Beranda > Hukum-Hukum > Hukum Isbal Bagi Muslimin (Menurunkan Kain/Celana di Bawah Mata Kaki)

Hukum Isbal Bagi Muslimin (Menurunkan Kain/Celana di Bawah Mata Kaki)

Bagi seorang Muslim yang teguh keislamannya, tentunya ia akan semangat untuk berusaha mengikuti sunnah-sunnah Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam, meskipun banyak orang yang akan mencemoohnya. Termasuk dalam hal ini adalah perintah untuk memakai kain sarung/celana di atas mata kaki. Sayangnya, sunnah ini justru menjadi “phobia” bagi umat Islam sendiri. Ucapan “kebanjiran”, “kekurangan bahan celana”, dan celaan semisalnya justru banyak yang muncul dari mulut-mulut kaum Muslimin sendiri. Sadarkah mereka bahwa dengan celaannya tersebut justru mereka  telah mencela sunnah Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam? Karena itu, marilah kita perbaiki kekeliruan tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat.

Hukum Memakai Kain Di Bawah Mata Kaki (Isbal)

Jumat, 29 Apr 2005, Jam: 09:36:31

Kategori: Fiqih
Penulis: Syaikh Abdullah ibn Jurullah al Jurullah Rahimahullah

http://www.anasalafy.visiglobal.net/detail.php?id=215

Muqoddimah

Segala Puji Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Aku bersaksi tiada yang berhak diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan shalawat kepada beliau, keluarganya, sahabatnya dan orang yang mengikuti sunnah-sunnah beliau serta orang yang mendapatkan hidayah dengan bimbingan beliau hingga hari akhir.

Setelah itu, merupakan suatu kewajiban bagi muslimin untuk mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, menta’ati beliau dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta membenarkan berita yang dibawa beliau. Itu semua bisa menunjukkan realisasi Syahadat Laa ilaha ila Allah dan Muhammad Rasulullah. Dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dan selamat dari hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanda dan bukti hal itu adalah dengan terus komitmen melaksanakan simbol-simbol Islam, dalam bentuk perintah, larangan, penerangan, ucapan, keyakinan maupun amalan. Dan hendaklah dia mengatakan : “sami’na wa atha’na (kami mendengar dan taat)”.

Diantara hal itu adalah membiarkan jenggot (tidak mencukurnya) dan memendekkan pakaian sebatas kedua mata kaki yang dilakukan karena ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut pada hukumanNya.

Kalau kita mau memeperhatikan kebanyakan orang ? semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada mereka dan membimbing mereka kepada kebenaran ? akan didapati mereka melakukan perbuatan Isbal (menurunkan pekaian di bawah mata kaki) pada pakaian dan bahkan sampai terseret di atas tanah. Itu adalah perbuatan yang mengandung bahaya besar, karena menentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan itu adalah sikap menantang, pelakunya akan mendapat ancaman keras.

Isbal dianggap salah satu dosa besar yang diancam dengan ancaman yang keras. Beranjak dari kewajiban untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, saling nasehat menasehati dengan kebenaran, menginginkan agar saudara-saudaraku kaum muslimin mendapat kebaikan dan karena takut kalau mereka tertimpa hukuman yang buruk akibat mayoritas orang melakukan maksiat.

Saya kumpulkan risalah ini berkaitan dengan tema Isbal dan berisi anjuran untuk memendekkan pakaian hingga diatas kedua mata kaki bagi pria serta berisi ancaman bagi yang melakukan Isbal dan memanjangkan melewati mata kaki.

Larangan untuk melakukan Isbal adalah larangan yang bersifat umum,apakah karena sombong atau tidak. Itu sama saja dengan keumuman nash. Tapi, bila dilakukan karena sombong maka hal itu lebih keras lagi kadar keharamannya dan lebih besar dosanya .

Isbal adalah suatu lambang kesombongan dan orang yang memiiki rasa sombong dalam hatinya walaupun seberat biji dzarrah tidak akan masuk surga, sebagaimana yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menyerah dan tunduk dan mendengar dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah sebelum kematian datang menunjunginya, bila samapai demikian ia akan menemukan ancaman yang dulu telah disampaikan kepadanya. Ketika itu dia menyesal dan tidak ada manfaat penyesalan di waktu itu.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari maksiat isbal (memanjangkan celana) dan maksiat lainnya. Hendaklah ia memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki dan menyesali apa yang telah dia lakukan selama hidupnya.

Dan hendaklah ia bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat-maksiat di sisa umurnya yang singkat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat bagi orang yang mau bertaubat. Seorang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

Risalah ini diambil dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah serta ucapan para peneliti dari kalangan Ulama. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memberi manfaat risalah ini kepada penulisnya, atau pencetaknya, atau pembacanya, atau pendengarnya. Dan saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menjadikan amalan ini ikhlas untuk mengharap waahnya yang mulia dan menjadi sebab untuk mencari kebahagian sorga yang nikmat.

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada Muslim yang masih melakukan Isbal pada pakaian mereka unuk melaksanakan sunnah Nabi mereka, Muhammad Ibn Abdullah, yaitu dengan memendekkannya. Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai orang orang yang membimbing lagi mendapatkan hidayah. Semoga salawat dan salam tercurah pada Nabi kita, Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb Semesta alam.

LARANGAN MELAKUKAN ISBAL PADA PAKAIAN

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat kepada para hambanya berupa pakaian yang menutup aurat-aurat mereka dan memperindah bentuk mereka.

Dan ia telah menganjurkan untuk memakai pakaian takwa dan mengabarkan bahwa itu adalah sebaik-baiknya pakaian.

Saya bersaksi tidak ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha Esa. Tiada sekutu baginya miliknya segenap kekuasan di langit dan di bumi dan kepadanya kembali segenap makhluk di hari Akhir. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu ialah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak ada satupun kebaikan kecuali telah diajarkan beliau kepada ummatnya. Dan tidak ada suatu kejahatan kecuali telah diperingatkan beliau kepada ummatnya agar jangan mlakukannya. Semuga Shalawat serta Salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya dan orang yang berjalan di atas manhaj Beliau dan berpegang kepda sunnah beliau.

“Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : ” Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah itu perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala mudah mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al A’raf -26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepada para hambaNya berupa pakaian dan keindahan. Dan pakaian yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah pakaian yang menutupi aurat. Dan ar riisy yang dimaksud ayat ini adalah memperindah secara dlohir. maka pakaian adalah suatu kebutukan yang penting, sedangkan ar riisy adalah kebutuhan pelengkap.

Imam Ahmad meriwatkan dalam musnadnya, beliau berkata :

Abu Umamah pernah memakai pakaian baru, ketika pakaian itu lusuh ia berkata : “Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakai ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku”, kemudian ia berkata : aku mendengar Umar Ibn Khattab berkata : Rasulullah bersabda : “Siapa yang mendapatkan pakaian baru kemudian memakainya. Dan kemudian telah lusuh ia berkata segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakaian ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku dan mengambil pakaian yang lusuh dan menyedekahkannya, dia berada dalam pengawasan dan lindungan dan hijab Allah Subhanahu wa Ta’ala, hidup dan matinya.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah. Dan Turmudzi berkata hadis ini gharib )

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pakaian tubuh yang digunakan untuk menutup aurat, membalut tubuh dan memperindah bentuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa ada pakaian yang lebih bagus dan lebih banyak faedahnya yaitu pakaian taqwa. Yang pakaian taqwa itu ialah menghiasi diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan.

Dan membersihkan dari berbagai kotoran. Dan pakaian taqwa adalah tujuan yang dimaukan. Dan siapa yang tidak memakai pakaian taqwa, tidak manfaat pakaian yang melekat di tubuhnya.

Bila seseorang tidak memakai pakaian taqwa, berarti ia telanjang walaupun ia berpakaian

Maksudnya :

Pakaian yang disebut tadi adalah agar kalian agar mengingat nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyukurinya. Dan hendaknya kalian ingat bagaimana kalian butuh kepada pakaian dhahir dan bagaimana kalian butuh kepada pakaian batin. Dan kalian tahu faedah pakaian batin yang tidak lain adalah pakaian taqwa.

Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya pakaian adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hambanya yang wajib disyukuri dan dipuji. Dan pakaian itu memiliki beberapa hukum syariat yang wajib diketahui dan diterapkan. Para pria memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk.

Wanita juga memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. Tidak boleh salah satunya memakai pakaian yang lain. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki laki.(HR Bukhari, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i).

Dan Nabi juga bersabda : “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita.”( HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dan beliau mensahihkannya, serta Al Hakim, beliau berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim).

Haram bagi pria untuk melakukan Isbal pada sarung, pakian, dan celana. Dan ini termasuk dari dosa besar.

Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : “Dan janganlah engkau berjalan diats muka bumi ini dengan sombong, karna sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak suka kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh.”( Luqman: 18 )

Dari Umar Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullulah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM bersabda :

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya di hari kiamat.” ( HR Bukhari dan yang lainnya ).

Dan dari Ibnu umar juga, Nabi bersabda :
“Isbal berlaku bagi sarung, gamis, dan sorban. Barang siapa yang menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat.” ( Hr Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini adalah hadits yang sahih ).

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Bukhari dengan bunyi :

“Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka.”

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak dilihat dan dibesihkan (dalam dosa) serta akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu seseorang yang melakukan isbal (musbil), pengungkit pemberian, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Hr Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam keadaan kita mengetahi ancaman keras bagi pelaku Isbal, kita lihat sebagian kaum muslimin tidak mengacuhkan masalah ini. Dia membiarkan pakaiannya atau celananya turun melewati kedua mata kaki. Bahkan kadang-kadang sampai menyapu tanah. Ini adalah merupakan kemungkaran yang jelas. Dan ini merupakan keharaman yang menjijikan. Dan merupakan salah satu dosa yang besar. Maka wajib bagi orang yang melakukan hal itu untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga segera menaikkan pakaiannya kepada sifat yang disyari’atkan.

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada dibawah mata kaki tempatnya di neraka. (HR Malik dalam Muwaththa’ ,dan Abu Daud dengan sanad yang sahih)

Ada juga pihak yang selain pelaku Isbal, yaitu orang-orang yang menaikan pakaian mereka di atas kedua lututnya, sehingga tampak paha-paha mereka dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan klub-klub olahraga, di lapangan-lapangan ?. Dan ini juga dilakukan oleh sebagian karyawan.

Kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Dari ‘Ali Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Hakim. Al Arnauth berkata dalam Jami’il Ushul 5/451 : “sanadnya hasan”)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala berfirman :

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat keras hukuman-Nya (Al Hasyr : 7)

HUKUM MENURUNKAN PAKAIAN ( ISBAL ) BAGI PRIA

Rasulullah bersabda :

“Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka” (HR.Bukhori)

Dan beliau berkata lagi ;

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”.

dan dalam sebuah riwayat yang berbunyi :

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat di hari kiamat kepada orang-orang yang menyeret pakaiannya karena sombong.” (HR. Malik, Bukhari, dan Muslim)

dan beliau juga bersabda :

” Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan ( dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

Musbil (pelaku Isbal) adalah seseorang yang menurunkan sarung atau celananya kemudian melewati kedua mata kakinya. Dan Al mannan yang tersebut pada hadist di atas adalah orang yang mengungkit apa yang telah ia berikan. Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu adalah seseorang yang dengan sumpah palsu ia mempromosikan dagangannya. Dia bersumpah bahwa barang yang ia beli itu dengan harga sekian atau dinamai dengan ini atau dia menjual dengan harga sekian padahal sebenarnya ia berdusta. Dia bertujuan untuk melariskan dagangannya.

Dalam sebuah hadist yang berbunyi :

“Ketika seseorang berjalan dengan memakai prhiasan yang membuat dirinya bangga dan bersikap angkuh dalam langkahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipatnya dengan bumi kemudian dia terbenam di dalamya hingga hari kiamat. (HR. Mutafaqqun ‘Alaihi)

Rasulullah bersabda :

” Isbal berlaku pada sarung, gamis, sorban. Siapa yang menurunkan sedikit saja karena sombong tidak akan dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dengan sanad Shohih).

Hadist ini bersifat umum. Mencakup pakaian celana dan yang lainnya yang yang masih tergolong pakaian. Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan dengan sabdanya ;

” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Imam Nawawi mengatakan di dalam Riyadlush Sholihin dengan tahqiq Al Anauth hal: 358)

Melalui hadist-hadist Nabi yang mulia tadi menyatakan bahwa menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki dianggap sebagai suatu perkara yang haram dan salah satu dosa besar yang mendapatkan ancaman keras berupa neraka. Memendekkan pakaian hingga setengah betis lebih bersih dan lebih suci dari kotoran kotoran . Dan itu juga merupakan sifat yang lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Oleh karena itu, wajib bagimu… wahai saudaraku muslimin…, untuk memendekkan pakaianmu diatas kedua mata kaki karena taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya dengan mentaati Rasullullah .

Dan juga kamu melakukannya karena takut akan hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya. Agar engkau menjadi panutan yang baik bagi orang lain. Maka segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakkukan taubat nasuha (bersungguh-sungguh) dengan terus melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Dan hendaknya engkau telah menyesal atas apa yang kau perbuat.

Hendaknya engkau sungguh-sungguh tidak untuk tidak megulangi perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dimasa mendatang, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya, karena ia maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.

“Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, terimalah taubat kami, sungguhnya engkau maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.”

“Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala berilah kami dan semua saudara saudara kami kaum muslimin bimbingan untuk menuju apa yang engkau ridloi, karena sesungguh-Nya engkau maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Dan semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.”

BEBERAPA FATWA TENTANG HUKUMNYA MEMANJANGKAN PAKAIAN KARENA SOMBONG DAN TIDAK SOMBONG

Pertanyaan :
Apakah hukumnya memanjangkan pakaian jika dilakukan karena sombong atau karena tidak sombong. Dan apa hukum jika seseorang terpaksa melakukakannya, apakah karena paksaan keluarga atau karena dia kecil atau karena udah menjadi kebiasaan ?

Jawab :

Hukumnya haram sebagaimana sabda Nabi :

“Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka ” (HR.Bukhari dalam sahihnya )

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih Abu Dzar ia berkata: Rasulullah bersabda: ” Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” ( HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

Kedua hadist ini semakna dengan mencakup musbil yang sombong atau karena sebab lain. Karena Rasulullah mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan . Kalau ia melakukan karena sombong maka dosa yang ia lakukan akan lebih besar lagi dan ancamannya lebih keras, Rasulullah bersabda :”Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaihi)

Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena rasullullah tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain, Rasul bersabda : “Jauhilah olehmu Isbal, karena ia termasuk perbuaan yang sombong” (HR Abu Daud, Turmudzi dengan sanad…)

Sumber artikel :
www.salafy.or.id

Kategori:Hukum-Hukum
  1. mnkq
    Agustus 13, 2010 pukul 10:58 am

    numpang komen ya..
    ini sy dengar dri guru agama saya..

    jdi hadis itu (“Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka”) merupakan sabda Rasul bagi kaum yg melakukan tawaf saat itu, tetapi mereka menggunakan kain yg panjang sehingga terseret2 di tanah..

    karena mereka mampu membeli kain yg panjang, mereka ingin memperlihatkannya (sombong)..

    nah sifat sombong inilah yg dimaksud oleh Rasulullah.. bukan perkara mata kaki yg tertutup..

    dan, hadist ini derajat nya tidak terlalu tinggi, karena Muslim tdk bersaksi padanya..

    nah bgmna klo zaman skrg?
    sy beli celana panjang, lalu sy potong krn mengikuti hadist ini..
    apa kah sy tdk termasuk orang yg mumbazir ?

    jdi jgn telan bulat2 sebuah hadist, berbeda dg Al-quran yg bersifat umum, hadist itu bersifat khusus, khusus pd keadaan2 tertentu..

    klo ada salah saya mohon maaf krn tidak ad yg lbh tahu kecuali Allah dan Rasul-Nya

    • Agustus 13, 2010 pukul 11:11 am

      kalau memang demikian jawaban dari guru Anda, pertanyaan saya sekarang adalah: “apakah para sahabat (rodhiAlloohu ‘anhum) sebagai orang-orang yg paling memahami maksud dari sabda Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam tersebut ada yang berpendapat sebagaimana pendapat guru Anda?

      bagaimana dengan ucapan ‘umar Ibn khoththob ketika melihat seorang pemuda berjalan dalam keadaan pakaiannya menyeret di tanah, ia berkata kepadanya “Angkatlah pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih taqwa kepada Robb-mu dan lebih suci bagi pakaianmu ( Riwayat Bukhari lihat juga dalam al Muntaqo min Akhbaril Musthafa 2/451 ) ?

      pertanyaan selanjutnya, apakah ada ‘ulama yg berpendapat bahwa orang celananya di atas mata kaki maka hal itu bukan termasuk suatu hal hal utama? kalau ternyata mayoritas ‘ulama berpendapat bahwa orang yg tidak isbal merupakan sesuatu yg utama, lantas mengapa kita kok merasa malu (alias gak pede) untuk menjalankannya??? bukankah sebagai muslim kita harus bersemangat menjalani suatu perkara yg utama?

      Alloohu A’lam.

      baarokAlloohu fiyk

  2. akhiy
    Oktober 18, 2010 pukul 10:14 pm

    Mohon maaf, ini saya tangkap sebagai budaya Arab yg berusaha diuniversalkan.
    kata yg perlu ditekankan dalam konteks ini ada karena sombong. fenomena baru saya melihat orang-orang di indonesia dari sisi cara berpakaian sudah mulai nyunnah termasuk jenggot.
    namun ciri tsb membuat orang sekitarnya dianggap,… mohon maaf…. orang disekitarnya dianggap kotor, ahli bid’ah, tidak nyunnah dan mohon maaf ada indikasi dirinya paling nyunnah, paling baik dan paling benar. ini adalah ciri sombong.
    ketika kita berada di dalam suatu komunitas domba, apakah kita akan tunjukkan perbedaan dengan kita berkostum serigala (sifat sombong itu sangat sirriy) bahkan ibarat seperti semut hitam diatas batu hitam di malam gelap gulita.
    terpenting dari cara berpakaian adalah terpenting menutup aurat. tidak membuat suatu hal yg menyolok yg terjebak merasa paling benar.

    • Oktober 19, 2010 pukul 8:50 am

      mohon maaf, menurut Anda, larangan isbal adalah budaya ‘Arob yg berusaha diuniversalkan??? subhanAllooh, dari mana Anda mendapatkan kesimpulan seperti ini ya Saudaraku? BaarokAlloohu fiyk. kalau memang larangan isbal adalah budaya ‘Arob semata, lantas mengapa ada hadits/ucapan Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam yang melarang isbal ini??? juga bagaimana dengan ucapan ‘umar Ibn khoththob rodhiAlloohu ‘anhu ketika melihat seorang pemuda berjalan dalam keadaan pakaiannya menyeret di tanah, ia berkata kepadanya “Angkatlah pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih taqwa kepada Robb-mu dan lebih suci bagi pakaianmu ( Riwayat Bukhari lihat juga dalam al Muntaqo min Akhbaril Musthafa 2/451) ??? pikirkanlah hal ini baik-baik wahai saudaraku.

      adapun utk kata “sombong” pada larangan isbal, maka hendaknya Anda membaca kembali artikel di atas karena sudah dijelaskan pula di artikel tersebut.

      juga permisalan Anda dengan komunitas domba, maka Anda akan saya tanya balik: bila Anda kebetulan tinggal di lingkungan yang mana pakaian sehari-harinya adalah pakaian yang menampakkan aurot, apakah Anda akan tetap menjadi “domba” ataukah Anda akan berkostum sesuai sunnah Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam???

      ketika seorang muslimah menggunakan jilbabnya yang lebar berada di komunitas kaum yang mayoritasnya menampakkan aurotnya, apakah lantas ia tetap harus berkostum “domba” agar tidak menyolok dan terjebak sebagai yang paling benar ataukah ia harus tetap berpakaian sesuai sunnah???

      selanjutnya, Anda menyangka bahwa orang-2 yg memelihara sunnah-2 Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam (berjenggot, tidak isabal,dll) berarti ia merasa paling benar dan ini merupakan ciri kesombongan. Maka saya bertanya balik: “apakah Anda sudah membelah dada-dada mereka dan melihat isi hatinya???” Wahai saudaraku, apakah salah jika seorang Muslim yang berusaha mencintai ajaran Nabi dengan berusaha menjalankan sunnah-sunnah Beliau shollalloohu ‘alaihi wasallam ??? adapun urusan kesombongan, maka itu urusan hati yang hanya Allah saja yang menilainya. Apakah orang yang sholat berjama’ah di masjid pun akan dikatakan sombong karena pamer bisa sholat berjama’ah ke masjid???

      pikirkanlah hal ini baik-baik wahai saudaraku. baarokAlloohu liy wa laka.

  3. akhiy
    Oktober 18, 2010 pukul 10:18 pm

    satu hal lagi, kebiasaan orang-orang yg berisbal riya ini(khususnya di indonesia) mereka tidak mau menuntut ilmu selain dengan ustadz dari golongannya. fenomena apa ini kalo dia tidak merasa paling benar sendiri. kalo tidak dari golongannya dia tidak mau mengaji bersama.
    islam itu ilmiyah akhi,..
    antum belajar dari siapapun. koreksi saja dalilnya sahih atau tidak. nashnya bisa jadi hujjah atau tidak dengan melihat tingkat kesahihannya.

    • Oktober 19, 2010 pukul 9:07 am

      mungkin Anda salah ketik wahai saudaraku. “orang yang berisbal riya” adalah orang yang justru menurunkan kain/celana nya di bawah mata kaki. dan ini merupakan perbuatan dosa. mungkin yang Anda maksud adalah yang tidak isbal?

      Anda berprasangka bahwa kaum yang tidak isbal di Indonesia ini merupakan kaum yang merasa paling benar sendiri??? dari mana Anda berkesimpulan demikian. sedikit untuk jawaban hal ini, maka hendaknya Anda bisa membedakan antara “menerima kebenaran” dengan “mengambil/menuntut ‘ilmu “.

      adapun menerima kebenaran, maka siapapun yang mengatakannya maka harus diterima jika memang yang dikatakan itu adalah sebuah kebenaran. hal ini sebagaimana hadits tentang Abu Huroiroh rodhiAlloohu ‘anhu tatkala menjaga harta zakat yg kemudian didatangi syaithon yang berwujud manusia. di akhir hadits tersebut disebutkan bahwa syaithon tersebut memberitahukan kpd Abu Huroiroh rodhiAlloohu ‘anhu untuk membaca ayat kursi ketika hendak tidur agar tidak diganggu oleh syaithon. kemudian hal ini diceritakan kepada Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam dan dibenarkan oleh Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam dan dikatakan bahwa syaithon tersebut berkata benar meskipun ia pada aslinya adalah pendusta.

      adapun menuntut ‘ilmu agama, maka hal ini harus benar-benar diambil dari orang-orang yang memang benar-benar berilmu dan mengamalkan ilmunya tersebut dan istiqomah di atasnya. dan tidak bisa menuntut ilmu dari sembarangan orang, apalagi bila orang tersebut dikenal tidak berilmu, atau berilmu tapi tidak konsekuen dalam mengamalkan ilmunya. Apakah pantas kita mengambil ilmu agama yang mulia ini dari sebagian orang yang dianggap ustadz tapi pada prakteknya dia sedikit sekali mengamalkan sunnah-sunnah dalam Islam atau parahnya lagi ia justru antipati dengan pengamalan-2 sunnah-2 ??? di mana akan kita letakkan surat Ash Shoff ayat 2-3 : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Pantaskah bila ada seseorang yang berdakwah ke sana ke mari menyerukan umat untuk kembali kepada islam/al qur’an/sunnah, akan tetapi ia menyepelekan sunnah-sunnah Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam???

      baca pula surat Al Hasyr ayat 7 : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” Bukankah larangan isbal merupakan ajaran Rosul???

      oleh karena itu, hendaknya kita selektif dalam menuntut ilmu dari seseorang.

      baarokAlloohu fiyk.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: