Beranda > Akhlaq Islam > Wahai Saudaraku…… Sampai Kapan Engkau Akan Kembali Ke Jalan Allah Ta’ala ???

Wahai Saudaraku…… Sampai Kapan Engkau Akan Kembali Ke Jalan Allah Ta’ala ???

Wahai Saudaraku……

Sampai Kapan Engkau Akan Kembali Ke Jalan Allah Ta’ala ???

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah Ta’ala. Kita memujiNya, memohon pertolongan padaNya semata, dan memohon ampun padaNya semata. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri-diri dan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta’ala semata dan tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan utusanNya.

Sholawat serta salam semoga Allah curahkan kepada utusanNya yakni Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti ajarannya dengan baik hingga hari kiamat kelak.

Amma ba’du (kemudian setelah itu),

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullooh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Dan semua perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah. Dan semua bid’ah adalah kesesatan. Dan setiap kesesatan adalah di neraka balasannya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

(Surat Ali ‘Imron ayat 102)

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi (perbuatan) kalian.

(Surat An Nisaa’ ayat 1)

Wahai Saudaraku, sebagai seorang Muslim kita semua tentunya mengetahui bahwa perkara dosa dan kemaksiatan akan menimbulkan mudhorot. Dan mudhorot bagi hati seorang manusia adalah sebagaimana mudhorot racun terhadap tubuh dengan tingkatan yang berbeda-beda. Dan di akhirat kelak, segala perbuatan dosa dan kemaksiatan maka Allah Ta’ala ancam dengan balasan siksaan di neraka yang bahan bakarnya adalah manusia, jin, dan bebatuan. Na’udzubillahi min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian).

Tahukah Engkau wahai Saudaraku,

Apa sebab yang telah membuat iblis (la’natulloh ‘alaih) diusir dari kerajaan langit, dilaknat, dan dimurkai oleh Allah?

Apa sebab yang telah membuat manusia seisi bumi ditenggelamkan oleh banjir besar di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalaam?

Apa sebab yang telah membuat kaum ‘Aad ditimpa angin dahsyat yang membuat mereka menjadi mayat yang bergelimpangan di muka bumi?

Apa sebab yang telah membuat kaum Tsamud ditimpa suara gemuruh dahsayat yang membuat mereka menemui ajalnya secara tiba-tiba?

Apa sebab yang telah membuat kaum Nabi Luth ‘alaihissalaam dibenamkan ke dalam bumi dan ditimpa hujan batu yang membuat kaum dan kampung mereka hancur lebur?

Apa yang menyebabkan Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan ke dalam lautan?

Apa yang menyebabkan banyaknya kaum setelah zaman mereka yang mana sebelumnya merupakan kaum yang memiliki kenikmatan-kenikmatan lalu kemudian Allah timpakan musibah kepada mereka?

Ketahuilah wahai Saudaraku…..seluruh kaum yang disebutkan di atas adalah beberapa contoh kaum yang sebelumnya telah Allah berikan kenikmatan yang besar kepada mereka. Namun, mengapa kemudian kaum mereka ditimpa segala musibah di atas? Jawaban dari hal ini adalah satu sebab, yakni perbuatan dosa (kemaksiatan).

Dan tahukah Engkau wahai Saudaraku apakah dampak jelek kemaksiatan? Telah berkata Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahullooh di dalam kitab “Ad Daa’ wa Ad Dawaa’ “ (Penyakit dan Obatnya) secara makna ringkas bahwa beberapa dampak jelek dari kemaksiatan adalah :

  1. menghambat usaha untuk menuntut ilmu agama dikarenakan ilmu agama adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati manusia, sementara kemaksiatan merupakan kegelapan bagi hati.
  2. mencegah diperolehnya rizqi yang barokah
  3. kegelisahan dan ketidaktenangan bagi hati meskipun ia memperoleh kenikmatan duniawi yang banyak
  4. jeleknya hubungan dia dengan orang lain sebagaimana dikatakan sebagian ‘ulama: “aku bermaksiat kepada Allah dan aku dapat melihat pengaruh jeleknya pada keluarga dan hewan tungganganku”
  5. mempersulit segala urusannya
  6. mendapat ancaman siksa neraka
  7. hilangnya kenikmatan yang sebelumnya Allah berikan
  8. munculnya berbagai kerusakan di muka bumi
  9. melemahkan hati dan badan
  10. menghalangi ketaatan kepada Allah
  11. mengurangi barokah umur seseorang
  12. kemaksiatan dapat memancing munculnya kemaksiatan-kemaksiatan lainnya
  13. melemahkan kehendak hati untuk bertaubat
  14. membuat hati menjadi memandang remeh perbuatan maksiat dan bahkan bisa menjadikan sebagai kebiasaan untuk berbuat maksiat sehingga telah hilang rasa malunya
  15. semua jenis kemaksiatan merupakan warisan buruk dari kaum-kaum yang Allah murkai sebagaimana perbuatan homoseksual merupakan warisan kaum Luth, kesombongan merupakan warisan dari iblis, dan lainnya.
  16. menyebabkan turunnya kemurkaan Allah dan hinanya kedudukan hamba tersebut
  17. merusak akal sehat
  18. mendapatkan do’a laknat dari Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam sebagaimana dilaknatnya para wanita yang keluar rumah dalam kondisi membuka hijab dan tabarruj (berdandan), para pemakan riba, para penzina, para pencuri, para pendusta, para peminum khomer, para pendurhaka kepada orang tua, lelaki yang berperilaku seperti wanita dan sebaliknya, para pematung dan pelukis makhluq bernyawa, para pelaku homoseksual, orang yang menasabkan kepada orang yang bukan ayahnya, para pengubah patok batas lahan, curang dalam jual beli, dan lainnya.

Lihatlah wahai Saudaraku betapa berbahaya dan banyaknya dampak jelek dari perbuatan maksiat tersebut. Apabila demikian keadaannya, masihkah engkau mau untuk tetap bergelimang dalam kemaksiatanmu selama ini? Tidakkah muncul niatan dalam hatimu untuk mau bertaubat kembali kepada jalan Allah Ta’ala? Apakah engkau tidak merasa takut apabila secara tiba-tiba Allah cabut nyawamu di saat engkau sedang berbuat maksiat yang dengannya engkau mendapatkan su’ul khotimah (akhir hidup yang jelek)? Ataukah engkau merasa dirimu lebih tinggi kedudukan, kekayaan, atau kekuatan nya dibandingkan kaum Fir’aun yang pada akhirnya Allah benamkan mereka secara tiba-tiba di dalam lautan?

Ataukah engkau merasa putus asa dari janji Allah berupa jalan keluar atas segala permasalahan yang ada pada dirimu sehingga muncul niatan untuk mengakhiri hidupmu dengan bunuh diri? Na’udzubillaah. Ketahuilah wahai Saudaraku….bunuh diri adalah perbuatan dosa besar. Dan orang yang bunuh diri sesungguhnya adalah orang yang sangat bodoh dan merugi. Bagaimana tidak? Kita semua sama-sama mengetahui bahwa proses kematian itu merupakan hal yang sangat menyakitkan sebagaimana diibaratkan seperti tubuh yang ditusuk-tusuk dengan ribuan pedang. Lantas, bagaimana kiranya jika ada orang yang bunuh diri dengan merelakan rasa sakit yang akan dia rasakan pada proses kematiannya dan kemudian ancaman ‘adzab Allah atas dosa besar yang ia lakukan? Bukankah orang yang demikian ini adalah orang yang sangat bodoh yang merugi dua kali di dunia dan akhirat?

Kemudian, mungkin muncul pertanyaan dalam diri kita :

Ada seseorang yang ditimpa musibah dan segala macam kesulitan hidup, dan ia sadar bahwa musibah tersebut senantiasa menimpanya terus menerus ibarat tiada hentinya. Dan ia merasa telah melakukan berbagai usaha untuk menghindari musibah tersebut, akan tetapi justru musibah itu semakin menjadi-jadi. Lantas, di manakah letak permasalahannya sehingga ia tidak dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya?

Maka ketahuilah wahai Saudaraku, telah disebutkan pula oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah rohimahullooh di dalam kitab yang sama secara makna ketika dinukilkan hadits di dalam kitab Shohih Al Bukhori (rohimahullooh) dari hadits Abu Huroiroh (rodhiAlloohu ‘anhu), dari Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda secara makna yang artinya :

“tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan juga menurunkan obat penawarnya”

Juga Beliau rohimahullooh nukilkan dari hadits dalam kitab Musnad Imam Ahmad (rohimahullooh) dari hadits ‘Usamah bin Syarik bahwa Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda secara makna yang artinya :

“sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah menurunkan suatu penyakit melainkan juga menurunkan obat penawarnya, yang diketahui oleh orang yang memang mengetahuinya, dan tidak diketahui oleh orang yang memang tidak mengetahuinya”

Dan yang namanya penyakit, mencakup pula segala macam penyakit baik itu penyakit yang menimpa badan, akal, maupun hati. Sebagaimana penyakit kebodohan maka obat penawarnya adalah dengan bertanya kepada orang yang berilmu.

Demikian pula dengan do’a. Do’a merupakan obat penawar untuk menolak segala macam gangguan dan meraih apa yang diinginkan. Tapi ada kalanya pengaruh dari do’a ini tidak langsung tampak, atau bahkan lemah sama sekali. Sehingga, seringkali kita temui orang yang merasa telah sering berdo’a akan tetapi tidak pula do’a tersebut dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Padahal Allah Yang Maha Mengabulkan Do’a telah berfirman di dalam Surat Al Ghofir (Al Mu’min)  ayat 60 yang artinya : “Berdo’alah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan bagi kalian”. Lantas, di manakah masalahnya?

Ketahuilah wahai Saudaraku, sesungguhnya anak panah tidaklah akan sanggup mencapai sasarannya jika dilepaskan dari busur panah yang lemah dan tidak tepat dalam membidik. Sebuah do’a tidaklah akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala jika masih ada penghalang-penghalang do’a yang menghalangi dikabulkannya suatu do’a atau tidak dipenuhinya syarat-syarat dikabulkannya sebuah do’a.

Dan beberapa sebab dikabulkannya do’a adalah :

  1. ikhlash, yakni dengan tidak beribadah dan berdo’a (karena do’a merupakan ibadah) kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Dan bukanlah termasuk ikhlash apabila engkau berdo’a kepada selain Allah, meskipun kepada para malaikatNya yang mulia, para NabiNya, para waliNya, orang-orang yang sudah meninggal, ataupun kepada makhluq lainnya yang kedudukannya lebih rendah. Maka Saudaraku, ikhlashkanlah do’a mu hanya memohon kepada Allah semata, dan bukan kepada selainNya.

  1. mengetahui adab-adab dalam berdo’a sebagaimana ibadah lainnya
  1. tidak berdo’a dalam rangka perbuatan maksiat atau memutus silaturohim
  1. makan dan berpakaian hanya dari harta yang halal, sebagaimana hadits riwayat Muslim yang secara makna menerangkan bahwa ada seseorang yang sedang dalam kondisi lusuh dan lelah dikarenakan sedang safar lalu ia mengangkat tangannya ke langit dan berdo’a Ya Robbi Ya Robbi, sementara makanan, pakaian, dan dagingnya tumbuh dari harta yang haromd. Maka bagaimanakah mungkin do’a nya dikabulkan.
  1. bersabar dan tidak tergesa-gesa di dalam menunggu terkabulnya do’a. Hal ini ibarat orang yang menanam benih tanaman lalu ia menyiraminya dan merawatnya dengan sabar meskipun dalam waktu lama, dan kelak kemudian ia dapatkan hasil panennya.
  1. berdo’a dengan sungguh-sungguh dan terus menerus dengan menghadirkan hati dan sangat berharap kepada Allah
  1. berdo’a di waktu-waktu yang mustajab seperti 1/3 malam terakhir, antara adzan dan iqomah, seusai sholat fardhu, antara ‘Ashr dan Maghrib pada hari Jum’at, dan lainnya.

Sehingga, apabila ada seseorang yang berdoa dengan ikhlash di waktu yang mustajab disertai dengan kekhusyua’an hati, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah disertai pula dengan adab yang benar dalam berdo’a, maka do’a dengan kondisi yang seperti ini pasti akan Allah Ta’ala kabulkan sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mu’min ayat 60 di atas.

Dan kebalikan daripada sebab-sebab terkabulnya do’a, maka itu merupakan penghalang-penghalang terkabulnya do’a. Maka dari itu, perhatikanlah baik-baik hal ini wahai Saudaraku.

Wahai Saudaraku, ketahuilah bahwa semua manusia pasti tidak terjaga dari perbuatan dosa kecuali para Nabi dan Rosul sholalloohu ‘alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana hadits dari sahabat Anas bin Malik rodhiAlloohu ‘anhu dari Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam secara makna bahwa “Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang bertaubat.”

Wahai Saudaraku, janganlah engkau mengira bahwa diri-diri kita yang penuh dosa ini tidak lagi pantas untuk bersimpuh memohon ampunan Allah Ta’ala. Selama ruh belum sampai di kerongkongan dan selama matahari belumlah terbit dari barat, maka sungguh….Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun pasti akan menerima taubat hamba-hambaNya apabila memang hamba tersebut ingin bertaubat dengan benar.

Wahai Saudaraku, tidakkah engkau pernah mendengar kisah tentang seorang pembunuh yang telah membunuh 99 jiwa lalu kemudian ia ingin bertaubat? Kalau engkau belum pernah mendengar kisah ini, maka berikut inilah kisahnya secara makna dinukil dari kitab Shohih Muslim :

Hadis riwayat Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه: ia berkata: Bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda: Di antara umat sebelum kalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah yang bodoh tentang ilmu agama. Dia pun mendatangi ahli ibadah tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh 99 orang, apakah taubatnya akan diterima? Maka ahli ibadah yang bodoh itu menjawab: Tidak! Lalu dibunuhnyalah ahli ibadah itu sehingga melengkapi 100 pembunuhan. Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang yang berilmu yang segera dikatakan kepadanya bahwa ia telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya akan diterima? Orang yang berilmu itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi taubat seseorang! Pergilah ke negeri Anu dan Anu karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Allah lalu beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan! Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya. Berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat ‘adzab mengenainya. Malaikat rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadap sepenuh hati kepada Allah. Malaikat ‘adzab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun. Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga diambillah ia oleh malaikat rahmat.

Lihatlah wahai Saudaraku betapa luasnya ampunan Allah bagi hambaNya yang benar-benar mau bertaubat dari dosa-dosanya meskipun dosa-dosanya sepenuh bumi.

Tidakkah engkau membaca dalam Al Qur’an bahwa Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Az Zumar ayat 53)

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan (Surat Asy Syuuro ayat 25)

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (surat An Nisaa’ ayat 17)

Dan janganlah engkau menjadi orang-orang yang menganggap bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu untuk bertaubat sehingga membuatnya lalai dari taubat kepada Allah Ta’ala yang pada akhirnya tidaklah ada yang diperolehnya selain penyesalan tida terkira. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan pada kelanjutan ayat di atas yang artinya :

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (surat An Nisaa’ ayat 18)

Dan jangan pula engkau tertipu dengan prasangka sebagian orang yang kurang ilmunya yang mana mereka hanya menyandarkan kepada harapan besar terhadap ampunan dan rohmat Allah semata, tetapi di sisi lain mereka meninggalkan ayat-ayat yang berisi ancaman-ancaman tentang ‘adzab Allah yang pedih. Sehingga engkau dapati sebagian orang yang tetap berbuat maksiat dan ketika dinasihati maka ia berdalih bahwa ia yakin bahwa Allah Maha Pengampun sehingga ia enggan untuk bertaubat dan tetap berbuat kemaksiatan.

Ketahuilah wahai Saudaraku, sungguh…anggapan sebagian orang yang kurang ilmu tersebut adalah salah besar. Telah berkata sebagian ‘ulama : “bahwa harapan besarmu terhadap kasih sayang dari orang yang tidak engkau patuhi, maka itu hanyalah kebodohan dan kesia-sian”. ‘Ulama yang lain mengatakan pula : “telah ada segolongan manusia yang dibuai angan-angan tentang ampunan Allah sehingga mereka meninggalkan taubat dan berdalih bahwa ia telah berbaik sangka terhadap Robb-nya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ia telah berdusta. Kalau sekiranya dia telah berbaik sangka terhadap Robb-nya maka tentunya dia akan melakukan amalan kebaikan yang dicintai oleh Robb-nya dan meninggalkan larangan Robb-nya”

Wahai Saudaraku, sungguh….kedudukan seorang hamba yang benar adalah ia berada di antara harapan terhadap kasih sayang Robb-nya dan rasa takut dari ancaman ‘adzab Robb-nya. Tidakkah engkau membaca firman Allah ketika menyebutkan tentang sifat orang yang beriman yang artinya :

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. (surat As Sajdah ayat 16)

Dan ketahuilah wahai Saudaraku bahwa bersikap yang benar antara harapan terhadap rahmat Allah (disebut roja’) dan takut akan ancaman ‘adzabNya yang pedih (disebut khouf) akan membuahkan hasil yang luar biasa.

Ketika ada seorang hamba yang tengah bergelimang dengan kemaksiatan, maka ia besarkan rasa takutnya akan ‘adzab Allah yang sangat pedih sehingga ia bisa bersegera untuk berhenti dari maksiatnya dan segera bertaubat kepada Allah. Dan ketika seorang hamba tengah melakukan amalan kebaikan, maka ia besarkan rasa harapnya akan rahmat Allah sehingga ia bisa semangat dalam berbuat kebaikan dan berusaha menambah kebaikannya.

Dan janganlah engkau balik sikapmu dari kondisi di atas sehingga engkau akan menjadi orang yang sangat merugi. Ketika engkau sedang bermaksiat, janganlah engkau besarkan rasa harapanmu akan rahmat Allah, karena sikap seperti ini akan membuatmu menunda-nunda taubat. Ketika engkau tengah berbuat kebaikan, janganlah engkau besarkan rasa takutmu akan ‘adzab Allah sehingga engkau akan malas berbuat kebaikan karena takut ‘amalanmu tidak diterima oleh Allah.

Demikianlah wahai Saudaraku, sikap yang benar tentang khouf dan roja’ maka sungguh akan membuahkan hasil yang luar biasa bagi seorang hamba. Ia akan senantiasa terjaga dari perbuatan maksiat karena ketika akan berbuat maksiat, ia langsung teringat akan ancaman Allah yang sangat pedih sehingga ia tidak jadi bermaksiat. Ia pun akan senantiasa bersemangat dalam berbuat kebaikan karena ketika ia akan berbuat kebaikan, ia langsung teringat akan balasan yang aka ia terima dari kebaikannya tersebut berupa surga yang penuh kenikmatan tiada tara.

Wahai Saudaraku…dengan tulisan yang telah aku tulis untukmu ini, masihkah engkau tetap pada sikapmu selama ini dengan masih bergelimang kemaksiatan dan lalai dari perintah-perintah Allah? Atau engkau akan bersegera menyambut ajakanku untuk bersegera bertaubat kepada Allah? Manakah sikap yang engkau pilih wahai Saudaraku? Semua itu, tentunya kembali kepada pilihan engkau sendiri. Jika engkau memilih pilihan yang pertama dengan tetap bermaksiat dan lalai dari perintah-perintah Allah, maka ketahuilah bahwa ancaman akan ‘adzab Allah sangatlah pedih. Dan bila engkau memililih pilihan kedua untuk mau bertaubat kepada Allah, maka ketahuilah bahwa balasan Allah terhadap orang-orang yang mau kembali kepada jalanNya adalah sangat nikmat.

Telah berkata sebagian ‘ulama : “sungguh aku sangat heran dengan manusia yang lalai dari Allah, padahal Allah tidaklah lalai sedikitpun darinya”. Juga ucapan yang semisalnya : “sungguh aku sangat heran dengan manusia yang lalai dari Allah, padahal ia selalu menggunakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan padanya”.

Wahai Saudaraku..silakan engkau tentukan sendiri pilihanmu. Ingatlah engkau akan hari di mana kelak setiap manusia akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan hidupnya ketika di dunia. Hari yang sangat dahsyat di mana seseorang akan lari dari saudaranya, lari dari ayah/ibunya, dan juga lari dari suami/istri dan anaknya. Jika engkau dapati ketika di dunia seorang ayah/ibu akan rela mati demi menolong anaknya, maka sungguh…di akhirat kelak justru mereka akan lari satu sama lainnya disebabkan dahsyatnya hari itu.

Jika keadaan hari perhitungan amalan kelak demikian kondisinya, maka bagaimana halnya dengan dahsyatnya ‘adzab neraka yang Allah siapkan bagi orang yang bermaksiat? Janganlah engkau mengira bahwa neraka itu hanyalah seperti layaknya sebuah penjara dunia. Jangan pula engkau mengira bahwa di neraka kelak engkau akan mendapatkan banyak kawan-kawan “senasib sepenanggungan” yang dapat memperingan nasibmu. Demi Allah tidak!

Silakan engkau baca ayat-ayat tentang gambaran kondisi neraka di dalam surat-surat di juz ‘amma (juz 30). Cobalah engkau baca ayat berikut ini yang artinya :

An Naba’ ayat 21-30 :

Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, Selain air yang mendidih dan nanah yang busuk. Sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,  Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguh- sungguhnya. Dan segala sesuatu telah kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah, dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada ‘adzab.

Al Ghoosyiyah ayat 1-7 :

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka). Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri tajam, Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Dan juga hadits Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam secara makna bahwa salah seorang penghuni neraka yang ketika di dunia merupakan orang yang paling banyak memperoleh kenikmatan dunia dicelupkan ke dalam api neraka dengan sekali celupan, kemudian ditanyakan padanya apakah sebelum ini ia pernah merasakan kenikmatan? Maka orang tersebut menjawab bahwa ia sebelum ini sama sekali belum pernah merasakan kenikmatan dikarenakan dahsyatnya siksa api neraka yang ia rasakan sehingga ia lupa dengan segala kenikmatannya ketika di dunia.

Wahai Saudaraku, dengan gambaran siksa neraka yang seperti ini masihkah engkau akan tetap lalai? Janganlah engkau menjadi orang yang merugi dua kali seperti ruginya orang yang ketika di dunia ia hanya sedikit sekali memperoleh kenikmatan dunia dan ia merupakan orang yang lalai akan Robb-nya sehingga dengannya di akhirat pun ia dimasukkan dalam neraka. Na’udzubillaah.

Wahai Saudaraku, tidakkah engkau memiliki harapan bahwa dengan taubat yang engkau lakukan maka dengannya engkau berharap akan mendapatkan kenikmatan surga di akhirat kelak meskipun di dunia engkau termasuk orang yang sedikit merasakan kenikmatan dunia? Tahukah engkau betapa besarnya nikmat di dalam surga itu? Ataukah engkau mengira kenikmatan surga itu seperti layaknya kenikmatan yang ada di dunia? Demi Allah tidak! Tidakkah engkau membaca ayat-ayat yang menggambarkan tentang betapa besarnya kenikmatan surga?

Cobalah engkau baca ayat berikut ini yang artinya :

Al Hajj ayat 23 :

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang sholih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera yang tebal dan halus.

Al Kahfi ayat 31 :

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.

An Naba’ ayat 31-36 :

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.

Dan juga hadits Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam secara makna bahwa salah seorang penghuni surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling sedikit memperoleh kenikmatan dunia dan paling banyak mendapatkan kesulitan dunia, lalu ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan, kemudian ditanyakan padanya apakah sebelum ini ia pernah merasakan kesulitan? Maka orang tersebut menjawab bahwa ia sebelum ini sama sekali belum pernah merasakan kesulitan dikarenakan besarnya nikmat yang ia rasakan sehingga ia lupa dengan segala kesulitannya ketika di dunia.

Dan juga hadits Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam secara makna yang menggambarkan tentang kenikmatan surga bahwa penghuni surga memperoleh apa saja yang ia inginkan, dicabut darinya sifat-sifat jelek ketika di dunia, tidak buang air, keringatnya wangi seperti kesturi, bidadari-bidadari yang cantik jelita dan selalu perawan, dan hal-hal kenikmatan lainnya yang tidak pernah terdengar oleh pendengaran siapapun, tidak pernah dilihat oleh pandangan mata siapapun, dan juga tidak pernah terbayangkan oleh imajinasi siapapun.

Wahai Saudaraku, jika demikian gambaran kenikmatan surga….tidakkah hatimu terketuk untuk segera bertaubat dan bersegera kembali ke jalan Allah Ta’ala?

Wahai Saudaraku, jika engkau memilih untuk bersegera bertaubat, maka ketahuilah bahwa taubat itu adalah engkau berhenti dari kemaksiatan dan menuju kepada ketaatan kepada Allah. Adapun taubat memiliki beberapa persyaratan yang antara lain :

  1. bertaubat dengan dasar ikhlash kepada Allah
  2. meninggalkan perbuatan maksiat yang ia lakukan dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi
  3. menyesali sepenuh hati atas maksiat yang ia lakukan
  4. apabila maksiat yang ia lakukan berkenaan dengan hak antar sesama manusia, maka ia harus mengembalikan hak tersebut kepada orangnya, seperti mengembalikan barang yang pernah ia curi, memohon maaf kepada orang yang pernah ia sakiti, atau semisalnya.
  5. taubat tersebut ia lakukan sebelum ruh mencapai kerongkongannya atau sebelum matahari terbit dari barat, dan lainnya.

Dan ketahuilah pula, bahwa dampak baik dari taubat adalah :

  1. merupakan sebab diperolehnya kemenangan dunia dan akhirat
  2. menghapuskan dosa-dosa
  3. kejelekannya akan diganti oleh Allah dengan kebaikan
  4. merupakan sebab diperolehnya nikmat yang terus menerus
  5. merupakan sebab dimudahkannya rizqi
  6. merupakan perbuatan yang dicintai oleh Allah Ta’ala
  7. dibukanya jalan keluar terhadap semua permasalahannya
  8. memberikan pengaruh positif bagi diri dan hati seseorang
  9. dengan taubat, maka seorang hamba akan mengetahui kemurahan Robb-nya dan luasnya kasih sayangNya
  10. menghindari diri dari kejelekan, dan lainnya.

Ketahuilah pula bahwa sebagian orang telah berbuat kesalahan dalam bertaubat diakibatkan ketidaktahuannya terhadap syari’at Allah yang mulia ini. Beberapa kesalahan tersebut antara lain :

  1. menunda-nunda taubat. Apakah orang yang seperti ini yakin bahwa ia masih bisa hidup di saat ia menunda-nunda taubatnya? Apakah orang yang seperti ini sudah mengetahui posisinya kelak adalah di surga?
  1. lalai dari taubat terhadap dosa-dosa yang tidak mereka sadari. Kebanyakan manusia hanya bertaubat dari dosa-dosa yang mereka yakini pernah dilakukannya tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya juga punya dosa-dosa yang tersembunyi yang tidak disadarinya. Oleh karena itu, hendaknya kita bertaubat kepada Allah dari semua dosa baik itu kita sadari ataupun tidak.
  1. tidak mau bertaubat karena khawatir akan mengulangi maksiatnya lagi. Apakah orang yang seperti ini yakin ia masih dapat hidup? Atau bisa saja ia meninggal dunia sebelum sempat bertaubat. Sungguh, apabila seseorang telah bertaubat lalu ia mengulanginya lagi, maka tetap wajib baginya untuk segera memperbarui taubatnya, dan demikian seterusnya.
  1. tidak mau bertaubat karena khawatir celaan orang lain. Terhadap orang yang seperti ini kita bertanya : “Bagaimana mungkin engkau lebih mengkhawatirkan celaan manusia, sementara engkau tidak merasa khawatir akan celaan Allah Ta’ala?” Ketahuilah wahai Saudaraku, sesungguhnya celaan dan cobaan lainnya merupakan ujian bagi engkau untuk mengetahui apakah engkau telah benar-benar bertaubat atau hanya sekedar main-main. Dan yakinilah bahwa setelah kesulitan itu selalu ada kemudahan.
  1. menunda-nunda taubat karena yakin dengan mengandalkan ampunan Allah Ta’ala. Untuk orang yang seperti ini maka hendaknya ia membaca kembali tentang sikap khouf dan roja’ di atas.
  1. tertipu dengan ketetapan Allah yang membiarkan para pelaku kemaksiatan. Sebagian orang malas untuk bertaubat karena ia menyangka bahwa para pelaku maksiat lainnya justru memperoleh kenikmatan dunia yang berlimpah.

Maka ketahuilah wahai Saudaraku, sungguh prasangka seperti ini tidak lain hanyalah muncul dari orang-orang bodoh yang tidak mengetahui sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sebenarnya. Ketahuilah bahwa hal ini Allah tetapkan bagi para pelaku maksiat tersebut hanyalah merupakan istidroj (penundaan waktu) agar pelaku makisat tersebut semakin tenggelam dalam maksiatnya. Tidakkah engkau membaca ayat Allah dalam surat Al An’aam ayat 44 yang artinya :

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

  1. tidak mau bertaubat karena berdalih dengan alasan taqdir. Sebagian orang mengatakan bahwa kemaksiatan yang ia lakukan sudah merupakan taqdir yang Allah tetapkan. Ketika ditanya kepada mereka kenapa mereka tidak sholat, maka mereka menjawab bahwa hal ini sudah kehendak/taqdir Allah. Dan ketika mereka ditanya kenapa mereka tidak mau bertaubat, maka mereka menjawab bahwa Allah belum menghendakinya untuk bertaubat.

Wahai Saudaraku, ketahuilah bahwa sikap yang seperti ini merupakan sikap yang salah, sesat, dan menunjukkan kebodohan orang tersebut terhadap syari’at Allah tentang taqdir. Dahulu Amirul Mu’minin ‘Umar bin Al Khoththob rodhiAlloohu ‘anhu pernah memotong tangan seorang pencuri. Ketika akan dipotong, si pencuri tersebut berdalih bahwa ia mencuri adalah karena taqdir/ketetapan Allah. Maka ‘Umar pun menjawab bahwa sungguh aku memotong tanganmu pun juga karena taqdir Allah.

Terhadap orang yang berdalih dengan alasan taqdir ini, maka kita bertanya padanya: “Apabila ada orang lain yang berbuat zholim kepada dirimu, kemudian orang yang berbuat zholim tersebut beralasan pula dengan taqdir, maka apakah engkau akan menerima alasan ini? “ Silakan engkau jawab apabila engkau masih memiliki akal sehat.

Wahai Saudaraku, inilah sedikit tulisan yang aku berikan kepada engkau dengan harapan agar hal ini bisa menjadi nasihat bagi diriku pribadi dan juga bagi dirimu. Tidaklah ada yang aku harapkan kecuali kebaikan atas dirimu. Hanyalah aku berharap semoga Allah memudahkan engkau untuk mau kembali kepada jalan Nya. Adapun pilihan akhirnya, semuanya tergantung kepada dirimu sendiri yang akan menanggung akibatnya kelak. Dan pilihan di akhirat kelak hanyalah dua : entah engkau akan masuk surga yang penuh kenikmatan, ataukah justru ke neraka yang penuh ‘adzab yang pedih.

Apabila engkau dapati ada kebenaran dalam tulisan ini maka ambillah, dan ketahuilah bahwa itu hanyalah semata-mata dari Allah Ta’ala dan kita puji Dia dengan pujian yang banyak. Dan apabila engkau dapati kekeliruan dalam tulisan ini maka tinggalkanlah, dan ketahuilah bahwa itu hanyalah dari syaithon dan diri saya pribadi, dan aku momohon agar Allah Ta’ala mengampuni hal tersebut.

Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya, sholawat dan salam semoga tercurah atas Muhammad shollalloohu ‘alaihi wasallam.

~ Saudaramu yang mencintaimu karena Allah ~

Kategori:Akhlaq Islam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: