Beranda > Aqidah & Manhaj > Pembahasan Lengkap Tentang ‘Ilmu Syar’i

Pembahasan Lengkap Tentang ‘Ilmu Syar’i

Artikel ini merupakan kumpulan dari beberapa artikel yang terkait dengan pembahasan tentang ‘ilmu syar’i (definisi, kedudukan, metode, dan lainnya).

Artikel-artikel tersebut saya gabungkan dari beberapa artikel yang ada di blog http://sunniy.wordpress.com (semoga Allah Ta’ala membalas pemilik blog tersebut dengan kebaikan), karena saya anggap akan lebih baik apabila artikel-artikel tersebut digabungkan.

Untuk file dalam format PDF, bisa didownload di http://www.4shared.com/document/ynqW4Bx5/Pembahasan_Lengkap_Tentang_Ilm.html

Semoga bermanfaat.

Seluruh kumpulan artikel tentang pembahasan ‘ilmu syar’i ini diambil dari http://sunniy.wordpress.com (semoga Allah Ta’ala membalasnya dengan kebaikan).

Definisi Ilmu Syar’i, Keutamaan, dan Hukum Menuntutnya

[Dinukil dari kitab Kitabul ‘Ilmi, Penulis Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i, Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid, Penerbit Pustaka Sumayyah]

DEFINISI ILMU

Secara Etimologi (Bahasa)

‘Ilmu adalah antonim (lawan kata) dari jahl (kebodohan). Ilmu adalah pengetahuan secara pasti tentang suatu obyek sesuai dengan kenyataannya.

Secara Terminologi (Istilah)

Sebagian ulama mengatakan bahwa ilmu adalah pengetahuan terhadap sesuatu dan merupakan lawan kata dari al-jahl (kebodohan). Sebagian mereka mengatakan bahwa ilmu adalah suatu kata yang terlalu jelas untuk didefinisikan.

Ilmu yang kita maksudkan adalah ilmu syari’at, yaitu ilmu yang Allah turunkan pada Rasul-Nya berupa keterangan-keterangan dan petunjuk. Maka ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu (yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya), sebatas pada ilmu yang Allah turunkan saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan pahamkan dia dalam agama.”1

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar tidak pula dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah memperoleh bagian yang melimpah.”2

Telah dimaklumi bahwa yang diwariskan oleh para Nabi hanyalah ilmu syari’at Allah bukan yang lain. Para Nabi tidak memberikan warisan kepada manusia berupa ilmu perindustrian ataupun yang berhubungan dengan ilmu tersebut.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang di kota Madinah, menjumpai manusia melakukan proses penyerbukan pada pohon-pohon kurma. Beliau berkata dengan suatu ucapan ketika melihat betapa payahnya mereka, yaitu tentang tidak perlunya melakukan penyerbukan terhadap pohon-pohon tersebut, maka mereka pun melaksanakan (apa yang beliau katakan). Mereka pun meninggalkan proses penyerbukan yang sebelumnya mereka lakukan. Akibatnya pohon-pohon kurma itu rusak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka,

أنتم أعلم بشؤون دنياكم

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”3

Andaikata ilmu tersebut adalah ilmu yang terpuji maka tentunya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tahu tentang ilmu lersebut. Sebab Nabi adalah orang yang paling banyak disanjung dengan ilmu dan amalannya. Jika demikian halnya, maka ilmu syari’at adalah ilmu yang terpuji dan bagi orang yang menguasai dan mengamalkan akan mendapatkan sanjungan.

Namun dengan pernyataan tersebut saya tidak memungkiri bahwa boleh jadi dalam ilmu ilmu tersebut memiliki dua sisi: Apabila llmu llmu tersebut menopang ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agama-Nya serta manusia pun dapat menimba manfaat dari ilmu-ilmu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut merupakan suatu kebaikan dan kemaslahatan.

Boleh jadi mempelajari ilmu-ilmu tersebut hukumnya wajib dalam keadaan tertentu (yaitu) bila perkara tersebut masuk dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (Al-Anfal: 60)

Banyak di antara ulama yang menyatakan bahwa mempelajari ilmu perindustrian hukumnya fardhu kifayah. Karena manusia membutuhkan perabotan yang mereka gunakan untuk memasak, minum dan perkara-perkara lain yang dapat diambil manfaatnya oleh manusia.

Sekiranya tidak ada orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan industri tadi, maka mempelajari perkara-perkara tersebut hukumnya menjadi fardhu kifayah. Dan ini bahasan yang menjadi polemik di kalangan para ulama.

Bagaimana pun juga saya ingin mengatakan bahwa ilmu yang dipuji adalah ilmu syari’at, yaitu pemahaman terhadap Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain ilmu syari’at boleh jadi ilmu-ilmu tersebut merupakan perantara pada kebaikan atau pun perantara kepada kejelekan. Maka hukum dari ilmu-ilmu tersebut tergantung dari masalah penggunaan akhimya.

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN ILMU

Allah subhanahu wa ta’ala dan As-Sunnah Al-Muthaharah telah memuji ilmu dan ahlinya. Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga telah memberi motivasi kepada hamba-Nya untuk berilmu dan berbekal dengan ilmu. Ilmu syari’at termasuk amalan shalih, amalan ibadah yang paling utama dan paling mulia, karena ilmu merupakan salah satu jenis jihad di jalan Allah.

Din (agama) Allah subhanahu wa ta’ala ini tegak dengan dua perkara,
1. Ilmu dan bukti-bukti yang nyata.
2. Peperangan dan senjata.

Jadi mau tidak mau agama ini tegak dengan dua perkara di atas. Tidak mungkin agama Allah tegak dan tampil kecuali dengan dua perkara tersebut. Perkara pertama harus didahulukan dari perkara kedua. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyerang suatu kaum sampai dakwah telah disampaikan kepada mereka. Karenanya ilmu harus didahulukan dari peperangan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri dalam keadaan dia takut kepada adzab akhirat dan mengharapkan rahrnat Tuhannya?” (Az-Zumar: 9)

Pertanyaan di sini haruslah disertai dengan pembandingnya, apakah orang yang berdiri di waktu malam dan siang hari seperti orang yang tidak berbuat demikian? Pihak kedua sebagai pihak yang terkalahkan dari segi keutamaan tidak disebutkan (dalam ayat di atas), sebab sudah diketahui keadaannya. Jadi apakah sama kedudukan orang yang beribadah di waktu malam, sujud atau berdiri dalam keadaan takut kepada (adzab) akhirat dengan mengharapkan rahrnat Tuhannya, sama dengan orang yang sombong (tidak mau) taat kepada Allah?

Jawabnya: Tidak sama. Orang yang beribadah dengan mengharapkan pahala dari Allah dan takut kepada (adzab) akhirat, amalannya itu (dilakukan berdasarkan) ilmu atau timbul dan kebodohan? Jawabnya: (Amalannya tersebut) bersumber dan ilmu.

Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang- orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

Orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang hidup dengan orang yang mati, orang yang mendengar dengan orang yang tuli, orang yang melihat dengan orang yang buta. Ilmu adalah berkas cahaya, yang dengan cahaya tersebut manusia akan memperoleh petunjuk dan mengeluarkannya dari kegelapan. Dengan ilmu Allah meninggikan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang orang yang heriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah: 11)

Oleh karena itu kita dapati bahwa ulama adalah orang-orang yang terpuji. Setiap kali mereka disebut (dibicarakan), orang-orang pun memuji mereka. Ini adalah ketinggian yang mereka peroleh di dunia, sedangkan di akhirat kelak mereka akan ditinggikan derajatnya sesuai dengan amal yang telah mereka kerjakan dan pengamalan ilmu yang telah mereka kuasai. Sesungguhnya hamba yang hakiki adalah hamba yang beribadah kepada Tuhannya di atas bashirah (ilmu yang mantap) dan kebenaran yang terang. Inilah jalan yang ditempuh Nabi.

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Seseorang yang bersuci (dari kotoran dan najis) dalam keadaan ia mengetahui ilmunya apakah dapat disamakan dengan orang yang bersuci lantaran melihat bapak dan ibunya bersuci? Dari dua orang tersebut, anakah yang lebih bisa merealisasikan ritual ibadah yang benar?

Manakah yang beramal di atas ilmu, orang yang bersuci karena mengetahui bahwa Allah telah memerintahkannya (untuk) bersuci dan bahwa hal tersebut merupakan cara bersuci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bersuci dalam rangka menjalankan perintah Allah dan mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah seseorang yang bersuci karena hal tersebut merupakan suatu kebiasaan saja baginya? Jawabnya, tidak disangsikan bahwa orang yang pertama adalah orang yang beribadah kepada Allah di atas bashirah (ilmu yang mantap). Lalu apakah sama kualitasnya orang yang pertama dan orang yang kedua? Walaupun kedua orang tersebut melakukan amalan yang sama, namun satu orang melakukan berlandaskan ilmu dan bashirah dengan mengharapkan pahala Allah subhanahu wa ta’ala, karena takut adzab akhirat dan merasa bahwa dia mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berhenti sejenak pada point ini, dan saya ingin bertanya, apakah ketika berwudhu kita menyadari bahwa kita sedang menunaikan perintah Allah subhanahu wa ta’ala (yang disebutkan) di dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6)

Apakah ketika berwudhu seseorang mengingat ayat ini dan ia pun berwudhu dalam rangka merealisasikan perintah Allah? Apakah dia merasa ini adalah wudhu seperti yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia pun berwudhu dalam rangka mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawabannya, ya. Semestinya kita menghadirkan hal itu. Atas dasar itu ketika melakukan ritual-ritual ibadah, kita hendaknya menjadi orang-orang yang menjalankan perintah Allah, sehingga nilai keikhlasan pun dapat terealisasikan dan kita pun menjadi orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita mengetahui bahwa niat adalah salah satu syarat wudhu, akan tetapi terkadang yang dimaksud dengan niat adalah niat amalan (niat sebagai salah satu syarat wudhu). Dan ini adalah bahasan yang dikaji dalam bahasan fiqih. Terkadang yang dimaksud dengan niat adalah yang ditujukan kepada siapa amalan itu ditujukan. Ketika itu kita wajib berhati-hati terhadap perkara yang agung ini. Yaitu hendaknya kita selalu mengingat (perintah Allah) ketika sedang melaksanakan ritual ibadah, agar nilai keikhlasan dapat dicapai.

Kita pun hendaknya mengingat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; telah mengerjakan amalan tersebut dan kita berusaha mengikuti beliau agar mutaba’ah (sikap taat) kepada Rasulullah dapat terwujud pula. Sebab termasuk syarat sah diterimanya suatu amalan adalah ikhlas dan mutaba’ah. Dengan kedua perkara tersebut (ikhlas dan mutaba’ah) maka akan terealisasikan syahadat (Tiada Ilah yang berhak di ibadahi kecuali Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.

Kita kembali pada pembahasan keutamaan-keutamaan ilmu yang telah dikemukakan tadi. Karena dengan ilmu seseorang dapat beribadah kepada Tuhannya dengan bashirah. Dia akan terikat hatinya dengan ibadah tersebut dan hatinya pun menjadi terang. Dia mengerjakan amalan lantaran ia merupakan ibadah bukan sekedar kebiasaan semata.

Oleh karena itu apabila seseorang melaksanakan shalat dengan cara (yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka ia akan memperoleh jaminan seperti apa yang telah Allah beritakan, bahwa shalatnya akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Di antara keutamaan-keutamaan ilmu yang penting adalah sebagai berikut:

1. Ilmu adalah warisan para Nabi

Para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil ilmu tersebut maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para Nabi. Anda sekarang berada di abad ke-15 (hijriyah). Jika anda seorang yang berilmu, berarti anda telah mengambil warisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal tersebut termasuk keutamaan yang paling besar.

2. Ilmu sifatnya kekal sedangkan harta akan musnah.

Inilah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau tergolong shahabat Rasulullah yang fakir. Sampai-sampai beliau pernah jatuh pingsan lantaran rasa lapar yang dialaminya. Saya akan bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah (nama) Abu Hurairah masih tetap beredar di tengah-tengah manusia pada zaman kita sekarang ini ataukah tidak? Jawabannya ya, (nama beliau masih) banyak beredar (disebut).

Abu Hurairah akan mendapatkan pahala disebabkan orang-orang yang mengambil faedah dari hadits-hadits (yang diriwayatkan darinya). Karena ilmu sifatnya langgeng (kekal) sedangkan harta akan habis, maka wajib bagi kalian wahai penuntut ilmu untuk berpegang teguh dengan ilmu.

Dalam sebuah hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ الَّذِي يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendo’akannya.”4

3. Pemilik ilmu tidak akan bersusah payah menjaga ilmunya.

Pasalnya jika Allah memberikan karunia ilmu kepadamu, maka ia akan berada di hati, tidak perlu peti, kunci, dan lainnya. Ilmu tersebut terjaga di dalam hati dan terjaga pula di dalam jiwanya. Dan pada waktu yang sama ia menjagamu karena ia melindungi dari mara bahaya dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu ilmu menjagamu, tapi harta benda kamulah yang menjaganya. Kamu harus menyimpan harta tersebut di peti-peti dalam keadaan terkunci rapat. Meski demikian engkau belum merasa tenang terhadap harta tersebut.

4. Ilmu akan mengantarkan seseorang menjadi saksi terhadap Al-Haq.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian).” (Ali Imran: 18)

Apakah Allah (dalam ayat tersebut) menyebutkan para pemilik harta? Tidak. Sebaliknya yang disebut Allah adalah orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan.

Oleh karena itu cukuplah bagi engkau untuk berbangga hati, wahai penuntut ilmu, engkau bisa digolongkan ke dalam kelompok orang yang bersaksi bagi Allah, bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Dia bersama para malaikat yang akan memberikan kesaksian akan keesaan-Nya subhanahu wa ta’ala.

5. Ahli ilmu merupakan salah satu komponen Wulatul Umur (pemerintah) yang Allah perintahkan untuk mematuhi mereka.

(Hal itu) dinyatakan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59)

Wulatul Umur (yang disebutkan) di sini mencakup dalam pengertian penguasa dan pemerintah maupun para ulama dan para penuntut ilmu. Cakupan wewenang ulama adalah dalam hal menjabarkan syari’at Allah dan mengemban misi dakwah. Sedangkan cakupan wewenang para penguasa adalah dalam penerapan syari’at Allah, sekaligus mengharuskan rakyat untuk menjalankannya.

6. Ulama adalah penegak perintah Allah sampai Hari Kiamat.

Hal tersebut didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Mua’wiyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين، وإنما أنا قاسم والله يعطي ولن تزال هذه الأمة قائمة على أمر الله لا يضرهم من خالفهم حتى يأتي أمر الله

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan pahamkan dia dalam agama. Saya hanyalah seorang pembagi, sedangkan Allah Sang Pemberi. Dan akan senantiasa ada pada umat ini kelompok yang tegak di atas perintah Allah, tidak akan merugikan mereka orang-orang yang menyelisihinya sampai datang keputusan Allah.”5

Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang kelompok tersebut, “Kalau mereka bukan Ahlul Hadits, saya tidak tahu lagi siapa mereka.”

Al-Qadhi Iyyadh rahimahullah berkata, “Yang dimaksud Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah dan orang-orang yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.”

7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memotivasi seseorang untuk iri terhadap orang lain yang memperoleh nikmat Allah kecuali dalam 2 perkara:

1. Seseorang yang menuntut ilmu dan mengamalkannya.
2. Seorang pengusaha yang menginfakkan hartanya untuk kepentingan Islam.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasuluilah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا حسد إلا في اثنتين: رجل أتاه الله مالاً فسلطه على هلكته في الحق، ورجل آتاه الله حكمةً فهو يقضي بها ويعلمها

“Tidak ada hasad (iri) kecuali dalam 2 perkara: seseorang yang Allah limpahkan harta kepadanya lalu orang tersebut menghabiskan seluruh hartanya dalam kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah kemudian dia mengamalkan dan mengajarkannya.”6

8. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا فكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير وكانت منها أجادب أمسكت الماء فنفع الله بها الناس فشربوا وسقوا وزرعوا وأصابت منها طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماء ولا تنبت كلأ فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya laksana hujan yang menerpa bumi, maka di antara tanah di bumi tersebut ada yang baik, bisa menyerap air dengan hujan tersebut tumbuhlah tanam-tanaman yang banyak dan rerumputan. Di antaranya ada tanah yang keras mampu menampung air, maka Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang tertampung tersebut, mereka dapat meminumnya, mengairi tanah dan bercocok tanam. Kemudian hujan itu menerpa tempat lainnya, tempat itu berupa tanah tandus yang tidak bisa menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang mengerti dan memahami dien Allah, diapun dapat memberikan manfaat dari ajaran syari’at yang kubawa, dia mengetahui dan mengajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya terhadap ilmu dan petunjuk. Dia tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku bawa.”7

9. Ilmu adalah jalan menuju surga.

Sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”8

10. Disebutkan dalam hadits (yang diriwayatkan oleh) Mu’awiyah,

Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam agama.”

Maksudnya Allah akan menjadikan dia sebagai orang yang faqih (paham) dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala. Yang dimaksud dengan pemahaman agama bukan hanya sebatas pemahaman hukum-hukum amaliah yang khusus saja, yang menurut para ulama diistilahkan dengan ilmu fiqih.

Namun (lebih dari itu), yang dimaksud dengan pemahaman agama adalah mencakup ilmu tauhid, ilmu ushul fiqih, dan disiplin ilmu lain yang terkait dengan syari’at Allah subhanahu wa ta’ala. Andaikata tidak ditemukan dalam nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah kecuali hadits ini dalam menerangkan keutamaan ilmu, niscaya hadits itu cukup untuk mendorong proses penuntutan ilmu syari’at dan pemahamannya.

11. Ilmu adalah cahaya yang bisa menerangi seorang hamba.

Sehingga dia dapat mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Tuhannya dan bagaimana dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga jejak langkahnya didasari oleh ilmu dan bashirah.

12. Ulama adalah cahaya yang dengan (melalui) mereka manusia dapat memperoleh petunjuk dalam perkara agama dan dunia.

Tidak samar bagi kebanyakan orang tentang kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang telah membunuh 99 manusia lalu orang itu bertanya tentang orang yang paling berilmu. Kemudian ditunjukkan pada seorang ahli ibadah. Lalu ia bertanya kepada ahli ibadah apakah masih ada kesempatan bagi dirinya untuk bertaubat? Ahli ibadah itu memandang perbuatan itu sangat besar, lantas ia menjawab: tidak. Akhirnya laki-laki tersebut membunuh ahli ibadah tersebut. Maka genaplah bilangan orang yang dibunuh menjadi 100 jiwa.

Setelah itu dia pergi menemui seorang ulama, lalu ia bertanya kepadanya. Kemudian ulama tersebut mengabarkan kepadanya bahwa masih ada kesempatan untuk bertaubat dan tiada seorang pun yang menghalanginya untuk bertaubat. Kemudian ulama itu menunjukkan padanya sebuah negeri yang penduduknya adalah orang-orang shalih agar dia menuju negeri tersebut. Maka dia pun keluar, di tengah jalan kematian menjemputnya. Kisah ini sudah termasyhur (terkenal).9

Maka lihatlah perbedaan antara seorang ulama dengan seorang yang jahil (bodoh).

13. Sesungguhnya Allah akan meninggikan ahli ilmu (ulama) di akhirat kelak dan di dunia.

Di akhirat Allah akan mengangkat mereka beberapa derajat sesuai dengan dakwah dan amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Sedangkan di dunia Allah akan meninggikan mereka di antara hamba-hambanya sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah: 11)

____________
Footnote:

1 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Ilmi Bab: Man Yuridillahu bihi Khairan dan Muslim dalam Kitabuz Zakat Bab: ‘An-nahyu ‘anil Mas’alati.

2 HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ilmi Bab: Al-Hatsu ‘alal Thalabul ‘Ilmi (Anjuran Untuk Menuntut Ilmu) dan At-Tirmidzi dalam Kitabul Ilmi Bab: Maa Jaa fi Fadlil Fiqhi ‘alal ‘Ibadati.

3 HR. Muslim dalam Kitabul Fadhail Bab: Wujubu Imtisali Maqalahu Syar ‘an Duna Man Dzakarahu Shallallahu ’alaihi wa Sallam min Ma’ayisyid Dunya ‘ala Sabilir Ra’yi.

4 HR. Muslim dalam Kitabul Washiyat Bab: Maa Yalhaqal Insanu minats Tsawabi ba’da Wafatihi.

5 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Ilmi Bab: Man Yuridillahu bihi Khairan dan Muslim dalam Kitabuz Zakat Bab: ‘An-Nahyu ‘anil Mas ‘alati.

6 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Ilmi Bab: Ightibath fil ‘Ilmi wal Hikmah dan Muslim dalam Kitabush Shalah Bab: Fadlu man Yaqumu fil Qur ‘ani wa Ya ‘alimuhu.

7 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Ilmi Bab: Man ‘Alima wa ‘Amala dan Muslim dalam Kitabul Fadhail Bab: Matsalu Maa Ba ‘atsa Nabiyu Shallallahu ’alaihi wa Sallam minal huda wal ‘ilmi.

8 HR. Muslim dalam Kitabud Da’awat Bab: Fadlul Ijtima’i ‘ala Tilawatil Qur’an.

9 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Anbiya Bab: Maa Dzakara ‘an Bani Israil dan Muslim dalam Kitabut Taubah Bab: Qabulu Taubatil Qatil.

HUKUM MENUNTUT ILMU SYAR’I

Menuntut ilmu syari’at hukumnya fardhu kifayah apabila telah dilakukan oleh sekelompok orang dalam jumlah yang cukup sehingga bagi yang lainnya hukumnya sunnah. Boleh jadi menuntut ilmu hukumnya wajib ‘ain bagi orang tertentu.

Batasannya adalah seseorang harus paham dan mengerti tentang pengetahuan terhadap suatu ritual ibadah yang hendak dia kerjakan ataupun muamalah yang hendak ia lakukan. Dalam keadaan ini wajib baginya untuk mengetahui bagaimana caranya beribadah kepada Allah dan bagaimana dia bisa bermuamalah (dengan orang lain).

Adapun ilmu selain itu hukumnya fardhu kifayah. Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu untuk menyadari bahwa dia sedang melakukan ibadah yang fardhu kifayah, agar ia memperoleh pahala orang yang menunaikan kewajiban sekaligus ia pun memperoleh ilmu. Tidak diragukan bahwa menuntut ilmu termasuk jenis amalan yang paling utama. Bahkan (lebih dari itu) amalan tersebut termasuk jihad di jalan Allah.

Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, ketika mulai bermunculan berbagai kebid’ahan di masyarakat Islam, tersebar luas dan bertambah banyak (bentuk dan ragamnya). Kebodohan yang banyak dari orang-orang yang mulai memberanikan diri untuk berfatwa tanpa ilmu. Juga mulai muncul berbagai perdebatan pada kebanyakan orang.

Tiga faktor yang mengharuskan para pemuda untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, yaitu:

(a) Berbagai kebid’ahan yang mulai terbit bintang-bintangnya.
(b) Orang-orang yang memberanikan diri berfatwa tanpa ilmu.
(c) Banyak orang yang berdebat dalam perkara yang sudah jelas menurut para ulama, namun muncul orang-orang yang mendebatnya dalam perkara itu tanpa ilmu.

Atas pertimbangan itu kita membutuhkan ulama yang mumpuni dan memiliki jam terbang tinggi dalam mengkaji (ilmu agama ini). Mereka memiliki pemahaman dan pengetahuan terhadap agama Allah. Mereka menggunakan hikmah dalam membimbing hamba-hamba Allah.

Karena kebanyakan manusia sekarang ini, mereka hanya memperoleh ilmu yang sifatnya teori murni dalam saiah satu permasalahan, namun (sangat disayangkan) mereka tidak menaruh perhatian pada usaha pembenahan masyarakat dan pembinaan terhadap mereka.

Apabila mereka berfatwa dengan ini dan itu, justru menjadi wasilah (perantara) menuju kejelekan yang lebih besar yang tidak diketahui ujungnya kecuali oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

T a m a t

Adab dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Dinukil dari kitab Kitabul Ilmi Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i Bab Adab dalam Menuntut Ilmu Syar’i Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid Penerbit Pustaka Sumayyah
(source: http://sunniy.wordpress.com )

Seorang penuntut ilmu harus berakhlak dengan berbagai adab santun. Kami akan paparkan beberapa diantaranya:
الأمر الأول : إخلاص النية لله عز وجل

1. Mengikhlaskan niat untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Tujuan dalam menuntut ilmu adalah untuk (mengharapkan) wajah Allah dan untuk (memperoleh kebaikan) kehidupan akhirat. Allah telah menganjurkan dan memberikan motivasi untuk menuntut ilmu di dalam firman-Nya,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang haq untuk diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.” (Muhammad: 19)
Pujian terhadap ulama di dalam Al-Qur’an telah cukup dikenal. Apabila Allah memuji sesuatu atau memerintahkannya, maka hal tersebut menjadi suatu amaliah ibadah. Jika demikian maka dalam menuntut ilmu wajib untuk mengikhlaskan diri hanya bagi Allah, yaitu dengan jalan seorang harus meniatkan (mengharapkan) wajah Allah. Jika seseorang meniatkan dalam menuntut ilmu syari’at itu untuk meraih ijazah yang akan dia gunakan untuk mencapai suatu kedudukan ataupun status tertentu, maka sesungguhnya Rasulullah bersabda,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة
“Barangsiapa mempelajari ilmu yang diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta dunia maka dia tidak akan mencium wangi surga di Hari Kiamat.”1

Maksudnya adalah mencium baunya. Dan ini merupakan ancaman yang keras. Tapi jika ada seorang penuntut ilmu yang mengatakan saya ingin memperoleh ijazah bukan lantaran ingin mendapatkan bagian dari harta dunia akan tetapi sistem (yang ada) menjadikan ukuran seorang ulama adalah ijazahnya. Kami katakan, jika seseorang berniat memperoleh ijazah dalam rangka memberi kemanfaatan kepada orang lain baik dalam bidang pengajaran, administrasi, atau dalam bidang lainnya maka hal tersebut merupakan niatan yang lurus, tidak membahayakan dirinya sedikitpun, karena niatan tersebut benar.

Kita mengulas faktor keikhlasan di awal pembahasan adab-adab penuntut ilmu tidak lain karena keikhlasan merupakan hal yang prinsipil. Maka penuntut ilmu wajib meniatkan amalannya dalam rangka menunaikan perintah Allah. Karena Allah memerintahkan dalam firman-Nya,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang haq untuk diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.” (Muhammad: 19)
Allah memerintahkan untuk berilmu, maka jika engkau mempelajari ilmu berarti engkau telah menunaikan perintah Allah Azza wajalla.
____________
Footnote:
1 HR. Ahmad juz 2 hal 338, Abu Dawud dalam Kitabul ‘Ilmi Bab: Thalabul ‘Ilmi li Ghairillah, Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah Bab: Al-Intifa’u bil ‘Ilmi wal Amalihi bihi, Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1 hal 160, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf juz 8 hal. 543, Al-Ajuri dalam Akhlaqul ‘Ulama hal. 142, Akhlaqul Ahlil Qur ‘an hal. 128 no. 57. Al-Hakim berkata, “Hadits shahih dan perawinya tsiqah.”

الأمر الثاني: رفع الجهل عن نفسه وعن غيره
2. Menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.

Ketika seseorang menuntut ilmu hendaknya diniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain. Karena asal muasal manusia adalah bodoh. Dalil hal tersebut adalah firman Allah,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan kamu tidak mengetahui sesuatupun dan Allah memberikanmu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Realita membuktikan demikian, maka engkau harus meniatkan (dalam menuntut ilmu adalah) untuk menghilangkan kebodohan dari dirimu. Dengan demikian engkau akan mendapatkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Jadi, engkau harus berniat menghilangkan kebodohan dari dirimu, karena pada dasarnya dalam dirimu tersimpan kebodohan. Jika engkau belajar engkau akan menjadi orang yang berilmu dan kebodohanmu akan hilang.

Demikian pula engkau meniatkan (dengan belajar itu) untuk menghilangkan kebodohan dari umat ini. Hal tersebut dapat dicapai dengan ta’lim (proses belajar mengajar) atau dengan berbagai macam cara agar orang lain bisa menimba manfaat dari ilmumu.
Apakah termasuk syarat mengambil manfaat ilmu adalah dengan cara duduk di masjid dalam suatu halaqah ataukah mengambil manfaat ilmu tersebut pada semua kondisi?

Jawabnya: dengan (jawaban) kedua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بلغوا عني ولو آية
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”2

Apabila engkau mengajarkan ilmu kepada seseorang kemudian orang itu mengajarkan kepada orang lain, maka engkau akan mendapatkan pahala dua orang. Apabila orang ketiga mengajarkan kepada orang lain, engkau akan mendapatkan pahala tiga orang. Demikian seterusnya.

Tergolong perbuatan bid’ah apabila seseorang menunaikan suatu ibadah lalu mengucapkan,
اللهم اجعل ثوابها لرسول الله
“Ya Allah, jadikan pahala ibadah ini untuk Rasulullah.”
Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang telah mengajari dan menunjukimu, maka (secara otomatis) beliau akan mendapatkan pahala seperti pahalamu.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,
العلم لا يعدله شيء لمن صحت نيته
“Ilmu, tidak ada satu pun yang dapat menandinginya bagi orang yang lurus niatnya.”
Para muridnya bertanya, “Mengapa demikian?” Beliau menjawab,
ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره
“(Karena) ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”

Sebab pada dasarnya kebodohan melekat pada diri mereka sebagaimana kebodohan itu merupakan sifat dasar yang melekat pada dirimu. Apabila engkau belajar dalam rangka rnenghilangkan kebodohan dari umat ini berarti engkau digolongkan dalam deretan orang yang berjihad di jalan Allah dan menyebarkan agama-Nya.
____________
Footnote:
2 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Anbiya’ Bab: Maa Dzakara ‘an Bani Israil

الأمر الثالث: الدفاع عن الشريعة
3. Membela Syari’at.

Dengan menuntut ilmu ia juga mempunyai niat untuk membela syari’at (Islam). Sebab kitab-kitab tidak dapat membela syari’at (secara langsung) dan pembelaan syari’at ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang yang mengembannya. Jika seorang Ahlul Bid’ah datang ke suatu perpustakaan yang dipenuhi berbagai macam kitab syari’at yang tidak terhitung jumlahnya, lalu dia berbicara dengan kebid’ahan dan mengikrarkannya maka saya yakin tidak akan ada satu kitab pun yang akan membantahnya. Lain halnya jika Ahlul Bid’ah tersebut berbicara dengan kebid’ahannya di hadapan seorang yang berilmu (ulama) untuk mengikrarkan kebid’ahannya, tentu penuntut ilmu tersebut akan membantah dan menghabisi ucapannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus meniatkan belajarnya untuk membela syari’at.

Pembelaan terhadap syari’at Islam tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki senjata. Apabila kita memiliki berbagai macam senjata yang telah memenuhi gudang persenjataan apakah senjata-senjata itu sanggup dengan sendirinya menembakkan pelurunya kepada musuh? Ataukah tidak bisa kecuali dengan orang yang menggerakkannya?

Jawabannya: perbuatan itu (menyerang musuh dengan senapan) tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang menggunakannya. Demikian juga dengan ilmu. Sesungguhnya bid’ah yang baru akan terus muncul, terkadang terjadi bid’ah-bid’ah yang tidak muncul pada zaman dahulu dan bid’ah-bid’ah tersebut tidak terdapat dalam kitab-kitab (buku-buku), sehingga tidak mungkin membela syari’at ini kecuali dilakukan oleh penuntut ilmu.

Oleh karena itu saya katakan, sesungguhnya termasuk hal-hal yang wajib untuk diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah masalah pembelaan syari’at ini. Dengan demikian manusia berada dalam kondisi sangat butuh kepada ulama, dalam rangka menghadapi tipu daya Ahlul Bid’ah dan segenap musuh-musuh Allah. Hal itu tidaklah bisa terealisasi kecuali dengan ilmu syari’at yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الأمر الرابع: رحابة الصدر في مسائل الخلاف
4. Berlapang dada dalam masalah khilafiyah (perbedaan pendapat).

Hati seorang penuntut ilmu harus lapang dalam masalah perbedaan pendapat yang bersumber dari proses ijtihad. Sebab masalah perbedaan pendapat di kalangan ulama bisa jadi tergolong masalah yang tidak ada lagi tempat untuk berijtihad dalam masalah tersebut. Sebab titik masalahnya sudah jelas (gamblang) sehingga tidak seorangpun memperoleh udzur (alasan) untuk menyelisihinya.

Bisa jadi masalah tersebut adalah masalah yang masih terbuka pintu ijtihad di dalamnya, sehingga seseorang bisa diterima alasannya jika menyelisihi (pendapat yang lain) dalam masalah itu. Bukan berarti ucapanmu akan menjadi bumerang bagi orang yang menyelisihimu, sebab kalau kita menerima (konsep) itu maka tentunya kita akan katakan dengan yang sebaliknya ucapannya (bisa) menjadi bumerang atasmu. Berdasarkan hal tersebut, saya mengingatkan bahwa akal tidak mempunyai tempat dalam masalah ini, sehingga orang-orang tidak mempunyai kelonggaran untuk berselisih paham dalam masalah tersebut.

Adapun orang-orang yang menyelisihi jalan kaum Salaf seperti (dalam) masalah-masalah aqidah, maka dalam masalah ini penyelisihan yang dilakukan seseorang yang berbeda dengan yang diyakini oleh Salafus Shalih tidak bisa ditolerir. Tapi pada masalah-masalah lain yang ada tempat bagi akal untuk berperan di dalamnya, maka tidak sepatutnya untuk menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai bahan cemoohan pada orang lain. Dan tidak sepatutnya untuk menjadikan hal tersebut sebagai pemicu terjadinya permusuhan dan kebencian.

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum, saling berbeda pendapat dalam banyak masalah. Dan siapa yang ingin mengetahui perbedaan pendapat di kalangan mereka hendaklah ia merujuk atsar-atsar yang menuturkan tentang (keadaan) rnereka. Akan dijumpai adanya perbedaan pendapat dalam berbagai masalah. Permasalahan mereka lebih besar dibandingkan dengan masalah-masalah yang diangkat oleh orang-orang pada zaman ini sebagai isu-isu untuk berbeda pendapat, sehingga orang-orang menjadikan perbedaan itu sebagai bentuk pengkotak-kotakan massa. Mereka mengatakan, “Saya seide dengan Fulan, saya satu haluan dengan Fulan.” Seolah-olah masalah ini adalah masalah penggolong-golongan (antara satu kelompok dengan kelompok lain). Ini adalah suatu kekeliruan.

Contoh dari hal tersebut, ada seseorang mengatakan, “Jika engkau bangkit dari ruku’ janganlah engkau letakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu, tapi lepaskanlah kedua tanganmu ke arah sisi kedua belah pahamu. Jika engkau tidak mengerjakannya maka engkau adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).”
Kalimat “mubtadi'” bukan suatu perkara yang remeh. Apabila ada orang yang mengatakan itu padaku maka akan timbul ketidaksukaan dalam dadaku sebab kita adalah manusia biasa.

Kita katakan, dalam permasalahan ini terdapat kelonggaran, seseorang mungkin untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya atau melepaskan kedua tangannya. Oleh karenanya Imam Ahmad memberikan alternatif untuk memilih apakah ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya ataukah melepaskannya. Sebab perkara dalam persoalan ini cukup longgar.

Tapi amalan manakah yang merupakan sunnah dalam masalah ini? Jawabannya: Yang sunnah adalah engkau meletakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu jika engkau bangkit dari ruku’, sebagaimana engkau meletakkannya tatkala berdiri. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Sahal bin Sa’ad, beliau berkata,
كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل يده اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة
“Dulu orang-orang menyuruh mereka yang mengerjakan shalat untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya.”3

Silahkan engkau perhatikan, apakah beliau kehendaki hal itu (menaruh lengan kanan di atas lengan kiri) ketika sujud, ketika ruku’, ataukah ketika duduk? Tidak, namun yang dikehendaki beliau adalah ketika dalam keadaan berdiri, baik berdirinya itu sebelum ruku’ atau sesudahnya.

Jadi kita wajib untuk tidak menjadikan perbedaan pendapat yang muncul di kalangan ulama sebagai pemicu perpecahan dan persengketaan di antara umat Islam. Sebab kita semua mendambakan kebenaran dan kita semua menjalankan apa yang dipahami dari proses ijtihad mereka. Selama masih sebatas itu, maka kita tidak diperkenankan untuk menjadikan hal tersebut sebagai pemicu permusuhan dan perpecahan di antara ulama. Sebab perbedaan pendapat itu senantiasa muncul di kalangan ulama, bahkan pada zaman Nabi sekali pun. Kalau begitu, penuntut ilmu berkewajiban untuk bersatu padu dan mereka tidak menjadikan perbedaan pendapat semacam ini sebagai sebab untuk saling menjauhi dan saling membenci satu sama lain.

Sebaliknya, yang wajib jika engkau berbeda pendapat dengan rekanmu berdasar kandungan dalil yang engkau pegang dan dia berbeda pendapat denganmu berdasarkan dalil yang dia pegang, hal itu justru akan menjadikan kalian berada di atas jalan yang sama dan kecintaan di antara kalian berdua pun akan semakin bertambah.

Oleh karena itu kami merasa bersuka cita dan menyambut gembira terhadap generasi muda kita yang memiliki kecenderungan besar untuk mengadakan studi banding terhadap berbagai macam masalah dengan menyodorkan dalil-dalil dan adanya kecenderungan besar untuk membangun ilmu mereka di atas Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami memandang bahwa fenomena tersebut merupakan pertanda baik dan kabar gembira pun akan ia rasakan dengan dibukanya pintu-pintu ilmu dari jalur-jalur yang benar. Dan kita tidak menghendaki mereka menjadikan fenomena tersebut sebagai pemicu proses pengkotakan massa dan penanaman kebencian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (Al-An’am: 159)

Kami tidak menyepakati perbuatan orang-orang yang menjadikan diri mereka menjadi bergolong-golong dan masing-masing fanatik pada golongannya. Sebab golongan Allah hanyalah satu. Kami pun memandang bahwa perbedaan paham lain dan tidak pula mendorong mereka untuk menjatuhkan kehormatan saudaranya.
Para penuntut ilmu wajib menjadi orang-orang yang bersaudara kendati mereka berselisih paham dalam sebagian perkara furu’ (cabang) dan hendaknya satu sama lain mengajak dengan cara yang tenang dan bertukar pikiran (diskusi) dengan tujuan mencari wajah Allah dan tercapainya target ilmu.

Dengan sikap lembut akan terjalin persatuan. Fenomena kerusakan dan sifat arogan pada sebagian orang akan hilang. Terkadang hal tersebut sampai menyeret mereka pada pertengkaran dan permusuhan. Dan itu tidak diragukan lagi akan membuat musuh-musuh kaum muslimin bersorak gembira. Dan perselisihan yang terjadi di antara umat Islam tergolong aspek yang paling merugikan umat Islam sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum saling berbeda pendapat pada masalah-masalah semacam ini. Tapi mereka tetap berada di atas satu hati, di atas cinta kasih dan tetap bersatu. Bahkan saya akan katakan secara terus terang, apabila seseorang berbeda pendapat denganmu dengan dalil yang dia pegang, sebenarnya orang tersebut adalah mencocokimu. Sebab masing-masing dari kalian berdua adalah pencari kebenaran. (Alasan) berikutnya, tujuan kalian pun sama yaitu tercapainya target kebenaran yang berasal dari dalil.

Jika demikian halnya, maka orang tersebut tidak berbeda pendapat denganmu, selama engkau mengakui bahwa dia berbeda pendapat denganmu dengan dalil yang dia pegang. Lalu dimana (letak) perbedaan pendapatnya? Dengan cara ini umat akan tetap bersatu padu, meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah lantaran adanya dalil yang dipegang oleh masing-masing dari mereka.

Adapun orang yang keras kepala dan membantah setelah tampak kebenaran, maka tidak disangsikan lagi bahwa orang tersebut harus disikapi dengan cara yang setimpal dengan perbuatannya setelah (tampak) pembangkangan dan penyimpangannya. Setiap keadaan memiliki peringatan yang disesuaikan dengan kondisinya.
____________
Footnote:
3 HR. Al-Bukhari dalam Kitab Shifatush Shalat Bab: Wadha ‘al Yimna ‘alal Yusra (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) dan lafadznya dari Sahal bin Sa’ad berkata: “Manusia disuruh untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri dalam shalatnya.”

الأمر الخامس: العمل بالعلم
5. Mengamalkan ilmu.

Seorang penuntut ilmu hendaknya mengamalkan ilmunya, baik yang berhubungan dengan perkara aqidah, akhlak, adab sopan santun dan pergaulan dengan orang lain. Sebab amal adalah buah dan hasil ilmu. Seorang pembawa ilmu bagaikan orang yang membawa senjata. Bisa jadi ilmu tersebut membawa dampak positif bagi dirinya atau malah membawa dampak negatif. Oleh karena itu telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa beliau bersabda,
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi bencana bagimu.”4

Menjadi pembela bagimu jika engkau mengamalkannya. Demikian pula pengamalan hadits Nabi yang shahih dilakukan dengan cara membenarkan berita dan menjalankan hukum-hukumnya.

Jika datang berita dari Allah dan Rasul-Nya maka benarkan dan ambillah dengan penerimaan dan kepatuhan. Janganlah engkau katakan kenapa begini atau bagaimana ini? Sebab cara penyikapan seperti itu bukan jalan orang-orang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا
“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kepada shahabatnya beberapa perkara yang merupakan sesuatu yang aneh dan jauh dari pemahaman mereka. Tetapi mereka tetap menerimanya. Mereka tidak berkomentar kenapa atau bagaimana? Berbeda dengan penyikapan yang dilakukan orang-orang belakangan dari umat ini.

Kita dapati salah seorang dari mereka jika diberitakan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam akalnya merasa bingung lalu kita temui orang tersebut mengemukakan berbagai alternatif yang diharapkan dapat menghilangkan kebingungannya. Dia menunjukkan keberatannya dan sebaliknya tidak berusaha mencari kejelasan. Oleh karena itu dia akan terhalang dari taufiq Allah, walau telah disampaikan hadits Rasulullah kepadanya. la enggan menerima dan tunduk pada hadits tersebut. Saya akan membawakan sebuah contoh tentang hal tersebut.

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita turun ke langit dunia, tatkala tersisa sepertiga malam terakhir, lain Dia berfirman: Barangsiapa berdo’a kepada-Ku Aku akan mengabulkannya, barangsiapa meminta kepada-Ku Aku akan memberinya, dan barangsiapa memohon ampun kepada-Ku Aku akan mengampuninya.”5

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah menuturkan hadits tersebut. Hadits itu masyhur bahkan mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan). Tiada seorang shahabat pun yang angkat bicara dan bertanya, wahai Rasulullah bagaimana Allah turun? Apakah Arsy-Nya akan kosong ataukah tidak? Dan lain sebagainya. Namun kita dapati sebagian orang memperbincangkan perkara semacam ini, bagaimana Allah di atas Arsy-Nya sedangkan Dia turun ke langit dunia? Dan lontaran-lontaran serupa yang mereka kemukakan.

Andai saja mereka mau menerima hadits ini lantas mereka mengatakan, Allah ‘Azza wa Jalla bersemayam di atas Arsy-Nya. Sifat ketinggian termasuk keharusan dari Dzat-Nya. Allah turun sebagaimana yang Dia subhanahu wa ta’ala kehendaki. Tentunya syubhat-syubhat tersebut akan tersingkirkan dari diri mereka. Mereka tidak lagi merasa bingung dengan perkara-perkara yang diberitakan Nabi dari Rabb-nya.

Jika demikian halnya maka kita wajib menerima berita-berita ghaib dari Allah dan Rasul-Nya dengan ketundukan dan kepasrahan. Kita pun tidak menyangkalnya dengan apa yang terlintas dalam benak kita baik dari hal yang bisa dirasakan oleh panca indera atau dengan perkara yang pernah kita lihat. Sebab perkara yang ghaib berada di atas semua itu.

Contoh dalam masalah tersebut banyak sekali dan saya tidak ingin memperpanjangnya. Sikap seorang mukmin terhadap hadits-hadits ini hanyalah menerima dan tunduk dan mengatakan Maha Benar Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah beritakan dalam firman-Nya,
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.” (Al Baqarah: 285)

Aqidah (kita) wajib dibangun di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Hendaknya manusia mengetahui bahwa tiada tempat bagi akal dalam hal tersebut. Saya tidak mengatakan tidak ada jalan masuk bagi akal dalam masalah tersebut. Saya hanya mengatakan tidak ada tempat bagi akal dalam masalah tersebut. Sebab apa yang disebuikan oleh nash-nash tentang kesempurnaan Allah adalah sesuatu yang dipersaksikan (diterima) oleh akal. Walaupun akal manusia tidak akan sanggup memahami rincian kesempurnaan Allah. Namun akal bisa memahami bahwa Allah pemilik segala kesempurnaan. Maka mengamalkan ilmu aqidah yang telah Allah karuniakan adalah suatu keharusan. Demikian pula dari segi peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagaimana kebanyakan kita telah mengetahui bahwa ibadah dibangun di atas 2 prinsip dasar:

1. Ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Oleh karena itu setiap orang (harus) membangun amalnya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak merekayasa bid’ah dalam agama Allah, baik dari asal muasal ibadah tersebut maupun dalam sifatnya. Oleh karena itu kita katakan bahwa suatu amalan ibadah harus ditentukan oleh syari’at baik dalam bentuk, tempat, waktu maupun sebabnya. Ibadah harus benar-benar ditentukan oleh syari’at dalam perkara-perkara ini seluruhnya. Jika ada orang menetapkan sebuah sebab untuk beribadah kepada Allah tanpa dilandasi dalil maka kita akan membantahnya dan kita katakan amalan ini tidak diterima. Karena dia harus menetapkan bahwa sebab itu berasal dari ibadah tersebut.

Seandainya seseorang mensyari’atkan suatu bentuk peribadatan yang tidak pernah ditentukan oleh syari’at atau mendatangkan sesuatu yang ada pada syari’at namun dengan bentuk yang ia rekayasa sendiri ataupun dengan waktu yang ia tentukan sendiri, kita katakan bahwa ibadah tersebut akan tertolak. Sebab ibadah harus dibangun di atas ajaran syari’at. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari ilmu yang telah Allah subhanahu wa ta’ala ajarkan padamu. Janganlah engkau beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala melainkan dengan ajaran yang telah disyari’atkan-Nya. Para ulama mengungkapkan:
إن الأصل في العبادات الحظر حتى يقوم دليل على المشروعية
Bahwa hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ditemukan dalil yang mensyari’atkannya.
Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan bagi mereka agama yang tidak diizinkan Allah.” (Asy Syura’: 21)

Mereka berdalil pula dengan sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang tsabit dalam Ash Shahih (riwayat Muslim) dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak.”6

Walaupun engkau ikhlas (ketika mengerjakannya) dan engkau ingin agar ibadah tersebut sampai kepada Allah dan engkau ingin sampai pula pada kemuliaan-Nya, akan tetapi jika hal itu dilakukan dengan cara yang tidak disyari’atkan maka amalan itu akan tertolak. Jika engkau menghendaki untuk sampai kepada Allah dari jaian yang tidak Allah tentukan sebagai jalan pengantar kepada-Nya, maka amalan itu tertolak.

Jika demikian, maka seorang penuntut ilmu wajib untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan syari’at yang telah diajarkan oleh Allah tanpa menambah dan mengurangi. Dia tidak mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang ingin saya tunaikan untuk beribadah kepada Allah adalah hal yang cocok bagi jiwaku, tenang bagi hatiku dan lapang bagi dadaku.” Dia tidak mengatakan ungkapan seperti itu, walaupun kenyataannya memang terjadi. Hendaklah ia menimbang amalan tersebut dengan timbangan syari’at. Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah telah mengakuinya, maka ia wajib untuk menerima dengan mata dan kepalanya (mendengar dan mentaati). Jika tidak, maka amalan buruk telah diperindah bagi orang itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik (sama dengan orang yang tidak ditipu setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)

Seorang penuntut ilmu juga harus mengaplikasikan ilmunya dalam perkara akhlak dan pola interaksi dengan sesama. Ilmu syari’at mengajak kepada semua budi pekerti yang iuhur, baik berupa sifat jujur, menepati janji dan cinta kebaikan kepada orang-orang yang beriman. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
“Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya.”7

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda,
من أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه
“Barangsiapa ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah (ketika) datang kematiannya dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Dan hendaklah ia mendatangi manusia dengan apa yang ia pun suka jika hal itu didatangkan pada dirinya.”8

Banyak manusia yang memiliki ghirah (semangat) dan cinta kepada kebaikan, namun mereka berinteraksi dengan orang lain dengan akhlak yang tidak baik. Kita jumpai orang itu mempunyai perangai yang keras dan kasar, termasuk ketika berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita dapati orang tersebut menggunakan cara-cara yang kasar dan keras.

Perilaku ini menyalahi akhlak yang diperintahkan Allah. Ketahuilah bahwa akhlak yang baik tergolong bentuk amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang paling pantas mengikuti Nabi dan yang paling dekat kedudukannya di sisi Nabi adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلساً يوم القيامة أحاسنكم أخلاقاً، وإن أبغضكم إلى وأبعدكم مني يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون . قالوا يا رسول الله ! قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون؟ قال؟ المتكبرون
“Sesungguhnya di antara orang yang paling cinta diantara kalian kepadaku dan yang paling dekat di antara kalian kepadaku majelisnya pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku pada Hari Kiamat adalah Ats-Tsartsarun, Al-Mutasyaddiqun, dan Al-Mutafaihiqun. Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui makna Al-Tasrtsarun yaitu orang yang suka berteriak, sedang Al-Mutasyadiqun adalah orang yang banyak cakap. Lalu apa itu Al-Mutafaihiqun? Maka beliau menjawab, Yaitu orang-orang yang takabur.”9
____________
Footnote:
4 HR. Muslim dalam Kitabul Wudhu’ Bab: Fadhul Wudhu’.

5 HR. Al-Bukhari dalam Kitabut Tahajud Bab: Ad-Du’a wash Shalat minal Lail dan Muslim dalam Kitabus Shalatil Musafirin Bab: At-Targhib fi Du’a wadz Dzikri fi Akhiri Lail.

6 HR. Muslim dalam Kitabul Aqdiyah Bab: Taqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur.

7 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Iman Bab: An-Yuhibba li Akhihi ma Yuhibbu li Nafsihi dan Muslim Kitabul Iman Bab: Ad-Dalil ‘ala Anna min Khishalil Imani An-Yuhibba li Akhihi ma Yuhibbu li Nafsihi minl Khairi.

8 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imaroh Bab: Al-Amru bil Wafa ‘ibi Bai’atil Khulafail Awali fal Awali.

Nashnya berbunyi: Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
كنا مع رسـول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فنزلنا منزلاً فمنا من يصلح خباءه ومنـا من ينتصل، ومنـا من هو في جشره إذا نادي مُنادي رسول الله صلى الله عليه وسلم : الصلاة جامعة، فاجتمعنا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: (( أنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقاً عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم، وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها. = وتجيء فتن يرقق بعضاً وتجيء الفتنة فيقول المؤمن: هذه مهلكتي ثم تنكشف وتجيء الفتنة فيقول المؤمن: هذه هذه ! فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر، وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه .ومن بايع إماماً فأعطاه صفقة يديه وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر فاضربوا عنق الآخر )).
“Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam suatu perjalanan. Lalu kami singgah dalam suatu tempat. Maka di antara kami ada yang memperbaiki tendanya, ada yang sedang keluar, dan ada yang sedang berada di tempat pengembalaan ontanya. Ketika seorang juru panggil Rasulullah menyeru: As-Sholah Jamiah, maka kami pun berkumpul menuju Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

“Tiada seorang Nabi pun sebelumku melainkan dia akan menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang dia ketahui, dan memberi peringatan kepada mereka dari kejelekan. Sesungguhnya pada umat ini akan selamat generasi awalnya dan musibah akan menimpa generasi akhirnya dan berbagai perkara yang akan kalian ingkari dan akan datang berbagai fitnah yang sebagian melumatkan sebagian yang lainnya, dan akan datang fitnah lalu seorang yang mukmin berkata: “Inilah kebinasaanku.” Kemudian tampaklah fitnah tersebut. Lalu datanglah fitnah itu maka seorang mukmin berkata: “Inilah, inilah.” Barangsiapa yang cinta untuk dijauhkan dari api neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaklah ajal menjemputnya sedangkan ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Kiamat. Dan hendaklah melakukan perkara yang disukai orang lain sebagaimana diapun menyukai bila perbuatan itu dilakukan terhadapnya, Barangsiapa membai’at seorang pemimpin, lalu ia memberikan bai’at dengan sepenuh hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sekuat tenaga (sesuai dengan kesanggupannya). Dan jika datang (pemimpin) yang lain (minta dibai’at) maka penggallah leher orang itu.”

9 HR. At-Tirmidzi dalam Kitabul Birri wa Shilah Bab: Ma Jaafi Ma ‘alil Akhlaq dan Ahmad dengan lafadz: “Seungguhnya orang yang aku sukai adalah yang paling bagus akhlaknya.” Juz 2 hal. 189, Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah juz 12 hal. 366, Al-Haitsami dalam Majma‘uz Zawaid, dia berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani, para perawinya shahih.

الأمرالسادس: الدعوة إلى الله
6. Berdakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Seorang penuntut ilmu hendaknya berdakwah kepada Allah Azza wajalla dengan ilmunya. Ia berdakwah pada setiap kesempatan baik di masjid, di majelis-majelis, di pasar, dan di setiap kesempatan. Setelah Allah mengangkat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul, beliau tidak lantas duduk (diam) di rumahnya akan tetapi beliau menyampaikan dakwah kepada manusia dan melakukan mobilitas dakwah.

Saya tidak menghendaki penuntut ilmu hanya menjadi salinan-salinan kitab. Namun saya menghendaki mereka menjadi ulama yang beramal (dengan ilmu yang mereka miliki).

الأمر السابع: الحكمة
7. Dengan hikmah

Seorang penuntut ilmu hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat hikmah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)

(Maksud dari) al-hikmah adalah seorang penuntut ilmu selayaknya menjadi pengayom bagi orang lain dengan akhlak dan budi pekerti yang ia tampilkan dan membina orang lain dengan ajaran Islam. Dia berkomunikasi dengan berbagai tipe manusia disesuaikan dengan situasi dan kondisi mereka. Jika telah menempuh cara ini kita akan meraih banyak kebaikan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)

Al-Hakim (orang yang arif dan bijak) bisa menempatkan berbagai perkara sesuai tempatnya. Sebab kata ‘al-hakim’ diambil dari kata ‘al-ihkam’ yang bermakna sempuma. Melakukan sesuatu secara sempurna adalah dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya (secara tepat). Oleh karena itu selayaknya bahkan wajib hukumnya bagi seorang penuntut ilmu menjadi orang yang arif dan bijaksana dalam mengemban misi dakwah. Allah telah menyebutkan beberapa tingkatan dalam berdakwah dalam firman-Nya,
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Allah menyebutkan tingkatan cara dakwah yang keempat dalam membantah Ahlul Kitab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang baik kecuali dengan orang-orang yang dzalim di antara mereka.” (Al-Ankabut: 46)

Seorang penuntut ilmu memilih metode-metode dakwah yang paling memungkinkan untuk bisa diterima (oleh obyek dakwah). Contoh hal tersebut bisa ditemui pada jejak dakwah Rasulullah. (Suatu saat) datang seorang Arab Badui lalu ia kencing di salah satu bagian masjid. Maka para shahabat mendekati dan membentaknya, namun Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melarang mereka. Tatkala orang Badui tersebut telah selesai dari kencingnya Nabi pun memanggil dan bersabda kepadanya,
إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak sedikitpun untuk tempat buang air tidak pula untuk kotoran, masjid itu hanyalah sebagai tempat untuk berzikir kepada Allah, tempat shalat dan membaca Al-Qur’an.”10

Atau sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Apakah kamu pernah melihat cara yang lebih baik dari hikmah seperti ini? Orang Badui ini pun menjadi lapang dadanya dan merasa puas, sehingga dia berkata,
اللهم ارحمني ومحمدا ولا ترحم معنا أحداً
“Ya Allah, berilah rahmat kepadaku dan kepada Muhammad dan janganlah Engkau rahmati seorangpun selain kami.”

Kisah yang lain (diriwayatkan) dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami dia berkata,

“Ketika saya sedang shalat bersama Rasulullah maka ada seorang yang bersin lalu saya ucapkan Yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu). Maka orang-orang pun mengarahkan pandangan mereka kepadaku. Saya katakan, “Duhai ibuku kehilangan aku, ada apa kalian melihatku?” Mereka lalu menepuk tangan ke paha-paha mereka. Ketika aku melihat mereka menyuruh aku diam, akupun diam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam selesai shalat – dengan bapak dan ibuku! – sungguh aku belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lebih baik pengajarannya dari beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Demi Allah beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencelaku. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس، إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن
“Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikitpun ada ucapan manusia. Sesungguhnya shalat hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.”11

Dari sini kita dapati bahwa dakwah kepada Allah harus dilakukan dengan cara hikmah sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa jalla perintahkan.

Contoh lainnya, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya (cincin emas hukumnya haram dipakai oleh laki-laki). Maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mencabut cincin itu dari tangannya dan melemparkannya. Beliau pun bersabda,
يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَضُعَهَا فِي يَدِهِ؟
“Salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api dari neraka dan menaruhnya di tangannya?”12

Tatkala Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah pergi ada seseorang berkata kepadanya, “Ambillah cincin itu dan manfaatkanlah.” Maka ia berkata, “Demi Allah, saya tidak akan mengambil cincin yang telah dilemparkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.”

Metode pembimbingan yang tersirat pada hadits ini (sifatnya) lebih keras. Sebab setiap keadaan mempunyai peringatan yang sesuai dengan kondisi tersebut. Demikianlah, setiap orang yang berdakwah kepada Allah seyogyanya bisa menempatkan berbagai hal pada tempatnya (yang sesuai). Dan hendaknya ia tidak memukul rata kondisi semua orang. Maksudnya adalah agar hal yang bermanfaat dapat tercapai.

Coba kita perhatikan keadaan kebanyakan juru dakwah masa sekarang ini. Kita jumpai sebagian mereka terbawa semangat sehingga banyak orang lari menjauh dari seruan dakwahnya. Apabila ia menemui ada orang yang melakukan perbuatan haram maka engkau akan dapati da’i tersebut menegurnya dengan cara kasar dan keras sambil berkata, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah!”

Atau mengucapkan ungkapan-ungkapan yang serupa dengan itu sehingga orang yang ditegur menjadi phobi darinya. Ini tindakan yang tidak baik. Sebab tindakan tersebut akan direspon dengan tindakan yang sebaliknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memberikan penjelasan tatkala beliau menukil ucapan Imam Asy-Syafi’i tentang pandangan beliau terhadap Ahli Kalam.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
حكمي في أهل الكلام أن يضربوا بالجريد والنعال ويطاف بهم في العشائر ويقال: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة، وأقبل على الكلام
“Hukuman (yang aku tetapkan) kepada Ahli Kalam adalah agar mereka dipukul dengan pelepah daun kurma dan sandal sambil diarak keliling kampung dan dikatakan bahwa ini hukuman orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan condong kepada ilmu kalam.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Jika manusia melihat orang-orang tersebut (Ahli Kalam) ia akan dapati bahwa mereka pantas menerima apa yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i dari satu sisi. Tapi, kalau dia melihat mereka dari sudut pandang taqdir dan kelabilan, sesungguhnya setan telah mengungkung dan mengalahkan mereka, maka ia pun akan trenyuh dan kasihan pada mereka. Ia akan memuji Allah sebab Dia telah menyelamatkannya dari musibah yang telah menimpa mereka. Mereka mempunyai kecerdasan tapi tidak diberi kesucian, mereka diberi pemahaman tapi tidak diberi ilmu, mereka diberi pendengaran, penglihatan, dan hati tapi semua itu tidak berguna sedikitpun.”

Demikianlah, seyogyanya bagi kita wahai saudara-saudara seiman untuk melihat para pelaku kemaksiatan dengan dua kacamata yaitu kacamata syari’at dan kacamata taqdir. (Dengan) kacamata syari’at, kita tidak terhalangi oleh celaan orang yang suka mencela dalam menjalankan perintah Allah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang lelaki dan perempuan yang berzina,
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah.” (An-Nur: 2)

Kitapun melihat mereka dengan kacamata taqdir, maka kita akan merasa kasihan dan trenyuh melihat mereka. Kitapun hendaknya bermuamalah (berinteraksi) dengan cara yang kita pandang sebagai cara yang paling dekat untuk tercapainya sasaran dan hilangnya hal yang tidak kita sukai.

Inilah diantara sekian pengaruh dari seorang penuntut ilmu yang (keadaannya) berbeda dengan orang jahil (bodoh) yang memiliki semangat tanpa diimbangi dengan ilmu. Seorang penuntut ilmu wajib menjalankan misi dakwah kepada Allah dengan cara hikmah.
____________
Footnote:
10 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Wudhu Bab: Shabbul Ma’i ‘alal Bauli fil Masjidi (Menyiram Air Kencing yang ada di dalam Masjid) dan Muslim dalam Kitabut Thaharah Bab: Wujubi Ghaslil Bauli (Wajibnya Mencuci Air Kencing).

11 HR. Muslim dalam Kitabul Masajid wa Mawadhi’ush Shalat Bab: Tahrimul Kalam fi Shalat (Larangan Berbicara saat Shalat).

12 HR. Muslim dalam Kitabul Libas Bab: Tahrimul Khatami Dzahab ‘ala Rijal (Haramnya Cincin Emas bagi Laki-laki).

الأمر الثامن: أن يكون الطالب صابراً على العلم
8. Bersabar dalam menuntut ilmu.

Maksudnya terus (tekun) belajar, tidak berhenti, tidak pula merasa jemu, namun dia harus terus belajar disesuaikan dengan kemampuan yang ia miliki. la pun harus sabar dengan ilmu (yang ia cari) dan tidak merasa bosan. Seseorang terkadang merasa letih dan meninggalkan suatu pekerjaan apabila ia terhinggapi rasa jemu. Namun jika ia tetap menekuni ilmu maka ia akan meraih pahala orang-orang yang sabar di satu sisi. Dan ia akan mendapatkan kesudahan yang baik pada sisi lainnya. Simaklah firman Allah ‘Azza wa jalla kepada Nabi-Nya,
تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaum sebelum ini. Maka bersabarlah sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hud: 49)

الأمر التاسع : احترام العلماء وتقديرهم
9. Menghormati dan menghargai ulama.

Para penuntut ilmu berkewajiban menghormati dan menghargai para ulama dan hendaknya mereka berlapang dada terhadap munculnya perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama dan orang-orang selain mereka. Hendaknya pula menanggapi hal itu dengan memberikan udzur kepada orang yang menempuh jalan keliru menurut pandangan mereka. Ini merupakan titik point yang sangat penting, sebab sebagian orang ada yang berusaha mencari-cari kesalahan dan kekeliruan orang lain.

Sehingga mereka dapat mengambil sesuatu yang tidak pantas pada hak orang tersebut dengan cara mencemarkan nama baiknya di hadapan manusia. Ini termasuk kesalahan besar. Jika ghibah yang dilakukan kepada orang awam saja tergolong dosa besar, maka dosa ghibah yang dilakukan terhadap seorang ulama jauh lebih besar. Sebab dampak negatif perbuatan ghibah tersebut tidak hanya dirasakan oleh ulama yang bersangkutan saja, tetapi juga terhadap diri pribadinya sekaligus ilmu syari’at yang ia bawa.

Apabila orang-orang telah meremehkan seorang ulama yang menyebabkan namanya jatuh dalam pandangan masyarakat, maka akan jatuh pula ucapan ulama tersebut. Jika ulama tersebut mengucapkan al-haq (hakikat kebenaran) dan menunjukkan kepadanya, maka orang yang melakukan ghibah terhadap ulama tersebut akan menghalangi manusia dari ucapan ulama tersebut. Perkara ini bahayanya besar sekali.

Saya katakan, para pemuda harus menyikapi perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama dengan niat yang baik dan kesungguhan.

Mereka pun hendaknya dapat memaklumi kesalahan dan kekeliruan yang telah mereka lakukan. Tidak ada penghalang kalau mereka melakukan perbincangan dengan ulama-ulama tersebut dalam persoalan yang mereka yakini bahwa hal itu adalah suatu kekeliruan, sehingga mereka dapat menjelaskan kepada ulama tersebut apakah kekeliruan tersebut berasal dari mereka atau berasal dari orang-orang yang menyatakan bahwa ulama-ulama tersebut yang keliru?!

Seseorang terkadang mengira bahwa ucapan ulama tersebut keliru, setelah dilakukan diskusi akhirnya ia menerima kejelasan tentang kebenarannya. Kita adalah manusia biasa.
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak (keturunan) Adam pasti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.”13

Adapun orang-orang yang senang dengan ketergelinciran dan kekeliruan ulama sehingga ia dapat mempublikasikan kepada manusia agar terjadi perpecahan, sungguh perbuatan ini bukan jalan kaum Salaf. Demikian pula kesalahan dan kekeliruan yang muncul dari para penguasa, kita tidak diperbolehkan untuk menjadikan kesalahan dan kekeliruan tersebut sebagai dalih untuk mencela mereka dalam segala hal lalu kita menutup mata dari kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (Al-Maidah: 8)

Yaitu janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyeretmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil hukumnya wajib. Seseorang tidak dihalalkan untuk mengambil ketergelinciran seorang penguasa, ulama atau selain mereka, lalu menyebarluaskan kekeliruan tersebut kepada khalayak manusia. Setelah itu ia membisu tidak menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Sungguh ini bukan tindakan yang adil.

Coba bandingkan hal di atas pada dirimu. Andaikan ada seseorang dikuasakan kepadamu, kemudian orang itu menyebarluaskan ketergelinciran dan kejelekanmu tapi menyembunyikan kebaikan-kebaikan dan jasamu. Tentunya engkau akan menganggap orang tersebut telah berbuat jahat kepadamu.

Jika engkau telah melihat hal tersebut pada dirimu, maka wajib pula melihat hal itu pada orang lain. Sebagaimana yang telah saya isyaratkan tadi, bahwa terapi dari yang engkau kira sebagai suatu kesalahan adalah dengan jalan menghubungi orang yang engkau pandang salah agar engkau bisa melakukan diskusi dengan orang itu. Setelah diskusi maka akan jelas penyikapan yang harus dilakukan. Betapa banyak manusia setelah diadakan diskusi ternyata ucapannya benar yang kita telah mengira sebelumnya itu merupakan suatu kekeliruan.
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan, satu sama lainnya saling menguatkan.”14

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
من أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه
“Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan masuk ke dalam surga, maka hendaklah (ketika) datang kematiannya dia berada dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan hendaklah ia mendatangi manusia dari hal-hal yang ia pun suka kalau hal itu didatangkan pada dirinya.”15

Inilah tindakan adil dan istiqamah.
____________
Footnote:
13 HR. Imam Ahmad juz 3 hal. 198 dan At-Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah juz 4 hal. 569 no. 2499, Ibnu Majah dalam Kitabuz Zuhud Bab: Dzikru Taubat, Ad-Darimi dalam Kitab Ar-Riqaq Bab Fit Taubah, Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah juz 5 hal. 92, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah juz 6 hal. 332, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 4 hal. 273, Al-‘Ajluni dalam Kasyful Khafa’ juz 2 hal. 120. Al-Hakim berkata: “Sanad hadits ini shahih namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” (Al-Mustadrak juz 4 hal. 273). Berkata Al-‘Ajluni: “Sanadnya kuat.” Juz hal. 120.

14 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Masajid Bab: Tasybiqul Ashabi’i fil Masjidi wa Ghairihi dan Muslim Kitabul Birri wa Shilah Bab: Tarahumil Mu’minin wa Ta’athufihim wa Ta’adhudihim.

15 Telah lewat takhrij-nya (lihat footnote no. 8).

الأمر العاشر: التمسك بالكتاب والسنة
10. Memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Para penuntut ilmu wajib untuk mencurahkan perhatian dalam menerima ilmu dan menimba dari sumber-sumbernya. Seorang penuntut ilmu tidak akan sukses jika tidak mengawali dengan sumber-sumber ilmu tersebut.
Sumber-sumber tersebut adalah:

Al-Qur’an Al-Karim

Seorang penuntut ilmu wajib mencurahkan perhatian pada Al-Qur’an baik dalam membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya. Al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh dan merupakan dasar ilmu. Kaum Salafus Shalih benar-benar mencurahkan perhatian yang maksimal kepada Al-Qur’an ini. Disebutkan perkara-perkara yang menakjubkan tentang antusias (mereka) pada Al-Qur’an.

Engkau dapati salah seorang dari mereka telah hafal Al-Qur’an padahal usia mereka masih tujuh tahun. Sebagian mereka hafal Al-Qur’an dalam jangka waktu kurang dari satu bulan. Contoh-contoh tersebut menunjukkan besarnya antusias mereka terhadap Al-Qur’an. Maka seorang penuntut ilmu wajib mencurahkan perhatiannya pada Al-Qur’an, menghafalnya dengan dibimbing seorang pengajar, karena Al-Qur’an diambil dari jalan talaqqiy (mengambil ilmu langsung dari seorang guru).

Di antara hal-hal yang sangat disayangkan, terkadang kila menjumpai sebagian penuntut ilmu tidak menghafal Al-Qur’an. Bahkan sebagian mereka tidak baik (lancar) dalam membacanya. Fenomena ini merupakan kesaiahan fatal pada metode pembelajaran. Oleh karenanya saya kembali mengingatkan bahwa para penuntut ilmu wajib mencurahkan perhatiannya untuk menghafal Al-Qur’an, mengamalkan, mendakwahkan dan memahaminya dengan pemahaman yang sesuai dengan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih.

Hadits Shahih

Hadits Shahih merupakan sumber kedua dalam syari’at Islam dan merupakan penjabar Al-Qur’an Al-Karim. Seorang penuntut ilmu wajib menghimpun kedua hal tersebut dan mencurahkan perhatian kepada keduanya. Ia wajib menghafal hadits baik teks-teksnya maupun mempelajari sanad, matan-matan, dan memilah (memisahkan) antara hadits shahih dan hadits dha’if (lemah).

Demikian pula memelihara hadits dilakukan dengan cara membela dan membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan para ahli bid’ah sekitar hadits Nabi. Penuntut ilmu wajib memegang leguh Al-Qur’an dan hadits shahih. Bagi penuntut ilmu keduanya bagaikan dua sayap burung, jika salah satu sayap patah maka burung tersebut tidak bisa terbang. Oleh karena itu janganlah engkau hanya mencurahkan perhatian pada hadits (semata) namun lalai terhadap Al-Qur’an atau sebaliknya engkau mencurahkan perhatian pada Al-Qur’an tapi melalaikan hadits.

Banyak di kalangan penuntut ilmu yang mencurahkan perhatiannya pada hadits beserta syarh-syarh (penjelasan), para perawi (orang-orang yang meriwayatkan hadits), dan musthalah-musthalah-nya dengan perhatian yang sempurna.

Namun jika engkau tanyakan kepadanya tentang satu ayat Al-Qur’an maka engkau akan lihat penuntut ilmu itu tidak mengetahuinya. Ini merupakan kesalahan yang besar (fatal). Al-Qur’an dan Al-Hadits harus menjadi dua sayap bagimu, wahai penuntut ilmu.

Yang penting (juga) adalah ucapan ulama.

Engkau jangan meremehkan ucapan ulama serta mengabaikannya. Sebab kedalaman ilmu mereka jauh di atasmu. Mereka memiliki kaidah-kaidah syari’at, seluk-beluknya serta garis-garis ketentuan yang tidak engkau miliki.
Oleh karena itu ulama-ulama besar yang benar-benar ahli di bidangnya, apabila mereka mempunyai pendapat yang mereka anggap unggul (kuat) mereka mengatakan,
إن كان أحد قال به وإلا فلا نقول به
“Jika ada orang yang mengucapkannya (maka kami akan mengucapkan) dan jika tidak maka kami tidak akan mengucapkannya.”

Contohnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan kedalaman ilmu dan keluasan pentelaahan beliau, apabila mengucapkan suatu perkataan yang tidak beliau ketahui orang yang mengucapkannya maka beliau berkata,
أنا أقول به إن كان قد قيل به
“Saya mengucapkan itu jika ucapan itu sudah pemah ada yang mengucapkan.”
Beliau tidak mengambil (pendapat) dengan ra’yu (akal)-nya. Oleh karena itu seorang penuntut ilmu wajib merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam dengan dibimbing para ulama. Merujuk kepada Kitabullah (Al-Qur’an) dilakukan dengan menghafal, mempelajari, dan mengamalkan isi kandungannya.

Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang berfikir.” (Shaad: 29)

“Supaya mereka memperhatikan ayat-ayat.” Yaitu merenungi ayat-ayat tersebut yang mengantarkan pada pemahaman maknanya.

“Dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang berpikir.” Yaitu mendapatkan pelajaran (tadzakur) berupa beramal dengan Al-Qur’an tersebut. Dengan hikmah inilah Al-Qur’an turun.

Jika Al-Qur’an turun untuk hikmah tersebut maka kita hendaknya merujuk kepada Al-Qur’an agar bisa mempelajari kandungannya, mengetahui makna-maknanya setelah itu merealisasikan ajaran yang dibawa. Demi Allah, sungguh pada Al-Qur’an terdapat kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 123-124)

Oleh karena itu kita tidak mendapati satu orang pun yang lebih senang kehidupannya, lebih lapang dadanya, dan lebih tentram hatinya dibandingkan seorang mukmin meskipun ia miskin. Orang mukmin adalah orang yang paling bahagia, tenang dan lapang dadanya. Bacalah jika kalian mau firman Allah subhanahu wa ta’ala,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Apakah kehidupan yang baik itu? Jawabannya: Kehidupan yang baik adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, meskipun keadaan seseorang sangat kekurangan. Dia merasakan ketenangan dalam jiwa dan lapang dadanya. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya baik, tidaklah hal itu didapati kecuali oleh seorang mukmin, jika tertimpa musibah ia bersabar, hal itu baik baginya dan jika ia merasakan kesenangan ia bersyukur, itupun baik baginya.”16

Jika orang kafir tertimpa musibah apakah ia bersabar? Jawabannya: Tidak! Dia akan sedih dan dunia terasa sempit baginya. Bisa jadi ia akan bunuh diri. Orang mukmin akan bersabar dan menikmati lezatnya kesabaran, yaitu kelapangan dan ketenangan. Oleh karena itu ia merasakan kehidupan yang baik. Maka yang dimaksudkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An-Nahl: 97); Yakni kehidupan yang baik dalam hati dan jiwa.

Sebagian ahli sejarah menceritakan kehidupan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau adalah seorang Qadhi Mesir pada zamannya. Apabila beliau berangkat ke tempat kerja, beliau mengendarai kereta yang ditarik beberapa ekor kuda atau bighal (peranakan kuda dengan keledai) dalam suatu iring-iringan. Suatu hari beliau melintasi seorang lelaki Yahudi penjual minyak di Mesir (seorang penjual minyak biasanya berbaju kotor). Datanglah lelaki Yahudi itu lalu menghentikan iring-iringan tersebut. Dia berkata kepada Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Sesungguhnya Nabi kalian bersabda,
الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر
“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.”17

Anda adalah Qadhi bagi para Qadhi di Mesir. Anda berada dalam iring-iringan, di dalam kesenangan, sedangkan saya – yaitu seorang Yahudi – dalam keadaan tersiksa dan sengsara seperti ini.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Saya dengan kemewahan dan kesenangan yang saya rasakan sekarang ini tergolong penjara apabila dibandingkan dengan kesenangan surga. Sedangkan engkau dengan kesengsaraan yang engkau rasakan sekarang ini tergolong surga bila dibandingkan adzab neraka.”

Lantas orang Yahudi tersebut mengucapkan “Asyhadu an laa Ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah” (Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang haq untuk diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), akhirnya ia masuk Islam.

Orang mukmin dalam kebaikan bagaimanapun keadaannya, dialah yang bisa meraup keuntungan di dunia dan akhirat kelak. Sedangkan orang kafir berada dalam keburukan dan dialah yang mendapat kerugian di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)

Orang-orang kafir dan orang-orang yang mengabaikan agama Allah serta orang-orang yang binasa dalam kesenangan dan kemewahan, meskipun mereka membangun dan memancang istana dengan harta benda dunia yang berkilauan, pada hakikatnya mereka berada dalam neraka.

Sampai sebagian kaum Salaf berkata,
لو يعلم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه لجالدونا عليه بالسيوف
“Andai saja para raja dan anak-anak raja mengetahui kesenangan yang kita rasakan, niscaya mereka akan menyerang kita dengan pedang mereka.

Adapun orang mukmin hidup senang dengan bermunajat kepada Allah dan mengingat-Nya. Mereka meyakini ketentuan Allah dan taqdir-Nya. Jika mereka ditimpa musibah, mereka bersabar dan jika mereka memperoleh kesenangan mereka bersyukur Mereka berada dalam puncak kebahagiaan. Beda halnya dengan orang-orang yang tamak pada dunia, keadaan mereka seperti digambarkan Allah dalam firman Nya,
فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ
“Jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

Adapun merujuk kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah tsabit di hadapan kita -Alhamdulillah- tetap terjaga. Para ulama memaparkan hadits beliau dengan menjelaskan pula hadits-hadits yang didustakan atas nama beliau. Alhamdulillah, Sunnah tetap terang dan terpelihara. Siapapun bisa mengakses hadits Nabi, seperti dengan muraja’ah jika itu memungkinkan. Jika tidak maka dengan bertanya kepada para ulama. Apabila ada orang bertanya,

“Bagaimana caranya anda bisa memadukan antara ucapan yang anda katakan tadi dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam padahal kita temui sebagian orang mengikuti kitab-kitab yang disusun dalam berbagai madzhab seraya mengatakan, “Saya bermadzhab A, saya bermadzhab B, saya bermadzhab C!!!” Sampai anda berfatwa kepada seseorang lantas anda katakan kepadanya, “Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda demikian.” Lalu dia berkata, “Saya bermadzhab Hanafi, saya Maliki, saya Hanbali……” Atau dengan ungkapan yang serupa.”

Jawabannya, “Kita katakan kepada mereka: Kita semua mengucapkan “Asyhadu Anlaa ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah” (Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Lalu apa makna syahadat “Muhammadan Rasulullah?” Para ulama menyatakan bahwa makna syahadat tersebut adalah mentaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau beritakan dan menjauhkan diri dari apa yang beliau cegah dan larang serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syari’atkan,”

Jika ada orang yang mengatakan, “Saya bermadzhab A, saya bermadzhab B, saya bermadzhab C,” Maka kita katakan kepada orang tersebut, “Ini sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah engkau membantahnya dengan ucapan siapapun.”
Para imam madzhab juga melarang taqlid murni kepada mereka. Mereka berkata, “Kapanpun kebenaran tampak maka wajib rujuk kepadanya.”
Setelah itu kita katakan kepada orang yang membantah kita dengan madzhab A dan B, “Kami dan anda bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Konsekuensi syahadat ini agar kita mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.”

Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan kita jelas dan terang tapi saya tidak bermaksud dengan ungkapan ini untuk meremehkan arti penting merujuk pada kitab-kitab ahli fiqih dan kitab-kitab ulama lainnya. Bahkan (sebaliknya), merujuk kepada kitab-kitab mereka untuk mengambil manfaat dari mereka. Dan untuk mengenal metode mereka dalam ber-istinbat terhadap hukum-hukum syari’at dari dalil-dalilnya termasuk perkara yang tidak mungkin tercapai melainkan dengan merujuk kepada kitab-kitab tersebut.

Oleh karena kita dapati orang-orang yang tidak mendalami ilmu melalui didikan para ulama, mereka terjerumus ke dalam banyak ketergelinciran sehingga memandang suatu masalah dengan pandangan yang sempit dari apa yang selayaknya mereka telaah. Mereka mengkaji -sebagai contoh- Shahih Al-Bukhari lalu mereka berpendapat dengan hadits-hadits yang termaktub di dalamnya padahal dalam hadits-hadits tersebut terdapat hukum yang sifatnya umum dan khusus, mutlak (tidak terikat) dan muqayyad (terikat) dan apa yang telah di-mansukh (dicabut pemberlakuannya). Tapi mereka tidak mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan hal tersebut. Maka terjadilah kesesatan yang besar.
____________
Footnote:
16 HR. Muslim dalam Kitabuz Zuhud Bab: Al-mu’minu Amruhu kulluhu Khairun.

17 HR. Muslim dalam Kitabuz Zuhud.

الأمر الحادي عشر: التثبت والثبات
11.Tatsabut (meneliti kebenaran) dan Tsabat (konsisten)

Diantara adab yang seorang penuntut ilmu wajib berhias dengannya adalah tatsabut dengan berita-berita yang akan dirujuk. Demikian pula dengan hukum hukum yang akan ditetapkan. Apabila mengambil sebuah berita maka engkau harus mengkonfirmasinya secara teliti lebih dahulu, apakah berita yang kau ambil itu shahih atau tidak. Jika berita itu shahih, jangan lantas engkau menetapkannya akan tetapi periksa dahulu hukumnya dengan teliti.

Boleh jadi berita yang engkau dengar dilandasi suatu kaidah ushul yang tidak engkau ketahui, lantas engkau menghukumi bahwa itu keliru, padahal pada kenyataannya hal itu bukan suatu kekeliruan. Lalu bagaimana solusi situasi semacam ini? Solusinya adalah engkau menghubungi orang yang dinisbatkan sebagai nara sumber berita itu, lalu engkau katakan, “Dinukil dari anda (berita) ini dan itu, apakah ini benar?” Setelah itu engkau berdialog langsung dengannya. Boleh jadi pada awalnya engkau tidak menyukai karena engkau tidak mengetahui sebab penukilannya. Sehingga,
إذا علم السبب بطل العجب
“Jika diketahui sebab, hilanglah keheranan (kebingungan).”

Maka terlebih dahulu harus dilakukan tatsabut (terhadap sumber berita), baru kemudian menghubungi sumber berita itu. Engkau tanyakan kepadanya apakah berita itu benar atau tidak, setelah itu berdiskusi dengan orang itu. Bisa jadi dia yang benar maka engkau bisa merujuk kepadanya atau bisa jadi engkau yang benar sehingga dia bisa merujuk kepadamu.

Ada perbedaan antara Tsabat dan tatsabut. Secara lafadz dua kata ini memiliki kemiripan, namun berbeda dari segi makna.

Tsabat maknanya sabar dan tekun, tidak merasa jemu, tidak gelisah dan tidak mengambil sedikit-sedikit dari setiap kitab atau sepotong-potong dari setiap disiplin ilmu lalu meninggalkannya. Karena hal ini (justru) akan merugikan penuntut ilmu itu sendiri. la menghabiskan waktu tanpa mendapat satu manfaat. Contohnya, sebagian penuntut ilmu membaca pembahasan ilmu nahwu, kadang dia membaca Al-Jurumiyah, kadang membaca kitab Qatrunada, kadang membaca kitab Al-Alfiah. Demikian pula dengan pelajaran Al-Musthalah (ilmu istilah-istilah hadits), sesekali membaca An-Nukhbah, sesekali membaca Al-Alfiah Al-Iraqi.

Demikian pula dalam masalah fiqih, sesekali membaca Zaadul Mustaqni, sesekali membaca Umdatul Fiqih, sesekali membaca Al-Mughni dan sesekali membaca Syarah Al-Muhadzab. Demikian seterusnya pada seluruh kitab (padahal belum ada yang diselesaikan secara tuntas).

Orang tipe ini sering kali tidak akan memperoleh ilmu. Kalaupun memperolehnya, ilmu yang diperoleh adalah ilmu masa’il (yang berkaitan dengan pembahasan masalah/kasus) bukan dalam hal ushul (konsep dasar ilmu). Dan perolehan berbagai permasalahan bagaikan orang yang mengumpulkan belalang satu demi satu.

Jadi, ta’sil (pengambilan konsep dasar ilmu), keteguhan serta kemantapan pada suatu ilmu adalah sesuatu yang penting, lebih mantap dalam hubungannya dengan kitab yang dibaca dan di-muraja’ah. Demikian juga lebih mantap dalam hubungannya dengan para syaikh yang engkau ambil ilmunya.

Janganlah engkau menjadi pencicip ilmu (yang mengambil ilmu sepotong-potong) pada tiap pekan sekali atau sebulan sekali dari seorang syaikh. Tentukan terlebih dahulu syaikh (guru) yang akan engkau timba ilmunya. Setelah engkau mengambil keputusan maka sabar dan tekunilah. Janganlah engkau mengambil syaikh lain pada setiap bulan atau pekan. Sama saja apakah engkau ambil syaikh itu dalam pelajaran fiqih dan terus kontinyu belajar bersamanya dalam pelajaran fiqih, (engkau belajar) dengan syaikh yang lain dalam pelajaran nahwu dan terus bersamanya dalam pelajaran nahwu.

Atau dengan syaikh lainnya dalam pembahasan aqidah dan tauhid dan terus belajar bersamanya. Hal yang penting, hendaknya engkau terus belajar dan jangan hanya menjadi sekedar pencicip (berbagai macam ilmu), seperti halnya seorang lelaki yang hobi cerai. Setiap kali menikahi seorang wanita setelah hidup bersamanya 7 hari, kemudian dia mentalaknya dan pergi mencari wanita lain.

Tatsabut juga merupakan perkara yang penting, sebab terkadang orang yang menukil berita mempunyai kehendak yang tidak baik. Dia menukil suatu berita yang dapat mencemarkan nama baik orang yang diambil beritanya baik dengan sengaja atau dengan tendensi tertentu. Terkadang mereka tidak berniat jahat namun mereka memahaminya dengan sesuatu yang berbeda dengan makna yang diinginkan. Oleh karena itu wajib tatsabut.

Apabila sesuatu yang dinukil tersebut telah tsabit dengan penyebutan sanadnya maka sampailah giliran untuk berdiskusi dengan orang yang menukilkannya sebelum menghukumi pernyataan tersebut, apakah hal itu benar atau tidak. Sebab boleh jadi akan tampak kebenaran bagimu setelah dilakukan diskusi, bahwa kebenaran berada di pihak orang yang dinukil ucapannya.

الأمر الثاني عشر: الحرص على فهم مراد الله تعالى ومراد رسوله صلى الله عليه وسلم
12. Berantusias memahami makna yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Masalah pemahaman termasuk perkara penting dalam menuntut ilmu. Maksudnya pemahaman seperti yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Pasalnya banyak orang yang diberi ilmu namun mereka tidak diberi kepahaman.

Tidaklah cukup engkau menghafal Al-Qur’an dan menghafal beberapa hadits Rasulullah yang ringan (dalam menghafal) tanpa dibarengi dengan pemahaman. Maka mau tidak mau engkau harus memahami sesuai dengan apa yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Betapa banyak terjadi kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang. Mereka berdalil dengan nash-nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah) tidak dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya sehingga muncul kesesatan.

Di sini saya ingin menegaskan suatu poin penting, yaitu bahwa kesalahan dalam pemahaman boleh jadi jauh lebih berbahaya dibandingkan kesalahan karena kejahilan (kebodohan). Sebab orang yang berbuat salah lantaran kebodohan dia akan sadar bahwa dia bodoh sehingga dia akan belajar.

Tetapi orang yang pemahamannya salah dia meyakini bahwa dirinya adalah orang pandai yang mencocoki kebenaran. Dia meyakini bahwa inilah yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Kami akan sajikan beberapa contoh agar jelas bagi kila tentang pentingnya pemahaman.

Contoh pertama:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 78-79,
وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ. فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.”

Allah ‘Azza wa Jalla telah mengutamakan Sulaiman di atas Dawud dalam perkara ini karena pemahaman yang beliau miliki.

“Maka kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman.” Tetapi tidak ditemukan kekurangan ilmu (yang dimiliki) Dawud.

“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”

Perhatikanlah ayat yang mulia ini tatkala Allah menyebutkan keistimewaan yang dimiliki Sulaiman yaitu berupa pemahaman. Allah juga menyebutkan keistimewaan yang dimiliki Dawud dalam Firman-Nya, “Dan Kami telah tundukkan gunung-gunung, semua bertasbih kepada Dawud.”

Penyebutan tersebut bermaksud agar terwujud keseimbangan (dari segi keistimewaan atau keutamaan) dari tiap Nabi tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hukum dan keilmuan yang dimiliki oleh keduanya.

Kemudian Allah menyebutkan keistimewaan yang dimiliki masing-masing dibanding yang lainnya. Perkara tersebut menunjukkan kepada kita betapa pemahaman memiliki kedudukan yang sangat urgen dan bahwa ilmu bukanlah segalanya.

Contoh kedua:

Apabila engkau memiliki dua bejana, salah satu berisi air hangat sedangkan bejana lain berisi air dingin membeku. Saat itu musim dingin. Lalu datanglah seorang lelaki yang ingin mandi janabat (mandi besar). Ada sebagian orang berkata, yang lebih utama adalah engkau memakai air dingin sebab memakai air dingin terdapat kesulitan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ألا أدلكم على ما يمحوا الله به الخطايا ويرفع به الدرجات ، قالوا بلي يا رسول الله. قال: إسباغ الوضوء على المكاره
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian?” Mereka berkata, “Mau, ya Rasululluh.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam keadaan sulit.”18

Maksudnya adalah menyempurnakan wudhu pada musim dingin. Apabila engkau telah menyempurnakan wudhu dengan air dingin maka hal itu lebih utama daripada wudhu dengan air hangat, yang sesuai dengan keadaan cuaca.

Seseorang telah berfatwa bahwa menggunakan air dingin lebih utama. Dia berdalil dengan hadits di atas. Apakah kesalahan tersebut terletak pada ilmunya ataukah pada pemahamannya? Jawabannya, kesalahan itu terjadi pada pemahaman karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إسباغ الوضوء على المكاره
“Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam keadaan sulit”. Beliau tidak mengatakan, “Engkau pilih air dingin untuk berwudhu.” Bedakan kedua ungkapan tersebut. Kalau saja yang diungkapkan dalam hadits tersebut adalah ungkapan kedua, tentunya kita katakan, “Ya, pilihlah air dingin.” Akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam keadaan sulit.”

Maksudnya, dinginnya air tidak menghalangi seseorang untuk menyempurnakan wudhu. Selanjutnya kita katakan, “Apakah Allah menghendaki kemudahan atau kesulitan bagi hamba-Nya?” Jawabannya terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Al-Baqarah: 185)

Dan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,
إن الدين يسر
“Sesungguhnya agama itu mudah.”19

Saya katakan kepada penuntut ilmu, sesungguhnya perkara pemahaman ini sangat penting. Kita wajib memahami apa yang Allah kehendaki dari para hambanya. Apakah Allah hendak menyulitkan hamba-hamba-Nya dalam pelaksanaan ritual ibadah ataukah Allah menghendaki kemudahan bagi mereka?! Tidak disangsikan lagi bahwa Allah ‘Azza wa jalla menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan bagi kita.

Inilah sebagian adab santun dalam menuntut ilmu. Adab-adab Ini seyogyanya bisa memberikan pengaruh bagi ilmu yang dimiliki seorang pelajar sehingga ia menjadi qudwah (teladan) yang baik dan menjadi da’i yang mengajak kepada kebaikan dan bisa menjadi contoh dalam agama Allah ‘Azza wa jalla. Dengan kesabaran dan keyakinan engkau akan meraih keimaman (kepemimpinan) dalam agama ini. Sebagaimana Firman Allah ‘Azza wa jalla,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
____________
Footnote:
18 HR. Muslim dalam Kitabut Thaharah Bab: Fadlu Isbaghil Wudhu ‘alal Makarih.

19 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Iman Bab: Ad-Dinu Yusrun.

Tahapan Menuntut Ilmu Syar’i
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Syaikh ditanya –semoga Allah mengampuninya- Banyak pertanyaan tentang tata cara menuntut ilmu, ilmu apa yang pertama kali harus dipelajari oleh orang yang ingin menuntut ilmu dan matan apa yang pertama kali harus dihafal? Bagaimana pengarahan Anda bagi para penuntut ilmu tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawab
Pertama-tama dan sebelum saya memberikan pengarahan kepada para penuntut ilmu tersebut, saya ingin mengarahkan mereka terlebih dahulu agar mereka menuntut ilmu dari seorang syaikh yang berilmu karena mencari ilmu dari seorang alim terkandung dua faedah yang agung:

Pertama
Lebih efektif karena seorang alim mempunyai daya telaah dan pengetahuan dan memberikan ilmu kepadamu dengan ilmu yang matang dan mudah.

Kedua
Mencari ilmu dari seorang yang alim akan lebih dekat kepada kebenaran, dalam arti orang yang menuntut ilmu kepada seorang yang bukan alim akan menimbulkan sikap mengada-ada dan pendapat-pendapat yang syadz (menyimpang/ganjil) yang jauh dari kebenaran. Hal itu disebabkan karena dia tidak membaca kitab di hadapan orang alim yang ilmunya mendalam sehingga bisa mendidiknya di atas jalan yang dipilihnya.
Maka menurut pendapat saya, seseorang harus bersungguhsungguh memiliki seorang guru untuk mencari ilmu, karena jika dia memiliki guru maka guru tersebut akan mengarahkannya dengan pengarahan yang menurutnya sesuai dengan murid (yang diajarnya).

Adapun jawaban bagi pertanyaan di atas, maka secara umum kita katakan:

Pertama
Lebih utama bagi seseorang untuk menghafal Kitabullah sebelum kitab lainnya karena ini merupakan kebiasaan para Sahabat radhiallahu’anhum. Mereka tidak bergeser dari sepuluh ayat pertama sebelum mereka mempelajari (menghafal) ilmu yang terkandung di dalamnya serta mengamalkannya. Dan Kalamullah adalah kalam yang paling sempurna secara mutlak.

Kedua
Dia harus mengambil matan (redaksi) hadits-hadits ringkas yang akan menjadi simpanan baginya ketika berdalil dengan Sunnah, seperti yang ada dalam `Umdatul Ahkaam, Buluughul Maraam, al Arba’iin An Nawawiyyah dan yang semisalnya.

Ketiga
Menghafal matan-matan fiqih yang sesuai dengan dirinya dan matan yang paling bagus yang kita hafal adalah Zaadul Mustaqni’ fii Ikhtishaaril Muqni‘ karena (syarah) kitab ini telah dikerjakan oleh pensyarahnya Manshur bin Yunus al-Bhuthi dan orang-orang setelahnya dari orang-orang yang mengerjakan syarah dan matan kitab ini dengan catatan kaki yang banyak.

Keempat
Kuasailah Nahwu. Tahukah engkau apa itu nahwu yang tidak diketahui oleh para penuntut ilmu kecuali hanya sedikit saja di antara mereka sehingga engkau melihat seseorang telah lulus dari satu fakultas dalam keadaan tidak mengetahui ilmu nahwu sedikit pun, persis seperti apa yang digambarkan oleh seorang penya’ir:
لا بارك الله في النحو ولا أهله * إذا كان منسـوبا إلى نفطويه
أحـرقه الله بنصـف اسـمه * وجعل الباقي صـراخاً عليه
Semoga Allah tidak memberi barakah dalam nahwu dan ahlinya
Apabila dia dinisbatkan kepada omongan yang tidak terfahami
Semoga Allah membakarnya dengan separuh namanya
Dan menjadikan sisanya sebagai teriakan atasnya.
Mengapa penya’ir ini berkata demikian? Jawabnya karena dia lemah tentang nahwu. Tetapi saya katakan bahwa pintu nahwu itu pintunya dari besi, sedangkan lorongnya adalah benang emas. Artinya dia amat keras dan sukar ketika pertama kali memasukinya tetapi jika pintunya telah terbuka bagi orang yang mencarinya, dia akan merasakan kemudahan pada langkah selanjutnya dengan semudah-mudahnya sehingga jadilah dia sesuatu yang mudah baginya, sehingga beberapa penuntut ilmu yang baru memulai dalam mempelajari nahwu menjadi terpikat.
Maka jika engkau berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang biasa, dia akan mengi’rabnya (mengurainya) agar terlatih dalam hal i’rab. Di antara matan nahwu yang paling baik adalah al-Aajuruumiyyah, sebuah kitab yang ringkas tetapi sangat terfokus (padat). Oleh karena itu saya nasihatkan bagi para pemula untuk memulai dengan kitab ini. Maka inilah pokok-pokok yang harus dijadikan landasan bagi para penuntut ilmu.

Kelima
Adapun yang berhubungan dengan ilmu tauhid, maka kitab-kitab tentang masalah ini amatlah banyak. Di antaranya: Kitaabut Tauhiid karya Syaikhul Islam Muhammad bin `Abdil Wah-hab rahimahullah, al-Aqiidah al-Waasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab ini sangat banyak dan sangat dikenal, wal hamdulillah
Dan nasihat umum bagi para penuntut ilmu bahwa ilmunya harus berdampak terhadap dirinya berupa takwa kepada Allah melaksanakan ketaatan kepada-Nya, berakhlak mulia, ihsan (berbuat baik) kepada sesama makhluk dengan cars mengajar, membimbing, dan gigih dalam menyiarkan ilmu melalui berbagai media, baik melalui koran, majalah, kitab-kitab, risalah, buletin dan media lainnya.
Saya pun menasihatkan kepada para penuntut ilmu agar tidak tergesa-gesa dalam menghukumi (memvonis) sesuatu. Karena sebagian penuntut ilmu yang masih pemula engkau lihat tergesa-gesa dalam berfatwa dan menetapkan hukum. Dan terkadang menyalahkan para ulama besar sedangkan dia (memiliki tingkatan yang) jauh di bawah para ulama tersebut, sehingga beberapa orang mengatakan, Saya berdebat dengan salah seorang penuntut ilmu yang masih pemula, lalu saya katakan kepadanya bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Maka dia berkata, Siapa Imam Ahmad bin Hanbal? Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki, kita pun laki-laki. Subhanallaah!!. Memang benar Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki dan engkau laki-laki sehingga kalian berdua sama dalam hal kelaki-lakiannya, adapun dalam hal ilmu maka antara kalian berdua terdapat perbedaan yang amat jauh. Tidak semua laki-laki layak dianggap sebagai laki-laki dalam hal ilmu.
Saya katakan: Seorang penuntut ilmu wajib bertatakrama dengan sikap tawadhu’, tidak merasa ta’jub dengan diri sendiri, dan hendaklah mengetahui kemampuan diri.
Di antara hal yang penting bagi seorang penuntut ilmu: janganlah dia banyak menelaah pendapat para ulama, karena jika engkau banyak menelaah pandapat para ulama dan menelaah al-Mughni dalam masalah fiqih karya Ibnu Qudamah, al-Majmuu’ karya anNawawi, dan kitab-kitab besar yang menerangkan ikhtilaf dan engkau mendiskusikannya, maka engkau akan sia-sia (rusak). Mulailah pertama kali, seperti yang telah saya katakan, dengan matan-matan yang ringkas, sedikit demi sedikit sehingga engkau akan sampai kepada tujuan. Adapun jika engkau ingin menaiki pohon dari rantingnya, maka ini adalah salah.
[Dinukil dari kitab Kitabul ‘Ilmi, Penulis Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i, Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid, Penerbit Pustaka Sumayyah]

Hal-hal yang Harus Dihindari dalam Menuntut Ilmu Syar’i
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu, karena perkara-perkara tersebut ibarat penyakit ganas yang menjangkiti seorang pasien. Jika tidak menghindarinya, maka ia akan binasa.
1. Hasad.
Yaitu membenci apa yang Allah karuniakan atas seorang hamba. Hampir tidak seorangpun yang lepas dari sifat ini. Maka jika sifat ini melekat pada seseorang, diwajibkan atas manusia untuk tidak berbuat jahat kepadanya dengan perkataan ataupun perbuatan.
2. Berfatwa tanpa ilmu.
Fatwa adalah kedudukan yang agung. Oleh karenanya, tidak boleh sembarangan dilakukan kecuali oleh pribadi yang benar-benar pantas.
Imam Ahmad berkata:
“Sesungguhnya orang yang berfatwa kepada manusia ia telah membawa urusan yang besar. Semestinya orang yang berfatwa mengetahui pendapat-pendapat ulama yang terdahulu. Kalau tidak, jangan berfatwa. Barangsiapa berbicara pada sesuatu yang tidak memiliki sandaran atas hal tersebut, saya khawatir dia akan salah.”
Abdurrahman bin Abi Laila mengatakan:
“Saya mendapati 120 dari orang-orang Anshor dari para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak seorangpun dari mereka menyebutkan sebuah hadits kecuali ia berharap seandainya shahabat yang lain telah mencukupi, dan tidaklah mereka dimintai fatwa tentang sesuatu kecuali ia berharap bahwa shahabat yang lain telah mencukupinya dalam berfatwa.” (Adab Syar’iyyah: 2/63-64)
3. Sombong.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
وعن عبداللّه بن مسعودرضى اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : لايدخل الجنّةمن كان فى قلبه مثقال ذرّةمن كبر ، فقال رجل : انّ الرّجل يحبّ ان يكون ثوبه حسناونعله حسنة ، قال : انّ اللّه جميل يحبّ الجمال . الكبر : بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠
“… Tidak akan masuk surga siapa yang terdapat dalam hatinya seberat dzarrah (atom) dari kesombongan. Para shahabat berkata: Wahai Rasulullah bagaimana dengan seseorang yang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus? Nabi menjawab: Sesungguhnya Allah indan dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Shahih, HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)
4. Ta’ashub.
Yaitu fanatik baik kepada golongan, guru, kelompok, organisasi tertentu, syiar tertentu atau yang semacamnya. Karena hal ini adalah syiar atau ciri khasnya ahlul bid’ah yang menyimpang dari jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan sifat tercela apalagi pada seorang penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu syar’i semestinya menjadikan ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai syi’ar yang selalu ia junjung tinggi, ia jadikan syi’ar itu sebagai landasannya dalam berwala’ (loyalitas) dan berbara’ (berlepas diri).
5. Tashaddur.
Yaitu tampil sebelum waktunya, karena ini menunjukkan kebanggaannya pada diri sendiri, dan ketidak tahuannya pada banyak permasalahan. Ini akan mengakibatkan dia terjerumus kepada dosa yang besar yaitu berkata tentang agama Allah tanpa ilmu yaitu mengatakan sebuah hukum dengan mengatasnamakan ini adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dilandasi ilmu yang benar dan akan membawa dia kepada sifat sombong.
6. Bersu’udzan.
Yakni berburuk sangka kepada yang lain apakah temannya sendiri lebih-lebih gurunya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Al Hujurat: 12)
(Lihat Kitabul Ilmi hal. 71-83)
Sumber: Majalah Syari’ah, No. 02/I/Rabi’ul Awwal/1424 H/Mei 2003, hal. 15-16. -Sekarang bernama Majalah Asy Syari’ah-

Metodologi dalam Menuntut Ilmu Syar’i
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimîn

Syaikh -semoga Allah merahmatinya- ditanya : Bagaimana metodologi atau panduan ringkas dalam menuntut ilmu ? Jazakallohu khoiron.
Jawab
Metodologi menuntut ilmu secara ringkas (dapat) disarikan pada point-point berikut ini:
1) Curahkanlah kesungguhan dalam menghafalkan Al Qur’an, tentukanlah jumlah tertentu pada tiap harinya, engkau terus kontinyu dalam membacanya dan hendaklah Al Qur’an yang engkau baca itu diresapi dan dipahami. Apabila engkau menemui suatu faedah maka catatlah.
2) Curahkanlah kesungguhan dalam menghafal hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam yang relatif ringan, diantaranya adalah kitab Umdatul Ahkam.
3) Curahkanlah kesungguhan dalam memfokuskan dirimu dan selalu konsisten, sebab engkau tidak bisa menyerap ilmu dengan cara mengambil sedikit dari sini dan sedikit dari sana, karena hal ini akan menyia-nyiakan waktu dan mengganggu konsentrasimu.
4) Awalilah dengan kitab-kitab kecil dan perhatikanlah dengan baik, setelah itu beralihlah pada kitab-kitab yang berada diatasnya (lebih berat) sehingga engkau dapat menimba ilmu sedikit demi sedikit dengan cara yang dapat meresap kuat ke dalam lubuk hatimu dan jiwamu pun merasa tentram dengannya.
5) Bersungguh-sungguhlah dalam mengenali prinsip dasar masalah serta kaidah-kaidahnya, kemudian catatlah segala sesuatu yang sampai kepadamu melalui jalan ini. Telah diungkapkan :
من حُرم الأصول حُرم الوصول
“Barangsiapa terhalang mendapatkan ilmu ushul maka terhalanglah dia untuk sampai pada tujuan.”
6) Berdiskusilah tentang berbagai masalah dengan Syaikhmu atau dengan teman-temanmu yang engkau percayai dari segi keilmuan dan kualitas agamanya. Apabila proses diskusi tidak bisa dilakukan dengan orang-orang tersebut maka lakukanlah diskusi walaupun hanya dengan menghadirkan dalam benakmu bahwa seseorang berdiskusi denganmu dalam masalah itu.
[Dinukil dari kitab Kitabul ‘Ilmi, Penulis Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i, Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid, Penerbit Pustaka Sumayyah]

Meraih Keberkahan Ilmu
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Makna Keberkahan
Al Baarakah adalah: Kebaikan yang banyak dan tetap pada sesuatu, baik harta, anak maupun ilmu. Segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, maka engkau memohon kepada-Nya agar dikaruniakan keberkahan di dalamnya. Karena jika Allah Ta’ala tidak memberikan keberkahan pada hal-hal yang telah Dia berikan kepadamu, maka engkau akan terhalang untuk memperoleh banyak kebaikan.
Betapa banyak orang yang memiliki harta yang melimpah, tapi ia tergolong pada deretan orang-orang miskin, kenapa? Karena mereka tidak bisa mengambil manfaat dari limpahan harta yang mereka miliki. Ia tidak memberikan nafkah secara baik kepada keluarga dan juga pada dirinya dan ia tidak (bisa) mengambil manfaat dari hartanya. Orang yang keadaannya seperti itu seringkali bersikap bakhil dari kewajiban yang seharusnya ia tunaikan. Allah Ta’ala akan menimpakan berbagai kejelekan yang dapat menghabiskan hartanya. Banyak orang yang mempunyai anak yang banyak, namun anak-anaknya itu tidak memberikan kemanfaatan kepadanya, sehingga mereka berbuat durhaka dan sombong kepada bapaknya sampai-sampai anaknya itu duduk-duduk bersama teman-temannya selama berjam-jam, berbincang-bincang dan senang bergaul dengan mereka, menceritakan rahasia kepadanya. Akan tetapi jika duduk bersama bapaknya, maka ia bagaikan seekor burung yang terkurung di dalam sangkarnya. Wal’iyadzubillah. Ia tidak berlaku ramah kepada bapaknya, tidak berbincang-bincang dengannya, tidak menceritakan rahasia pada bapaknya sedikitpun sampai ia berat untuk melihat bapaknya. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak diberkahi pada anak-anaknya.
Keberkahan dalam Ilmu
Terkadang engkau dapati bahwa sebagian orang telah diberi ilmu oleh Allah yang banyak, namun kondisinya seperti orang-orang yang awam yang tidak tampak pengaruh ilmu dalam dirinya, baik dalam hal ibadah, akhlak, perilaku dan bermuammalah dengan sesamanya. Ia memperoleh ilmu tersebut lantaran sikap sombong dan congkak terhadap manusia serta meremehkan mereka. Orang seperti ini tidak mengetahui bahwa yang telah memberikan karunia ilmu kepadanya adalah Allah dan sesungguhnya jika Allah menghendaki maka tentunya keadaannya seperti orang-orang yang bodoh.
Atau terkadang engkau dapati seseorang yang telah Allah beri ilmu, namun orang lain tidak mengambil manfaat dengan ilmunya, baik dengan pengajaran, pembinaan, maupun penulisan kitab, namun ilmunya itu hanya untuk dirinya sendiri. Allah Ta’ala tidak memberikan keberkahan ilmu kepadanya. Hal ini tidak diragukan lagi adalah keterhalangan yang besar.
Padahal dari apa yang Allah berikan kepada diri seseorang, ilmu adalah sesuatu yang paling diberkahi. Sebab, jika engkau ajarkan dan engkau sebarkan kepada orang lain, maka engkau akan mendapatkan pahala dan ganjaran pahala dari beberapa sisi, diantaranya :
1. Dengan menyebarkan ilmu, berarti engkau menyebarkan agama Allah Ta’ala dan engkau termasuk dalam deretan para mujahiddin. Orang yang berjihad di jalan Allah adalah orang yang menaklukan satu daerah ke daerah yang lain sehingga agama Islam dapat tersebar di dalam negeri tersebut. Dan engkau membuka hati-hati manusia dengan ilmumu sehingga engkau bisa menyebarkan syariat Allah Ta’ala.
2. Di antara berkah dari penyebaran dan pengajaran ilmu adalah penjagaan dan pemeliharaan terhadap syariat Allah, karena tanpa adanya ilmu syariat ini tidak akan terjaga. Syariat tidak akan terjaga melainkan dengan orang-orangnya. Dengan orang-orang yang memiliki ilmu (ulama). Tidak mungkin pemeliharaan terhadap syariat terwujud kecuali dilakukan oleh para ulama. Jadi jika engkau menyebarkan ilmumu dan orang-orang dapat mengambil manfaat dari ilmumu, maka dengan hal itu tercapailah penjagaan dan pemeliharaan terhadap syariat Allah ini.
3. Dengan menyebarkan ilmu berarti engkau telah berbuat baik kepada orang yang engkau didik, karena engkau membimbingnya dengan agama Allah Ta’ala. Bila ia beribadah kepada Allah di atas Bashirah (ilmu dan keyakinan), maka engkau akan mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya, karena engkaulah orang yang telah menunjuki pada perbuatan baik itu. Orang yang menunjukkan jalan kebaikan seperti orang yang mengerjakannya. Penyebaran ilmu merupakan suatu kebaikan dan keberkahan bagi orang yang menyebarkannya maupun bagi orang yang menerimanya.
4. Dengan penyebaran dan pengajaran ilmu dapat memberikan tambahan ilmu kepadanya. Ilmu orang yang berilmu akan bertambah jika ia mengajarkannya kepada orang lain. Karena dengan mengajar ia dapat mengingat kembali apa yang telah dihafal dan akan terbuka baginya berbagai hal yang belum ia hafal.
Ini adalah di antara sekian faedah penyebaran ilmu, sesungguhnya ilmu akan semakin bertambah dengan jalan engkau mengajarkannya. Seorang penyair tatkala membandingkan antara harta benda dan ilmu, dia mengatakan tentang ilmu :
“Ilmu akan bertambah dengan banyak menginfakkannya. Dan akan berkurang jika engkau mengeratkan genggaman telapak tanganmu (tidak mengajarkannya)”
[Dinukil dari kitab Kitabul ‘Ilmi, Penulis Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i, Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid, Penerbit Pustaka Sumayyah, Hal. 276-278]

Waktu dan Tempat Menghafal Ilmu

Bismillah,
Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.
– Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
– Waktu untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal hari.
– Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang.
– Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.
Al-Khathib rahimahullah berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”
Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”
Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”
(Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Al-Qadhi Ibrahim bin Abil Fadhl ibnu Jamaah Al-Kinani rahimahullah, hal. 73-73, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)
Sumber: Majalah Asy Syari’ah, No. 54/V/1430 H/2009, rubrik Permata Salaf.

Keutamaan Menuntut Ilmu Syar’i

Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
(Diringkas dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi, karya Doktor Anas Ahmad Karzun, hal. 10-18)

[Dinukil dari Buletin Al Wala wal Bara, Diterbitkan oleh Ma’had Adhwa’us Salaf Bandung, Edisi ke-20 Tahun ke-3 / 15 April 2005 M / 06 Rabi’ul Awwal 1426 H]

Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukan Ulama

Tidak diragukan lagi bahwasanya pengetahuan para penuntut ilmu terhadap kemuliaan yang besar yang akan mereka dapati dengan menuntut ilmu dan kedudukan yang tinggi yang akan mereka peroleh, akan menjadikan mereka paling bersemangat dalam menempuh jalannya ilmu dan belajar, dan beradab dengan adab-adab yang syar’i yang akan menambah kedudukan dan keutamaan mereka di sisi Allah Subhaanah, serta akan meninggikan kemuliaan mereka dan akan terbuktilah kemanfaatan mereka terhadap manusia.

Ayat-ayat Al-Qur`an yang Menjelaskan Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukan Ulama

Allah Ta’ala berfirman menerangkan keutamaan ulama dan apa-apa yang mereka miliki dari kedudukan dan ketinggian:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)

Dan Allah juga berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah:11)

Ditinggikannya derajat dengan beberapa derajat, ini menunjukkan atas besarnya keutamaan, dan ketinggian di sini mencakup ketinggian maknawiyyah di dunia dengan tingginya kedudukan dan bagusnya suara (artinya dibicarakan orang dengan kebaikan) dan mencakup pula ketinggian hissiyyah (yang dirasakan oleh tubuh dan panca indera) di akhirat dengan tingginya kedudukan di jannah. (Fathul Baarii 1/141)

Di antara dalil yang menunjukkan atas keutamaan ilmu dan wajibnya meminta tambahan darinya adalah firman Allah Ta’ala yang memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu (agama).” (Thaahaa:114)

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan dari sesuatu kecuali meminta tambahan dari ilmu dan ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu syar’i yang akan menjadikan seorang hamba mengenal Rabbnya Subhaanah dan mengetahui apa-apa yang diwajibkan atas seorang mukallaf dari perkara agamanya dalam ibadah dan muamalahnya. (Fathul Baarii 1/141)

Sungguh Allah telah memuliakan ilmu dan ulama dengan memberikan kepada mereka kebaikan yang umum dan menyeluruh sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو الأَلْبَابِ

“Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah:269)

Berkata Mujahid: Allah menganugrahkan Al-Hikmah, yaitu ilmu dan pemahamannya. (Akhlaaqul ‘Ulamaa`, Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy hal.9)

Demikian juga di antara dalil-dalil yang menguatkan akan pentingnya ilmu dan keharusan mencarinya adalah firman Allah Ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang berhak diibadahi) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad:19)

Maka (seseorang) harus memulai dengan ilmu sebelum beramal sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Bukhariy,

باب العلم قبل القول والعمل

(Shahiihul Bukhaariy, Kitaabul ‘Ilmi, Baabul ‘Ilmi Qablal Qauli wal ‘Amal)

Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mempunyai buah yang agung, dan yang paling menonjolnya adalah adanya rasa khasy-yah kepada Allah Subhaanah dari pemiliknya. Maka ulama adalah manusia yang paling takut kepada Rabbnya, karena apa yang telah mereka pelajari dari ilmu yang akan menambah pengetahuan mereka kepada Rabbnya dan akan mengokohkan keimanan yang ada pada hati-hati mereka. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Faathir:28)

Ulama adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang lurus dan pemahaman yang mendalam, Allah Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabuut:43)

Hadits-hadits yang Menerangkan Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukannya

Terdapat kitab-kitab yang mengandung beratus-ratus hadits yang mulia, di mana dalam hadits-hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada ilmu dan menganjurkan atasnya serta menerangkan kedudukan ulama dan kemuliaannya dan apa-apa yang selayaknya dimiliki oleh mereka agar berakhlak dengannya dan bersemangat atasnya.

Di dalam Shahiihul Bukhaariy, misalnya, terdapat lebih dari seratus hadits yang menjelaskan masalah ilmu, mencarinya dan anjuran atasnya, dan sungguh Al-Imam Al-Bukhariy telah menyendirikan pembahasan ilmu dengan membuat satu kitab khusus,

كتاب العلم

(yaitu Kitabul ‘Ilmi) dalam Shahih-nya dan beliau tempatkan setelah Kitabul Iman.

Demikian juga kitab-kitab sunnah lainnya yang padanya terdapat sejumlah hadits yang banyak dari hadits-hadits yang marfu’ dan atsar-atsar yang mauquf kepada shahabat dan tabi’in, yang semuanya mengisyaratkan kepada kedudukan yang agung yang kembalinya kepada ulama, dan kedudukan yang tinggi yang Allah muliakan penuntut ilmu dengannya.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

1. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, niscaya Allah akan pahamkan dia tentang agama(nya).” (Muttafaqun ‘alaih)

Pemahaman terhadap agama merupakan di antara kebaikan yang terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Dan orang yang tidak mau tafaqquh fiddiin (mempelajari dan memahami agamanya) berarti telah diharamkan dari berbagai kebaikan.

2. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا فكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير وكانت منها أجادب أمسكت الماء فنفع الله بها الناس فشربوا وسقوا وزرعوا وأصابت منها طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماء ولا تنبت كلأ فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به

“Perumpamaan apa yang aku bawa dari petunjuk dan ilmu adalah seperti air hujan yang banyak yang menyirami bumi, maka di antara bumi tersebut terdapat tanah yang subur, menyerap air lalu menumbuhkan rumput dan ilalang yang banyak. Dan di antaranya terdapat tanah yang kering yang dapat menahan air maka Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya sehingga mereka bisa minum darinya, mengairi tanaman dengannya dan bercocok tanam dengan airnya. Dan air hujan itu pun ada juga yang turun kepada tanah/lembah yang tandus, tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput-rumputan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan orang yang mengambil manfaat dengan apa yang aku bawa, maka ia mengetahui dan mengajarkan ilmunya kepada yang lainnya, dan perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali dengan ilmu tersebut dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Al-Bukhariy)

Di dalam hadits ini terdapat pengarahan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar bersemangat terhadap ilmu dan belajar, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan terhadap apa yang beliau bawa dengan hujan yang menyeluruh di mana manusia mengambil dan memanfaatkan air hujan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan orang yang mendengar ilmu yang beliau bawa dengan bumi/tanah yang bermacam-macam yang air hujan turun padanya:

– Di antara mereka ada orang yang berilmu, beramal dan mengajarkan ilmunya kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah yang baik, yang menyerap air lalu memberikan manfaat pada dirinya dan menumbuhkan tanaman dan rumput-rumputan sehingga memberikan manfaat bagi yang lainnya.
– Di antara mereka ada yang mengumpulkan ilmu yang dia sibuk dengannya, di mana ilmu tersebut dimanfaatkan pada masanya dan masa setelahnya dalam keadaan dia belum bisa mengamalkan sebagian darinya atau belum bisa memahami apa yang dia kumpulkan, akan tetapi dia sampaikan kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah yang menahan air sehingga manusia dapat mengambil manfaat darinya.
– Dan di antara mereka ada orang yang mendengar ilmu tetapi tidak menghafalnya, tidak beramal dengannya dan tidak pula menyampaikannya kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah lumpur atau tanah tandus yang tidak dapat menerima/menampung air.

Tidaklah dikumpulkan dalam perumpamaan tersebut antara dua kelompok yang pertama kecuali karena kebersamaan mereka dalam kemanfaatan dari ilmu yang mereka miliki walaupun derajat kemanfaatannya bertingkat-tingkat. Dan disendirikanlah kelompok ketiga yang tercela karena tidak adanya kemanfaatan darinya. (Fathul Baarii 1/177)

Dan tidak diragukan lagi bahwasanya terdapat perbedaan yang besar antara orang yang menempuh jalannya ilmu lalu dia memberikan manfaat pada dirinya dan manusia pun mengambil manfaat darinya dan antara orang yang rela dengan kebodohan dan hidup dalam kegelapannya sehingga dia tidak mendapat bagian sedikit pun dari warisannya para Nabi.

3. Dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ، وَالْحِيْتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683, dan isnadnya hasan, lihat Jaami’ul Ushuul 8/6)

Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang pemuliaan yang besar yang akan didapatkan oleh penuntut ilmu, di mana para malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuknya sebagai sikap tawadhu’ dan penghormatan kepadanya, demikian juga makhluk-makhluk yang banyak baik yang di langit, di bumi maupun di lautan dan makhluk lainnya yang tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhaanah, semua makhluk tadi memintakan ampun kepada Allah untuk penuntut ilmu dan mendo’akan kebaikan untuknya.

Cukuplah bagi seorang penuntut ilmu sebagai kebanggaan bahwasanya dia adalah orang yang sedang berusaha untuk mendapatkan warisannya para Nabi, dan dia meninggalkan ahli dunia terhadap dunianya yang telah dikumpulkan di atas hidangannya oleh para pecintanya di mana mereka sibuk dengan perhiasannya dan berebutan kepadanya.

4. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٌ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah memuliakan seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya (kepada yang lain) sebagaimana yang dia dengar, maka kadang-kadang orang yang disampaikan ilmu lebih memahami daripada orang yang mendengarnya.” (HR. At-Tirmidziy no.2659 dan isnadnya shahih, lihat Jaami’ul Ushuul 8/18)

Keutamaan ini, tidak diragukan lagi merupakan keutamaan yang besar bagi penuntut ilmu, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya dengan kemuliaan dan kecerdasan karena apa yang dia lakukan dari mempelajari ilmu, menghapal hadits, mengajarkannya dan menyampaikannya kepada yang lainnya, dan dia tetap akan diberi pahala terhadap apa yang disampaikan walaupun terluput atasnya sebagian makna-makna riwayat yang dia sampaikan, karena dia telah menjaganya dan menyampaikannya dengan jujur.

5. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim no.1631)

Betapa besarnya kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang berilmu berupa pahala dan kebaikan-kebaikan yang banyak. Dan pahala tadi akan terus mengalir kepadanya tanpa terputus selama ilmunya disampaikan oleh murid-muridnya dari generasi ke generasi berikutnya, dan selama kitab-kitabnya dan tulisan-tulisannya dimanfaatkan oleh para hamba di berbagai negeri.

Dan seperti inilah pahala dan ganjaran orang yang berilmu akan tetap sampai kepadanya setelah kematiannya dengan sebab ilmu yang telah dia tinggalkan untuk manusia, di mana mereka mengambil manfaat terhadap ilmunya tersebut.

Nasehat Salafush Shalih untuk Kaum Muslimin

Setelah dipaparkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan ilmu dan keutamaannya pada edisi yang lalu, sekarang akan dibawakan beberapa atsar yang berisi nasehat dan keterangan akan pentingnya ilmu dan mempelajarinya.

Pertama: Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، العِلْمُ يَزْكُو عَلَى العَمَلِ وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ، وَمَحَبَّةُ العَالِمِ دِيْنٌ يُدَانُ بِهِ، العِلْمُ يُكْسِبُ العَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيْلَ اْلأُحْدُوْثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَصَنِيْعَةُ الْمَالِ تَزُوْلُ بِزَوَالِهِ، مَاتَ خُزَّانُ اْلأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ بَاقُوْنَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُوْدَةٌ وَأَمْثَالُهُمْ فِي القُلُوْبِ مَوْجُوْدَةٌ

“Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14)

Kedua: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau apabila melihat para pemuda giat mencari ilmu, beliau berkata:

“Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr, 1/52)

Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk dengan mencari ilmu dan tinggal di rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan mempelajarinya. Semuanya ini menyibukkan mereka dari memperhatikan berbagai macam pakaian dan kemewahan dunia secara umum demikian juga hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang kurang manfaatnya dan hanya membuang waktu belaka seperti berputar-putar di jalan-jalan (mengadakan perjalanan yang kurang bermanfaat atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh selain mereka dari kalangan para pemuda.

Ketiga: Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

“Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.

Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan diikuti; perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.

Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya menyamai shalat malam; dengan ilmu akan tersambunglah tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal sehingga terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah pengikutnya, ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia; sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.” (Ibid. 1/55)

Keempat: Dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, karya Al-Imam Ibnul Qayyim, 1/77)

Dan beliau juga berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk berilmu (mempelajari dan mengamalkannya), karena sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai selendang yang Dia cintai. Maka barangsiapa yang mempelajari satu bab dari ilmu, Allah akan selendangkan dia dengan selendang-Nya. Apabila dia terjatuh pada suatu dosa hendaklah meminta ampun kepada-Nya, supaya Dia tidak melepaskan selendang-Nya tersebut sampai dia meninggal.” (Ibid. 1/121)

Kelima: Berkata Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku mempelajari satu masalah dari ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam.” (Ibid. 1/122)

Bukan berarti kita meninggalkan shalat malam, akan tetapi ini menunjukkan bahwa mempelajari ilmu itu sangat besar keutamaannya dan manfaatnya bagi ummat.

Keenam: Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullaah, beliau berkata:

“Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya.” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam An-Nawawiy, 1/21)

Ketujuh: Dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah, beliau berkata: “Tidak ada sesuatupun yang lebih utama setelah kewajiban-kewajiban daripada menuntut ilmu.” (Ibid. 1/21)

Bait-bait Syair Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu Syar’i

Adapun bait-bait sya’ir yang menjelaskan tentang permasalahan ilmu dan kedudukannya itu sangat banyak dan tidak bisa dihitung, dan di sini hanya akan disebutkan dua di antaranya:

Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu)
karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk bagi orang yang meminta dalil-dalilnya
dan derajat setiap orang itu sesuai dengan kebaikannya (dalam masalah ilmu)
sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi ahlul ilmi.

Dan sya’irnya Al-Imam Asy-Syafi’i:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ
وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ
وَإِنَّ صَغِيْرَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا كَبِيْرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ الْمَحَافِلُ

Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh.
Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu).
Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu.

Wallaahul Muwaffiq, Wallaahu A’lam.

TAMAT

Seyogyanya Seorang Penuntut Ilmu Memiliki Adab yang Baik

Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
(Diambil dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi dengan beberapa perubahan, karya Doktor Anas Ahmad Karzun, halaman 23-25 )

[Dinukil dari Buletin Al Wala wal Bara, Diterbitkan oleh Ma’had Adhwa’us Salaf Bandung, Edisi ke-22 Tahun ke-3 / 29 April 2005 M / 20 Rabi’ul Awwal 1426 H, Judul asli: Pentingnya Adab sebelum Ilmu]

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat yang besar dengan diutusnya Rasul yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, da’i yang menyeru kepada Allah dengan idzin-Nya, dan sebagai lampu yang menerangi, yang telah diturunkan Al-Qur`an kepadanya, sebagai kitab yang memberi petunjuk, mengajarkan ilmu dan yang memperbaiki keadaan manusia. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah:2)

Maka dakwahnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup tiga hal utama, sebagaimana diterangkan dalam ayat yang mulia ini. Tiga hal itu adalah At-Tabliigh (menyampaikan ilmu), At-Tazkiyyah (pensucian jiwa) dan At-Ta’liim (mengajarkan ilmu).

Adapun at-tazkiyyah maka yang dimaksud adalah mendidik jiwa agar menerapkan Islam, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta berakhlak dengan akhlak-akhlak yang utama dan adab-adab yang tinggi.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan tugas ini yaitu mendidik dan mensucikan jiwa para shahabatnya dan mengajarkan kepada mereka adab-adab Islam sehingga berubahlah mereka yang tadinya keras, kaku dan kasar menjadi orang-orang yang lembut, luas akhlaknya dan baik dalam pergaulannya serta secara umum berakhlak dengan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan ummat Islam, yang mana akhlak beliau adalah Al-Qur`an.

Para shahabatpun senantiasa melaksanakan tugas yang agung ini dalam menyebarkan Islam, di mana mereka bersungguh-sungguh dalam menyampaikan adab sebelum ilmu kepada murid-murid mereka dari kalangan tabi’in, dan mengarahkan mereka kepada akhlak dan adab pada dirinya, keluarganya, gurunya, teman-temannya serta seluruh manusia yang ada di sekitarnya, yang semuanya ini selayaknya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agar berpegang teguh dengannya.

Kemudian hal ini pun berpindah kepada tabi’in, di mana mereka menjadi para pengajar yang menjadi panutan dalam masalah adab dan ilmu bagi murid-muridnya. Dan demikianlah dari satu generasi ke generasi berikutnya, mereka senantiasa mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu agama itu sendiri.

Ucapan Para Imam tentang Pentingnya Adab

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dari Al-Imam Malik bin Anas, beliau berkata: Berkata Ibnu Sirin: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) mempelajari al-huda (petunjuk tentang permasalahan adab dan yang sejenisnya) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawii wa Aadaabis Saami’, 1/79)

Dari Al-Imam Malik juga, dari Ibnu Syihab, beliau berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah adabnya Allah, yang telah Allah ajarkan kepada Nabi-Nya dan demikian juga telah diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya; amanatnya Allah kepada Rasul-Nya agar beliau melaksanakannya dengan semestinya. Maka barangsiapa yang mendengar ilmu maka jadikanlah ilmu tersebut di depannya, yang akan menjadi hujjah antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.” (Ibid. 1/79)

Dari Ibrahim bin Hubaib, beliau berkata: Berkata ayahku kepadaku: “Wahai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka serta ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai untukmu daripada memperbanyak hadits.” (Ibid. 1/80)

Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.” (Ibid. 1/80)

Hal ini dikarenakan kalau seseorang sibuk memperbanyak hadits dan menghafalnya akan tetapi tidak beradab dengan adab-adab yang telah dipraktekkan oleh para ulama niscaya ilmu tadi tidak akan bermanfaat. Akan tetapi orang yang belajar adab niscaya dia akan terus mencari tambahan ilmu dengan diamalkan dan diterapkan adab-adab yang telah dipelajarinya.

Dari Zakariyya Al-’Anbariy, beliau berkata: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.” (Ibid. 1/80)

Dari Malik bin Anas bahwasanya ibunya berkata kepadanya: “Pergilah ke Rabi’ah lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.” (Tanwiirul Hawaalik Syarh Muwaththa` Al-Imaam Maalik, hal.164)

Meluruskan Niat yang Benar dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Asy Syaikh Anas Ahmad Karzun
(Diterjemahkan dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi, karya Doktor Anas Ahmad Karzun, halaman 31-35)

[Dinukil dari Buletin Al Wala wal Bara, Diterbitkan oleh Ma’had Adhwa’us Salaf Bandung, Edisi ke-24 Tahun ke-3 / 13 Mei 2005 M / 04 Rabi’uts Tsani 1426 H]

Ikhlash dan Urgensinya

Yang pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu supaya dia bersenjatakan diri dengannya dan menjadikannya di depan kedua matanya adalah ikhlash karena Allah semata dalam ucapan dan perbuatannya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan apapun kecuali amalan yang ikhlash untuk-Nya semata (yang tentunya amalan tersebut berdasarkan Al-Qur`an ataupun As-Sunnah). Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah:5]

Apabila seorang penuntut ilmu mengikhlashkan amalannya untuk Allah semata, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar, akan diberkahi dalam usahanya dan akan menjadi orang yang berhak untuk mendapatkan kemuliaan yang telah Allah berikan kepada ilmu dan para ulama serta orang-orang yang menempuh jalan mereka.

Adapun apabila hilang keikhlashan pada seorang penuntut ilmu dan amalannya telah tercampuri dengan kotoran-kotoran riya` serta tujuannya dalam menuntut ilmu adalah untuk berbangga-bangga dengan yang lain, sum’ah (supaya amalannya didengar orang lain), mencari kedudukan dan kepemimpinan di tengah-tengah manusia, maka sesungguhnya ilmu ini akan menghujjat pemiliknya pada hari kiamat, dan di akhirat dia tidak akan mendapatkan bagian dan pahala sedikitpun. Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” [Asy-Syuuraa:20]

Maka orang yang memaksudkan dengan amalannya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, keridhaan manusia dan kedudukan yang tinggi di sisi mereka, hendaklah mereka ambil pahala atas amalannya tersebut kepada orang yang dia maksudkan dan yang dia tuju.

Hadits-hadits tentang Urgensinya Ikhlash

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa diterimanya amal-amal yang shalih itu tergantung niat dan keikhlashannya dalam tujuan.

Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, di mana dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya (yaitu ikhlash karena Allah dan dalam rangka mengikuti sunnah Rasul-Nya) maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya (yakni akan mendapatkan pahala di sisi Allah), dan barangsiapa hijrahnya karena dunia atau wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia tuju.”

Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتي به فعرّفه نعمته فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت. قال: كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلّمته وقرأت فيك القرآن. قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار

“Sesungguhnya manusia yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang dipersaksikan mati syahid, maka orang itupun didatangkan lalu dikenalkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya maka diapun mengenal dan mengakuinya. Allah berkata: “Untuk apa kamu berperang?” Dia menjawab: “Aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahid.” Allah membantahnya: “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai seorang yang pemberani.” Maka dikatakan kepadanya dan diperintahkan kemudian ditelungkupkan di atas wajahnya lalu dimasukkan ke dalam neraka.

Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada yang lain serta membaca Al-Qur`an, maka orang inipun didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmat kepadanya maka diapun mengenal dan mengakuinya. Allah berkata kepadanya: “Untuk apa kamu melakukan semuanya ini?” Diapun menjawab: “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an karena Engkau, Ya Allah.” Allahpun membantahnya: “Kamu dusta, akan tetapi sebenarnya kamu mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai orang yang berilmu dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan sebagai orang yang ahli membaca.” Maka dikatakan kepadanya dan diperintahkan lalu dia ditelungkupkan di atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam neraka.” (Riwayat Muslim)

Al-Imam Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dia mengharapkan Wajah Allah, akan tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan satu bagian dari dunia, maka dia tidak akan mendapatkan baunya surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no.3664, Ibnu Majah 1/93, Al-Hakim 1/85 dan beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy serta dishahihkan oleh An-Nawawiy di dalam Al-Majmuu’ 1/23)

Sedangkan ilmu yang seharusnya dicari dalam rangka mengharap Wajah Allah adalah ilmu syar’i.

Diambil faidah dari hadits ini bahwasanya mempelajari ilmu syar’i tidak akan diterima oleh Allah kecuali disertai dengan keikhlashan.

Adapun ilmu duniawi yang bermacam-macam yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka pada asalnya mempelajarinya itu merupakan jalan untuk mendapatkan pekerjaan dan rizki. Bersamaan dengan itu, apabila seorang muslim mempelajarinya dengan niat yang baik dan untuk melaksanakan fardhu kifaayah di tengah-tengah ummat dalam rangka menguatkan ummat Islam melawan musuh-musuhnya dan menjadikan ummat bangkit dengannya, maka dia akan mendapatkan pahala di sisi Allah.

Atsar dari Salafush Shalih tentang Ikhlash

Adapun atsar-atsar yang teriwayatkan dari para shahabat dan salafush shalih dalam permasalahan ikhlash maka sangat banyak, di antara yang paling menonjolnya adalah:

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata: “Wahai orang-orang yang membawa ilmu, beramallah kalian dengan ilmu tersebut, karena sesungguhnya yang dinamakan orang yang berilmu adalah orang yang beramal dengan ilmu yang telah diketahuinya dan ilmunya mencocoki amalnya. Dan akan datang kaum-kaum yang mereka membawa ilmu akan tetapi tidak mencapai tenggorokan mereka, ilmu mereka menyelisihi amalnya, bathin mereka berbeda dengan apa yang mereka tampakkan dan mereka duduk di suatu majelis ilmu dalam keadaan sebagian mereka membanggakan ilmunya dengan sebagian yang lainnya, sampai-sampai ada seseorang yang benar-benar marah kepada teman duduknya yang menghadiri majelis orang lain dan diapun akhirnya membiarkannya. Mereka itulah orang-orang yang amal-amalnya di dalam majelis tersebut tidak akan naik kepada Allah (tidak akan diterima oleh Allah).” (Al-Majmuu’ 1/23-24)

Dari Sufyan Ats-Tsauriy bahwasanya beliau berkata: “Tidaklah seorang hamba bertambah ilmunya lalu bertambah pula kecintaannya kepada dunia kecuali dia akan semakin bertambah jauh dari Allah.” (Al-Majmuu’, 1/24)

Oleh karena itulah, para ulama penuh perhatian dalam membicarakan permasalahan ikhlash dan menekankan atasnya serta keharusan waspada dari riya` dan sum’ah terkhusus dalam permasalahan menuntut ilmu.

Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy berkata ketika membicarakan tentang sifat seorang penuntut ilmu dan adab-adabnya: “Seorang penuntut ilmu hendaklah mengetahui bahwasanya Allah telah mewajibkan kepadanya agar beribadah kepadanya, dan ibadah tidak akan terbukti kecuali dengan ilmu, … maka inilah yang menjadi tujuannya dalam usahanya menuntut ilmu (yaitu supaya bisa beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya-pent), dalam keadaan dia yakin wajibnya ikhlash dalam usahanya, dia tidak melihat pada dirinya keutamaan dalam usahanya bahkan dia melihat bahwa keutamaan itu hanyalah milik Allah semata, karena jika dia meyakini demikian niscaya Allah akan memberikan taufiq kepadanya untuk tetap menuntut ilmu, yang dia akan bisa beribadah kepada Allah dengan ilmu tersebut, dengan melaksanakan apa-apa yang diwajibkan-Nya dan menjauhi apa-apa yang diharamkan-Nya.” (Akhlaaqul ‘Ulamaa`, hal.20 karya Al-Ajurriy)

Atsar-Atsar tentang Hakikat Ikhlash

Ikhlash adalah sesuatu yang begitu mudah diucapkan akan tetapi betapa sulitnya direalisasikan. Sampai-sampai sebagian ulama salaf menyatakan:

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwasanya dirinya telah ikhlash maka sungguh dia butuh untuk ikhlash lagi”, sebagaimana diucapkan oleh As-Susiy.

Hal ini dikarenakan apabila seseorang merasa telah ikhlash dalam ucapan dan perbuatannya berarti dia telah berbuat ‘ujub (kagum dan bangga dengan amalnya) yang akan menghapuskan amalannya tersebut. Sedangkan orang yang ikhlash adalah orang yang amalnya bersih dari seluruh hal yang akan menghapuskannya seperti riya`, sum’ah, ‘ujub dan yang lainnya.

Berkata Ya’qub: “Orang yang ikhlash adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”

Kecuali kalau dalam rangka agar orang lain mengikuti perbuatan baiknya maka boleh menampakkan perbuatannya tersebut karena ada maslahat bagi orang lain.

Berkata Ayyub: “Memurnikan niat bagi orang-orang yang beramal itu lebih berat atas mereka daripada (mengerjakan) seluruh amalan-amalan.”

Berkata sebagian ulama salaf: “Ikhlash sesaat adalah keselamatan selama-lamanya, akan tetapi ikhlash itu adalah sesuatu yang sangat sulit.”

Ketika Suhail ditanya: “Apakah yang paling berat bagi jiwa?” Maka beliau menjawab: “Ikhlash, karena padanya tidak ada bagian yang lainnya.”

Berkata Al-Fudhail: “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya` seperti dia tidak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri. Yang seharusnya dia lakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.

[Lihat: Tazkiyyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17, dengan beberapa perubahan.]

Pentingnya Ikhlash bagi Penuntut Ilmu Syar’i

Berkata Al-Imam An-Nawawiy setelah membicarakan tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama: “Ketahuilah bahwasanya apa-apa yang telah kami sebutkan dari keutamaan menuntut ilmu, hanyalah akan diperoleh bagi orang yang mencarinya dalam rangka mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, bukan dalam rangka mencari dunia. Dan barangsiapa dalam menuntut ilmu dia mencari tujuan duniawi seperti harta, kepemimpinan, kedudukan, kemegahan, ketenaran, menarik perhatian manusia kepadanya atau ingin mendebat orang lain, atau yang sejenisnya maka ini semuanya tercela.” (Al-Majmuu’ 1/23)

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan dalam dirinya kecenderungan kepada riya` dan senang untuk berbangga-bangga dengan ilmunya, maka wajib baginya untuk menyibukkan diri dengan memperbaiki niat, bersungguh-sungguh melatih jiwanya agar tetap di atas keikhlashan, menghilangkan was-was syaithan, berlindung diri dari kejahatan dan kejelekannya sampai niatnya kembali menjadi bersih dari berbagai kotoran riya dan yang lainnya, dan tertutuplah pintu-pintu masuk syaithan yang biasa menyusup dari sela-sela jiwa manusia.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnus Simak bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata:
“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawiy wa Aadaabis Saami’ 1/317)

Al-Khathib juga meriwayatkan dari Bisyr Ibnul Harits bahwasanya beliau ketika berbicara lalu menyebutkan sanad hadits, maka beliau berkata: “Astaghfirullaah, sesungguhnya ketika menyebutkan sanad muncul perasaan bangga dan sombong dalam hatiku.” (Ibid. 1/338)

Dia takut masuknya perasaan sombong dan bangga ke dalam hatinya, ketika dia menyebutkan sanad dari para perawi dan guru-gurunya yang meriwayatkan dari mereka, lalu hal ini menjadi sebab munculnya riya`, maka diapun mengawasi bisikan-bisikan jiwanya lalu meminta ampun kepada Rabbnya.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan juga dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far bahwasanya beliau berkata: “Apabila seseorang ketika sedang berbicara di suatu majelis lalu pembicaraannya tersebut menjadikan dia ta’ajjub (kagum) maka hendaklah dia diam, dan sebaliknya apabila dia diam lalu diamnya tersebut menjadikan dia ta’ajjub maka hendaklah berbicara.” (Ibid. 1/338)

Beramal Terus Sambil Memperbaiki Niat

Sangatlah pantas bagi kita untuk memperhatikan permasalahan ini yaitu terhadap pintu-pintu masuknya syaithan yang selalu berusaha menggoda manusia, yang wajib bagi para penuntut ilmu mewaspadainya.

Yang dimaksud pintu syaithan di sini adalah godaan dan tipuannya syaithan yang menjadikan permasalahan riya` dan rasa takut darinya sebagai senjata untuk menghalangi seorang penuntut ilmu dari tujuannya (sehingga tidak lagi menuntut ilmu karena takut riya`), dan menghalangi seorang yang alim dari majelis ilmu (sehingga tidak lagi mengajarkan ilmunya karena takut riya`), menghalangi seorang da’i dan pemberi nasehat dari pelajaran-pelajarannya, dengan alasan bahwasanya manusia akan kagum dengan pembicaraannya dan hal ini mengantarkan kepada riya` atau karena semata-mata didapati dalam dirinya ada kecenderungan kepada bisikan-bisikan riya` dan senang dengan kagumnya manusia dan pujian mereka kepadanya.

Sungguh para ulama telah membedakan antara riya` yang merupakan tujuan dan pendorong atas suatu amalan dengan keadaan seorang muslim yang telah menyempurnakan amalannya dengan ikhlash kemudian dia mendapati sebagian kesenangan pada dirinya dari pujian manusia atasnya setelah dia menyelesaikan amalannya tersebut, maka hal ini tidaklah mengurangi hakikat keikhlashannya insya Allah. (Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin hal.221)

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Dzarr, dia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah: “Apakah pendapat engkau terhadap seseorang yang melakukan suatu amalan kebaikan dan manusia memujinya?” Maka beliau menjawab: “Itulah balasan kebaikan yang disegerakan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Sebagaimana para ulama juga telah memberitahukan bahwasanya selayaknya bagi seorang penuntut ilmu agar jangan meninggalkan jalan menuju ilmu apabila dia mendapatkan dalam dirinya ada sesuatu dari riya`, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyibukkan diri dengan memperbaiki niatnya dengan tetap meneruskan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain.

Berkata Al-Imam An-Nawawiy: “Tidak Selayaknya bagi seorang yang berilmu untuk tidak mengajarkan ilmunya kepada seseorang dengan alasan karena niat orang yang belajar tersebut belum benar, karena sesungguhnya dia masih diharapkan agar baik niatnya. Dan terkadang dirasakan berat oleh kebanyakan para pemula dari kalangan para penuntut ilmu masalah perbaikan niat karena lemahnya jiwa-jiwa mereka dan sedikitnya kesenangan mereka terhadap kewajiban memperbaiki niat.

Karena menghalangi atau mencegah dari mengajari mereka akan mengantarkan kepada terluputnya ilmu yang banyak, bersamaan dengan itu masih diharapkan perbaikannya dengan adanya barakah ilmu apabila dia senang ilmu. Dan sungguh para ulama salaf mengatakan: “Kami dulunya menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itupun enggan kecuali agar dicari dalam rangka karena Allah semata.” Artinya akibat terakhirnya adalah jadilah menuntut ilmunya itu karena Allah semata.” (Al-Majmuu’ 1/30)

Hal itu juga sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnul Jauziy, di mana beliau mengatakan: “Sungguh Iblis telah memberikan tipu dayanya kepada seorang pemberi nasehat yang ikhlash, maka Iblispun berkata kepadanya: “Orang sepertimu tidaklah memberi nasehat dan akan tetapi kamu hanya pura-pura memberi nasehat.” Akhirnya diapun diam dan berhenti dari memberi nasehat. Itulah di antara makar Iblis, karena dia menginginkan menghalangi perbuatan yang baik…. Iblispun juga berkata: “Sesungguhnya kamu ingin bernikmat-nikmat dengan apa yang kamu sampaikan dan kamu akan mendapatkan kesenangan karena hal itu, dan kadang-kadang akan muncul perasaan riya` pada ucapanmu, dan menyendiri itu lebih selamat.” Maksud dari perkataan ini adalah menghalangi dari berbagai kebaikan”. (Talbiisu Ibliis hal.125)

Luruskan Niat dalam Menuntut Ilmu!

Kita akhiri pembicaraan ini dengan wasiat Abu Hamid (beliau di akhir hidupnya bertaubat dan kembali ke manhaj salaf, yang sebelumnya bermanhaj shufi) di mana beliau mengingatkan para penuntut ilmu akan wajibnya mengawasi dan memperhatikan jiwanya dan agar selalu bertanya kepadanya apa pendorong dalam mencari ilmu dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menuntut ilmu:

“Berapa malam kamu bangun untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan semuanya itu? Apabila niatmu mencari bagian dari dunia, perhiasannya dan kedudukan-kedudukan di dunia, serta ingin berbangga-bangga dengan teman-teman setingkatmu, maka kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu. Dan apabila tujuanmu dalam mencari ilmu adalah dalam rangka menghidupkan syari’atnya Nabi dan mendidik akhlakmu serta mengikis habis nafsu yang cenderung kepada kejelekan, maka kebahagiaanlah bagimu kemudian kebahagiaanlah bagimu.” (Ayyuhal Walad hal.105-106)

Wallaahu A’lam,

Tamat

Berlomba-lomba dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Asy Syaikh Anas Ahmad Karzun
(Diterjemahkan dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi, karya Doktor Anas Ahmad Karzun, halaman 73-76)

[Dinukil dari Buletin Al Wala wal Bara, Diterbitkan oleh Ma’had Adhwa’us Salaf Bandung, Edisi ke-15 Tahun ke-3 / 11 Maret 2005 M / 01 Shafar 1426 H]

Ketika seorang penuntut ilmu telah mendalam dalam mencari ilmu dan telah terbuka baginya pintu-pintu ilmu, maka dia (tetap) butuh akan tambahan ilmu, berlomba-lomba dalam mencarinya, dan bersemangat dalam memperbanyak ilmu.

Sungguh Allah telah memerintahkan Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam agar berdo’a meminta tambahan ilmu. Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu (yaitu ilmu syar’i).” (QS Thaahaa: 114)

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya agar memperbanyak ilmu dan bersemangat mencari tambahan ilmu walaupun umurnya sudah tua sampai pemiliknya masuk ke jannah (maksudnya: mencari ilmu itu sampai meninggal dunia dan tempatnya seorang mu`min di akhirat adalah di jannah).

Al Imam At Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَنْ يَشْبَعَ الْمُؤْمِنُ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُهُ حَتَّى يَكُوْنَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةَ

“Seorang mu`min tidak akan kenyang dari kebaikan yang dia dengar sampai tempat berakhirnya adalah jannah.” (HR At Tirmidzi no. 2686, dan beliau berkata: hadits hasan gharib)

Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kegairahan / keinginan dalam ilmu dan cinta padanya termasuk konsekuensi-konsekuensi iman dan termasuk di antara sifat-sifat orang-orang yang beriman. Dan beliau mengabarkan bahwa hal ini (gairah terhadap ilmu dan cinta padanya) akan tetap ada pada seorang mu`min sampai dia masuk jannah. (Miftaahu Daaris Sa’aadah karya Ibnul Qayyim 1/74)

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (dalam Miftaahu Daaris Sa’aadah 1/74) meriwayatkan beberapa atsar yang menerangkan semangat salafush shalih dalam mencari ilmu, di antaranya:

Dari Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya aku mencari ilmu sampai aku dimasukkan ke dalam kubur.”

Al Hasan ditanya tentang seseorang yang berumur 80 tahun, “Apakah dia masih layak mencari ilmu?” Beliau menjawab, “Jika ia masih layak hidup (maka dia layak mencari ilmu).”

Dikatakan kepada Ibnu Bustham, “Betapa semangatnya engkau dalam mencari hadits.” Maka beliau berkata, “Tidakkah engkau suka kalau aku termasuk ke dalam deretan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Apabila keadaan hikmah itu seperti barang yang hilang dari seorang mu`min, maka wajib baginya untuk mencarinya. Dan hikmah adalah ilmu, maka jika seorang mu`min kehilangan ilmu, dia seperti keadaan orang yang kehilangan harta yang berharga. Maka jika dia menemukannya, hatinya akan mantap dan jiwanya akan bergembira. (Miftaahu Daaris Sa’aadah 1/75)

Di antara wasiat Luqman Al Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan mendekatlah kepada mereka dengan kedua lututmu, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati-hati (manusia) dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati (kering) dengan hujan yang deras.” (Diriwayatkan oleh Al Imam Malik di dalam Al Muwaththa`, bab Maa Jaa`a fii Thalabil ‘Ilmi. Lihat Tanwiirul Hawaalik Syarh Muwaththa` Al Imam Malik 3/161)

Ketika Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu didatangi kematian, beliau berkata, “Selamat datang kematian, selamat datang tamu yang datang dengan suatu hajat. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak suka untuk tetap berada di dunia dalam rangka melintasi sungai-sungai dan menanam pepohonan. Akan tetapi aku suka tinggal di dunia untuk merasakan kepayahan di malam yang panjang, merasakan haus di bawah terik matahari pada hari yang sangat panas, dan mendekati ulama dengan kendaraan-kendaraan di dalam majlis dzikir.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi karya Ibnu ‘Abdil Barr 1/51) Yakni majlis ilmu.

Berkata Sa’id bin Jubair rahimahullah, “Seseorang tetap dikatakan ‘alim selama dia tetap belajar. Maka apabila dia meninggalkan belajar dan merasa cukup dengan ilmu yang ada padanya, maka dia adalah orang yang paling bodoh.” (Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jamaa’ah halaman 183)

Dan demikianlah, yang akan menguatkan seorang penuntut ilmu yaitu dengan menjadikan semangat yang pertama kalinya adalah mencari ilmu, meminta tambahan ilmu, selalu bersungguh-sungguh dan rajin dalam mencarinya, bersemangat untuk menghadiri majlis-majlis para ulama, dan mentelaah kitab-kitab ilmu serta menguasainya.

Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Selayaknya seseorang untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu baik dengan cara membaca, dibacakan ataupun membacakan kepada orang lain, menelaah, memberikan catatan-catatan, membahas, mudzakarah (mempelajari dan muroja’ah / mengulang pelajaran), dan menulisnya. Dan janganlah dia merasa sombong sehingga tidak mau belajar kepada orang yang di bawahnya dari sisi umur, nasab, atau kemasyhuran. Bahkan hendaknya dia bersemangat untuk mendapatkan faidah dari orang yang memilikinya.” (Al Majmuu’ 1/29)

Beliau juga berkata, “Dan termasuk di antara adab-adab seorang penuntut ilmu yang sangat ditekankan adalah hendaklah dia bersemangat dalam belajar, menekuninya di seluruh waktu-waktu yang memungkinkan baginya, dan janganlah merasa cukup dengan ilmu yang sedikit dalam keadaan dia mampu untuk mencari yang banyak, namun jangan memaksakan diri mencari apa-apa yang dia tidak mampu agar tidak menjadikan dia bosan dan menghilangkan ilmu yang telah dia dapatkan. Dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan manusia dan keadaannya.” (At Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Qur`aan halaman 41)

Demikianlah yang selayaknya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu yaitu senantiasa bersemangat dan rajin. Karena dikatakan (di dalam sebuah sya’ir):

Sesuai dengan usaha yang engkau berikan,
maka engkau akan mendapatkan apa yang engkau angan-angankan.
(Ta’liimul Muta’allim Thariiq At Ta’allum karya Az Zarnuji halaman 88).

Dan hendaklah dia mempunyai semangat dalam mencari ilmu, memperbanyak menelaah ilmu yang bermacam-macam, dan jangan mencukupkan dengan sebagiannya saja. Terlebih khusus jika ilmu itu punya hubungan dengan ilmu syar’i, seperti ilmu bahasa ‘Arab.

Mencari Ilmu dan Kesabaran

Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Mencari ilmu adalah benih keimanan. Jika keimanan bertemu dengan pencarian ilmu tadi maka akan membuahkan amalan shalih.

Berbaik sangka kepada Allah Ta’ala adalah benih perasaan butuh kepada-Nya. Jika keduanya bertemu akan membuahkan terkabulnya do’a.

Rasa takut adalah benih kecintaan. Jika keduanya bertemu akan mewariskan kepemimpinan dalam agama. Allah Ta’ala ’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24)

Benarnya sikap mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam merupakan benih keikhlasan. Jika keduanya bertemu akan membuahkan diterima dan diperhitungkannya amalan.

Amal adalah benih ilmu. Jika keduanya bertemu maka akan terwujud kemenangan dan kebahagiaan. Jika terpisah satu dengan yang lainnya tidak akan memberi manfaat apa-apa.

Kelembutan adalah benih ilmu. Jika keduanya bertemu maka akan diraih kepemimpinan di dunia dan di akhirat, dan akan terwujud pemanfaatan ilmu dari orang ‘alim. Jika salah satu terpisah dari yang lainnya maka akan hilang manfaat dan pemanfaatan ilmu tersebut.

Kesungguhan adalah benih ilmu. Jika keduanya bertemu maka pemiliknya akan meraih kebaikan dunia dan akhirat, dan akan mencapai puncak tertinggi dari setiap posisi yang mulia. Maka tertinggalnya seseorang dari kesempurnaan-kesempurnaan tadi bisa jadi karena tidak adanya ilmu, bisa jadi pula karena tidak adanya kesungguhan.

Niat yang baik merupakan benih sehatnya akal. Jika tidak ada niat yang baik maka hilang seluruh kebaikan. Jika keduanya (niat yang baik dan akal yang sehat) bertemu maka akan diraih kemenangan dan bagian yang banyak. Jika tidak ada maka yang didapatkan adalah kehinaan dan kerugian.

Jika didapati suatu kecerdasan tanpa adanya keberanian, maka hal itu merupakan sifat penakut dan kelemahan. Jika ada keberanian tanpa didukung dengan kecerdasan maka yang ada kekacauan dan kerusakan.

Kesabaran adalah benih ilmu. Jika keduanya bertemu maka seluruh kebaikan pada pertemuan keduanya.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:

إذا شئت أن نرى بصيرا لا صبر له رأيته، وإذا شئت أن ترى صابرا لا بصيرة له رأيته، فإذا رأيت صابرا بصيرا فذاك‏

“Jika engkau ingin melihat orang yang berilmu tetapi tidak punya kesabaran maka lihatlah dia. Dan jika engkau ingin melihat orang yang sabar tetapi tidak punya ilmumaka lihatlah dia. Dan jika engkau melihat orang yang sabar dan berilmu, itulah orang yang berbahagia.”

Nasihat adalah benih bagi akal. Semakin kuat nasihat maka akal semakin kuat dan bercahaya.

Mengingat dan berpikir keduanya merupakan benih bagi yang lainnya. Jika keduanya bertemu maka akan melahirkan sikap zuhud terhadap dunia dan kecintaan kepada akhirat.

Ketaqwaan adalah benih tawakkal. Jika keduanya bertemu maka hati akan menjadi istiqomah.

Mengambil (memanfaatkan) karunia adalah persiapan untuk bertemu dengan istana yang diangankan. Jika keduanya bertemu maka seluruh kebaikan pada pertemuan keduanya, serta kejelekan pada perpisahan keduanya.

Benih dari ketinggian cita-cita adalah niat yang benar. Jika keduanya bertemu seorang hamba akan mencapai puncak keinginannya.

[Al-Fawaid / 405]

Tingginya Semangat Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Al Ustadz Abu Karimah Askari

Berikut adalah catatan taklim kami yang singkat ketika mendengarkan rekaman daurah yang membahas kitab ‘Uluwul Himmah pada Bab Tingginya Semangat Salafush Shalih Dalam Menuntut Ilmu. Kitab ini ditulis oleh Muhammad Ahmad Ismail Al Muqaddam. Semoga bermanfaat.

Dalam pembahasan ini kita ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya ilmu itu bisa dicapai, bagaimana sesungguhnya ilmu itu bisa seseorang mendapatkannya sehingga ia dikatakan sebagai ahlul ilmi, bagaimana mereka menggapai ilmu tersebut, apa jalan-jalan yang mereka harus tempuh sehingga mereka mendapatkan keutamaan yang besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. ini yang perlu kita ketahui. Dan juga kita ingin mengetahui bagaimana himmah (semangat) yang ada pada mereka dari kalangan para ulama as salaf sehingga mereka mendapatkan derajat yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’ala. Kenapa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda di dalam haditsnya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2457, 2458 dan Al-Imam Muslim no. 4600, 4601, 4602 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.)

Kenapa tiga generasi ini dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Demikian pula kenapa Allah Subhanahu wata’ala mengangkat derajat mereka di dalam firman-Nya,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al Mujaadilah: 11)

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman.

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ

“Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.” (Al An’aam: 83)

Kata Imam Malik rahimahullahu ketika beliau menjelaskan ayat ini, “Yaitu dengan berilmu seseorang akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wata’ala.”

Sehingga yang penting di sini, kita ingin mengetahui bagaimana sirah (perjalanan) yang terdapat pada ulama Salafush Shalih sehingga mereka mendapatkan seperti ini. Kenapa mereka begitu semangatnya dalam menuntut ilmu, kenapa mereka begitu hirsh walaupun untuk mendapatkan satu ilmu. Kalau itu merupakan kebenaran mereka berbondong-bondong dan saling berlomba untuk mendapatkan ilmu tersebut. Apa sebenarnya yang menyebabkan mereka demikian.

Maka dari itu kita perlu mengetahui di sini perkara-perkara yang akan menimbulkan himmah, kita pelajari dari sirah mereka, apa yang mereka lakukan, kenapa mereka diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dan ini sangat penting bagi kita memepelajari sirah (perjalanan) para ulama.

Oleh karena itu, Abu Hanifah rahimahullahu diantara perkataan beliau,
“Sejarah para ulama as salaf merupakan salah satu tentara dari tentara-tentara Allah Subhanahu wata’ala.”

Karena begitu kita mempelajarinya maka kita akan mendapatkan ibrah dari sejarah mereka dan mengikuti langkah-langkah mereka.

Kenapa para ulama as salaf mendapatkan kemuliaan dan menjadi para ulama, dan mereka sampai mampu menulis kitab berjilid-jilid banyaknya. Apa yang menyebabkan hal tersebut?

Ini disebabkan karena ‘uluwul himmah (tingginya semangat) yang ada pada mereka.

Ilmu merupakan hal yang paling mulia yang diinginkan oleh orang-orang yang menginginkannya. Dan ilmu merupakan perkara yang paling mulia yang dituntut oleh orang-orang yang hendak menuntutnya. Dan ilmu adalah hal yang paling bermanfaat bagi orang yang hendak mencarinya dan mengusahakan untuk mendapatkannya.

Kumail bin Ziyad1 berkata, bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu2 menggandeng tanganku kemudian mengajakku keluar ke arah dataran tinggi. Ketika kami telah berada di tempat yang tinggi, Ali bin Thalib radhiallahu’anhu duduk kemudian menarik nafas panjang. Ia berkata:

Wahai Kumail bin Ziyad, sesungguhnya hati adalah wadah, dan hati yang paling baik ialah hati yang paling sadar. Jagalah apa yang saya katakan padamu.

Manusia itu terbagi ke dalam tiga kelompok; ulama Rabbani3, penuntut ilmu di atas jalan keselamatan4, dan orang-orang awam (jelata) pengikut semua penyeru5. Kelompok terakhir miring bersama dengan hembusan angin, tidak bersinar dengan cahaya ilmu dan tidak bersandar pada tiang yang kokoh.

Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedang engkau menjaga harta6. Ilmu bertambah dengan diamalkan7, sedang harta berkurang dengan membelanjakannya.

Dan mencintai seorang ‘alim (para ulama) adalah agama yang mana kita beragama dengannya8. Ilmu membuat ulama ditaati sepanjang hidupnya dan dikenang sepennggalnya, sedang kebaikan karena harta itu hilang bersamaan dengan hilangnya harta.

Para penyimpan harta telah mati padahal sebenarnya mereka hidup, sedang para ulama abadi sepanjang zaman. Diri mereka telah sirna namun keteladanan mereka tetap melekat di dalam hati.9
(Sampai di sini perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu)

Berkata Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi10, “Saya memperhatikan dengan penuh takjub, sesungguhnya segala sesuatu yang berharga itu panjang jalannya dan banyak kelelahan dalam meraihnya.”11

Maka sesungguhnya ilmu, tatkala ia merupakan sesuatu yang paling berharga maka tidak akan mudah mendapatkannya kecuali dengan perasaan lelah, sedikit tidur, selalu mengulang-ulang pelajaran, dan meninggalkan kelezataan, dan tidak istirahat.12

Oleh karena itu berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyah, “Adapun untuk mendapatkan kebahagiaan, maka sesungguhnya tidak akan diwariskan kepadamu kecuali dengan mengerahkan segala kemampuan, ada kesungguhan dalam meraihnya, dan benarnya niat.”13

Seorang penyair berkata dalam sebuah syairnya:
Katakanlah kepada orang-orang yang mengharapkan urusan yang tinggi namun tidak bersungguh-sungguh, engkau mengharapkan sesuatu yang mustahil kau dapatkan.

Berkata seorang penyair yang lain:
Kalau bukan adanya kesulitan,
Maka semua manusia akan bisa menjadi sayyid (tuan)
Maka orang yang demawan akan menyebabkan kefaqiran
Dan orang yang menuju dalam berperang akan membunuh dirinya sendiri

Barang siapa yang rindu himmahnya (semangatnya) menuju kepada perkara-perkara yang mulia maka wajib baginya untuk menyingsingkan lengannya mencintai jalan-jalan agama, yakni kebahagiaan.

Walaupun memang pada awalnya seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan tidak pernah terlepas dari berbagai pukulan kesulitan, dan sesungguhnya kapan jiwa ini dipaksa untuk terus menerus melakukan sesuatu dan diarahkan untuk selalu tunduk dan bersabar di atasnya, maka perkara-perkara ini akan mengantarkanya kepada taman-taman yang sangat menakjubkan, dan tempat orang-orang yang shiddiq, kedudukan mulia, mendapatkan berbagai kelezatan lainnya yang melebihi lezatnya para raja. Sedangkan dunia itu tidak lebih seperti seorang anak yang sedang bermain-main burung merpati.

Maka di waktu itulah seseorang akan mendapatkan apa yang dia inginkan sebagaimana salah seorang penyair mengatakan,

Saya dahulu melihat bahwa hawa nafsu sudah mencapai puncaknya
Sampai kepada suatu tujuan yang saya tidak tahu mau ke mana lagi pergi
maka tatkala saya sudah mencapai semua itu dan memperhatikan keindahan kelezatan dunia
Maka saya yakin ternyata saya hanya bermain-main saja

Kemuliaan-kemuliaan itu tergantung di atas kebencian-kebencian (kesulitan/sesuatu yang dia benci). Adapun kebahagiaan tidaklah mungkin seseorang menyeberanginya kecuali di atas jembatan kesulitan. Maka tidak akan mungkin untuk dicapai jarak kebahagiaan itu kecuali kita mengendarai perahu yang penuh dengan kesungguhan untuk mengarunginya.

Berkata Al Imam Muslim dalam Shahihnya, Yahya bin Abi Katsir berkata: “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan jasad yang selalu menginginkan istirahat.”14

Dan adapula yang mengatakan, “Siapa yang mencari istirahat, sesungguhnya dia telah meninggalkan istirahat, siapa yang mencari bersenang-senang, ia telah meninggalkan bersenang-senang yang sebenarnya.”

Wahai orang yang ingin mencari apa yang dia cintai, apakah mungkin seseorang akan menuju kepada yang dicintainya tanpa ada kesulitan sama sekali? Sekiranya banyak orang tahu dengan kelezatan nikmatnya dan besar kadarnya (menuntut ilmu), niscaya mereka akan memperebutkanya meski dengan pedang-pedang mereka.

Akan tetapi kebahagaiaan tersebut ditutupi dan dihijabi dengan perkara-perkara yang dibenci, dan ditutupi darinya dengan hijab kebodohan agar Allah Subhanahu wata’ala memilih orang-orang khusus yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan Allah Subhanahu wata’ala mempunyai keutamaan yang sangat besar.

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullahu berkata,
“Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka memperbanyak ilmunya dan bersabar atas setiap perkara yang berusaha mengganggunya, dan niatkan ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala Ta’ala dalam mendapatkan ilmu tersebut baik secara nash maupun istinbath. Kemudian berkeinginan dan cinta untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala memberikan pertolongan dalam menuntut ilmu.”

Salah seorang penyait berkata,

Jangan engkau menyangka bahwa kemuliaan itu ketika engkau memakan kurma. Engkau tidak akan mendapatkan kemuliaan sampai engkau menelan kesabaran

Adalah para ulama rahimahumullahu memberikan nasihat kepada para penuntut ilmu untuk bersabar di atas kesulitan-kesulitan ilmu dan dalam memperolehnya, karena ini merupakan persyaratan dalam menempuh maksud dan tujuan yang mulia dan sangat mahal. Maka beliau mengatakan dalam sebuah syairnya,

Barangsiapa yang bersabar untuk mendapatkan ilmu
Maka dia akan mendapatkan kemenangan dengan mendapatkan ilmu tersebut
Dan siapa yang ingin melamar wanita yang cantik
Tentunya dia bersabar untuk mengerakan segala kemampuannya

Barangsiapa yang tidak menghinakan dirinya untuk mencari kemulian
Maka dia akan hidup sepanjang masa bersaudara dengan kehinaan

Seorang musafir bisa sampai di tempat yang dituju kalau ia bersunggh-sungguh berjalan walaupun di waktu malam. Kalau musafir tersebut tidak pernah menempuh perjalanannya dan tidur semalaman lalu kapan ia akan sampai di tempat tujuan?

Maka apabila seseorang ingin mendapatkan apa yang diingnkan harus dengan bersungguh-sunggguh. Dan jika dalam keadaan malas ia tidak akan mendapatkannya. Maka ambillah kesempatan engkau akan menuju kepada sesuatu yang engkau angan-angankan tersebut.

Maka wajib atasmu, wahai penuntut ilmu, untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu. Karena sesungguhnya perkara dalam menuntut ilmu seperti disebutkan oleh Ibnul Junaid, “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan dengan kejujurannya melainkan dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau ia tidak mendapatkan semuanya, paling tidak dia akan mendapatkan sebagiannya.”

Maka inilah ‘uluwul himmah (tingginya semangat) seseorang dalam menuntut ilmu, dia harus bersemangat terhadap waktu dan dia merasa benci untuk membuang waktunya dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan kebulatan tekad. Kedua perkara ini akan menjadi usang jika seseorang tidak memanfaatkannya dan inilah pedang menghunus yang bisa membunuh seseorang.

Seorang penuntut ilmu juga harus mempunyai semangat, yang dia tidak merasakan berhenti dari rasa haus (akan ilmu) kecuali apabila dia meninggalkan tempat-tempat air (ilmu) dengan membawa gelas-gelas yang penuh (yang berisi dengan ilmu).15

Dan hendaklah seorang harus tenggelam dalam pembahasan. Tidaklah memisahkan antara dia dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat melainkan karena seorang itu malu untuk menempuhnya16. Dan ia tidak mempedulikan panjanganya perjalanan yang ia tempuh.

Demikian pula bagi para penuntut ilmu hendaknya mempunyai lisan yang teratur, tidak terjermus ke dalam perbuatan sia-sia, mencela orang lain. Kenapa tidak demikian? Karena lisannya sudah tersibukkan dengan kebenaran sehingga dia tidak lagi mempedulikan suatu kebatilan.

Adalah keadaan para ulama as salaf daam menuntut ilmu, menyebarkan ilmu, dan menulis kitab, keadaan mereka sungguh menakjubkan. Mereka telah memperoleh dan memetik waktu-waktu mereka. Mereka telah menghabiskan masa muda mereka dan mereka mendapatkan suatu hasil yang mengherankan akal-akal kita dan menjadikan heran yang mempunyai akal. Dan akan mengangkat himmah (semangat) kita.

Maka marilah kita lihat keadaan mereka, mengikuti petunjuk mereka, dan berjalan di atas langkah-langkah mereka.

Berkata salah seorang penyair,

Maka engkau telah memberitakan aku tentang kisah mereka, wahai Sa’ad.
Maka engkau menambah lagi kisah tersebut
Aku semakin rindu dengan mereka
Sehingga tambahkanlah cerita-cerita tersebut kepadaku, wahai Sa’ad

Berkata seorang penyair lainnya,

Ulang-ulangilah cerita-cerita tentang mereka, wahai Hadi
aka sesungguhnya cerita mereka semakin menerangi hati yang dalam keadaa gundah gulana ini

[Dinukil dari catatan taklim kami yang singkat ketika mendengarkan rekaman daurah yang membahas kitab ‘Uluwul Himmah pada Bab Tingginya Semangat Salafush Shalih Dalam Menuntut Ilmu. Kitab ini ditulis oleh Muhammad Ahmad Ismail Al Muqaddam, Dibawakan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari]

____________
Footnote:

1 Kumail bin Ziyad bin Nahik An Nakha’i adalah salah seorang tabi’in Tsiqah. Nasihat ini banyak ditulis oleh para ulama. Ini merupakan nasihat yang penting dicatat dengan tinta emas. Karena nasihat beliau sangat bermanfaat khususnya bagi orang-orang yang hendak menutut ilmu.

2 Beliau adalah Abul Hasan, sepupu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dan beliau adalah khalifah yang keempat, dan sekaligus beliau adalah menantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

Telah diceritakan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Nama yang paling disukai oleh ‘Ali adalah Abu Turab. Dia senang sekali dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Suatu hari, ‘Ali marah kepada Fathimah, lalu dia keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di dalamnya. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam datang ke rumah putrinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan ‘Ali di rumah. “Mana anak pamanmu itu?”, tanya beliau. “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia, dan dia marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku,” jawab Fathimah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.” Orang yang disuruh tersebut datang dan mengabarkan: “Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur.” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendatanginya, yang ketika itu ‘Ali sedang berbaring dan beliau dapatkan rida`-nya (kain pakaian bagian atas) telah jatuh dari punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir dari punggungnya seraya berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab.” (HR. Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)

3 Ulama Rabbani ialah ulama yang mengamalkan ilmunya, dan bijak dalam memimpin umat. Ulama Rabbani disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullahu di dalam shahih Bukhari di kitabul ilmi ketika beliau menjelaskan tentang Rabbani: Ia mendidik mereka mulai dari ilmu yang kecil kepada ilmu yang besar.

Dari sini para ulama mengajarkan kepada kita bagaimana cara kita menuntut ilmu. Tidak mungkin ada seseorang yang mampu naik ke tingkat dua tanpa tangga. Artinya seseorang tidak akan mungkin mendapatkan ilmu-ilmu yang tinggi, meluaas dan besar sebelum ia melewati ilmu yang dasar terlebih dahulu.

4 Ia mempelajari untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan ini disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dipelajari dalam rangka mengharapkan wajah Allah, namun ternyata mempelajarinya karena ingin beroleh materi dari dunia ini, ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud.)

Ini ancaman bagi yang menuntut ilmu bukan untuk mencari jalan keselamatan.

5 Ini orang yang tidak memiliki pondasi, dalam keadan ia tidak mempunyai hidayah yang tidak bisa membedakan yang haq dan bathil. Ini yang dinamakan muqallid (orang yang taqlid) yang tidak memiliki ilmu hanya sekedar ikut-ikutan, tidak memiliki landasan yang kokoh.

6 Kalau seseorang memiliki ilmu, maka ilmu itulah yang menjaganya yang bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Ketika seseorang berusaha menggoda untuk terjerumus ke dalam perbuatan yang bathil, maka dengan ilmu ia mampu menahan. Maka ilmu ini yang menjaga kita untuk tidak terjerumus ke dalam beberapa penyimpangan.

Namun harta, maka kita yang menjaganya dari kecopetan dan kecurian. Oleh karena itu orang-orang pengumpul harta selalu hidup dalam keadaan ketakutan khawatir jangan sampai hartanya hilang, itu yang selalu mereka pikirkan.

7 Karena ilmu memang untuk diamalkan. Apabila seseorang mengamakan ilmu maka akan lebih mudah ia menghafal ilmu tersebut. Oleh karena itu para ulama as salaf berkata, “Apabila kamu mau menghafal hadits, maka amalkan itu hadits.”

Misal, mau menghafal sebuah hadits larangan isbal (larangan memakai kain di bawah mata kaki),

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Bagian yang di bawah mata kaki dari kain, tempatnya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 5787)

Maka ia berusaha untuk tidak memakai celana, sarung, jubah, dan selainnya melebihi mata kaki. Dan ketika ada yang bertanya kenapa kamu menaikkan sarungmu tidak menutupi mata kaki? Maka ia menjawabnya dengan hadits yang dia hafal tadi.

8 Mencintai ulama adalah agama karena memang Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita demikian. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Faathir: 28)

9 Inilah ulama yang selalu dikenang sepanjang masa. Apabila mereka disebut-sebut selalu disertai dengan rahimahullahu (semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatinya). Ketika disebut nama shahabat dalam hadits selalu disertai dengan radhiallahu’anhu (semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya).

Dan memang Allah Subhanahu wata’ala memberikan keselamatan pada seseorang adalah karena ilmu, ia beramal dengan landasan ilmu. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرًُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ وَ هُمْ كذَلِكَ

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah Subhanahu wata’ala tabaraka wa ta’ala sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhari no.7459 dan Muslim no. 1920)

Imam Bukhari ketika menjelaskan hadits ini, siapa yang dimaksudkan hadits ini, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu. Oleh karena itu ciri ahlul hadits adalah mereka mengamalkan suatu amalan dilandasi dengan ilmu dari Al Quran dan As Sunah.

Sudah berapa zaman nama para shahabat sering disebut-sebut seakan-akan mereka masih hidup. Ketika dikatakan hadits dari Abu Hurarah, Abu Bakar Ash Shiddiq, Abu Sa’id Al Khudri, Sahl bin Sa’d As Sa’idi dan para shahabat yang lainnya dari zaman dahulu, Ketika mereka diangkat oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan ilmu sampai sekarang disebut-sebut dalam banyak hadits seakan-akan mereka masih hidup karena mereka adalah orang-orang yang membawakan ilmu yang menukilkan ilmu itu kepada kita. Kita membaca sejarah-sejarah mereka dan kita berusaha untuk mengikuti mereka.

10 Ada dua nama ulama yang namanya mirip. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dan Ibnul Jauzi, keduanya berbeda. Adapun Abul Faraj Ibnul Jauzi di antara biografinya adalah bahwa beliau berasal dari keluarga yang kaya raya dan beliau tinggalkan semua itu semata-mata untuk menuntut ilmu. Dia berangkat menuntut ilmu dengan membawa beberapa potongan roti yang keras, yang tidak bisa dimakan kecuali dicelupkan ke dalam air terlebih dahulu. Jika ia lelah dalam perjalanan maka singgah di pinggiran sungai dan mencelupkan rotinya dan makanlah ia sembari membaca kitab. Dan beliaupun menjadi salah seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

11 Seakan-akan ini merupakan satu kaidah.

“Segala sesuatu yang berharga itu panjang jalannya dan banyak kelelahan dalam meraihnya.”

Kita lihat sebagai permisalan orang yang mencari harta karun, mereka akan menempuh jalan berhari-hari dan berbagai halangan dan rintangan dalam perjalanan berliku mereka tempuh untuk sampai ke tempat harta karun tersebut. Demikian pula orang yang menuntut ilmu syar’i, seseorang tidak akan mungkin mendapatkan ilmu syar’i jika hanya tidur di rumah dan duduk. Seseoang tidak akan mendapatkan ilmu syar’i sampai dia berusaha menempuh ilmu tersebut walaupun panjang jalannya.

Imam An Nawawi meninggal dalam usia 36 tahun, namun masya Allah telah menghasikan banyak kitab-kitab yang berharga. Beliau tidak tidur sampai tidur yang mengalahkannya.

Perhatikan keadaan kita: Bahkan hadits innamal a’malu binniyat (hadits Arba’in An Nawawi yang pertama) saja belum hapal dan masih terbata-bata, dan anehnya kita tertawa lagi, menertawai keadaan kita sendiri.

12 Oleh karena itu para ulama tidak mengenal istilah istirahat dalam menuntut ilmu syar’i. Sampai-sampai berkata sebagian fuqaha, “Saya telah tinggal bertahun-tahun menginginkan untuk memakan roti yang baru matang, selalu tidak bisa memakannya, karena ketika dibeli roti tersebut selalu tiba waktunya belajar (tidak punya waktu memakannya).”

Perhatikan keadaan kita: Adab menuntut ilmu adalah murid yang datang terlebih dahulu. Adapun kita terkadang guru yang datang terlebih dahulu dan kita masih berada di luar dengan santai, masih di kamar mandi, masih makan, ada yg masih berbincang, dan sebagainya.

Perhatikan kondisi di Dammaj, murid-murid Syaikh Muqbil rahimahullah, ketika selesai sholat maghrib langsung berlomba-lomba mencari duduk di hadapan syaikh untuk mendengarkan pelajaran umum, atau kalau tidak demikian sulit untuk bisa duduk di shaff terdepan. Ini dikarenakan himmah (semangat) yang ada pada mereka.

13 Oleh karena itu berkata Al Imam Asy Syafi’i rahimahullahu dalam sebuah syairnya:

Wahai saudaraku, kalian tidak akan mungkin mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara, saya akan kabarkan dengan terperinci beserta penjelasannya: Kepintaran, semangat, kesungguhan, kecukupan materi (ada uang untuk membeli kitab atau sarana belajar walaupun sedikit), dengan guru, dan panjangnya masa dalam menuntut ilmu.”

Pernah ada dua orang di zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, orang pertama bekerja untuk mencari nafkah dan orang yang kedua menuntut ilmu di dekat Rasulullah. Suatu hari orang yang bekerja datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengadukan tentang saudaranya yang tidak pernah bekerja dan selalu menuntut ilmu. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “Mungkin saja kamu mendapatkan rizki disebabkan karena saudara kamu yang menuntut ilmu”

Artinya jangan sampai saudaramu tersebut putus dalam menuntut ilmu syar’i sehingga kamu tidak mendapatkan rizki dari Allah, karena bisa jadi kamu mendapatkan rizki disebabkan karena saudaramu itu yang gemar menuntut ilmu syar’i.

14 Ilmu tidak akan didapatkan oleh orang yang selalu ingin santai. Lihatlah bagaimana kesungguhan para shahabat untuk mendapatkan satu hadits, seperti Sa’id ibnu Musayyab berjalan sebulan untuk mendapatkan satu hadits. Seorang Tabi’in untuk mendapatkan satu hadits berjalan menempuh padang pasir sampai kehabisan bekal dan meminum kencingnya 5 kali karena sudah tidak ada minuman.

Adapun zaman sekarang hanya naik motor atau mobil umum, atau berjalan kaki sebentar sudah berpikir menghabiskan waktu. Itupun datang ke majelis sebulan sekali, itupun tertidur di majelis. Makanya Yahya bin Abi Katsir berkata: “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan jasad yang selalu menginginkan istirahat.”

15 Ini para ulama as salaf, di antaranya Ibrahim Ad Daijil. Daijil adalah gelar yang diberikan kepada Ibrahim, karena diumpamakan seperti burung Daijil. Burung ini jika hinggap di sebuah pohon daunnya akan dihabisi semuanya. Karena Ibrahim kalau dia sampai di seorang guru, tidaklah ia meninggalkan gurunya kecuali ilmu gurunya sudah diserap semuanya. Kemudian pergi ke guru yang lainnya sampai ia menyerap ilmu gurunya barulah ia pergi ke guru yang lainnya.

16 Sifat malu adalah salah satu penyebab seseorang akan meninggalkan ilmu. Al Imam Mujahid berkata, “Tidaklah akan mendapatkan ilmu bagi orang yang malu dan sombong.”

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: