Beranda > Aqidah & Manhaj > Bulan Muharrom Adalah Bulan Yang Mulia…Bukan Bulan Sial

Bulan Muharrom Adalah Bulan Yang Mulia…Bukan Bulan Sial

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Ta’ala yang atas segala nikmatNya kita sampai detik ini masih berada dalam kondisi sehat wal ‘afiyah dan juga senantiasa berada di atas Islam dan Sunnah.

Ikhwani fillah, beberapa hari lagi kita (insya’ Allah) akan memasuki bulan Muharrom sebagai bulan pertama dari tahun hijriyah.

Bagi sebagian besar kaum Muslimin Indonesia terutama di Jawa, masih banyak keyakinan yang keliru berkenaan dengan Bulan Muharrom (Suro) ini. Banyak dari mereka saudara-saudara kita kaum Muslimin tersebut yang meyakini bahwa bulan Muharrom merupakan bulan sial sehingga mereka tidak mau mengadakan acara hajatan di bulan tersebut. Dampaknya, di penghujung Dzhulhijjah ini banyak kaum Muslimin tersebut yang berlomba untuk segera mengadakan hajatannya karena khawatir keduluan masuk bulan Muharrom.  Subhanalloh….

Apakah benar keyakinan mereka tersebut ?

Lantas…bagaimana sebenarnya kedudukan bulan Muharrom tersebut di dalam Islam ?

Semoga artikel berikut ini bisa bermanfaat bagi kita bersama.

بارك الله فيكم

==================

Beberapa Keutamaan Bulan Muharrom

 

www.islamhouse.com

 

  1. a.     Bulan Muharrom Merupakan Salah Satu di Antara Bulan-Bulan Harom (yang dimuliakan)

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan harom. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”  ( Surat At Taubah ayat 36 ).

Salah seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in yang  bernama Qotadah bin Di’amah Sadusi rohimahulloh menyatakan, “Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan harom sebagaimana kezholiman di bulan-bulan harom lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezholiman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun secara umum kezholiman adalah dosa yang besar” (lihat Tafsir Al Baghawi dan Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakroh rodhiyallohu anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjelaskan keempat bulan harom yang dimaksud :

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ  وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى  وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom serta satu bulan yang terpisah yaitu Rojab Mudhor, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhiroh dan Sya’ban.” [ HR. Bukhari (3197) dan Muslim(1679) ]

Para ulama bersepakat bahwa keempat bulan harom tersebut memiliki keutamaan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain selain Romadhon, namun demikian mereka berbeda pendapat, bulan apakah yang paling afdhol diantara keempat bulan harom yang ada ? Imam Hasan Al Bashri rohimahulloh dan beberapa ulama lainnya berkata, “Sesungguhnya Allah telah memulai  waktu yang setahun dengan bulan harom (Muharrom) lalu menutupnya juga dengan bulan harom (Dzulhijjah) dan tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Romadhon yang lebih agung di sisi Allah melebihi bulan Muharrom” (Lihat : Lathoif Al Ma’arif karya Ibnu Rojab Al Hanbali hal. 36)

  1. b.     Bulan Muharrom disifatkan sebagai Bulan Allah

Kedua belas bulan yang ada adalah makhluq ciptaan Allah, akan tetapi bulan Muharrom meraih keistimewaan khusus karena hanya bulan inilah yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah)

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharrom. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. [ H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu Huroiroh radhiyallohu anhu]

Hadits ini mengindikasikan adanya keutamaan khusus yang dimiliki bulan Muharrom karena disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para ‘ulama telah menerangkan bahwa ketika suatu makhluq  disandarkan pada lafzhul Jalalah maka itu mengindikasikasikan tasyrif (pemuliaan) terhadap makhluq tersebut, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) bagi mesjid atau lebih khusus Ka’bah dan naqatullah (unta Allah) istilah bagi unta nabi Sholeh ‘alaihis salam dan lain sebagainya.

Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqy rohimahulloh menjelaskan, “Apa hikmah dari penamaan Muharrom sebagai syahrulloh (bulan Allah) sementara seluruh bulan milik Allah ? Mungkin dijawab bahwa hal itu dikarenakan bulan Muharrom termasuk diantara bulan-bulan harom yang Allah haromkan padanya berperang, di samping itu bulan Muharrom adalah bulan perdana dalam setahun maka disandarkan padanya lafzhul Jalalah (lafazh Allah) sebagai bentuk pengkhususan baginya dan tidak ada bulan lain yang Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam sandarkan kepadanya lafzhul Jalalah melainkan bulan Muharrom” (lihat Hasyiah As Suyuthi ‘ala Sunan An Nasaa’i)

 

 

Keutamaan Berpuasa Di Bulan Muharrom

Al-Ustadz Abu Karimah Askari

http://www.salafybpp.com/5-artikel-terbaru/178-keutamaan-berpuasa-di-bulan-Muharrom.html

Bulan Muharrom, merupakan salah satu bulan yang dimuliakan di dalam Islam. Sebelum diwajibkan berpuasa pada bulan Romadhon, tanggal 10 Muharrom atau yang disebut hari Asyura’ merupakan puasa yang diwajibkan bagi kaum muslimin.

Berkata Aisyah rodhiAllohu anha:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ ، فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

“hari Asyura’ adalah puasa yang dilakukan kaum Quroisy pada masa jahiliyyah,dan Nabi Shollallohu alaihi wa-aalihi wasallam berpuasa.Tatkala Beliau tiba di Madinah Beliau tetap berpuasa, dan Beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.Maka tatkala turun (kewajiban puasa) Romadhon, maka Romadhon menjadi wajib, dan ditinggalkan (kewajiban) puasa Asyura’, maka siapa yang ingin silahkan dia berpuasa, dan siapa yang ingin boleh untuk tidak berpuasa.” (Muttafaq alaihi)

Dan dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiAllohu ‘anhu bahwa Beliau berkata:

“hari Asyura’ adalah merupakan hari yang bangsa Yahudi menganggap itu sebagai hari raya. Maka Rosululloh Shollallohu alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

« فَصُومُوهُ أَنْتُمْ »

“berpuasalah kalian padanya.” (HR. Bukhari: 2005)

Secara umum, berpuasa pada bulan Muharrom merupakan amalan yang disunnahkan oleh Nabi kita Shollallohu Alaihi wasallam, pada waktu dan tanggal yang mana saja dibulan Muharrom, dianjurkan berpuasa.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Huroiroh rodhiAllohu ‘anhu bahwa Rosululloh Shollallohu Alaihi wasallam bersabda:

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ »

“Puasa yang paling afdhol setelah Romadhon adalah puasa dibulan Allah “Muharrom”, dan shalat yang paling afdhol setelah shalat wajib adalah shalat lail”. (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa bulan Muharrom secara umum, disunnahkan untuk berpuasa di hari yang mana saja, tanpa tertentu waktu dan tanggalnya.Namun lebih dianjurkan dan ditekankan berpuasa pada tanggal 10 Muharrom, yang disebut hari Asyura’. disebut Asyura’ dari kata ‘aasyirah, yang berarti malam kesepuluh. Lalu kemudian menjadi satu nama bagi hari kesepuluh tersebut. Meskipun terjadi silang pendapat dikalangan para ‘ulama tentang apa yang dimaksud hari asyura’, namun mayoritas para ulama menetapkan bahwa yang dimaksud adalah hari kesepuluh dibulan Muharrom.

(Fathul bari, Ibnu Hajar: 6/280, maktabah syamilah).

Dalam riwayat Muslim, Rosululloh Shollallohu Alaihi wasallam ditanya tentang berpuasa asyura’, maka Beliau menjawab:

« يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ »

“Menghapus kesalahan setahun yang lalu.” (HR. Muslim: 2804)

Dalam riwayat lain, Rosululloh Shollallohu Alaihi wasallam bersabda:

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Berpuasa pada hari Asyura’ , aku berharap Allah Azza wajalla menghapus kesalahan setahun yang lalu.” (HR.Muslim)

Sehingga Rosululloh Shollallohu Alaihi wasallam senantiasa menjaga untuk memelihara puasanya pada hari Asyura’, dan Beliau berusaha untuk tidak meninggalkannya. Berkata Ibnu ‘Abbas RodhiAllohu ‘anhuma:

مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ . يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi Shollallohu alaihi wasallam menjaga satu puasa yang Beliau lebih mengutamakan diatas yang lainnya, kecuali hari ini yaitu hari Asyura’, dan bulan ini yaitu bulan Romadhon.” (Muttafaq alaihi)

Demikian pula pada tanggal sembilan dari bulan Muharrom ditekankan pula untuk berpuasa padanya, berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas rodhiAllohu ‘anhuma berkata:

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Jika aku masih hidup dimasa mendatang,aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim:1134)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

إن عشت إن شاء الله إلى قابل صمت التاسع مخافة أن يفوتني يوم عاشوراء

“Jika aku insya Allah masih hidup dimasa mendatang, aku akan berpuasa pada hari kesembilan, karena khawatir aku tertinggal berpuasa pada hari asyura’.”  (HR. Thabarani dari hadits Ibnu Abbas rodhiAllohu anhuma,dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah : 350)

Sebagian juga ada yang menyebutkan anjuran berpuasa pada tanggal sebelas, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas rodhiAllohu ‘anhuma bahwa Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda:

« صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً »

“Berpuasalah pada hri asyura’,dan selisihilah bangsa yahudi, berpuasalah sebelumnya satu hari dan setelahnya satu hari.” (HR.Ahmad (5/217),Ibnu Khuzaimah (3039),Al-Baihaqi (2/443)

Namun hadits ini sanadnya lemah, dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Muhammad bin ‘Abdurrohman bin Abi Laila Al-Anshori, dia sangat buruk hafalannya. Demikian pula Dawud bin ‘Ali Al-Qurosyi Al-Hasyimi, terdapat kelemahan padanya. Sehingga hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وَعَلَى هَذَا فَصِيَام عَاشُورَاء عَلَى ثَلَاث مَرَاتِب : أَدْنَاهَا أَنْ يُصَامَ وَحْدَهُ ، وَفَوْقَهُ أَنْ يُصَام التَّاسِعُ مَعَهُ ، وَفَوْقَهُ أَنْ يُصَامَ التَّاسِعُ وَالْحَادِي عَشَرَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Berdasarkan hal ini maka berpuasa hari asyura’ ada tiga tingkatan: yang terendah adalah berpuasa hanya pada hari kesepuluh, kemudian diatasnya adalah berpuasa pada hari kesembilan bersamanya,dan diatasnya adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesebelas, wallahu a’lam. (Fathul Bari : 6/280)

Namun sebagaimana yang telah kita jelaskan, bahwa hadits yang menyebutkan sehari setelahnya adalah hadits yang lemah. Namun tetap dibolehkan berpuasa pada hari tersebut berdasarkan keumuman hadits tentang anjuran berpuasa pada bulan Muharrom.

Hanya saja, puasa Muharrom sama seperti puasa sunnah lainnya, yang tidak diperbolehkan menyendirikan satu puasa pada hari jum’at, namun hendaknya dibarengi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya. Rosululloh Shollallohu Alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

« لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إِلاَّ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ »

“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berpuasa pada hari jum’at,kecuali jika dia berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya.”

(HR. Bukhari dari Abu Huroiroh rodhiAllohu anhu)

Kecuali puasa Dawud ‘alaihis salam, karena adanya riwayat-riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa yang paling utama. Wallahul Muwaffiq.

Bulan Muharom Bukan Bulan Sial

 

http://darussunnah.or.id/artikel-islam/akidah/bulan-muharam-bukan-bulan-sial/

“Bulan Muharrom telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.”

Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharrom (Suro -jawa- ) yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?

Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rosululloh ?.

Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?

Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.

Para pembaca sekalian, dalil “apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?

Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rosululloh ? untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka?

بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍ۬ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ (٢٢)

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf : 22)

Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrohim  ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.

قَالُواْ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٲلِكَ يَفۡعَلُونَ (٧٤)

“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (Asy Syu’ara’: 74)

Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan :

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ (٧٨)

“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …” (Yunus : 78)

Kaum ‘Aad yang telah Allah binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud  menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka mengatakan :

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُ ۥ وَنَذَرَ مَا ڪَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا‌ۖ

“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al A’raf : 70)

Apa pula yang dikatakan oleh kaum Tsamud dan kaum Madyan kepada nabi mereka, nabi Shalih dan nabi Syu’aib? Mereka berkata :

أَتَنۡهَٮٰنَآ أَن نَّعۡبُدَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا

“Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?…” (Hud : 62)

قَالُواْ يَـٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ

“Wahai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kami agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami …” (Hud : 87)

Demikianlah, setiap rosul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Al Baqarah : 170)

Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.

أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ

“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah : 170)

Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rohmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah  dan Rosul-Nya. Allah berfirman :

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf : 3)

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah

Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan sebagainya) pada bulan Muharrom atau bulan-bulan tertentu lainnya?

Ya, karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathoyyur (تَطَيُّر) atau Thiyaroh (طِيَرَة), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.

Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya.

Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathoyyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya.

أَلَآ إِنَّمَا طَـٰٓٮِٕرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ (١٣١)

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al A’raf : 131)

Tathoyyur Termasuk Kesyirikan Kepada Allah

Seseorang yang meyakini bahwa barangsiapa yang mengadakan acara walimahan atau hajatan yang lain pada bulan Muharrom itu akan ditimpa kesialan dan musibah, maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah.

Rosululloh  yang telah mengkabarkan demikian, dalam sabdanya :

الطِّـيَرَةُ شِـرْكٌ

“Thiyaroh itu adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)

Para pembaca, ketahuilah bahwa perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, di antaranya :

1. Seseorang yang berthiyaroh berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah  perintahkan kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah .

Allah berfirman :

إِنِّى تَوَكَّلۡتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم‌ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِہَآ‌ۚ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluq pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).” (Hud : 56)

2. Seseorang yang bertathoyyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharrom atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharrom itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Allah berfirman :

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢)

“Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.” (Al Ikhlash : 2)

Para pembaca, orang yang tathoyyur tidaklah terlepas dari dua keadaan :

Pertama : meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan.

Kedua : melakukan apa yang dia niatkan namun di atas perasaan was-was dan khawatir.

Maka tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai tauhid yang ada pada dirinya.

Bagaimana Menghilangkannya?

Sesungguhnya syari’at yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathoyyur, maka diajarkan pula bagaimana cara menghindarinya.

‘Abdullah bin Mas’ud, salah seorang shohabat Rosululloh telah membimbing kita bahwa tathoyyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah.

Tawakkal yang sempurna, dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, dia yakin bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah.

Rosululloh juga mengajarkan do’a kepada kita:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

Hakekat Musibah

Suatu ketika, Allah menghendaki seseorang untuk tertimpa musibah tertentu. Ketahuilah bahwasanya musibah itu bukan karena hajatan yang dilakukan pada bulan Muharrom, tetapi musibah itu merupakan ujian dari Allah.

Orang yang beriman, dengan adanya musibah itu akan semakin menambah keimanannya karena dia yakin Allah menghendaki kebaikan padanya.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan timpakan musibah padanya.” (HR. Al Bukhari)

Ketahuilah, wahai pembaca, bahwa musibah yang menimpa seseorang itu juga merupakan akibat perbuatannya sendiri. Allah berfirman :

وَمَآ أَصَـٰبَڪُم مِّن مُّصِيبَةٍ۬ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ۬ (٣٠)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri …” (Asy Syura : 30)

Yakni disebabkan banyaknya perbuatan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan manusia.

Tinggalkan Tathoyyur, Masuk Al Jannah Tanpa Hisab dan Tanpa ‘Adzab

Salah satu keyakinan Ahlussunnah adalah bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al Jannah. Hanya saja sebagian dari mereka akan merasakan ‘adzab sesuai dengan kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya.

Namun di antara mereka ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa di’adzab. Jumlah mereka adalah 70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah mereka?

Mereka adalah orang-orang yang telah disifati Rosululloh dalam sabdanya:

هُمُ الَّذِيْنَ لاَيَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta di kay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathoyyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Meraka dimasukkan ke dalam Al Jannah tanpa dihisab dan tanpa di’adzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan tidak disandarkan kepada hari/bulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah.

Semoga tulisan yang singkat ini, dapat memberikan nuansa baru bagi saudara-saudaraku yang sebelumnya tidak mengetahui bahaya tathoyyur dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin.

(Dikutip dari tulisan redaksi buletin Al Ilmu Jember, judul asli BULAN MUHARROM BUKAN BULAN SIAL.

URL Sumber http://www.assalafy.org/artikel.php?kategori=aqidah3 )

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: