal sehat nya???

Termasuk pula dalam hal ini adalah pertanyaan bagi kaum yang menyembah sesosok makhluq (yang dilahirkan dari rahim seorang wanita, yang butuh makan dan minum, dan sifat manusia lainnya) yang dianggap sebagai tuhan atau “titisan” tuhan atau “anak” tuhan yang mana mereka meyakini bahwa makhluq tersebut mati di tiang salib. Jika demikian keadaannya, maka pantaskah sosok “tuhan” begitu lemahnya sehingga untuk menyelamatkan dirinya sendiri pun ia tidak mampu ??? Jika demikian keadaannya, lantas bagaimana pula sosok “tuhan” ini bisa menyelamatkan manusia lainnya ???

Dan terakhir, apabila kita telah meyakini bahwa alam raya ini ada Pencipta/Penguasa/Pengatur nya yakni Allah Ta’ala Yang Maha Tunggal, maka sudah selayaknya kita sebagai manusia untuk hanya beribadah kepada Allah satu-satunya dan tidak menjadikan tandingan/sekutu di dalam peribadahan tersebut dengan suatu apapun, baik itu berupa malaikat, nabi/rosul, wali-wali, dan lainnya. Dan di dalam beribadah tersebut, hendaknya kita ikhlaskan hanya ditujukan kepada Allah semata dan dengan hanya mengharapkan balasan dari Allah semata, serta dengan tata cara peribadahan yang telah disyari’atkan oleh-Nya melalui utusannya yang mulia Rosulullah sholallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita bersama.

Allahu A’lam.

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: